
Pagi telah menjelang. Sementara Senja, dia masih meringkuk di ranjangnya. Bukan karena dia masih tertidur, melainkan gadis itu sedang menahan rasa sakit di ulu hatinya. Air matanya bahkan terus menetes sejak tadi.
"Hiks, sakit banget ya Allah..." gumam Senja lirih. Dia tidak kuat walau sekedar berjalan. Beruntung ia masih memiliki waktu satu setengah jam lagi untuk bersiap-siap ke sekolah. Senja memejamkan kembali matanya, berusaha untuk melupakan rasa sakit yang dia rasakan dengan tidur. Dengan penuh paksaan, ia pun akhirnya bisa memejamkan matanya.
Setelah satu jam berlalu, pintu kamar Senja diketuk. Aldi yang melakukannya. Ia takut sang adik telat ke sekolah.
Tok... Tok... Tok....
"Senja? Bangun, dek. Udah pagi. Nanti kamu telat," ucap Aldi dari luar kamar Senja. Tak ada sahutan dari dalam. Aldi kembali mengulangnya beberapa kali. Karena masih tidak ada sahutan, akhirnya Aldi masuk begitu saja.
Cowok itu duduk di sisi kasur sebelah kanan Senja, kemudian mengusap lembut rambut Senja. "Senja. Ayo, bangun. Entar kamu telat ke sekolah."
Senja menggeliat pelan. Perlahan ia mulai membuka matanya menatap sang Abang yang masih setia mengelus kepalanya. "Iya iya, Senja bangun."
"Nah, cepetan bangun, terus mandi."
"Siap, Abaaang. Udah, Abang keluar aja, tungguin Senja di ruang makan. Senja mandinya gak lama."
"Ya udah, Abang ke ruang makan dulu," ucap Aldi kemudian mengecup puncak kepala Senja. Cowok itu lalu beranjak meninggalkan Senja.
Senja menarik nafasnya panjang. Beruntung Aldi tidak banyak bertanya. Jadi, dia tidak perlu berbohong untuk memberi alasan pada sang Abang. Senja juga bersyukur, rasa sakitnya sedikit berkurang. Jadi, dia bisa berangkat sekolah hari ini.
Setelah membersihkan diri dan bersiap-siap, Senja segera ke ruang makan untuk sarapan.
"Pagi Abang, Bibi," sapa Senja dengan senyum ceria. Gadis itu menarik kursi di dekat Aldi.
"Ini, makanan buat Non Senja," ucap Bi Haya sambil menghidangkan makanan yang dimasak khusus untuk Senja.
"Makasih, Bi. Ayo, sarapan dulu!" ajak Senja pada Bi Haya.
"Aduh Non, Bibi masih banyak kerjaan. Non Senja sama Den Aldi aja. Bibi selesai in pekerjaan Bibi dulu."
"Bibi, sarapan itu penting. Ayo, sarapan sama-sama dulu."
"Duduk aja, Bi. Sarapan juga gak sampai berjam-jam. Bibi bisa lanjut kerja setelah sarapan," timpal Aldi.
Bi Haya yang merasa tak enak pun menuruti permintaan Senja. Wanita paruh baya itu duduk bersama Aldi dan Senja untuk sarapan bersama. Setelah sarapan, Senja berangkat ke sekolah dengan Aldi yang mengantarnya.
"Masuk gih! Nanti Abang jemput," ucap Aldi sembari mengusap puncak kepala Senja.
"Abang gak ke kampus?"
"Ke kampus. Cuman gak lama. Abang bakal jemput kamu pulang sekolah nanti."
"Oohh.... Ya udah, Senja masuk dulu." Setelah berpamitan dengan Abangnya, Senja segera menuju kelas. Gadis itu cukup heran melihat beberapa siswa siswi menatap sinis padanya. Walaupun ia sering mendapatkan tatapan itu sejak dulu, tapi kali ini tatapannya seperti lebih pada tatapan marah dan menghakimi. Ia seolah telah melakukan kesalahan besar.
Mengabaikan mereka, Senja lanjut berjalan. Namun, baru saja gadis itu tiba di lorong kelas, tiba-tiba seseorang manahan tangannya.
"Eh. Zay—"
"Ikut gue!" Aksa langsung menarik tangan Senja. Tidak ada kelembutan dari cowok itu. Genggamannya di tangan Senja begitu kuat. Ia juga menarik Senja dengan kasar.
"Zay, ada apa?"
Tak ada jawaban dari Aksa. Hanya raut marah dan sorot mata tajam penuh amarah yang cowok itu tunjukkan. Dia membawa Senja ke belakang sekolah, dekat dengan gudang yang pernah menjadi objek hukuman untuk Senja, Rara dan Parto.
