
Di ruangan Senja kini hanya ada Aldi dan kedua orang tuanya juga Senja. Semua teman-teman Senja dengan penuh pengertian memberikan waktu untuk Senja bersama keluarganya. Senja terdiam sambil menatap kedua orang tuanya yang kini duduk di sofa.
Sejak tadi, dia penasaran, apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orang tuanya itu. Mamanya dulu baik-baik saja saat berangkat ke luar negeri. Bukan seperti saat ini, yang menggunakan kursi roda.
Sementara Papanya, dia tahu Papanya tidak memiliki bekas luka di kening bagian kanannya. Tapi sekarang, Papanya memilikinya.
"Sebelum Papa sama Mama cerita semuanya ke kamu, Papa sama Mama minta maaf sekali lagi."
"Pa, Ma, Senja gak apa-apa. Senja udah maafin Mama sama Papa. Mama sama Papa gak perlu minta maaf lagi."
"Senja, sayang. Minta maaf Mama sama Papa gak akan cukup buat obati rasa kehilangan kasih sayang orang tua yang Senja sama Abang rasain. Mama sama Papa udah gagal jadi orang tua. Kami pikir, dengan mampu secara materi, akan buat kalian berdua bahagia. Tapi, kami lupa, kasih sayang orang tua sangatlah penting," ucap Mila.
"Ma, Pa, Abang sama Senja udah lupain semuanya. Gak ada yang perlu dibahas lagi. Itu udah lalu," ucap Aldi. "Sekarang, Mama sama Papa cerita aja, apa yang jadi penyebab hilang kontak kita selama ini."
Kedua orang itu mengangguk, lalu menatap Senja dan Aldi bergantian. "Papa sama Mama hilang kontak sama kalian karena kecelakaan," ucap Randa sendu, mengingat kejadian buruk itu.
"Jadi ini penyebab Mama pakai kursi roda, dan ada bekas luka di kening kanan Papa?" Randa mengangguk, begitu juga dengan Mila, sang ibu.
"Kami mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan menuju rumah, tepat di hari pertama kami tiba di sana," ucap mila.
"Kondisi kami begitu parah. Supir meninggal dunia di tempat kejadian. Papa sama Mama ditolong Bi Yati yang waktu itu pengen naik taksi sendiri. Kami dibawa ke rumah sakit. Papa mengalami koma selama 1 bulan. Sementara Mama, dia koma selama 3 bulan. Kami kehilangan banyak barang termasuk handphone. Papa menjalani begitu banyak pemeriksaan kesehatan setelah sadar dari koma."
Randa melirik istrinya yang terdiam. Tangannya terulur menggenggam tangan sang istri. "Mama kamu mengalami amnesia setelah sadar dari koma. Butuh waktu lama Papa meyakinkan Mama kamu kalau dia istri Papa. Dan sampai sekarang, sebagian memori ingatan Mama kamu masih belum bisa dia ingat. Mama kamu juga mengalami lumpuh karena kecelakaan itu. Sekarang sudah lebih baik dari sebelumnya. Tinggal menunggu proses pengobatan selanjutnya."
"Maafkan Mama sama Papa. Selama ini, Papa sibuk mengurus pengobatan Papa dan Mama. Bahkan perusahaan pun bukan Papa yang sepenuhnya mengurus. Kami tidak mengabari kalian karena tidak ingin kalian khawatir. Bahkan Bi Yati pun kami larang untuk mengabari kalian. Papa sama Mama ingin, saat kami kembali, kami dalam keadaan baik dan sehat, tidak dalam keadaan buruk yang membuat kalian khawatir. Maafkan Papa sama Mama."
Senja mengusap air matanya. Sejak tadi, air matanya terus menetes mendengar cerita sang Papa dan Mama. Begitu juga Aldi yang berkaca-kaca, namun gengsi meneteskan air matanya. Keduanya merasa menjadi anak yang tidak berguna sekarang. Orang tua mereka mengalami banyak kesulitan disana. Dan mereka berada dalam kehidupan yang bisa dibilang baik disini.
"Hiks.... Senja juga minta maaf. Senja udah jadi anak yang buruk. Senja terus-terusan menganggap Mama sama Papa gak ingat Senja sama Bang Aldi lagi. Padahal Mama sama Papa mengalami kesulitan disana. Maafin Senja."
