
hari ini, alvin berjalan menyusuri koridor kampus dengan senyuman menawannya. membuat seluruh kaum hawa yang melihatnya terpesona di buatnya.
sebagian dari mereka bertanya-tanya, asa apa dengan alvin hari ini, bukankah tiga hari yang lalu ia baru saja membatalkan pertunangannya?
" si alvin kenapa dah tuh?, apa sebahagia itu dia karena pertunangannya batal?", ujar mahasiswa A.
" mungkin, tapi sekarang alvin bakal normal lagi, soalnya si brayn songong itu kan udah keluar!", ujar mahasiswa B.
" tapi kenapa wajahnya bahagia banget ya?, bikin penasaran aja dah!", ujar mahasiswa C.
dan masih banyak lagi yang menggunjing tentangnya, namun alvin tak menggubris mereka sama sekali, karena kebahagiaan telah lengkap saat ini.
" guys!, dua hari lagi kalian mau debut kan?", seru alvin menyapa ketiga temannya, dengan senyumannya yak tak luntur.
reza, aldy, dan alkha , tercengang melihat sikap alvin kepada mereka saat ini.
" loe kenapa vin?", pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut aldy.
" gue?, gak papa, apa gue masih boleh gabung?!", ujar alvin balik bertanya dengan santai nya.
" fiks!, alvin kehilangan kewarasannya!", gumam aldy dalam hati.
mereka hanya terdiam membisu, sibuk dengan fikiran mereka masing-masing.
" woy!l, boleh kagak?!", kejut alvin sedikit berteriak, menyadarkan lamunan ketiga temannya.
" i-iya boleh vin, lagian band kita ini kan loe yang buat!", sahut reza sedikit gugup.
" sorry ya.., karena keegoisan gue yang terlalu larut dengan masalah pribadi gue.., loe semua jadi teracuhkan!", lirih alvin berkata dengan sedikit menundukkan wajahnya.
ketiga temannya kembali terkejut, apa-apaan ini?, alvin minta maaf?, ini untuk pertama kalinya alvin mengucapkan kata maaf kepada mereka.
" loe alvin bukan?", tanya aldy mulai curiga sambil mencengkram pundak alvin.
" iya ini gue!, loe kira gue kemasukan?!", ketus alvin bertanya, seperti bisa membaca apa yang ada di fikiran teman-temannya.
" apa loe udah gak kepikiran tentang ara, atau Brayn lagi?", alkha memberanikan diri bertanya.
alvin menggeleng sambil tersenyum tipis.
" sesuatu yang sudah berlalu, gak perlu di ungkit lagi, mulai sekarang..gue mau menatap masa depan kha!", jelas alvin mantap.
ketiga temannya tersenyum senang dan berhambur mendekap alvin.
" kita seneng loe kembali vin!", ujar reza.
" iya, udah.. jangan melow!, kita harus latihan bener-bener!", seru alvin kepada ketiga temannya.
" kuy!", sahut mereka kompak.
dan kejadian itu tak luput dari pandangan rizka, resya, dan alya.
" eh, kenapa tuh si alvin?, saking senengnya pertunangannya batal, sampe mau ikut debut sama X-tream lagi?!", ujar alya bertanya-tanya.
" wahh, gue jadi curiga, apa alvin ketemu cewek baru yang bisa gantiin ara ya?", ujar resya menebak-nebak.
" udahlah ngapain loe berdua ngomongin si alvin?! tuh liat, mantan tunangannya aja di diemin sama dia, kayak gak terjadi apa-apa!", sahut rizka.
benar saja, vanessa kembali menyendiri, karena pada dasarnya tak ada yang mendekati dan menemaninya dari awal, ia terlihat sangat introvet.
vanessa merenung merasa kehilangan, jika ia merasa sakit hati atau kehilangan alvin itu salah, karena sekarang ia merasa kehilangan orang ketiga yang berada di antaranya dan alvin, siapa lagi kalau bukan Brayn.
kemarin alvin sempat menghampirinya dan meminta maaf, vanessa berusaha menerimanya meskipun sedikit sakit, tapi setidaknya ia belum terlalu mencintai pria itu.
karena jujur saja, dalam hubungan mereka, Brayn lah, yang lebih sering menghiburnya ketimbang alvin, meskipun alvin selalu memperlakukannya dengan baik, namun itu tak berarti apa-apa untuknya.
berbeda dengan Brayn yang selalu menghiburnya kala alvin kalut dengan fikiran nya tentang wanita masa lalu nya itu, Brayn yang selalu membuat hatinya menghangat, tapi sekarang ia pergi entah kemana, apa Brayn sedih saat vanessa bertunangan dengan alvin?, apa Brayn cemburu?, fikirnya.
