Aksarasenja

Aksarasenja
Chat Dari Aksa



Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Namun, Tama dan Manda masih berada di rumah Senja. Dua orang itu langsung menuju rumah Senja saat Senja mengabari jika ia tidak masuk kerja.


Mereka juga meminta izin pada pak Yahya untuk menutup cafe lebih cepat dari biasanya. Sementara Chesie, cewek itu tidak ikut karena tiba-tiba ada urusan mendadak. Dia hanya menitipkan salam untuk Senja.


"Lo kenapa sih, Nja? Akhir-akhir ini sering banget sakit." Manda menatap khawatir Senja.


"Iya, Nja. Lo kalau kecapean, lebih baik minta cuti sama pak Yahya aja. Biar lo lebih banyak waktu istirahatnya," ucap Tama.


Senja tersenyum. "Nggak apa-apa, Kak. Lo berdua nggak usah khawatir. Gue cuma kecapean. Soal waktu istirahat, gue rasa semuanya baik-baik aja. Hanya saja, daya tahan tubuh gue yang lemah. Mudah sakit."


"Ck. Lagian lo kenapa sih kerja? Rumah lo gede gini. Kayaknya orang tua lo berpenghasilan yang cukup buat biayain hidup lo."


Senja kembali mengulas senyum, mendengar ucapan Tama. Dia tidak berniat untuk menjawabnya.


"Oh ya. Ngomong-ngomong, lo cuma sendiri sama art lo?" Manda bingung. Sejak tadi, dia hanya melihat art Senja, dan juga Senja. Tidak ada yang lain.


"Ada abang gue juga. Cuma, dia sering gak di rumah karena banyak urusan." Manda dan Tama sama-sama mengangguk mendengar jawaban Senja.


Setelah cukup lama berbincang, Tama dan Manda berpamitan. Usai mengantar kedua orang itu, Senja kembali ke kamarnya. Sebelum tidur, gadis itu menyalakan handphonenya. Ia cukup penasaran karena sejak tadi, handphonenya terus bergetar karena notifikasi pesan.


Senja mengklik aplikasi WhatsAppnya. Chat teratas, Rara. Kemudian dibawahnya Arhez, Parto, lalu Aksa.


Senja tertegun. Aksa mengirimnya chat. Ini pertama kalinya terjadi selama ia berusaha mendekati Aksa.


"Mungkin hanya pesan soal alamat penjual bunga yang Zayyan pesankan bunga untuk Farah," gumamnya, mencoba untuk tidak terlalu senang saat Aksa mengirimkan chat terlebih dahulu padanya.


Senja mengabaikannya, lalu membuka chat dari Rara.


Rara


Senjaaa... Gue denger dari Dean, lo pingsan di sekolah. Lo nggak kenapa-kenapa kan? Gue khawatir banget.


Rara


Senjaaa... Lo kok gak balas chat gue?


Rara


Senjaaaa... Bales doongg!!


Rara


Senjaaaa...


Senja sampai terkikik saat membaca chat dari Rara. Sahabatnya yang satu itu agak bar-bar memang. Tapi, dia sangat sayang pada gadis itu.


^^^Senja ^^^


^^^Gue gak apa-apa. Gue cuma gak sempat sarapan. Terus gak ke kantin juga. Males gak ada temannya. Lagian, lo sama Parto pake gak sekolah segala.^^^


Tak lama chat Senja terkirim, Rara langsung membalasnya.


Rara


Ya elah. Pake gak sarapan segala. Sadar, Nja. Maag lo sering kumat.


Rara


Sarapan buat Aksa aja lo ingat. Masa diri sendiri lupa.


^^^Senja^^^


^^^Hehehe... Buat Zayyan beda, Ra.^^^


Rara


Suka-suka lo deh. Ya udah, udahan dulu chatnya. Gue mau jemput Mama.


^^^Senja^^^


^^^Emang tante dimana?^^^


Rara


Ck. Nggak tau tuh si Mama. Suka benget bertamu di rumah orang tua Tama. Mana nyuruh aku jemput lagi. Kan bisa tuh minta Papa jemput.


^^^Senja ^^^


^^^Nggak apa-apa, Ra. Hitung-hitung berbakti sama orang tua.^^^


Rara


Berbakti si iya, Nja. Cuma, ini seminggu tiga kali loh Mama ke rumah Tama. Dan itu udah berlangsung setahun lebih sejak Mama akrab sama Mama Tama. Dan selalu gue yang jemput. Mana adeknya Tama ngeselin lagi.


