
Ara POV
satu minggu lagi, ya, hari itu adalah hari yang paling di nantikan oleh ku, hari dimana semua kegundahan ku akan berakhir, aku akan kembali menjadi Ara.
namun, lucunya takdir mempermainkan hatiku. hingga bertepatan di hari bahagiaku, di saat itu pula hari patah hatiku, hari memudarnya cintaku yang dulu amatlah besar.
ya, cinta yang sejak dulu sangat ku takutkan akan hadir di antara kami berdua, aku, dan alvin. terkadang aku masih berusaha menepis perasaan ini, namun tetap saja, aku akan kembali kalah dengan hatiku yang sangat tulus mencintainya.
mungkin, jika saat perasaan ini hadir, dan alvin tetap rela menerima ku di sisinya, aku akan sangat bahagia, meski aku pun tak tahu bagaimana perasaannya denganku.
jujur, berada di sampingnya, tertawa bersamanya, menangis bersamanya, itu sudah membuat hati ku amat bahagia. aku merasa alvin adalah sebagian dari kehidupan ku.
tapi, itu hanya akan menjadi angan-angan ku saja, mustahil untuk terjadi, sudahlah ara, berhenti mengharapkannya!
tepat seminggu lagi, alvin akan mengikat hubungannya dengan wanita yang saat ini sangat dicintainya. aku tahu, yang namanya bertunangan, pasti setelah itu akan melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.
ternyata, alvin benar-benar serius dengan wanita itu, apakah aku harus menyerah?, apakah aku harus kembali muncul di hadapannya sebagai ara?
tidak, aku tidaklah sejahat itu untuk menghancurkan kebahagiaan orang lain. jujur, aku pun ingin bahagia tanpa harus menyakiti orang lain.
biarlah, seiring waktu berjalan, mungkin akan ku temukan kebahagiaan ku sendiri. aku tak bisa meneruskan dilema hatiku ini, aku harus bisa melupakan lelaki itu.
aku harus bisa bertahan seminggu lagi, meskipun keadaan yang ku alami selama seminggu ini begitu menyakitkan, dimana aku harus berada di tengah kemesraan alvin dan vanessa.
benar, selama alvin berhubungan dengan vanessa, aku selalu ada di antaranya, alvin bahkan tidak mau berjauhan dariku jika sedang bersama wanita itu.
apa mau mu sebenarnya alvin?, tak bisakah kau mengerti perasaan ku?, seperti saat ini, aku menemani mereka dinner. kencan apaan, di saat ada kehadiran orang ketiga seperti ini?
aku menyadari jika vanessa sangat risih akan kehadiran ku di antara mereka berdua, tapi alvin benar-benar melarang ku untuk pergi meninggalkannya.
alvin memang gila!
" vin, loe tuh aneh banget sih?, ini udah ketiga kalinya gue ikut loe kencan sama cewek loe?!", geram ku berkata.
" emang kenapa sih bray, gue tuh canggung kalau cuman berduaan sama dia!, lagi pula vanessa gak keberatan kok!, iya kan sayang?", jelas alvin, dan langsung bertanya pada kekasihnya itu.
vanessa hanya mengangguk kecil, dengan senyum tipisnya, terlihat sekali itu senyuman yang sangat di paksakan, mana ada wanita yang rela kencannya di ganggu akan kehadiran orang lain.
ya, meskipun alvin terkenal sangat berperilaku manis terhadap vanessa, tapi tak bisa di pungkiri bila ia terlihat sangat canggung bila hanya berduaan dengan Vanessa, pasti alvin akan membawa seseorang lagi untuk menemani mereka, jika bukan aku, terkadang ia membawa rey.
aku lelah jika terus seperti ini, hingga aku memberanikan diri untuk bertemu dengan rey, agar bisa membantuku memberi penjelasan kepada alvin.
Ara POV end
saat ini ara sedang duduk berdua dengan rey di cafe langganannya, ini benar-benar terasa canggung, karena ara harus bisa menahan ekspresi nya, karena ara tahu rey sangat bisa membaca orang dari raut wajah, dan gerak-geriknya.
bisa-bisa rey tahu jika brayn ini bukan lelaki, itu sangat mengerikan bila terjadi saat ini juga.
" mau ngomong apa loe??", tanya rey datar.
