Aksarasenja

Aksarasenja
Arhez Kecewa



Suasana rumah Arhez terlihat ramai. Banyak tamu-tamu rekan bisnis Hengky, papa Arhez, berdatangan untuk merayakan hari ulang tahun laki-laki itu.


"Selamat Pak," ucap salah satu kolega bisnisnya. Hengky menjabat tangan yang terulur tersebut sembari tersenyum. Di sebelahnya, ada Ratna, sang istri yang setia menemani. Selain itu, ada Arhez juga.


"Terima kasih sudah hadir," balas Hengky pada kolega bisnisnya.


"Ya," ucap pria itu. Ia lalu menatap Arhez. "Dia... Putramu?"


"Ya. Dia putraku, Arhez."


Hengky berbincang dengan beberapa rekan bisnisnya. Arhez yang berdiri di sebelah sang Papa sesekali berbicara saat rekan bisnis sang Papa bertanya padanya.


Namun tiba-tiba, tatapan matanya menajam saat melihat Amara datang bersama kedua orang tuanya. Entah kenapa, dia tidak suka cewek itu berada di rumahnya.


"Hengky. Selamat, semoga kau selalu sehat," ucap Papa Amara, sambil berpelukan dengan Hengky.


"Terima kasih, Gusman." Hengky balas memeluk laki-laki itu.


Setelah pelukan terlepas, mata Hengky beralih pada Amara. Pria itu tersenyum pada Amara.


"Kamu Amara kan?"


"Iya, Om."


"Om banyak dengar soal kamu dari Papa kamu." Amara hanya membalasnya dengan tersenyum manis nan sopan. Membuat Arhez berdecak dalam hati.


"Hez!" Panggilan diiringi tepukan pelan dibahunya membuat Arhez menoleh. Di depannya, Dean dan Roni menyengir ke arahnya. Sementara Bagas dan Jafar, mereka berdiri di sebelah Dean dan Roni.


Tidak seperti Arhez dan Aksa, hubungan Dean Roni dan Bagas Jafar terlihat akur-akur saja. Tapi, tidak jika Arhez dan Aksa sudah terlibat perkelahian. Mereka akan membela sahabat masing-masing.


"Selamat ulang tahun, Om," ucap Dean yang langsung menjabat tangan Hengky. Roni juga mengucapkan selamat ulang tahun dan menjabat tangan Hengky.


"Terima kasih, ya. Dimana orang tua kalian?"


"Mama sama Papa masih di jalan, Om," ucap Dean.


"Sama, Om. Mama sama Papa saya juga masih di jalan," ucap Roni.


Bagas dan Jafar pun juga mengucapkan selamat pada Papa Arhez. Sama seperti Dean dan Roni, orang tua keduanya juga di undang dan masih dalam perjalanan.


"Selamat Ulang tahun, Om. Semoga Om sehat selalu," ucap Bagas.


"Selamat tahun, Om. Semoga makin tambah ganteng," ucap Fajar sambil menyengir. Membuat beberapa rekan bisnis Hengky yang mendengarnya terkekeh pelan.


Dua sahabat Aksa itu benar-benar tidak tahu masalah Aksa dan tidak kenal dengan keluarga Aksa. Sehingga mereka bersikap biasa saja.


"Oh ya, Hez. Kayaknya itu Senja sama Bang Aldi," ucap Dean.


Arhez langsung menolehkan kepalanya sesuai arah tunjuk Dean. Cowok itu diam terpaku menatap Senja. Cewek itu terlihat cantik dengan balutan dress yang melekat pada tubuhnya.


Menyadari jika banyak yang menatap mereka, Aldi langsung menggandeng tangan Senja. Tatapannya berubah dingin membalas tatapan orang-orang yang menatap mereka.


Keduanya berhenti tepat di depan Hengky. Membuat laki-laki itu tersenyum.


"Selamat, Om." Aldi mengulurkan tangannya dan langsung dibalas Hengky.


"Terima kasih. Om senang kalian datang," ujar Hengky.


"Selamat, Om. Semoga Om sehat selalu," ucap Senja, yang juga mengulurkan tangannya.


"Terima kasih. Kamu Senja kan?"


"Iya, Om."


