
Kedatangan teman-temannya sedikit menghibur Senja. Jika boleh jujur, Senja masih merasa sedih mengingat tuduhan yang diarahkan untuknya. Dan sampai sekarang pun, Aksa masih tidak membalas chat ataupun mengangkat telponnya.
"Senja, tolongin gue!" teriak Tama dari arah dapur. Cowok itu sedang dijewer Rara karena terus mengganggu. Tama dengan sengaja memakan cake yang dibuat Rara bersama Manda dan Senja. Keusilannya itu membuat Rara dan Manda kesal. Alhasil, Rara menarik telinganya sambil berjalan, membawanya ke ruang tamu.
Semua yang ada di ruang tamu lantas tertawa melihat kejadian itu. Senja yang tadi membawa minum ke ruang tamu ikut terkekeh melihatnya.
"Senja, jangan diketawain dong. Telinga gue sakit nih," ucap Tama.
"Gak papa, Bang. Sesekali senam kuping, biar pendengaran lo makin jelas," celetuk Jafar yang membuat semua kembali terkekeh. Aldi yang tertawa paling keras, membuat Tama merengut kesal.
"Ini namanya penyiksaan!" Kesal Tama.
"Lepasin, Ra. Kasian Kak Tama," ucap Senja.
"Gak, Nja! Ini orang keterlaluan banget. Cake yang kita buat dimakan sama dia."
"Banyak?" Arhez menimpali. Cowok itu tiba-tiba kasian melihat wajah memerah Tama. Sepertinya Rara tidak main-main menjewer Tama.
"Nyicip doang dikit," sahut Tama cepat.
"Nyicip doang dikit!" ucap Rara mengulang perkataan Tama. "Seperempat ngilang itu dikit?" lanjutnya lagi.
"Parah lo, Bang. Seperempat lo abisin," timpal Dean.
"Dijewer doang gak impas, Ra." Bagas memanasi.
"Bener, Ra. Diikat sama dilakban mulutnya sakalian, Ra. Biar gak bisa makan kalau kita makan nanti." Roni ikut menimpali.
"Biar gue yang lakban mulutnya, Ra." Manda menyahut sambil berjalan ke arah mereka. Cewek itu membawa cake yang benar-benar seperempat bagiannya sudah dimakan Tama. Mendengar ucapan Manda membuat Tama semakin melototkan matanya.
Senja yang menyaksikan semua itu hanya bisa terkekeh. Semua beban pikiran di otaknya menghilang. Dia benar-benar bersyukur atas kehadiran teman-temannya itu.
"Lepasin, Ra. Kasian Tama," ucap Aldi setelah menghentikan tawanya. Tanpa banyak protes, Rara langsung melepaskan jewerannya. Rara benar-benar menjadi penurut jika Aldi yang memintanya.
Tama mengusap-usap pelan telinga bekas jeweran Rara, kemudian duduk di sebelah Bagas. Semuanya mulai menikmati minuman dan juga cake yang di sediakan, kecuali Senja. Gadis itu hanya minum air putih dan memakan roti gandum. Senja senang, tidak ada yang banyak bertanya mengenai pilihan makanannya. Dan tanpa ia ketahui, Tama, Manda, Jafar, Bagas, Dean dan Roni sudah tahu mengenai penyakitnya dari Arhez dan Aldi. Mereka bersikap biasa, seolah tidak tahu apapun di depan Senja karena Aldi dan Arhez yang memintanya.
***
Hari yang ditunggu pun tiba. Hari dimana semua siswa melaksanakan ujian akhir. Senja, Rara dan Parto berjalan beriringan menuju ruang ujian mereka. Tadi mereka terpisah dengan rombongan Arhez yang memang menempati ruang ujian yang berbeda.
Dalam perjalanan, mata Senja tak sengaja menangkap sosok Aksa. Ia lalu berteriak memanggilnya.
"Zayyan!" panggil Senja yang lantas membuat langkah Aksa terhenti. Ia berharap, Aksa sudah memaafkannya.
