
" permisi mbak..", suara lembut seseorang menghentikan ara yang sedang asyik makan.
" oh iya, silahkan mas..", sahut ara tak kalah sopan dari sang empu.
ya, pria itu adalah alvin yang baru saja sampai di kafe itu, ia segera mengambil posisi dan duduk di hadapan ara, cukup lama ia memperhatikan wajah cantik wanita di depannya ini.
" loe disini, mau makan atau mau liatin gue makan?", geram ara berkata.
" dua-duanya", sahut alvin sambil tersenyum menawan.
ara hanya mendengus kesal mendengar jawaban itu.
" ra, suapin..", pinta alvin dengan nada manjanya.
" ck, pesen sendiri vin, nanti gue gak kenyang!", keluh ara berkata.
" nanti tinggal pesen lagi!", bantah alvin.
dengan perasaan dongkol, ara memberikan
suapan kedalam mulut alvin.
" puas?!", tanya ara ketus.
sedangkan sang empu hanya membalas dengan tersenyum puas.
" udah ah vin, malu di liatin banyak orang!", gerutu ara, karena memang banyak pasang mata yang melihat mereka, tak terkecuali rey yang sedari tadi mengucek matanya, masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.
" mereka itu iri sama loe, karena bisa nyuapin orang setampan gue!", jelas alvin dengan percaya diri.
" idih.., yang ada mereka jijik kali, dasar bayi gede!", ejek ara.
" ohh.., loe mau ejek-ejekan lagi, hmm?", tanya alvin menantang.
" au ah, capek gue ngomong sama loe!", gerutu ara frustasi.
alvin tertawa geli, melihat ara yang terlihat kesal.
" hey, jangan ngambek dong cantik.., ntar cantik ilang lho!", goda alvin.
" bodo!", ketus ara.
" ish, cantik banget sih kalau lagi ngambek!", ujar alvin kembali menggoda.
" alvin!!", teriak ara geram, sampai banyak pasang mata yang menatap mereka.
" iya iya, udah!", seru alvin menenangkan.
" kan jadi gue yang malu, kalau sampe nih singa betina ngamuk disini!", gumam alvin dalam hatinya, menyesali perbuatannya.
" loe tuh ke sini cuman mau gangguin gue makan aja kan?, ngaku gak loe?!", bentak ara sambil melayangkan sendok di tangannya.
" gak ra, gue kan gak bisa jauh dari loe, makannya loe balik ke kampus ya?", bujuk alvin.
" iya, kan loe sendiri yang nyuruh gue masuk kampus setelah pentas seni?!", tukas ara.
" iya juga ya?, kok gue lupa sih?!", ujar alvin sambil menyengir kuda.
" huh dasar pikun!", ejek ara.
" loe seneng banget sih ngejek orang?, gak baik ra!", seru alvin.
sedangkan ara hanya mendelik malas mendengar ucapan alvin.
" oh iya, loe naik apa kesini?, jangan bilang loe make motor sport itu lagi ya?", selidik alvin.
" kok jadi nanya kesitu sih vin?, gak nyambung!", celetuk ara.
" jawab ra!", tegas alvin dengan nada dingin nya.
" aduh, mulai deh, gak bisa bebas gue kalau kayak gini!", gerutu ara dalan hatinya.
" i-itu.., mobil gue lagi di service vin!", jawab ara gugup.
" bohong!, loe kira gue gak tau kalau loe gak pernah pake tuh mobil hah?!", tanya alvin penuh penekanan.
" ck, pake mobil tuh lama vin, kalau gue kejebak macet gimana?, lagi pula gue udah terbiasa bawa motor kok!", jelas ara mengelak.
" loe tau kan bahaya apa aja yang bisa loe dapetin kalau naik motor?, apalagi kebut-kebutan di jalan raya, bahaya ra, pokoknya mulai detik ini, loe gak boleh ngendarain motor lagi, titik!!", tegas alvin penuh penekanan.
" di mata gue, loe adalah sesuatu yang berharga, yang harus gue jaga dengan nyawa gue sendiri, maaf ra, gue cuman takut kehilangan loe lagi!", lirih alvin menundukkan kepalanya.
ara terhenyak mendengar penuturan pria di hadapannya ini, ia tidak pernah menyangka jika dirinya begitu istimewa di mata pria ini, apa mungkin cintanya juga lebih besar daripada yang ara miliki untuknya?