"Aldi juga, Ma, Pa. Maafin Aldi. Aldi jadi anak yang gak berguna. Mengurus perusahaan disini saja, Aldi gak mau. Aldi malah menyerahkan semuanya ke orang lain."
Suasana di ruangan itu seketika menjadi haru. Mereka saling melontarkan permintaan maaf. Dan mereka sadar, tidak ada yang pantas disalahkan dalam hal itu.
***
Aksa dan Arhez duduk bersamaan di sofa ruang rawat Senja. Kedua laki-laki itu menemani Senja yang tertidur, sementara Aldi sedang mengantar kedua orang tuanya untuk beristirahat di rumah. Dan teman-teman yang lain, mereka memilih untuk makan siang di cafe yang tak jauh dari rumah sakit.
Tidak ada pembicaraan diantara kedua cowok itu. Suasana ruangan itu menjadi begitu hening. Namun, keheningan itu tak berlangsung lama ketika Senja terbangun dan meringis kesakitan. Keduanya dengan segera menghampiri gadis itu.
"Nja? Lo kenapa?" tanya Aksa khawatir.
"Sakit, Zay, Hez," ucapnya. Aksa dan Arhez berubah panik melihat wajah dan bibir Senja yang memucat. Segera Arhez menekan tombol untuk memanggil dokter.
"Tan, tolongin Senja, Tan. Senja kesakitan," ucap Arhez ketika Dokter Rahila tiba di ruangan bersama seorang suster.
"Kami akan menangani pasien. Kalian silahkan tunggu di luar."
Aksa dan Arhez segera keluar. Keduanya dengan perasaan cemas menunggu diluar.
"Arhez! Aksa! Lo berdua kenapa di luar?" tanya Tama yang baru saja datang bersama Rara, Manda, Chesie, Amara, Parto, Bagas, Jafar, Dean dan Roni.
"Senja kesakitan, Bang. Lagi ditangani sama dokter," ucap Arhez.
Semuanya terdiam dengan perasaan cemas. Pintu yang terbuka tiba-tiba, membuat semua menoleh.
"Keluarga pasien?" tanya Suster.
"Orang tua sama Abang pasien lagi keluar, Sus."
"Tolong kabari keluarga pasien untuk segere kemari. Kondisi pasien buruk."
Deg!!
Semua terdiam dengan perasaan khawatir yang semakin menjadi. Wajah Aksa bahkan berubah pucat mendengarnya. Perasaan takut kehilangan menyelimuti hatinya. Semua bayang-bayang tentang dirinya yang kehilangan Farah dulu berputar di otaknya.
Lo yang kuat, Nja. Lo udah janji gak akan ninggalin gue. Ya Allah, lindungi Senja. Jangan ambil Senja dari aku Ya Allah. Batin Aksa.
Mendengar ucapan suster, Rara dengan segera menelpon Aldi untuk kembali ke rumah sakit.
Sementara Aldi, cowok itu masih berada di jalanan yang cukup sepi bersama kedua orang tuanya. Mobilnya tiba-tiba mogok.
"Sabar ya, Ma, Pa. Teman Aldi bentar lagi datang." Kedua orang tua itu hanya mengangguk. Saat melihat mobil temannya yang menghampiri mereka, Aldi bergegas keluar. Namun, baru saja pintu mobil terbuka, handphonenya berdering, membuatnya mengurungkan niat untuk segera keluar.
"Hallo, Ra?" ucap Aldi setelah menjawab panggilan dari Rara.
"Bang, lo cepatan kesini," ucap Rara. Suara gadis itu sedikit bergetar.
"Ra, lo kenapa? Lo dimana?"
Deg!!
Jantung Aldi seakan ingin berhenti berdetak mendengar ucapan Rara. Saat dia akan berangkat tadi, Senja sedang beristirahat. Tapi tiba-tiba dia mendapat telpon jika keadaan Senja memburuk.
"Iya. Gue segera kesitu," balas Aldi lalu memutuskan panggilan tersebut.
"Kenapa, Al?"
"Senja, Ma. Kita harus balik ke rumah sakit sekarang," jawab Aldi. Cowok itu kemudian keluar dari mobil dan segera menghampiri temannya yang baru saja menghentikan mobil.
"Ren, anterin gue sama bokap nyokap ke rumah sakit." Cowok yang dipanggil Ren oleh Aldi itu mengangguk. Aldi segera membantu Papanya menurunkan sang Mama dari mobil. Setelah itu, mereka kembali ke rumah sakit.