"Nja, lo apaan sih?" kesal Rara. Dia tidak suka Senja dengan mudah menyapa Aksa.
"Gue mau ngomong bentar sama Zayyan. Lo berdua duluan aja," ucap Senja kemudian berjalan meninggalkan Rara dan Parto.
"Udahlah, Ra. Biarin Senja ngomong sama Aksa. Mereka harus lurusin kesalahpahaman itu," ucap Parto. Rara hanya mendengus, kemudian berjalan meninggalkan Parto.
"Ck. Gue lagi yang ditinggalin," gumam Parto lalu mulai melangkah mengikuti Rara.
Aksa membuang nafasnya saat Senja berjalan ke arahnya. Seharusnya ia tidak perlu berhenti.
"Za—"
"Ada apa?" Suara Aksa masih terdengar begitu dingin membuat Senja merasa sedih.
"Kamu masih marah sama aku?"
"Hmm."
"Kenapa?"
"Gue gak nyangka gue dekat sama orang sejahat lo. Lo kenapa sih sampai ngebully Amara segala? Dan parahnya lo gak mau ngaku."
"Aku udah minta maaf, Zay."
"Terpaksa kan? Lo minta maaf karena disuruh Pak Wawan. Lo gak ada niat buat minta maaf. Seandainya gak didesak Pak Wawan, lo pasti gak akan pernah akuin kalau lo pelakunya."
"Memang bukan gue pelakunya! Tapi terserah lo, Zay. Gue capek dituduh terus sama lo. Maaf gue udah ngeganggu lo," ucap senja kemudian berbalik meninggalkan Aksa.
Aksa terdiam. Gue? Senja menyebut dirinya dengan kata gue? Aksa menarik nafasnya. Ia berusaha untuk tak memperdulikannya. Tapi, hatinya tidak terima mendengarnya.
"Seharusnya gue lebih mengenal lo dulu sebelum ngejatuhin perasaan gue buat lo. Gue udah salah ambil keputusan," gumam Aksa.
***
Ujian akhir hari pertama berjalan dengan lancar. Siswa siswi yang melaksanakan ujian berhamburan keluar kelas setelah bel pulang berbunyi.
"Hez! Ayo!" Dean menepuk pelan pundak Arhez, mengajak Arhez pulang. Sementara Arhez, dia masih santai duduk di kursinya.
"Lo sama Roni duluan. Gue ada urusan," jawabnya.
Dean dan Roni saling menatap, kemudian mengangguk. "Ya udah, kita duluan." Kedua cowok itu berjalan keluar kelas meninggalkan Arhez.
Setelah kedua sahabatnya itu pergi, Arhez beranjak dari tempatnya dan berjalan keluar dari ruangan tersebut. Langkah tenangnya mengarah ke gudang sekolah yang bangunannya terpisah dengan gedung kelas. Tapi sebelum itu, ia mengeluarkan handphonenya dari saku celana, mengotak atiknya sebentar, lalu menyimpannya di saku seragamnya.
Tiba di sana, sudah ada seorang siswi yang menunggunya. Melihat kedatangan Arhez, cewek tersebut memberikan senyum terbaiknya.
"Lo mau ngomong apa?" tanya Arhez tanpa basa basi. Sebenarnya dia sangat malas bertemu gadis itu. Namun, saat nama Senja dibawa-bawa, membuat hatinya sedikit tergerak untuk mendengarkan apa yang gadis itu katakan.
"Santai sayang, lo gak usah buru-buru," ucap gadis itu yang tak lain adalah Siska, sahabat Amara.
Arhez berdecih dalam hati. Ia jijik mendengar kata "sayang" keluar dari mulut cewek itu. Dan sudah ia duga, sahabat Amara yang selalu terlihat lugu dan sedikit lemot itu, tidak sesedarhana yang dilihat.