" maaf vin, gue gak bermaksud ngebantah loe, gue janji gak bakal ngendarain motor lagi!", seru ara.
alvin meraih tangan wanitanya untuk di genggam.
" ra, loe harus terima, kalau gue akan kembali seperti alvin yang dulu lagi, yang posesif, over protektif, dan tegas dengan segala sesuatu yang berhubungan sama loe dan..., belum selesai alvin berkata, ara sudah menyela, dan melanjutkan apa yang akan dikatakan alvin.
" loe gak boleh ngebantah perkataan gue, loe gak boleh melakukan sesuatu tanpa izin gue, dan loe gak boleh pergi ke tempat yang asing tanpa adanya gue?!, gue udah hafal!", tukas ara memutar bola matanya jengah.
alvin tersenyum puas mendengar penuturan ara.
" gadis pintar!", sambil mengusap pucuk kepala ara gemas.
" ekhm!"
deheman seseorang membuat pasangan sejoli ini menghentikan kegiatan mereka.
" rey?!", kejut keduanya.
" ohh, begitu ya vin?, jadi selama ini loe nyembunyiin ara dari semua orang terutama gue?, loe mau mesra-mesraan berdua dia tanpa ada gangguan gue?!", tanya rey penuh penekanan.
sontak alvin dan ada tergelak bersama.
" hahaha, loe apa-apaan sih rey?, ngapain gue mesra-mesraan sama buaya laut ini?, ogah!", seru ara menatap alvin dengan senyuman mengejek.
" heh, jaga mulut loe ya!, mana ada buaya laut setampan gue!", sahut alvin tak terima.
" heh, kok loe berdua malah adu ba**t sih?!", protes rey.
" lagian tuh mulut, minta di lakban ya?!", ancam alvin.
ara hanya memeletkan lidahnya, meledek.
sontak pertengkaran kecil mereka membuat rey yang kini tergelak.
" hahaha, loe berdua tuh ya, gak ada perubahan, umur udah berkepala dua masih aja kayak gini!, heran deh gue!", jelas rey berdecak sambil menggelengkan kepalanya pelan.
ara pun segera bangkit dari duduknya, dan berhambur mendekap rey erat, ia sangat merindukan sahabat kecilnya, yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri, rey pun ikut membalas dekapan ara.
" gue kangen banget sama loe rey!", lirih ara dalam dekapannya.
" gue juga, gue masih gak nyangka kalau ternyata loe selamat dari kecelakaan itu, tapi karena sekarang loe meluk gue, gue percaya loe gak akan ninggalin kita gitu aja!", sahut rey berkata lirih.
tanpa mereka sadari, sepasang mata menatap mereka dengan kobaran api cemburu, alvin segera bangkit dan memisahkan ara dan rey yang sedang berpelukkan.
" alvin, loe apa-apaan sih?!", bentak ara.
" loe yang apa-apaan, loe sengaja mau buat gue cemburu?!", tanya alvin dengan wajahnya yang di tekuk.
" jangan posesif loe vin, gue kan juga udah biasa pelukan sama ara, karena gue juga sahabatnya!", protes rey.
" awas ya, loe berdua main di belakang gue, gue gak segan-segan ngebunuh loe berdua!", ancam alvin dengan nada dinginnya.
sontak rey dan ara tergelak di buatnya, apa seperti ini jika seorang mantan playboy cemburu?, sungguh mengerikan.
" ra,yang sabar ya, gue rasa loe gak akan sebebas dulu, loe akan di kekang lagi sama bodyguard posesif ini!", ujar rey, sambil tersenyum mengejek.
ara hanya mendelik malas melihat tingkah alvin yang menurutnya sangatlah berlebihan, namun di balik itu, ada perasaan senang karena dengan itu ia tau alvin begitu mencintainya.
akhirnya ketiga sahabat kecil itu bercengkrama hangat hingga larut, untuk melepaskan kerinduan mereka, di kafe yang sangat berkenang ini, tempat dimana alvin dan ara mengenal rey untuk pertama kalinya.
bersambung.....
...----------------...
**readers sekalian...
mohon maaf karena untuk beberapa hari ini, author tidak up rutin, karena sedang menyiapkan PAS untuk anak didik autor yang sebentar lagi di adakan, jadi untuk beberapa hari ke depan, author mungkin akan jarang up.
tapi akan author usahakan untuk up, setidaknya tiga hari sekali, mohon pengertiannya ya...🙏🏻🙏🏻
jangan lupa vote, like, dan comment nya**...