
kini ara dan kelima temannya sudah sampai di area perkemahan tempat yang terlihat indah untuk berwisata.
ya, tujuan mereka kesini hanya refreshing, untuk mengistirahatkan sedikit otak mereka selama tiga hari ke depan.
disana mereka sudah mau membangun tenda, yang telah disediakan oleh pemilik area perkemahan itu.
saat rizka mulai menancapkan bambu untuk penyanggah tiba-tiba saja suara ara menghentikannya.
" aduh.., rempong banget sih loe pada!, lihat nih gue bawa apa??!!", seru ara secara tiba-tiba
mereka terkejut saat melihat ara dengan tenda comfortable di tangannya dan kerangkanya yang sudah berjatuhan ke atas tanah.
" ya ampun ra, kok bawa yang begituan sih?!", tegur ara
" aduh.., gue gak suka repot ya?!, udah pake ini aja!!", tegas ara yang susah mengeluarkan taringnya
" kambuh deh males nya!", sindir Reyna
" udah, ikutan aja perintah gue!, kalian ini di kasih mudah malah membangkang!", tegur ara
kelima temannya hanya pasrah dan mengikuti apa yang ara perintahkan
sedangkan penghuni tenda lainnya tertegun melihat kelima wanita most wanted itu tertunduk kepada mahasiswi baru itu, siapa sebenarnya dia?, fikir mereka.
selesai membangun tendanya ara segera duduk di bangku kecil di depan tendanya itu, sedangkan yang lainnya masih terlihat kesusahan mendirikan tenda mereka, tendanya tak bersebelahan dengan alvin dan tak juga dengan rey.
entah mengapa ara malas sekali untuk menghadapi mereka berdua, tapi yang ara bingungkan, tak biasanya alvin tak mengusiknya.
tiba-tiba arah mata pandang ara terhenti di sebuah pemandangan pria dan wanita yang sedang bercanda gurau sambil membangun tendanya.
" ih alvin kena baju aku kotor tau!!", ujar chelsea dengan bibir mengerucut
" ya kalau kotor di bersihin dong sayang!", sahut alvin sambil tersenyum dan mengacak rambut chelsea gemas
" woy!, udahan dulu dong pacarannya!, gak selesai nih berdiriin tenda!", sewot aldy saat melihat temannya sedang bermesraan
tanpa mereka sadari sepasang mata menatap mereka dengan tersenyum miris
ya, dia adalah ara.
" ada apa dengan hati gue?, kok sakit banget ya rasanya?, harusnya kan gue bahagia kalau bisa lihat alvin tertawa selebar itu, meskipun dengan orang lain!", keluh ara dalam hatinya
tiba-tiba suara rizka mengejutkannya
"woy ra!", kejut rizka
" ih, ngagetin aja loe riz!", sewot ara
" loe pasti bingung kenapa si alvin gak ganggu loe?", tanya rizka
ara hanya mengangkat kedua bahunya acuh
" sekarang dia udah sedikit tobat tuh, dia nyatain perasaan dia ke chelsea", jelas rizka
ara terhenyak mendengar penjelasan rizka, entah mengapa rasanya harus sesakit ini mendengar alvin mencintai seseorang, bukannya harusnya ara bahagia jika alvin tak mempermainkan perasaan wanita kembali?
seketika lamunan ara buyar karena rizka meneriakinya
" woy!, loe budeg ya?",teriak rizka di depan wajah ara
ara hanya memalingkan wajahnya dari tatapan rizka lalu berlalu meninggalkan rizka dan memasuki tenda.
rizka pun terheran dengan sifat ara yang seperti itu
" idih!, kesambet apa tuh bocah?, kok jadi aneh gitu?, apa disini banyak jin nya kali ya?", ujar rizka bertanya-tanya pada dirinya sendiri
sesaat ia bergidik ngeri jika ara benar-benar kerasukan jin
malam pun tiba, mereka menyalakan unggun kecil dan mulai bakar-bakaran
" nih gue udah siapin bumbu BBQ nya!", seru alya
" ok!, ra, loe bantuin ya!, jangan makan doang!!", tegur rizka.
" iya iya!", sahut ara yang masih fokus dengan ponselnya
temannya hanya menggelengkan kepala heran melihat tingkah ara yang sangat pemalas itu
mereka pun bercanda ria disana hingga hari semakin malam, ara mulai merangkul tubuhnya dengan kedua tangannya, ara lupa membawa jaket saat itu, hingga ia menggigil kedinginan.
temannya pun tak menyadari ara yang sudah menggigil, tetapi sepasang mata sudah menatap ara tajam sejak saat tadi.
ya, dia adalah alvin, di balik tatapan tajam nya tersimpan rasa kekhawatiran melihat ara yang terlihat kedinginan.
"dia itu bego apa gimana sih?!, udah tau tempat sedingin ini masih aja gak pake jaket!, temennya tuh gak peka apa?, aduh gimana nih, kalau dia sakit kan gue yang repot!", gerutu alvin dalam hatinya
seketika alvin melepaskan jaketnya dan berjalan menghampiri ara, namun langkahnya terhenti ketika melihat pria lain lebih dulu mengaitkan jaketnya di tubuh kecil ara.
alvin mengepalkan tangan ya geram, entah mengapa ia sangat tidak sudi jika ara di dekati pria lain.