" sumpah bener kata Orang-orang, rey dingin banget kalau sama orang yang gak deket sama dia, huh, pencitraan!", ingin rasanya ara memakinya saat ini.
" gue mau bahas soal alvin, gue tahu loe teman dekatnya?, dan loe tahu sendiri kan gimana kelakuan alvin sekarang?", jelas brayn
" gue bukannya gak ikhlas atau gak terima buat nemenin dia pacaran, tapi gue gak enak sama ceweknya rey, mungkin di depan kita dia baik-baik aja, tapi gue yakin dia menggerutu di dalem hati!", keluh brayn.
" terus loe mau gue apa?, gue pun jadi korban juga asal loe tahu!", gerutu rey.
" kita harus kasih penjelasan ke alvin!", tegas brayn.
brayn pun segera menghubungi alvin untuk datang ke cafe yang sama menemuinya. hingga beberapa saat kemudian alvin datang, dan rait wajahnya sedikit terkejut, mungkin karena mendapati rey juga berada disana.
" kenapa loe disini juga rey?", tanya alvin mengintimidasi.
" kita mau ngomong sesuatu sama loe!", jelas rey.
" vin, gue mau loe jauhin kita berdua!", tegas brayn.
" apa?, kenapa?, loe berdua udah bosen temenan sama gue?!", tanya alvin ketus.
rey menghela nafasnya kasar.
" ck, bukan gitu vin, kita mau loe itu fokus buat deket sama vanessa, tanpa harus ada kehadiran kita, diantara kalian!", jelas rey.
" heh vin, loe gak pernah mikir apa, gimana perasaan vanessa saat loe ngajak dia kencan sedangkan loe selalu ngebawa temen loe dalam hubungan romantis kalian?!", tanya brayn dengan penuh penekanan.
" bray, rey, jujur, gue canggung kalau misalnya cuman berduaan doang sama dia, vanessa itu bener-bener beda dari wanita lain!", keluh alvin.
" dia wanita pendiam, ramah, baik, feminim, gue ngerasa gak pantes bersanding dengan dia!", lanjutnya berkata dengan mengutarakan pujian pada sosok vanessa.
tanpa ia sadari perkataan sangat menyakiti wanita yang sebenarnya ada di hadapannya ini.
" iya, bener, itu cewek yang loe impikan vin!, baik, feminim, dan gak bar-bar kayak gue!", lirih ara dalam batinnya, mengingat perkataan alvin beberapa tahun silam.
" tapi loe bakal nyakitin hati dia, kalu misalnya loe selalu membawa orang ketiga dalam kencan kalian, meskipun itu lelaki!", tegas rey sedikit geram dengan kelakuan sahabatnya ini.
" iya, nanti gue bakal minta maaf sama dia, dan gak bakal bawa kalian dalam hubungan gue lagi!", lirih alvin pasrah.
" nah, gitu dong!, itu baru alvin sahabat gue!", seru rey, sambil tersenyum hangat.
alvin membalas senyuman rey kepadanya.
ara yang secara langsung melihat senyuman dari kedua Sahabatnya itu pun ikut tersenyum, dan tanpa sadar ia reflek berkata.
" gue seneng kalian bisa akur lagi!", tukas brayn sambil tersenyum, yang membuat kedua orang itu menatapnya, dengan raut wajah terkejut dan curiga.
" maksud loe?, loe tahu darimana kalau gue sama alvin pernah bertengkar?", tanya rey mulai mengintimidasi.
" aduh, keceplosan!, dasar mulut..!", gerutu ara dalam batinnya.
" i-itu.. gue pernah denger dari alkha!", jelas brayn sedikit gugup sambil tersenyum kikuk.
alvin mengangkat satu alisnya, pertanda membutuhkan penjelasan.
" oh, gue lupa, gue masih harus nyelesain tugas gue, kalau gitu gue duluan ya!", seru brayn secara tiba-tiba, dan segera berdiri dari duduknya, dan bergegas pergi meninggalkannya dua sejoli itu.
" kenapa gerak-geriknya mencurigakan?", batin alvin yang masih menatap punggung brayn yang baru saja keluar dari cafe itu.
" gue kayak gak asing sama perkataan cowok itu?!", batin rey mulai mencurigai sosok brayn.
bersambung....
...----------------...
jangan lupa vote, like, dan coment nya ya.....