Karena mereka belum terlalu jauh dari rumah sakit, tak butuh waktu lama untuk tiba di sana. Aldi dengan cepat berlari masuk. Dia seolah lupa jika dia sedang bersama orang tuanya. Rasa khawatir dan takutnya membuatnya tak bisa memikirkan apapun selain Senja.
"Gimana keadaan Senja?" tanya Aldi ketika tiba di depan ruangan Senja. Semua yang ada di tempat itu menoleh padanya.
"Senja masih ditangani dokter," sahut Tama.
Aldi menarik nafas, kemudian mengusap kasar wajahnya. Sentuhan lembut di lengannya membuantnya berbalik. Dia baru sadar sekarang. Tadi, dia meninggalkan Mama dan Papanya.
"Pa—"
"Gimana keadaan Senja?" tanya sang Papa. Aldi hanya membalas dengan menggeleng. Membuat sang Papa menarik nafas panjang, sementara sang Mama menunduk dengan mata-mata berkaca.
Drrtt... Drrttt.... Drrtt....
Getaran handphone membuat semua menatap Aksa yang sejak tadi berdiri di depan pintu ruangan Senja dengan wajah pucat. Cowok itu mengeluarkan handphonenya dari saku celana, berjalan sedikit jauh dari pintu ruangan, kemudian segera menjawab panggilan yang ternyata dari Bi Darsi.
Sejak tahu Senja di rumah sakit, Aksa meminta izin pada sang Papa untuk menemani Senja di rumah sakit dan belum mengunjunginya untuk sementara waktu. Sang papa setuju. Tapi, dia tetap memantau kondisi sang papa melalui laporan pak Ijan dan bi Darsi.
"Hallo, Bi," sapa Aksa. Suaranya terdengar lemah.
"Aden.... Hiks...."
"Hallo, bi? Bibi kenapa menangis?"
"Hiks.... Aden, bapak."
"Papa? Papa kenapa?"
"Bapak meninggal, Den.... Hiks...."
Deg!!
Aksa terdiam mematung. Dadanya begitu sesak. Air matanya jatuh seketika. Dia tidak tahu, situasi seperti apa ini. Tanpa mengatakan apapun, cowok itu langsung berlari meninggalkan semua orang yang menatapnya bingung.
Bagas, Jafar dan Parto langsung ikut berlari mengejar Aksa. Arhez juga hendak ikut, namun getaran handphonenya membuatnya mengurungkannya.
"Hallo, Ma?" ucapnya pada si penelpon yang merupakan sang Mama, Ratna.
"Halo, Arhez."
"Iya, Ma?"
"Aksa sama kamu kan di rumah sakit?"
"Iya, Ma. Tapi barusan Aksa langsung pergi setelah jawab telpon."
"Ikuti Aksa, Nak. Jangan sampai dia pulang sendiri."
"Ini kenapa sih, Ma?"
"Papa Aksa meninggal, Hez."
Deg!!
"Mama minta tolong sama kamu, jangan biarin Aksa pulang sendiri. Mama takut terjadi sesuatu sama dia."
"Iya, Ma. Arhez tutup dulu." Arhez segera memutuskan panggilannya.
"Bokap Aksa meninggal," ucapnya membuat semua terkejut. "Gue ikut Aksa dulu. Bang, kabari gue soal Senja," ucapnya kemudian pergi dari tempat itu.
Aldi menatap Arhez yang berlari meninggalkan mereka. Setelah itu, ia menatap satu-persatu orang di tempat itu. "Lo semua ikut gih, ke tempat Aksa. Bantu-bantu disana. Temani Aksa juga. Kasian dia sendiri," ucapnya. "Jangan khawatir soal Senja, dia bakal baik-baik aja. Gue bakal kabari kalian terus perkembangannya," ucap Aldi. Berusaha meyakinkan semuanya, meski dirinya sendiri begitu khawatir.
"Ya udah, kita ke tempat Aksa dulu. Nanti kita ke sini lagi," ucap Tama, yang diangguki Aldi.
Semua segera berpamitan pada kedua orang tua Aldi, lalu bergegas meninggalkan rumah sakit. Sehingga, di depan ruangan Senja hanya tersisa Aldi, Randa, Mila dan Ren, teman Aldi.