"Wah, akhirnya Om bisa ketemu kamu. Selama ini, Om hanya dengar dari Randa sama Mila soal kamu," ucap Hengky, menyebut nama papa dan mama Senja.


Senja tersenyum. Ucapan Hengky membuat Senja mengingat kedua orang tuanya.


"Oh ya, perkenalkan, ini istri sama anak Om."


Senja menoleh. Sejak masuk tadi dan menemukan jika Tante Ratna dan Arhez juga berada di sana, membuat Senja menebak jika kedua orang itu memiliki hubungan dengan teman papanya.


"Tante, Arhez," sapa Senja.


Hengky cukup terkejut. Begitu juga Aldi, Bagas, Jafar, Dean dan Roni. Lima orang itu terkejut karena Senja kenal dengan Mama Arhez.


"Kalian udah saling kenal?" tanya Hengky.


"Udah, Om. Senja satu sekolahan sama Arhez. Kalau sama Tante, kenalnya sebulan lalu."


Hengky tersenyum mendengarnya. Ia lalu mengajak Aldi dan rekan bisnisnya yang lain untuk berbincang-bincang.


Setelah beberapa saat, acara pun dimulai. Semua menikmati acara tersebut, begitu juga Bagas dan Jafar. Keduanya tiba-tiba ingat Aksa. Sahabat mereka itu pasti sedang sibuk belajar. Padahal, besok adalah hari libur.


"Far!" panggil Bagas.


"Apa?" Jafar yang sedang memakan cake menoleh menatap Bagas.


"Panas-panasin Aksa, yuk!"


"Hah? Gimana caranya?"


"Kirim foto Senja ke dia. Dia kan tahu kalau kita di undang ke acara bokapnya Arhez."


"Boleh juga."


"Ya udah. Lo kirimin foto Senja yang lo foto in diam-diam tadi."


"Ogah! Gue nggak mau jadi sasaran kemarahan Aksa."


"Ck! Badan doang gede!" sinis Bagas.


"Eleh, sok sok an, lo! Dimarahin Aksa, ciut juga nyali lo!" balas Jafar tak mau kalah. "Tapi, lo yakin Aksa bakal marah kalau tau Senja juga disini?"


"Gak tau. Coba aja dulu. Kita liat reaksi Aksa." Jafar mengangguk. "Ya udah, sekarang lo kirim foto Senja ke gue."


"Bego!" Bagas menabok lengan Jafar. "Lo tadi kan nggak mau. Jadi, tu foto gue yang kirim ke Aksa."


"Ck! Iya iya!" kesal Jafar sambil mengusap-usap lengannya. Sambil menggerutu, cowok itu mengirimkan foto Senja pada Bagas, yang kemudian dibagikan ke Aksa oleh Bagas.


***


Aksa baru saja kembali dari tempat papanya. Ia menuju kamar mandi dan membersihkan diri, kemudian duduk di kursi meja belajarnya.


Cowok itu mulai mengerjakan soal latihan. Baru saja soal ke 5 ia kerjakan, handphonenya bergetar. Ia meraihnya, kemudian menyalakannya.


"Bagas? Foto apaan?" gumam Aksa.


Cowok itu membuka aplikasi WhatsAppnya, lalu mengklik room chatnya bersama Bagas.


Aksa tersenyum melihat foto Senja yang dikirim Bagas. Namun, senyumnya seketika luntur saat mengingat sesuatu. Aksa segera mengirim balasan pada Bagas.


^^^Aksa ^^^


^^^Senja di tempat Arhez juga? ^^^


Disana, Bagas kegirangan saat mendapat balasan dari Aksa. Sepertinya rencananya bakal berhasil. Dan tak butuh waktu lama, Bagas segera membalasnya.


Bagas


Iya. Senja sama cowok. Kata Dean, itu abangnya. Papa Arhez kayaknya udah kenal banget sama orang tua Senja.


Aksa mengeraskan rahangnya. Ia menggenggam kuat handphonenya.


^^^Aksa ^^^


^^^Acaranya udah selsai? ^^^


^^^Senja sama siapa sekarang? ^^^


Bagas


Acaranya belum selesai.


Senja sekarang sama Arhez.


