
Seminggu lagi, ujian kelulusan akan dilaksanakan. Semua siswa siswi yang akan melaksanakan ujian akhir terlihat sibuk menyiapkan diri mereka. Semuanya benar-benar berusaha fokus belajar, tak terkecuali Senja.
Gadis itu benar-benar fokus mempersiapkan diri. Bahkan sudah seminggu ini, dia sering menolak ajakan teman-temannya termasuk Aksa dan Arhez untuk jalan. Dia ingin memperoleh nilai yang baik dan bisa mendapatkan beasiswa untuk lanjut kuliahnya. Walaupun ia tahu, mimpinya itu tidak akan mungkin terwujud. Tapi, setidaknya ia bisa membahagiakan dirinya sendiri.
"Nja!" Panggilan Rara membuat Senja menoleh sambil melotot garang pada gadis itu. Bagaimana tidak melotot? Suara Rara cukup melengking, sementara mereka sedang berada di perpustakaan. Orang-oarang pasti akan marah mendengar suara cemprengnya.
"Apaan sih, Ra? Suara lo dikecilin dikit," kesal Senja dengan suara yang begitu pelan.
"Hehehe... maaf. Gue laper," ucap pelan cewek itu sambil menyengir.
"Ke kantin, Rara."
"Temenin."
"Gak. Lo sendiri aja."
"Ck. Senja, ayo dong!"
"Ish. Ya udah, iya. Ayo."
Rara tersenyum lebar. "Makasih."
Kedua cewek itu menyimpan kembali buku yang dibaca, lalu bergegas meninggalkan kantin.
Namun, dalam perjalanan menuju kantin, keduanya bertemu Amara. Cewek itu sendiri, dan dengan angkuhnya menghadang Senja dan Rara.
"Sendiri aja. Mana tuh, antek-antek lo yang sok cantik itu?" sepa Rara sambil menanyakan kedua sahabat Amara, Siska dan Sonya. Akhir-akhir ini, Amara sering sendiri.
"Bukan urusan lo!!"
"Lo bertiga marahan?"
"Rara," tegur Senja, menyentuh bahu Rara sebagai tanda menyuruh sahabatnya itu diam.
Amara mengabaikan Rara dan beralih menatap Senja. Tapapan meremehkan Amara layangkan pada Senja.
"Seneng ya, lo sekarang? Bisa deketan sama Aksa?"
"Iya, seneng. Kenapa?" balas Senja.
Amara tersenyum miring. "Yakin banget lo kalau Aksa beneran mau dekat sama lo?" tanya Amara, masih mempertahankan senyum miringnya. "Asal lo tau, Aksa cuman manfaatin lo. Dia deketin lo cuman buat bisa dia suruh-suruh. Dia bilang, nggak ada yang tau soal kehidupan dia? Itu bohong, Senja. Gue tau kok soal kehidupan Aksa. Soal keluarganya, soal Farah. Lo aja yang gak sadar lagi dibego in sama Aksa," ucap Amara sambil terkekeh kecil di akhir kalimatnya.
Senja hanya diam. Dia berusaha agar tidak terpancing oleh ucapan Amara. Tapi jujur, hatinya sangat terluka mendengarnya.
"Lo kalau ngomong gak usah bohong deh!" kesal Rara. Ingin sekali ia menyumpal mulut Amara dengan handphone yang ia pegang saat ini, agar cewek itu diam.
"Hehehe... Gue gak peduli lo berdua percaya atau enggak. Yang jelas, tadi Aksa buang bekal yang lo kasi. "
Senja melotot pada Amara. Aksa membuang bekal yang ia kasi? Ia tidak percaya. Aksa sendiri yang mengirimkan pesan agar ia membuatkan bekal yang sama seperti kemarin.
"Kalau lo gak percaya, gue punya rekamannya kok," ucap Amara. Gadis itu menghidupkan ponselnya dan hendak menunjukkan rekaman vidio Aksa yang membuang bekal dari Senja pada kedua cewek itu. Namun, Belum sempat ia mengulurkan handphone tersebut, Rara sudah merebutnya lebih dulu.
"Eh lo apaan sih!" Amara hendak merebut, namun dengan cepat Rara menepisnya.
"Pinjem!" ucap Rara santai.
Cewek itu segera memutar vidio rekaman tersebut. Senja juga ikut melihat. Jantung Senja berdetak cepat. Dadanya terasa sakit. Rekaman tersebut benar-benar memperlihatkan Aksa yang sedang membuang bekal yang Senja berikan. Senja yakin kejadiannya hari ini, karena kotak bekalnya sama dengan kotak bekal yang dibawanya tadi.
"Bener kan?!" Amara dengan cepat menarik kembali handphonenya dari tangan Rara. "Sekarang lo tau, Aksa bohong atau enggak!!" Setelah mengucapkan itu, Amara langsung berlalu meninggalakan Senja dan Rara.
