Aksarasenja

Aksarasenja
Arhez Dan Amara



Aksa terdiam menatap layar handphonenya. Cowok itu membaca kembali chat Senja yang ia abaikan beberapa hari ini. Jujur, dia merindukan kebersamaannya dengan gadis itu. Tapi, rasa marahnya lebih mendominasi. Membuatnya tidak ingin bertemu atau sekedar membalas pesan-pesan yang gadis itu kirimkan.


Aksa keluar dari room chatnya bersama Senja, kemudian beralih membuka aplikasi galeri miliknya. Dalam diam, ia terus memandangi foto-foto Senja.


"Seharusnya lo gak lakuin itu ke Amara, Nja," ucap Aksa. "Gue gak tau harus gimana. Gue sayang sama lo. Tapi, gue juga marah sama lo," gumam Aksa.


Cowok itu menarik panjang nafasnya. Dia meletakan kembali handphonenya kemudian meraih bukunya yang tergeletak di meja. Namun, tidak bisa fokus. Pikirannya selalu terarah pada Senja.


Sementara di rumahnya, Senja duduk di kursi meja belajarnya, sembari satu tangannya ia letakan di bagian atas perutnya. Sejak tadi, rasa sakitnya belum juga hilang. Ia terus berusaha untuk tetap fokus belajar. Namun, rasa sakit itu tak bisa ia abaikan.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan pintu membuat Senja dengan cepat menegakkan badannya. Gadis itu bersikap biasa dengan meletakan kembali tangannya yang tadi berada di atas perutnya ke atas meja. Ia juga mengubah raut wajahnya menjadi biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa padanya.


"Masih belajar?" Aldi mengusap pelan kepala Senja. Membuat Senja tersenyum kecil, namun tak mendongakan wajahnya. Ia yakin, wajahnya semakin pucat saat ini. Ditambah lagi, dia tidak menggunakan make up apapun di wajahnya.


"Iya. Abang kok belum tidur? Ini udah hampir jam sepuluh."


"Kamu pernah liat Abang tidur jam segitu?" Senja menggeleng, membuat Aldi terkekeh pelan.


Aldi menghentikan kekehannya. Ia terus menatap Senja yang begitu fokus membaca bukunya. Keningnya mengerut. Tidak biasanya adiknya itu tidak menatapnya saat bicara. Ia tiba-tiba merasa aneh dan khawatir.


"Senja," panggilnya lembut.


"Iya. Ada apa, Bang?" jawab gadis itu, masih tetap fokus pada bukunya.


"Liat Abang."


"Senja lagi baca, Bang."


Aldi menarik nafasnya, kemudian mengangkup kedua pipi Senja dan mendongakkan wajah gadis itu dengan pelan. Aldi meneguk ludahnya. Wajah adiknya lebih pucat dari biasanya. Matanya juga memerah menahan tangis. Sepertinya adiknya itu kesakitan. Aldi dengan capat mendekap Senja dalam pelukannya.


"Sakit lagi, hmm?" tanya Aldi lembut. Namun, suara yang terdengar sedikit bergetar itu menunjukkan jika ia khawatir dan sedih.


Air mata Senja menetes. Ia mengangguk pelan kepalanya dalam dekapan sang Abang.


"Kenapa gak bilang sama Abang?"


"Hiks.... Senja masih bisa tahan kok," ujarnya.


Aldi mengusap pelan kepala adiknya, dan mengecupnya. Ia melepaskan pelukannya kemudian menggendong Senja. "Sekarang istirahat. Gak usah belajar lagi," ucap Aldi. Cowok itu membawa sang adik ke ranjang dan membaringkannya. Dia juga menyelimuti Senja dan duduk di sebelahnya. Tangannya terulur mengusap-usap rambut Senja.


"Abang—"


"Tidur ya? Biar kamu bisa lebih enakan. Abang gak akan pergi. Abang disini sama kamu," ucap Aldi. Tanpa sadar air mata cowok itu jatuh. Dia benar-benar tidak tega melihat adiknya seperti itu.


Senja hanya mengangguk dan perlahan memejamkan matanya. Aldi mengusap air matanya, kemudian menunduk mengecup kening Senja.


"Abang janji, secepatnya bakal temuin pendonor hati buat kamu."


Dan tanpa Aldi ataupun Senja sadari, sejak tadi Bi Haya memperhatikan mereka. Wanita paruh baya itu ikut meneteskan air matanya menyaksikan mereka.


***


Arhez dengan raut marahnya menarik Amara menuju rooftop sekolah. Dia bahkan tidak peduli dengan rintihan Amara, memitanya melepaskan genggaman erat yang tersa menyakitkan itu.


"Hez! Tangan gue sakit!" ucap Amara, namun diabaikan Arhez.


"Hez! Lo kenapa sih? Lo—"


"Diam, Ra!!" bentak Arhez yang langsung membungkam Amara.


Arhez melepas dengan kasar tangannya yang menggenggam tangan Amara. Sorot matanya tajam menatap Amara.


Amara gemetaran mendapat tatapan itu. Ia meneguk ludahnya. Meskipun begitu, ia tetap berusaha menghilangkan rasa takutnya dan balas menatap cowok di depannya itu.


"Lo apa-apaan sih, Hez?!" bentak Amara.


"Lo yang apa-apaan! Maksud lo apa fitnah Senja? Hah?"


"Fitnah? Gue gak pernah fitnah Senja!"


Arhez membuang wajahnya ke samping, lalu tersenyum remeh. "Huh. Gue gak nyangka, selain pinter bohong, lo juga pinter menyangkal," ucapnya menatap kembali Amara.


"Hez! Lo gak jelas!"