Bagas


Send a picture


Aksa kembali mengeraskan rahangnya saat membaca chat Bagas dan melihat foto yang Bagas kirim kan. Foto dimana Senja sedang berdiri bersama Arhez sambil tersenyum manis.


Aksa mematikan handphonenya. Jujur, ia sangat marah sekarang. Entah apa alasannya, dia juga tidak paham perasaannya saat ini. Dia tidak rela melihat Senja bersama cowok lain.


***


Setelah acara selesai, semua tamu berpamitan pulang. Hengky, Ratna juga Arhez mengantar tamu-tamu mereka ke depan.


"Hati-hati, ya. Kapan-kapan main kesini," ucap Ratna, mengusap lembut rambut Senja. Hengky dan Arhez tersenyum melihat kedekatan Senja dan Ratna.


Senja juga hanya tersenyum membalas ucapan Ratna. Ia tidak berani mengiyakan ucapan Ratna.


"Ya udah, Om, Tante. Saya sama Senja pamit dulu." Setelah mengatakan itu, Aldi dan Senja segera memasuki mobil. Senja menurunkan kaca mobilnya dan melambaikan tangannya pada ketiga orang itu.


Setelah kepergian Senja dan Aldi, senyum Arhez langsung memudar. Ia menatap Papa dan Mamanya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Arhez mau ngomong sama Mama sama Papa," ucapnya dengan nada dingin. Membuat Hengky dan Ratna menatapnya dengan kening yang mengerut.


"Mau ngo—"


Ucapan Ratna menggantung begitu saja saat Arhez tiba-tiba meninggalkan mereka.


"Arhez kenapa, Mas?"


"Nggak tau. Ayo, kita ngomong sama dia."


Hengky dan Ratna segera menyusul Arhez yang kini berada di ruang keluarga. Suami dan istri itu duduk berhadapan dengan sang putra.


"Kamu mau ngomong apa?" tanya Hengky.


"Arhez tau, Mama minta bantuan Senja buat bujuk Aksa," ucapnya, yang seketika membuat Ratna dan Hengky bertatapan. Hengky tahu rencana istrinya, tapi ia tidak tahu jika orang yang dimintai bantuan oleh istrinya itu adalah Senja.


"Kamu tau dar—"


"Arhez denger semuanya, Ma. Arhez nggak nyangka, Mama bakal cerita ke Senja soal aku dan Aksa saudara tiri. Arhez tau, Senja cewek baik dan nggak akan mungkin cerita in ini ke siapa-siapa. Tapi, kenapa Mama nggak bilang sama Arhez kalau Senja tau?"


"Arhez. Mama minta maaf. Mama nggak bisa seperti ini terus sama Aksa."


Arhez menarik nafasnya. "Arhez kecewa, Ma."


"Maaf, Nak. Biar bagaimana pun, Aksa itu anak Mama. Mama sayang sama Aksa."


"Tapi, Aksa belum tentu sayang sama Mama!!" Suara Arhez sedikit meninggi membuat amarah Hengky tersulut.


"Arhez!!" bentak pria itu.


Arhez menatap sang Papa. "Apa, Pa? Papa juga sama. Papa tau semuanya dan sengaja sembunyi in dari Arhez."


"Papa sama Mama nggak jujur!! Papa sama Mama nggak pernah cerita soal Farah!! Papa ngebiarin Mama ngelakuin semua itu, dan pada akhirnya Mama sendiri yang terluka!!"


Hengky dan Ratna terdiam. Air mata wanita paruh baya itu luruh. Ini adalah kali pertama Arhez berbicara dengan nada tinggi dan membentak. Mereka tahu, Arhez terkenal nakal. Tapi, tidak sekalipun cowok itu berkata kasar dan membentak seperti saat ini.


"Arhez benar-benar kecewa sama Mama," ucapnya kemudin berjalan meninggalkan kedua orang tuanya.


Ratna hendak menceghnya, namun Hengky dengan cepat menahan sang istri.


"Biarin Arhez tenang dulu. Setelah itu, kita ngomong baik-baik sama dia."


Ratna mengangguk. Dia tidak menyalahkan Arhez karena ia tahu, sebesar apa rasa sayang Arhez pada dirinya. Arhez marah karena tidak ingin ia terus terluka.