Afraid To Fall In Love

Afraid To Fall In Love
Sebuah insiden



sekujur tubuh alvin bergetar saat membaca setiap kata dari surat itu, sedangkan air matanya sudah membasahi wajah tampan nya


arghhh!!!


" gak, loe gak boleh pergi ra!!!", teriak alvin sambil menangis tersedu-sedu


" kenapa loe gak ngomong ke gue dari awal ra?!!, kenapa loe harus jelasin semua nya saat loe mau pergi ninggalin gue!!", lanjutnya dengan teriakan yang semakin kencang, hingga membangunkan kedua orang tuanya yang masih tertidur pulas.


" alvin!, kamu kenapa nak?", lirih ratna cemas


sedangkan alvin tak menggubris pertanyaan sang mama dan masih meringkuk sambil menangis.


hingga arah pandang ratna tertuju pada secarik kertas yang digenggam alvin erat.


" nak, kalau ada masalah, kamu cerita sama papa dan mama ya...", lirih pratama


" pa, benar kata papa!, alvin bodoh!, bahkan sama perasaan orang yang selama ini menjaga hatinya untuk alvin, alvin gak pernah sadari itu!!", lirih alvin yang masih terus menangis


" sebenarnya apa yang terjadi nak?", lirih ratna bertanya


akhirnya alvin menyerahkan surat itu kepada orang tuanya, dan di raih oleh ratna.


ratna terkejut membacanya, bahkan hatinya bergetar membaca surat itu, apalagi alvin yang benar-benar menerima surat itu.


ratna langsung berhambur mendekap putranya


" kamu yang sabar ya nak..., kamu pasti bisa memperbaiki kesalahan kamu..", lirih ratna di dalam dekapan


" tapi ara udah pergi ninggalin alvin mah!", lirih alvin berkata


" iya nak.., papa akan membantu kamu mencari ara, jika keadaan mu sudah pulih...", lirih pratama guna menenangkan putranya.


tangisan alvin mereda setelah mendapatkan nasehat dari kedua orang tuanya.


jam sudah menuju ke angka sebelas malam, tiba-tiba dering dari ponsel pratama mengejutkan ratna, pratama, alvin, dan juga vina adik alvin yang baru saja pulang dari rumah temannya.


pratama meraih ponselnya, dan tertera nama disana


" arya?"


pratama segera mengangkat panggilan itu,


" hallo?"


" ada apa ar?"


"....", sahut orang di sebrang sana


" apa??!!", kejut pratama secara tiba-tiba, membuat semua yang ada di ruangan itu menatapnya penasaran.


di lain tempat, arya, zahwa, dan putra mereka zio, sedang berada di bandara, raut wajah mereka terlihat pucat pasi, sedangkan zahwa sudah mulai menangis sesenggukan.


kira-kira apa yang terjadi?


" pak, saya keluarga dari penumpang pesawat XX, apa benar itu pesawat yang baru saja jatuh di laut lepas??", tanya arya dengan nada yang sudah cemas


" iya pak, kami masih melakukan otopsi, korban yang di temukan baru mencapai 15 orang, dan diantara mereka belum ada yang selamat, karena mereka jatuh di dasar laut, jadi akan sangat sulit melakukan otopsi", jelas petugas di bandara itu


arya yang mendengarnya seketika lemas, sedangkan tangisan zahwa sang istri semakin kencang


" ara...!!, anakku... hiks..hiks.., gak mungkin.!!, ara gak mungkin ninggalin kita yah!!", lirih zahwa


sedangkan zio berusaha menahan tangisannya demi menguatkan sang bunda


" bunda, yang sabar ya.., kita tunggu informasinya, siapa tahu ara bisa selamat..", lirih zio menguatkan sang bunda


" pak.., putri saya bisa selamatkan pak?!, putri saya gak mungkin ninggalin saya pak..", teriak zahwa frustasi


" maaf pak, bu, kami tidak bisa menjamin keselamatan putri bapak dan ibu, karena dari korban yang kami temukan, belum ada di antara mereka yang selamat!", lirih petugas itu berkata.


tangisan zahwa semakin menjadi, sedangkan sang suami terus berusaha menenangkan istrinya itu.


" sayang.., kita ke ruang otopsi yuk, kita lihat apa ada putri kita di disana..", lirih arya menyarankan


" halo om!"


" halo?", sahut orang di sebrang sana


" ini zio om!, kita sekarang ada di bandara, kita baru dapat kabar kalau pesawat yang di tumpangi ara kecelakaan!", jelas zio yang sudah tidak kuat menahan tangisan nya, hingga air mata pun terjatuh dari pelupuk matanya.


" apa?!!, maksud kamu ara kecelakaan?"


" iya om!", lirih zio


" dimana ayah mu sekarang?


" ayah dan bunda lagi di ruang otopsi buat meriksa identitas korban yang udah di temuin", jelas zio


" ya sudah, kalau begitu om akan mengerahkan anak buah om untuk ikut mencari ara, kamu kirim lokasi dimana pesawat itu jatuh!"


" iya om, terimakasih om !", lirih zio lalu segera memutuskan panggilan


" ara, jangan tinggalin abang...", lirih zio berkata sendiri.


*kembali ke rumah sakit alvin di rawat*


setelah pratama memutuskan panggilan, alvin tersenyum getir ke arahnya


" papa becanda kan?, barusan papa menghubungi bang zio buat ngerjain aku kan?!!", ujar alvin memastikan


sedangkan pratama hanya terdiam, dan tiba-tiba air mata berlinang dari matanya.


" kamu harus kuat vin..!", lirih pratama berkata.


" papa becanda kan?, gak mungkin!!,ara gak mungkin kecelakaan!, kemarin, ara masih sama aku pah!, gak mungkin ara pergi secepat itu!!!", teriak alvin frustasi


argghh.!!!, alvin berteriak sambil menarik rambutnya gusar, sedangkan tangisan nya terdengar semakin kencang.


ratna pun langsung memeluk putranya, guna menguatkannya kembali, sedangkan airmata pun mulai berlinangan dari pelupuk matanya, bagaimana pun ia telah menganggap ara sebagai putrinya sendiri.


" ara gak mungkin ninggalin alvin mah.. hiks..hiks..!", lirihnya di dalam dekapan sang mama


" kamu yang sabar ya nak..."


...----------------...


keesokan harinya..


Univ. XX


rey sedang berjalan di koridor kampus dengan pandangan yang terlihat kosong, ia melewati seluruh orang tanpa menggubris mereka yang menyapanya, sampailah ia di depan ruang kelas perbisnisan.


ia menghampiri kelima wanita yang sedang asyik bercengkrama


" rey, ngapain loe kesini?", tanya rizka terheran


" gue punya kabar duka!", jelas rey sambil menundukkan kepalanya


" kenapa?, si alvin lagi?, itu bukan kabar duka buat kita?", ketus alya mendelik tak suka


"bukan!!", tukas rey


" terus?"


" gue abis dapet kabar, kalau pesawat yang di tumpangi ara kemarin jatuh ke dasar laut!", jelas rey yang berusaha menahan isak tangisnya


" apa??!!", teriak mereka bersamaan


bersambung.....


...----------------...


jangan lupa vote, like, dan coment nya ya...