Senja hanya bisa mematung di tempat. Perasaannya bimbang antara percaya dan tidak. Tapi jujur, hatinya sangat sakit saat melihat vidio rekaman tersebut.
***
Sejak berbaikan dengan Senja, menunggu Senja didepan kelas gadis itu seolah menjadi kebiasaan Aksa. Walaupun nanti tidak pulang bersama Senja, sekadar berjalan dari kelas ke parkiran dengan Senja sudah cukup baginya.
Aksa melirik ke dalam kelas Senja melalui jendela. Sudah lewat dua menit bel pulang dibunyikan. Namun, guru yang ada di kelas Senja masih terus berbicara.
"Mending lo balik. Senja udah setuju pulang bareng gue."
Suara Arhez yang terdengar membuat Aksa berdecak. Jika hubungannya dan sang mama berangsur membaik, tidak dengan hubungannya bersama Arhez. Mereka masih sama seperti musuh bebuyutan, yang berniat saling menjatuhkan.
"Senja gak akan pulang bareng siapapun," jawab Aksa masih dengan sikap dingin dan tenangnya. Arhez hanya terkekeh pelan, seolah sedang menertawakan ucapan Aksa.
Tak lama, guru yang tadinya berada di kelas Senja keluar diikuti siswa siswi kelas tersebut. Seperti biasa, Senja berjalan bersama Rara dan Parto. Langkahnya sempat terhenti saat melihat Aksa dan Arhez. Namun, gadis itu kembali melanjutkan langkahnya.
Kehadiran Senja membuat Aksa dan Arhez menghentikan perdebatan mereka. Aksa menghampiri, begitu juga Arhez.
"Bang Aldi jemput. Aku duluan," ucap Senja tiba-tiba. Membuat langkah Aksa dan Arhez sama-sama terhenti.
Gadis itu tak peduli. Dia berjalan melewati Aksa dan Arhez begitu saja.
Rara dan Parto tahu, itu hanya alasan Senja. Sebenarnya gadis itu sedang menghindari Aksa.
Tak peduli dengan Aksa dan Arhez, Rara dan Parto menyusul Senja. Gadis itu berbohong jika Aldi menjemputnya. Yang ada, ia berniat pulang menggunakan taksi atau ojek online.
Senja yang sudah tiba di gerbang sekolah terdiam ketika melihat abangnya disana. Walaupun laki-laki itu sedang menggunakan helmnya, dan juga mengganti motornya, Senja masih bisa mengenali cowok itu melalui sorot mata dan postur tubuhnya.
Senja menenguk ludahnya. Kebetulan macam apa ini? Dia tadi hanya berbohong pada Aksa dan Arhez. Kenapa sekarang Aldi benar-benar berada di depan matanya?
Senja melangkah sedikit cepat menghampiri Aldi. "Abang—"
"Naik!" Suara dingin Aldi membuat tenggorokan Senja kering. Dan tanpa membantah sedikitpun, Senja langsung menaiki motor Aldi. Setelah itu, Aldi melajukan motornya dengan kencang. Membuat Senja memeluknya dengan erat.
***
Senja duduk diam dalam kamarnya sambil sesekali mengusap air matanya. Malam ini, dia tidak berangkat kerja. Gadis itu dikurung di kamar oleh Aldi. Tapi, bukan itu yang membuat Senja menangis. Ia menagis karena perlakukan kasar Aldi.
Tadi, setelah menjemput Senja dan tiba di rumah, Aldi mengamuk pada Senja. Cowok itu marah-marah dengan membawa nama Aksa. Aldi juga tahu mengenai bekal yang Senja berikan pada Aksa, dan malah dibuang oleh cowok itu.
Ini adalah kemarahan terbesar Aldi selama ini. Bahkan Abangnya itu hampir saja menamparnya tadi.
Ceklek...
Suara pintu dibuka membuat Senja menoleh. Di ambang pintu, Aldi berdiri sembari bersidekap dada.
"Turun makan!" ucap Aldi.
Senja menggeleng pelan. "Senja nggak lapar, Bang," jawab Senja pelan.
Aldi menarik nafasnya. Aldi sadar, dia sangat keterlaluan pada Senja tadi. Tapi, semua itu demi kebaikan Senja, agar orang-orang tidak memandangnya rendah.
Tanpa mengatakan apapun, Aldi bergegas meninggalkan kamar Senja dan menutup kembali pintu kamar tersebut. Tapi tak lama, dia kembali dengan membawa makanan.
"Senja nggak lap—"
"Makan!" tegas Aldi. Cowok itu duduk di pinggir ranjang Senja tanpa meletakkan sepiring makanan yang dipegangnya.
Senja menatap takut mata Aldi. Ketika tatapan itu sedikit melembut, Senja pun menganggukkan kepalanya pelan. Gadis itu maraih piring berisi makanan dari Aldi, lalu mulai melahap makanannya walau dengan perasaan terpaksa.