"Gue gak ada waktu buat ladenin, Lo!" Arhez hendak berbalik, namun dengan cepat Siska menahan tangannya. Membuat Arhez dengan cepat menepis tangan cewek itu. Arhez menatap tajam Siska. "Jangan pernah sentuh gue sesuka lo!!" tegas Arhez pelan dengan rahang mengeras dan penuh penekanan.
"Oke. Gue gak akan sentuh lo," ucap Siska. "Gue nyuruh lo ke sini buat nunjukin ini ke lo." Siska memperlihatkan layar handphonenya ke arah Arhez. Cowok itu dengan serius memperhatikan layar handphone Siska yang menunjukkan sebuah vidio dimana Amara dan Senja sedang bertengkar.
Amara menampar pipi Senja kemudian menarik rambut Senja. Arhez yang melihatnya pun menggeram marah. Tapi, kemarahannya mereda saat Senja menendang kaki Amara hingga jambakan Amara di rambut Senja terlepas. Senja mengambil kesempatan itu untuk meninggalkan Amara.
"Itu gue ambil waktu Senja sama Amara bertengkar di toilet. Karena gak ada CCtv di toilet, gue yakin rekaman gue ini bakal berguna. Dan sekarang, lo bisa gunain ini sebagai bukti buat bebasin Senja dari tuduhan itu."
"Terus, cuma itu yang lo dapat?" tanya Arhez.
Siska terkekeh mendengarnya. "Lo kayaknya gak sabaran," ucap Siska. Arhez menatapnya dingin. "Vidionya masih ada lagi," lanjut Siska, kemudian kembali memutar vidio yang direkamnya. Kali ini tidak ada Senja. Hanya Amara seorang diri yang terlihat di toilet tersebut.
"Amara? Sendiri?" gumam Arhez. Membuat Siska menunjukkan smirknya.
"Lo liat aja, apa yang Amara lakuin," ucap Siska.
Arhez memperhatikan layar handphone itu dengan baik. Dan beberapa detik berikutnya, ia menggeram marah sambil mengepalkan tangannya.
Di layar handphone tersebut terlihat rekaman Amara yang menampar sendiri wajahnya. Gadis itu mengacak-acak rambut dan seragamnya hingga berantakan. Bahkan sobekan di sudut bibirnya dia sendiri yang melakukannya.
Jahat lo, Ra!! batin Arhez.
"Sekarang lo tau, kan? Sejahat apa si Amara," ucap Siska dengan senyum miringnya.
"Kasi rekaman itu ke gue!" ucap Arhez.
"Hehehe.... Arhez sayang, gak semudah itu gue kasi rekaman ini ke lo."
"Mau lo apa?"
"Main sama gue malam ini di apartemen gue," ucap Siska tanpa merasa malu. Dia bahkan tersenyum ke arah Arhez.
Arhez menatapnya, kemudian tersenyum miring. "Oke," balas Arhez tanpa berpikir panjang. Siska tersenyum senang. Sejak lama ia menyimpan rasa pada Arhez. Dan sekarang, akhirnya dia bisa dekat dengan Arhez.
Siska segera membagikan dua rekaman vidio itu pada Arhez dengan penuh rasa bahagia. Dia sudah membayangkan bagaimana kebersamaan ia dan Arhez malam nanti. Ia tidak peduli hari esok akan ada ujian akhir lagi. Yang penting, ia bersama Arhez.
"Jangan lupa. Gue tunggu lo di apartemen. Alamatnya gue share nanti," ucap Siska sambil mengedipkan sebelah matanya, kemudian meninggalkan Arhez.
Arhez menatap Siska yang berjalan meninggalkannya sambil bergidik jijik. "Cewek gila!! Tunggu aja gue sampai mampus!!" gumamnya, kemudian menatap handphonenya.
Ia lalu mengeluarkan handphonenya dari saku seragam, kemudian menghidupkannya dan mendengar kembali percakapannya dengan Siska barusan. Ya, dia merekam semua percakapan mereka. Berjaga-jaga, mungkin saja akan berguna untuknya nanti.