^^^Senja ^^^


^^^Hehehe... Sabar, Ra. Sabar. Udah sana, lo jemput tante. Nggak baik tante kelamaan nungguin lo.^^^


Rara


Iya iya. Gue pergi sekarang. Bye Senja.


^^^Senja ^^^


^^^Bye Rara.^^^


Arhez


Nja, keadaan lo gimana? Udah lebih mendingan dari yang tadi?


Arhez


Lo nggak boleh capek dulu. Lo istirahat di rumah, nggak boleh kerja dulu.


Arhez


Kalau lo butuh bantuan, cepat beritahu gue.


Senja tersenyum. Arhez sebaik itu padanya. Orang sebaik itu, dijauhi banyak orang hanya karena sikapnya yang nakal.


^^^Senja ^^^


^^^Gue udah baik-baik aja, Hez. Makasih udah khawatirin gue.^^^


^^^Senja ^^^


^^^Gue gak kerja hari ini. Lo gak perlu banyak pikiran soal gue. Gue tau, lo tadi dihukum bu guru gara-gara bolos pelajaran. Pasti itu karena lo temenin gue kan? Gue minta maaf.^^^


Arhez


Gak perlu minta maaf. Bukan salah lo. Gue sendiri yang mau.


^^^Senja ^^^


^^^Tetap aja. Kalau bukan karena temenin gue di uks, lo nggak mungkin bolos pelajaran.^^^


Arhez


Pokoknya bukan salah lo. Sekarang udah hampir jam sebelas. Lo istirahat gih. Gak boleh begadang.


^^^Senja ^^^


^^^Siaaaappp!! ^^^


Setelah mengakhiri chat dengan Arhez, Senja berniat mematikan handphonenya dan tidak membaca pesan dari Aksa. Tapi, rasa penasaran mengalahkan semua niatnya itu. Senja mengklik room chatnya bersama Aksa.


Zayyan


Senja


Zayyan


Semoga lo cepat pulih.


Zayyan


Lo lebih baik jangan ke cafe dulu. Istirahat.


Zayyan


Jangan begadang!


Senja lagi-lagi tersenyum. Senang sekali mendapat chat dari Aksa.


^^^Senja ^^^


^^^Makasih udah khawatir sama aku.^^^


Balasan chat Senja membuat senyum tipis terukir di bibir Aksa. Cowok itu masih terjaga sembari membaca buku miliknya. Dan ini pertama kalinya ia merasa senang membaca chat dari Senja.


***


Aksa, Amara, dan Wira telah bersiap untuk berangkat ke tempat dilangsungkan olimpiade. Pak Rahmat juga ikut untuk mendampingi mereka.


Senja hanya menatap mereka dari jarak yang cukup jauh dengan tangan yang memegang kotak bekal. Bisa ia lihat Aksa yang bersikap baik pada Amara.


"Gak usah dilihat, Nja!"


Senja menoleh, sedikit mendongak menatap Arhez yang tiba-tiba berdiri di sampingnya. Ia tersenyum tipis.


"Lo juga lihat ke arah mereka."


"Cara kita berdua liat mereka berbeda, Nja."


Senja terdiam, lalu kembali menoleh, meluruskan pandangannya ke arah mobil yang membawa tim olimpiade sekolahnya.


"Bekal buat gue?"


Senja menunduk menatap kotak bekal ditangannya. Itu bekal yang ia buatkan untuk Aksa. Namun, ia tidak sempat memberikannya karena Amara lebih dulu menarik Aksa pergi.


"Ini... buat Zayyan, Hez. Buat lo, ada di tas gue."


"Udah, buat gue aja dua-duanya. Mubazir kalau gak dimakan." Arhez meraih kotak bekal tersebut. Kemudian mengambil kotak bekal yang ada di tas yang Senja kenakan.


Gadis itu tersenyum tipis, lalu menatap Arhez. "Rakus!" ucapnya sembari terkekeh kecil. Membuat Arhez terdiam melihat senyum manis berlesung pipi itu.


"Ya udah. Gue ke kelas dulu. Tempat bekalnya lo simpan aja. Nanti gue ambil." Senja berjalan dengan santainya menuju kelasnya.


Setelah jam pelajaran usai, para murid bergegas pulang. Senja, ia pulang ke rumah untuk mengganti pakaiannya, kemudian kembali melajukan motornya menuju toko bunga yang sudah dikirim alamatnya oleh Aksa.