"Mau gue jelasin?!" bentak Arhez. "Lo denger! Lo, orang yang udah fitnah Senja. Lo bilang kalau Senja yang bully lo, tapi sebenarnya enggak!! Lo sendiri yang nampar wajah lo! Lo yang buat rambut sama seragam lo berantakan!!" ucap Arhez sambil menunjuk rambut dan seragam Amara.


"Dan lebih parahnya, Lo sendiri yang ngelukain sudut bibir lo!"


"Senja nendangg gue, Hez!!"


Arhez kembali tersenyum miring. "Sekarang lo ngaku kalau bukan Senja yang bully lo?" Amara menggeleng dalam tangisnya. Arhez mendekat selangkah. Dan Amara, gadis itu tak sedikitpun mundur. Ia tetap pada tempatnya. "Gue tahu, Senja nendang lo karena dia ditampar dan dijambak sama lo!" ujar Arhez. "Lo jahat!!" bisik Arhez.


"Gak! Gue gak jahat!!"


"Lo mau liat? Gue punya semua rekaman lo!"


Amara terisak. Ia mengusap cepat air matanyadan menatap Arhez. "Kenapa sih, Hez! Kenapa lo lebih belain Senja dari pada gue! Gue sahabat kecil lo! Dulu, lo selalu bilang bakal lindungin gue! Sekarang lo berubah Hez! Setelah lo balik kesini, lo berubah sepenuhnya. Gue kangen lo yang dulu. Gue kangen masa kecil kita. Gue kangen lo yang suka panggil gue Ara, Hez..." lirih Amara dalam tangisnya.


Arhez terdiam. Ia tetap pada pendirinnya. Ia menatap Amara yang terisak dalam diam. Ya, benar yang Amara katakan. Dia dan Amara, mereka bersahabat saat kecil. Dia tidak lupa. Masih teringat jelas seperti apa wajah sahabat kecilnya yang manis. Namun, sejak ia kembali, ia melihat Amara yang berbeda dari beberapa tahun lalu.


Arhez ditinggalkan ibunya saat usianya masih 3 tahun. Ibunya meninggal karena mengalami pendarahan ketika keguguran saat mengandung adiknya. Semenara Amara, gadis itu ditinggal meninggal oleh sang Mama saat Amara dilahirkan.


Kesibukan papa Amara dan papa Arhez membuat kedua laki-laki itu menitipkan anak mereka. Arhez dititipkan pada bibi dari sang Ayah. Sementara Amara, dia tititipkan pada kakak perempuan dari mendiang mamanya.


Mereka memang tinggal di kampung yang berbeda. Namun, bersekolah di tempat yang sama sejak taman kanak-kanak hingga sekolah dasar. Arhez juga sering bermain di dekat tempat tinggal Amara. Hal itu membuat hubungan persahabatan mereka terjalin semakin dekat. Tapi, mereka harus terpisah saat Papa Arhez membawa Arhez pergi ke luar negeri setelah kelulusan sekolah dasar.


Air mata Amara terus turun membasahi pipinya. Gadis itu tak melepas tatapannya dari Arhez. Sedangkan Arhez, cowok itu berbalik dan hendak meninggalkan Amara.


"Siapa yang kasi tau lo soal ini?" tanya Amara yang langsung menghentikan langkah Arhez. Gadis itu mengusap kasar air matanya sebelum Arhez berbalik.


Arhez kembali menyunggingkan senyum miringnya. "Lo mau tau?" tanya Arhez. Wajah cowok itu terlihat biasa saja, tidak sedikitpun merasa kasian pada Amara. "Lo tanya sahabat lo yang sok lugu itu."


"Siska?" Arhez mengangkat bahunya. "Gak mungkin Siska," ucapnya.


Arhez tak banyak bicara lagi. Ia kembali mengeluarkan handphonenya yang sempat ia masukan ke saku celananya, lalu membuka rekaman percakapannya bersama Siska.


"Lo mau ngomong apa?" Terdengar suara Arhez yang memulai pembicaraan.


"Santai sayang, lo gak usah buru-buru." Amara mengepalkan tangannya. Benar, itu suara Siska.


"Gue gak ada waktu buat ladenin, Lo."


"Jangan pernah sentuh gue sesuka lo!!"


"Oke. Gue gak akan sentuh lo,"


"Gue nyuruh lo ke sini buat nunjukin ini ke lo."


"Itu gue ambil waktu Senja sama Amara bertengkar di toilet. Karena gak ada CCtv di toilet, gue yakin rekaman gue ini bakal berguna."


"Terus, cuma itu yang lo dapat?"


"Lo kayaknya gak sabaran,"


"Vidionya masih ada lagi,"


"Amara? Sendiri?"


"Lo liat aja, apa yang Amara lakuin,"


"Sekarang lo tau, kan? Sejahat apa si Amara,"


"Kasi rekaman itu ke gue!"


"Hehehe.... Arhez sayang, gak semudah itu gue kasi rekaman ini ke lo."


"Mau lo apa?"


"Main sama gue malam ini di apartemen gue,"


Arhez langsung mematikan rekaman tersebut saat Siska mengajukan persyaratan tersebut. Membuat Amara menatapnya.


"Lo udah dengarkan? Itu sahabat lo, Siska!"


"Lo jawab apa persyaratan Siska?" tanya Amara. Ya, semua kekesalannya pada Siska teralihkan oleh persyaratan yang ia dengar itu.


"Bukan urusan lo!"


"Itu urusan gue, Hez! Gue gak suka! Gue gak mau lo terjerumus ke hal bodoh kayak gitu!"


"Huh, gue gak peduli!" ucap Arhez, kemudian berbalik meninggalkan Amara.