
Ujian kahir pun usai. Siswa siswi diberikan kebebasan untuk berkunjung ataupun tidak ke sekolah. Dan banyak siswa yang memilih untuk tidak ke sekolah. Salah satu dari mereka adalah Senja. Gadis itu memilih berangkat ke cafe bersama Aldi. Bukan untuk bekerja, melainkan menemui teman-temannya dan sekalian mengantarkan surat pengunduran diri.
"Setelah ke cafe, kita kemana?" tanya Aldi. Dia menoleh sebentar pada Senja, kemudian kembali fokus menyetir mobilnya.
"Eemm... Abang maunya kemana?"
"Abang?" Senja mengangguk. "Abang gak mau kemana-mana hari ini. Abang lagi pengen sama kamu seharian," ucap Aldi yang membuat Senja terkekeh kecil. Aldi tidak berbohong. Perasaannya memintanya untuk terus bersama Senja. Dia tidak mau jauh-jauh dari adiknya itu.
"Hehehe... Abang lucu. Dari Senja selesai ujian kan, kita sering sama-sama."
"Beda. Kemarin-kemarin kan, Abang ada beberapa kali tinggalin Senja sama bi Haya di rumah. Kalau bareng pun ada teman-teman kamu. Hari ini Abang maunya sama kamu terus."
"Kan nanti ketemu kak Tama, kak Manda sama kak Chesie. Bukannya itu sama aja?"
Aldi terdiam sejenak mendengar nama Chesie. Jujur, gadis itu terus mengusiknya sejak pertemuan mereka di cafe malam itu. Namun, ia dengan sebeisa mungkin menepis semua perasaannya. Dia ingin fokus pada adiknya.
"Abang?"
"Eh, maaf. Abang gak fokus."
"Abang kenapa? Ada masalah?"
Aldi menoleh dan tersenyum pada Senja. "Abang gak kenapa-kenapa. Abang tiba-tiba mikir, Abang udah ucapin terima kasih ke Tama sama Manda. Tapi, Abang belum terima kasih sama...."
"Kak Chesie?"
"Ya, sama dia, karena udah mau temani kamu selama ini. Abang udah sia-sia in kamu dan jadi Abang yang buruk."
"Abaaang, udah ya, gak usah dibahas lagi. Ini udah lewat loh. Senja gak suka Abang terus nyalahin diri Abang," ucap Senja. "Nanti kalau sampai, Senja kenalin Abang ke kak Chesie. Biar Abang bisa ucapin makasih secara langsung."
Aldi kembali tersenyum. Ia mengulurkan tangannya dan mengusap pelan puncak kepala Senja.
Setelah beberapa menit perjalanan, mereka tiba di cafe. Senja berjalan memasuki cafe sambil digandeng Aldi. Wajahnya terlihat sumringah ketika melihat Tama, Manda dan Chesie. Dia sangat merindukan Chesie. Sejak malam itu, Chesie seolah menjauh darinya.
"Kak Ches." Senja langsung memeluk gadis itu dengan perasaan bahagia. Chesie juga balas memeluk Senja. Dia juga merindukan gadis ceria itu.
"Gue kangen banget sama lo, Kak," ucap Senja.
"Gue juga," balas Chesie. Ia melirik Aldi yang sejak tadi diam. Ketika mata mereka bertemu, perasaan Chesie seperti ingin menangis. Ia sebisa mungkin menahannya dan memutuskan kontak mata mereka.
Senja melepaskan pelukannya dengan senyum yang masih terukir di bibirnya. "Oh ya, Kak. Kenalin, ini Abang gue."
Chesie terdiam. Tangan Aldi yang tiba-tiba terulur ke hadapannya membuat ia mendongak. Membuat mata mereka kembali bertemu. Interaksi antara Aldi dan Chesie tak lepas dari perhatian Senja, Tama dan Manda. Mereka cukup merasa aneh.
"Kak?" Sentuhan Senja dibahunya membuat Chesie memutus kontak matanya dengan Aldi.
"Maaf," ucapnya, kemudian membalas uluran tangan Aldi.
"Gue Aldi, Abang Senja," ucap Aldi.
"Gue Chesie," balas Chesie, berusaha tenang menutup kegugupannya dan rasa sesak di dadanya.
"Maaf Gue udah gak sopan malam itu. Gue juga mau ucapin makasih sama lo karena udah jadi salah satu orang yang temani Senja dan baik sama dia."
"Senja udah gue anggap adik sendiri," balas Chesie, lalu melepas jabat tangan mereka.
"Oh ya, Kak. Pak Yahya ada gak?" tanya Senja pada Tama.
"Ada. Di ruangannya," balas Tama.