", bray, loe dimana?, kenapa loe tinggalin gue?, gue sama alvin gak jadi tunangan bray, kita bisa bersama, kenapa loe gak pernah jujur sama perasaan loe ke gue?!", lirih vanessa menangis dalam hatinya.
...----------------...
di lain tempat ara sedang sibuk membantu bunda nya memasak di rumah.
" nak, kamu kapan mau balik ke kampus?", tanya bunda.
" dua hari lagi ada pentas seni bulanan bun, ara mau bikin kejutan buat temen-temen!", jelas ara yang sibuk memotong sayuran.
" kamu gak takut ketinggalan mata kuliah nak?", ujar bunda kembali bertanya.
" ara bisa ngejar kok bun, tenang aja.., anak bunda ini kan jenius!", sahutnya menyombongkan diri.
" alah...jenius, di suruh nerusin perusahaan ayah gak mau!", ejek sang bunda.
" bunda, ara kan gak bisa diem, mana bisa ara jadi CEO yang kerjaannya cuman duduk sambil nyuruh-nyuruh orang?!, udah itu mah kak zio aja!", jelas ara pada bundanya.
" hah, terserah kamu deh!", keluh zahwa pada putrinya yang keras kepala itu.
ara tersenyum penuh kemenangan.
" udah nih bun, ara mau ke cafe ya?, mau nongkrong!", jelas ara setelah selesai memotong sayuran.
" iya bun, salah ya?", tanya ara kepada bundanya.
" enggak sih, aneh aja!", ejek zahwa.
" ish, bunda mah, ya udah ara pamit bun!", ujarnya sambil mengerucutkan bibirnya.
" iya, hati-hati nak!", sahut bunda sambil menggeleng kepalanya pelan seraya tersenyum, karena gemas dengan tingkah putrinya yang satu ini.
ara bukanlah wanita yang gengsi, hanya duduk di cafe sendirian?, itu hal biasa untuknya, ia tak merasa malu sedikit pun, yang penting hatinya senang.
# di cafe xx #
rey sedang berkumpul dengan kelima temannya, karena jam kuliah nya telah selesai, ia sedang asyik bercengkrama bersama-sama teman-temannya.
namun, arah pandangannya terhenti pada sosok wanita yang baru saja memasuki cafe itu.
" hah, tuh cewek mirip banget sama ara?, apa gue salah lihat ya?, ah pasti perasaan gue doang!", keluhnya dalam hati, sambil menggeleng kepalanya.
ia kembali sibuk dengan makanan di depannya, berusaha menepis pikirannya tentang wanita itu.
ara duduk di salah satu bangku cafe yang letaknya lumayan berjauhan dengan rey, ia tidak menyadari kehadiran rey di tempat itu.
ara masih menunggu pesanannya hingga dering ponselnya mengejutkannya.
" assalamualaikum"
"wa'alaikumsalam" , sahut orang di sebrang sana.
" kenapa?"
" loe dimana cel?", tanya alvin.
" berhenti manggil gue boncel, gue udah tinggi tau!", sewot ara tak terima.
" iya-iya, kamu dimana sayang?", goda alvin.
" idih, loe kira gue cewek loe?!", ketus ara.
" bukan cewek, calon istri!", ujar alvin kembali menggoda.
" hhh...terserah loe deh!, gue di cafe xx, kenapa?", tanya ara jengah.
" gue mau nyusul, jangan cabut dulu!", seru alvin.
" iya, gue baru dateng kok, jangan bawa siapa-siapa lho ya!", jelas ara.
" siap tuan putri..", sahut alvin.
" baik pelayan, nanti gajinya saya tambah!", ejek ara.
" gak ada yang mau jadiin orang seganteng gue sebagai pelayan!", sewot alvin berkata.
" ada, gue!", sahut ara.
" ishh, jahat! ", gerutu alvin dengan nada manjanya,
" bodo, dasar cowok alay!", ejek ara.
" dasar cewek tomboy!", balas alvin mengejek.
" boncel!" , lanjutnya kembali.
" tiang listrik!", balas ara kembali.
" bar-bar!",
" kemayu!"
" cantik", tiba-tiba pujian yang keluar dari mulut alvin.
" tampan", balas ara, ikut memuji lelaki yang dicintainya itu.
" makasih!", sahut alvin.
" sama-sama, cepetan kesini, keburu gue balik nih!", ancam ara.
" iya-iya!"
tut..tut..tut..
" yah, di matiin!, dasar bocah!", keluh alvin karena ara mutuskan panggilannya sepihak, namun senyumannya mengembang menatap ponselnya.
" siapa vin?", tanya aldy curiga.
" pujaan hati!", sahut alvin, seraya tersenyum.
" what?!", kejut ketiga temannya.
baru saja alvin membatalkan pertunangannya, sekarang ia dekat dengan wanita lagi?, apa alvin kembali menjadi playboy?, fikir mereka.