
Ara terkejut saat menoleh ke belakang dan mendapati seorang pria yang sangat di kenalinya
" kak bagas??!", ujar ara terkejut, lalu segera menghapus air matanya
bagas tersenyum kecil,
" udah terlanjur gue liat ra, ngapain di hapus!", canda bagas untuk sedikit menghibur ara
" ih, kak bagas kan gue malu!", tegas ara
" kok loe bisa disini sih kak?", sambung ara bertanya
" tadi gue liat ada cewek lari-lari sambil nangis, takutnya dia bunuh diri, jadi gue ikutin deh!", jelas bagas menyindir ara
" ih, apaan sih kak?!, gue gak senekad itu kali!", sewot ara
bagas pun tertawa renyah
" iya.., bercanda ra, tadi gue gak sengaja ngeliat loe jadi bahan rebutan idola sekolah!", tegas bagas
"..", ara hanya terdiam dan tak menjawabnya
" keren ya loe, belum sebulan udah jadi bahan rebutan, tapi setahu gue, rey sama alvin tuh lumayan deket lho, dan baru-baru ini gue denger mereka lagi ada masalah!, apa mereka bertengkar karena loe??!", ujar bagas menduga-duga.
ara yang mendengar perkataan bagas pun terdiam, hatinya bagai terhunus pedang, karena apa yang di katakan bagas benar adanya, bagas yang menyadari perkataannya telah menyakiti ara pun merasa bersalah.
" so..sorry ra, bukan maksud gue buat nyalahin loe!", ujar bagas gugup karena takut ara marah padanya
ara tersenyum tipis,
" gak, loe bener kak, emang gue penyebab mereka bertengkar!", tegas ara
" tapi apa masalah loe sama alvin sih ra sampai dia sebegitu nya mau nyakitin loe?", tanya bagas penasaran
ara yang merasa bagas akan bertanya lebih banyak pun langsung pamit undur diri
" gak papa kok kak, kalau gitu gue pulang duluan ya kak!!", jawab ara langsung bangkit dari tempat duduknya dan beranjak meninggalkan bagas yang masih kebingungan.
" gue jadi curiga, pasti ada sesuatu di balik semua ini yang mereka sembunyikan!", ujar bagas yang masih terheran dengan sikap ara.
sampai di rumahnya ara segera berlari menuju kamarnya, syukurnya sang bunda sedang keluar rumah saat itu, jadi ia tak perlu membuat bundanya khawatir.
ara mengunci pintu kamarnya dan menangis sejadi-jadinya, ia bingung apa yang harus ia lakukan saat ini, bagaimana nanti saat ia bertemu rey?, apa yang harus ia katakan?
karena sudah terlalu larut dalam kesedihannya ara pun tertidur, hingga sore hari ia terkejut karena sang bunda sudah mengetuk pintu kamarnya berkali-kali.
" itu nak, rey dateng kesini nyari kamu!", jelas sang bunda
ara hanya ter tak berkutik, hingga sang bunda mengerti akan keadaannya
" nak, kalau ada masalah, harus diselesaikan secara baik-baik, kamu temuin dia dulu ya..", ujar sang bunda menasehati anaknya
ara pun bergegas menuruni tangga dan menghampiri rey yang sudah menunggunya di ruang tamu, sedangkan sang bunda kembali ke dapur untuk membantu pembantunya yang sedang memasak.
" rey", sapa ara gugup sambil menduduki sofa
" sebelum itu gue mau minta maaf ra, soal perkataan yang tadi itu, gue gak beneran kok, gue gak mau aja permasalahan di antara kita ketahuan sama orang lain!", jelas rey
ara sedikit menghela nafasnya lega
" syukur deh, gue kira loe beneran!", ujar ara
" ya kali gue mau ngerebut hati loe dari alvin!", sindir rey kepada ara
" kok jadi ke alvin sih?!", sewot ara tak suka
"lah emang hati loe sekarang udah sama alvin kan?!, makannya gak bisa suka sama cowok lain", ledek rey yang benar-benar mengerti perasaan sahabatnya itu
" gak kok", ujar ara mengelak sambil memalingkan muka
"ra, mungkin loe bisa menyembunyikan perasaan loe dari orang lain ra!, tapi loe gak bisa menyembunyikannya dari gue!, gue kenal loe udah lama ra, gue tahu gimana loe!", jelas rey
ara hanya menunduk berusaha menutupi segalanya, tapi apalah daya rey sudah mengetahui semuanya
" tenang aja ra, gue bakal rahasiain tentang perasaan loe, terutama sama alvin, gue akan selalu ngelindungin loe dari dia!", tegas rey
" thanks ya rey, loe selalu bisa mengerti tentang keadaan gue, gue bingung harus bersandar sama siapa saat ini kalau bukan sama loe!,", jelas ara dengan mata yang sudah berkaca-kaca
" ra, kan loe sendiri yang bilang, itu gunanya sahabat!", ujar rey sambil tersenyum
ara pun membalas senyuman rey
" nah gitu dong, jangan tunjukkin muka terpuruk loe di depan alvin!, justru dia akan semakin seneng ngeliat itu ra!", tegur rey
" iya rey, mungkin inj saatnya gue melawan alvin, gue gak bisa terus di giniin sama dia!", tegas ara
mulai saat itu ara bertekad untuk melawan perlakuan alvin kepadanya, tapi bukan berarti ia berhenti untuk membantu mempersatukan kembali keluarga alvin, ia akan tetap melakukannya tanpa sepengetahuan alvin.