"Gue mau ngundurin diri. Gue— Ya Allah, suratnya ketinggalan di mobil."
"Biar Abang aja yang ambil." Tanpa menunggu jawaban Senja, Aldi langsung berjalan keluar untuk mengambil surat pengunduran diri Senja yang ketinggalan.
"Ches, lo kenapa sama Aldi? Kayaknya ada sesuatu sama lo berdua," celetuk Tama yang langsung mendapat pelototan Manda dan Senja. Cowok itu benar-benar tidak paham situasi dan kondisi.
"Hah? Gue sama Abangnya Senja? Kita gak kenapa-kenapa. Kenal aja barusan. Gue cuman agak aneh liat dia. Malam itu bentak-bentak Senja. Sekarang kayak beda. Maaf ya, Nja, gue jadi omongin Abang lo."
"Gak apa-apa, Kak. Abang waktu itu khilaf. Sekarang udah sadar," ucap Senja yang membuat Chesie tersenyum, sementara Tama dan Manda terkekeh kecil.
Setelah Aldi tiba, Senja langsung menuju ruangan pak Yahya untuk mengutarakan niatnya mengundurkan diri. Aldi memaksa ikut. Ia takut orang yang dipanggil pak Yahya oleh adiknya itu marah-marah. Seandainya itu benar terjadi, ia bisa melindungi Senja dari kemarahan laki-laki itu.
***
"Udah Senja bilang kan? Pak Yahya itu orangnya baik banget. Abang gak perlu khawatir," ucap Senja. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan kembali ke rumah.
"Ya, Abang kan cuman jaga-jaga. Sifat manusia gak ada yang benar-benar tau," Balas Aldi. "Ini, benaran gak mau kemana-mana? Nonton gak mau?"
Senja menggeleng. "Enggak. Senja mau cepetan sampai rumah terus tidur."
"Gak mau cerita-cerita sama Abang?"
"Cerita apa?"
"Cerita apa aja. Yang penting kita sama-sama."
"Eemm... Abang yang cerita sambil temani Senja tidur gimana?"
"Boleh."
Senja tersenyum mendengar jawaban Abangnya. Aldi melajukan mobilnya sedikit lebih cepat menuju rumah. Setelah tiba, dia langsung menuju kamar bersama Senja. Saat menaiki tangga, langkah Senja sedikit memelan. Membuat Aldi menatapnya.
"Kenapa?" tanya Aldi. Perasaannya tiba-tiba tidak enak.
Senja tersenyum pada sang Abang, kemudian menggeleng. "Enggak. Nggak kenapa-kenapa," ucap Senja. Gadis itu mengatupkan mulutnya setelah menjawab sang Abang. Ia menggigit bibir dalamnya, menahan sakit di ulu hati yang terasa semakin menyakitkan.
Bukan tanpa alasan dia mengajak sang Abang pulang dan menolak semua tawaran Aldi. Rasa sakit di hatinya mulai dia rasakan saat berada di ruangan pak Yahya tadi. Make up tebal di wajahnya menjadi penolong, hingga tidak ada satupun yang menyadari jika wajahnya berubah pucat.
"Senja?" Suara lembut Aldi membuatnya kembali menatap sang Abang. Namun, pandangannya mengabur. Dan detik berikutnya, tubuh Senja ambruk. Beruntung Aldi dengan cepat menangkapnya.
"Senja? Senja! Bangun, dek!" ucap Aldi. Wajahnya berubah cemas. Dengan segera cowok itu menggendong sang adik dan berjalan menuruni tangga.
"Bibi! Bibi!" teriak Aldi. Dia benar-benar panik sekarang.
Bi Haya yang mendengar namanya dipanggil pun berlari tergopoh-gopoh mendekati Aldi. Dia terkejut melihat Senja yang digendong Aldi dalam keadaan pingsan.
"Ya Allah, Non Senja!"
"Tolong bukain pintu, Bi! Saya mau bawa Senja ke rumah sakit."
Bi Haya segera menuju pintu depan dan membukanya untuk Aldi. Arhez yang baru saja tiba dan ingin menemui Senja, pun terkejut melihat Aldi keluar dari rumah sambil menggendong Senja. Cowok itu langsung turun dari motornya dan menghamipir Aldi.
"Kenapa Bang?" tanya Arhez.
"Senja tiba-tiba pingsan," jawab Aldi.
Arhez dengan cepat membantu Aldi membuka pintu mobil. Bi Haya mengambil kesempatan untuk menutup pintu lalu ikut masuk ke mobil Aldi. Wanita itu menemani Senja di jok belakang, dan Aldi yang mengemudi. Sementara Arhez, dia mengikuti mereka dari belakang dengan mengendarai motornya.