
" ara!! ", teriak kelima wanita cantik yang berlari ke belakang panggung.
sang empu pun menoleh, dan memberikan senyuman termanisnya, ia membentangkan tangannya untuk menyambut pelukan kelima sahabatnya.
" ara.., gue kangen sama loe!", lirik rizka yang telah menangis di dalam pelukannya.
" gue juga kangen sama kalian, kalian baik-baik aja kan?!", tanya ara.
" kok loe malah nanya gitu ke kita sih?, harusnya kita yang nanya gitu ke loe!", protes alya.
" hehe..iya juga ya?, kan gue yang ngilang!", sahut sambil cengengesan.
di tengah moment haru mereka, seseorang pun menghancurkan itu semua.
" udah-udah pelukannya, kayak Teletubbies aja loe pada peluk-peluk kan!", protes seseorang yang tak lain adalah alvin, sambil berusaha memisahkan keenam wanita yang tengah berpelukan itu.
" apa-apaan sih loe vin!, ganggu keharmonisan orang aja!", protes resya kesal.
" heh, yang harmonis itu, kalau gue nikah sama ara, iya kan sayang?!", tanya alvin mulai menggoda ara.
" sayang-sayang pala loe peyang!, gue gak mau ya jadi istri buaya kayak loe!", celetuk ara mengejek.
" kok loe masih ngatain gue buaya sih?, mana ada buaya setampan gue?, wajah bak malaikat gini loe katain buaya!", sewot alvin tak terima.
" gue gak ngatain wajah loe, tapi sifat loe yang kayak buaya!", seru ara memperjelas.
" heh, gue kan jadi begini gara-gara loe, kenapa loe malah ngatain gue!", bentak alvin.
" kok loe jadi nyalahin gue sih?, jelas-jelas loe sendiri yang ngerubah sifat loe, kenapa sekarang nyalahin gue?, udah syukur ya gue maafin!", bentak ara balik.
" oh, jadi loe gak ikhlas maafin gue?, bilang dong dari awal, gak usah bikin drama kayak gini!", teriak alvin, lalu segera pergi meninggalkan tempat itu dengan wajah yang muram.
"ish!", gerutu ara kesal, lalu ikut beranjak pergi.
semua yang menyaksikan kejadian itu tercengang, mereka berfikir jika ara dan alvin akan bermusuhan kembali seperti dulu, kecuali seseorang yang sepertinya sudah faham dengan situasi semacam ini.
"ck, kapan sih mereka dewasanya?!", keluh rey.
" rey, mereka berantem lagi?", tanya rizka.
" udah, loe pada gak usah heran, mereka emang kayak gitu, satu hati beda pemikiran, paling abis ini juga pulang bareng!", jelas rey dengan santai nya, lalu segera melenggang pergi.
dan benar saja, kini ara sudah dalam satu mobil dengan alvin, masih dalam mode hening, hingga salah satu dari mereka membuka suara.
" loe laper gak?!", tanya alvin dengan ketus.
" iya!", sahut ara tak kalah ketus.
" biasa aja dong gak usah ngegas!, ya udah kita cari makan..", dengan nada yang kembali melembut.
" ish, siapa yang duluan ngegas!", gumam ara kecil.
" gue denger ra!"
" iya maaf"
" makan sini aja ra!", ujar alvin menghentikan mobilnya di depan restoran mewah.
" kok disini sih vin?, gak ah, gue mau makan bakso, bakso di restoran itu gak enak!", sewot ara.
" gak ada makan bakso malem-malem ra, gak sehat, udah kita makan disini aja ya?!", ujar alvin berusaha membujuk.
" alah, bilang aja loe gengsi makan di pinggiran jalan!, dasar holkay!", ejek ara.
" loe ngatain gue?, kayak loe nggak aja!", sewot alvin.
" tapi setidaknya gengsi gue gak gede kayak loe!"
" ya udah kita makan bakso di pinggir jalan!", ujar alvin pasrah.
" yes, gitu dong, jadi cowok harus ngalah!", ujar ara bersorak bahagia.
" apa sih yang nggak buat loe?", ujar alvin mulai menggoda ara.
" duh,mood buaya on nih!", ejek ara.
" udah gak jadi buaya kok, udah ada pawangnya sekarang, cantik lagi!", ujar alvin.
" iya, gue tau gue cantik, loe juga ganteng kok!", sahut ara.
" makasih boncel!"
" sama-sama tiang listrik!"
sepanjang perjalanan senyuman alvin tak pernah luntur, ia tak menyangka bisa kembali bersama dengan wanita yang sangat di cintainya, ia mereka amat bersyukur sekali.
begitu juga dengan ara, kini hatinya yang pernah rapuh, kembali bangkit dengan rasa kasih sayang yang di tunjukkan alvin kepadanya. alvin adalah lelaki pelindungnya setelah ayahnya dan kakaknya, meskipun alvin tahu ara bukan wanita yang lemah, tapi itu tak membuat alvin lengah untuk menjaga ara.
mulai saat ini, alvin akan menjadi ara sebagai prioritas hidupnya setelah keluarganya, ia akan menjaga wanita ini dengan separuh nyawanya.
seperti saat ini, alvin kembali berdebat dengan ara, karena ara memasuki begitu banyak sambal kedalam baksonya, dan alvin menentang itu, kini ia harus kembali membujuk wanita keras kepala ini.
" ganti ra, itu sambelnya kebanyakan!", ujar alvin sembarih menarik mangkuk di depan ara.
" gak mau vin, gak enak bakso kalau gak pedes!", bantah ara menarik kembali mangkuknya.
" ganti, atau gak usah makan?!", ancam alvin.
" iya-iya, gue ganti, dasar pemaksa!", gerutu ara.
"emang", sahut alvin.
akhirnya ara kembali memesan satu porsi bakso untuk nya, dan bakso tadi, ia berikan kepada anak-anak jalanan yang melewati mereka.
selesai makan, mereka bergegas pulang ke rumah, alvin mengantar ara terlebih dahulu kerumahnya, baru ia pulang.
di tengah perjalanan alvin tiba-tiba saja mengingat seseorang yang sangat dekat dengannya saat ara menghilang, namun entah mengapa saat ara kembali ia tak merasa penasaran kemana brayn pergi, sempat ia ingin mencari, namun saat ini alvin masih berusaha memperbaiki hubungannya dengan ara yang telah lama rusak.
meskipun ara berkata telah memaafkannya, namun alvin yakin, jauh di lubuk hatinya ara masih kecewa dengannya.