Merasa tangannya begitu sakit, Senja menyentak tangan Aksa hingga pegangan cowok itu terlepas. Langkah keduanya juga terhenti diikuti Aksa yang berbalik menatap marah Senja.
"Ada apa? Ada apa lo tanya? Lo apain Amara?!"
"Amara? Aku nggak—"
"BOHONG!! JAWAB GUE SENJA!! LO APAIN AMARA!!" bentak Aksa keras. Beruntung tempat itu cukup jauh dari gedung utama sekolah.
"Aku gak apa-apa in Amara!"
"Lo jangan bohong, Nja! Lo bully Amara kan? Gue liat sendiri lo bentak Amara di kelas. Kemarin gue juga temuin dia dalam keadaan berantakan. Pipinya merah karena ditampar. Penampilannya juga acak-acakan. Dia pingsan. Dia sendiri bilang ke gue, kalau lo yang bully dia!"
"Aku beneran gak lakuin apa-apa ke Amara, Zay. Aku bentak Amara itu ada alasannya. Aku gak pernah bully dia."
"Jadi, maksud lo Amara bohong?" tanya Aksa. Senja hanya diam. Ia tidak tahu, apa Amara benar-benar dibully atau tidak. Yang jelas bukan dia pelakunya. Dia memang membentak Amara pagi kemarin. Itu semua karena Amara dengan sengaja menumpahkan semua bekalnya yang disiapkan oleh Aldi. Dia jelas marah.
Dan satu lagi, dia memang berantam dengan Amara di toilet kemarin. Dia yang mendapat tamparan dari Amara, bukan Amara yang ditamparnya. Dia hanya membalas dengan menendang tulang kaki Amara.
"Kenapa diam? Hah? Maksud lo, Amara bohong? Asal lo tau, selama gue kenal Amara, dia gak pernah bohong sama gue!"
"Jadi, kamu lebih percaya Amara daripada aku?"
"Iya, gue lebih percaya Amara."
Tes...
Detik itu juga air mata Senja jatuh. Entah kenapa, rasa begitu sakit saat Aksa mengatakan ia lebih percaya Amara dibandingkan dirinya. Kepercayaan Aksa padanya selama ini begitu dangkal. Aksa juga secara tidak langsung mengatakan jika ia berbohong dan jahat.
"Aku pikir, kepercayaan kamu ke aku begitu besar, Zay. Ternyata aku salah," ucap Senja, kemudian berbalik meninggalkan Aksa.
Sementara di gedung utama sekolah, Arhez mencari Senja kesana kemari. Saat tiba tadi, ia mendapat kabar mengenai Senja membully Amara. Ia tidak sedikit pun percaya. Ia mengenal Senja dan ia juga mengenal Amara.
Tujuannya adalah mencari Senja dan menenangkan gadis itu. Senja pasti merasa terpuruk karena hampir semua siswa siswi membicarakannya dan menyalahkannya.
"Eh, lo liat Senja gak?" tanya Arhez pada seorang siswa yang langsung mendapat gelengan dari siswa tersebut.
"Lo kemana, Nja," gumam Arhez.
Cowok itu kembali menghentikan seorang siswa. "Lo liat Senja gak?"
"Liat. Tadi dibawa Aksa. Kayaknya ke arah gudang," ucap siswa tersebut.
"Thanks infonya." Arhez sedikit berlari ke arah gudang. Ia merasa khawatir Aksa akan berbuat buruk pada Senja. Dia tahu bagaimana dekatnya Aksa dengan Amara. Ia berpikir, mungkin saja Aksa akan lebih mempercayai Amara dibandingkan Senja.
"Kalau sampai lo nyakitin Senja, gue bakal jauhin Senja dari lo dengan cara gue sendiri, Sa."
Arhez berhenti saat matanya menangkap Senja berjalan dari arah gudang sambil tertunduk. Cowok itu tetap diam menatap Senja dari jarak yang sedikit jauh. Hingga Senja tiba di depannya pun, ia tak sedikitpun berpindah.
Senja menghentikan langkahnya saat jalannya terhalang seseorang yang berdiri di depannya. Gadis itu mendongak dan mendapati Arhez di depannya.
"Arhez..." lirihnya.
Arhez tak menjawab. Ia malah menarik Senja dalam pelukannya dan mengusap pelan rambut Senja. Dan entah kenapa, air mata Senja kembali jatuh.
"Hiks... Gue gak salah, Hez. Hiks... Bukan gue yang bully Amara."
"Gue percaya sama lo. Gue tau lo gak akan lakuin itu," ucap Arhez lembut.