
kini ara dan temannya telah sampai di arena bermain, Ara dan teman-temannya berkeliling tempat itu, dan mulai menaiki wahana-wahana di tempat itu.
setelah puas menaiki wahana-wahana itu, ara dan teman-temannya pun mencari tempat untuk beristirahat dan makan, akhirnya mereka menemukan restoran yang tak jauh dari tempat itu, sedangkan mahasiswa dan mahasiswi yang lainnya, juga berpencar mencari restoran yang mereka sukai.
saat arah dan teman-temannya sedang bercanda gurau sembari menunggu pesanan yang mereka pesan, seorang pria menghampiri mereka, Siapa lagi kalau bukan Rey.
" ra, ikut gue!", tegas Rey sambil menarik tangan Ara
Rey pun membawa Ara kemeja yang letaknya lumayan jauh dari kelima temannya, dan mengajaknya untuk berbincang berdua saja, entah apa yang ingin dibicarakan oleh Rey.
" ada apa Rey?, kayaknya lo mau ngomongin sesuatu yang penting?" tanya Ara terheran-heran
" begini Ra, gue mau lo cepat-cepat pergi dari restoran ini!", tegas Rey
" emangnya kenapa?, kok tiba-tiba nyuruh gue buat pergi dari restoran ini, belum juga gue mulai makan!" sewot Ara tak terima
belum sempat Rey ingin menjelaskan kepada Ara, mereka berdua melihat Alvin dan teman-temannya memasuki restoran itu dan mereka juga ditemani oleh pacar mereka masing-masing, ara terkejut saat melihat Alvin yang menggandeng mesra tangan Chelsea, Entah mengapa saat itu ia merasa sangat sakit melihat itu.
ara berusaha menahan perasaannya dengan memalingkan wajahnya ke arah lain, berusaha untuk tidak melihat pemandangan itu, rey yang mengerti pun segera menarik tangan ara untuk keluar dari restoran itu, tapi ara menahan tangannya.
" lepas rey?, gue tau maksud loe supaya gue gak ngelihat mereka kan ??!", tegas ara sambil menunjuk ke arah alvin dan Chelsea
" ra, gue kayak gini karena gue tau perasaan loe!", lirih rey
" rey, gue gak papa kok!, sekarang gue mau gabung lagi sama teman-teman gue ya, loe udah selesai makan kan?, udah loe pulang aja!", jelas ara untuk menenangkan sahabat nya itu.
" tapi ra..
" rey, udah gak papa, loe pulang aja ya??!", seru ara
akhirnya dengan berat hati rey meninggalkan restoran itu dan ara kembali ke mejanya bersama kelima temannya.
ara melanjutkan makannya dan sesekali ia melirik ke arah sepasang kekasih yang sedang bermesraan, sebenarnya ini sangat sakit bagi ara, tapi untuk saat ini setidaknya Alvin tidak mengganggunya lagi.
ara pun menghabiskan makanannya dengan cepat dan ia berniat untuk pergi dari restoran itu secepatnya, ara pun berusaha mencari alasan pada teman-temannya untuk pulang ke Villa lebih dulu.
" guys, gue duluan ya!, gue mau ngedata kegiatan kita yang berubah karena hujan kemarin!", jelas ara
" oh, ya udah, loe tahu arahnya kan?", tanya rizka
" iya, gue tau, tinggal nyari taksi online aja!, ya udah gue duluan ya!", ujar ara berpamitan sambil beranjak meninggalkan kelima temannya itu.
ara pun terpaksa melewati sepasang kekasih yang sedang mabuk cinta itu, ia melihat alvin saling bersuapan dengan chelsea, dengan tangannya yang sambil merangkulnya, ara pun berusaha menetralkan raut wajahnya, dan berjalan seperti tak melihat mereka.
mamun siapa sangka tangan seseorang mencekalnya ,sehingga ara terpaksa menghentikan langkahnya, siapa lagi pelakunya kalau bukan Alvin, ia mencekal tangan ara dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya masih asyik merangkul Chelsea mesra.
" loe kira acting pingsan loe kemarin, udah bikin gue kasihan sama loe?!", tegas alvin dengan nada mengejek
ara pun sedikit menghela nafasnya
" mau apa lagi loe sekarang??!", tanya ara ketus
" yang gue mau sekarang loe menyingkir dari hadapan gue untuk selamanya!!", tegas alvin
Alvin tersenyum penuh kemenangan
" ok, tapi tetep aja, loe gak akan gue biarin hidup tenang selama ada di kampus gue!", ujar
Alvin sambil tersenyum sinis
" terserah loe!, sekarang lepasin tangan gue!!", tegas ara sambil berusaha melepaskan cekalan tangan Alvin
ara mengalihkan pandangannya untuk tidak melihat ke arah Alvin, sampai tatapan matanya menangkap seseorang yang selama ini dia cari.
ara reflek ingin berlari mengajar orang tersebut, namun ia lupa kalau tangannya masih dalam cekalan tangan Alvin.
" lepas!!", bentak ara, menarik tangannya hingga ia berhasil terbebas dari cekalan tangan
alvin, lalu segera berlari keluar restoran.
kelima temannya yang menyaksikan kejadian itu sedikit kebingungan, karena mereka menyadari ara seperti melihat seseorang dan sepertinya berniat untuk mengejar orang tersebut, begitu juga dengan Alvin yang terlihat bingung saat ara berlari seperti ingin mengejar seseorang.
kini ara sudah berada di luar restoran, ia mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang yang tak sengaja ia lihat tadi.
" iya, gue yakin, pria itu..., pria itu benar-benar persis seperti pria yang sudah menjebak mama, aku harus bisa menemukannya!", tega ara dalam hatinya.
ia berusaha mengelilingi tempat itu namun
naasnya, ia tak menemukan kembali sosok pria itu, karena hari sudah semakin larut, ara pun terpaksa menghentikan usahanya untuk menemukan pria itu.
ara kembali ke villa dan waktu sudah menunjuk pukul sebelas malam, seseorang tak sengaja melihat ara yang baru saja pulang.
" ra!, darimana loe?", ujar seseorang dari belakang ara
" ih, kak bagas!, selalu deh ngagetin!, udah tau nih villa sepi, kan gue takut jadinya!!", sewot ara
" udah tahu begitu, kenapa loe baru pulang hmm?", tanya bagas
" tadi..ta-di gue,.., gue ketemu teman lama!, iya teman lama!", jelas ara gugup
" loe lagi gak bohong sama gue kan?", tanya bagas sambil menatap ara intens
" gak kak!, udah ah gue mau tidur!", sahut ara langsung beranjak meninggalkan bagas
" ok, ayo sini gue anter!, ntar loe di culik wewe gombel aja!", ujar bagas menakut-nakuti, sambil mendorong tubuh ara untuk masuk ke villanya
" ih, apaan sih kak?, loe kira gue anak kecil di culik wewe gombel?!", tegas ara tak terima
" ya, ya, gue tahu!, mungkin aja loe yang malah nyulik wewe gombelnya?!", canda bagas
" ngawur aja loe kak!!", sahut ara
mereka pun sedikit bercanda sambil memasuki villa masing-masing.
tanpa mereka sadari, seseorang sudah memperhatikan mereka sedari tadi dengan tatapan mata yang sudah memerah menahan amarahnya.