Afraid To Fall In Love

Afraid To Fall In Love
You broke me anymore



mencintai dalam sepi


dan rasa sabar mana lagi


yang harus ku pendam dalam mengagumi dirimu...


melihatmu genggam tangannya


nyaman di dalam pelukannya


yang mampu membuatku tersadar, dan sedikit menepi..


setelah sekian lama, ara baru mengeluarkan suara merdunya lagi, mencurahkan segala isi hatinya, mencurahkan segala kegundahannya.


ya, di tempat yang sepi ini ara kembali menangis seorang diri karena lelaki yang sama, lelaki itu kembali memporak poranda hatinya.


hingga suara seseorang yang sama mengejutkannya.


" brayn?, loe brayn kan?", sapa pria itu.


" bagas?", kejut ara sambil mengusap sisa bulir air matanya.


" sorry ya, gue gak maksud ikut campur sama masalah loe kok!, gue kaget aja lihat loe nangis disini, udah lah biasa aja!, cowok juga manusia kok!", seru bagas, karena mungkin brayn merasa malu karena terpergok menangis.


" thank's ya, gue lagi merasa kesulitan aja sekarang!", jelas brayn.


" setiap orang pasti punya masalah bro, tapi dengan kesabaran kita pasti bisa melewati masalah itu!", seru bagas.


ara hanya bisa tersenyum kecil menatap pria yang selama ini pernah menghiburnya, dan menghangatkan hatinya.


semua masalah yang ada pada ara saat itu, hanya bagas yang mengetahuinya, bahkan bagas benar-benar bisa menjaga privasinya.


namun ada satu hal yang membuat ara membenci dirinya sendiri, karena selama ini ia tak bisa membalas perasaan tulus dari bagas.


bahkan hatinya saat ini masih saja di miliki oleh lelaki yang ia benci, siapa lagi kalau bukan alvin.


" loe tahu?, melihat loe nangis disini, gue kembali mengingat wanita itu, pasti loe tahu dia kan?, dia orang yang sama yang pernah melerai pertengkaran gue sama Biyan, dia juga suka nangis di tempat ini...


bagas menjeda sejenak ucapannya, lalu pandangan matanya melirik brayn sekilas.


" kenapa melihat loe, gue jadi ke inget ara ya?, apa mungkin ara sengaja ngirim loe untuk jadi penggantinya?!", keluh bagas bertanya-tanya.


" mungkin", sahut Brayn sambil tersenyum tipis.


" gue jadi penasaran sama wanita yang bernama ara itu, kenapa kayaknya semua orang ngebahas tentang dia ya?!", gumam brayn.


" kalau menurut gue, semua sifat baik ada sama dia, mungkin karena itu semua orang sulit buat ngelupain ara?", jelas brayn.


brayn tak menanggapi ucapan bagas.


" gue gak sebaik yang loe kira kak, bahkan gue udah buat loe kecewa dan sakit hati karena gak bisa balas perasaan loe?", lirih ara dalam batinnya.


" ya udah, kalu gitu gue cabut duluan!, gue rasa loe butuh waktu untuk sendiri!", seru bagas.


" thank's bro!", sahut brayn.


" ra, kenapa ini bisa persis banget sama kenangan kita?, apa cowok ini titisan loe?, tapi kenapa harus cowok kayak dia?", keluh brayn dalam hatinya.


...----------------...


keesokan harinya, ara sudah memantapkan hatinya untuk berhadapan kembali dengan alvin.


" bray, loe kemana aja sih?, loe tau?, gue kira loe mau pindah kampus lagi!", sewot alvin.


" sorry vin, gue sibuk ngurusin perusahaan bokap gue, karena mereka lagi di luar negeri, kemarin sempat ada masalah!", jelas brayn.


" owh.., tapi kok loe gak ada bales chat gue?", tanya alvin kembali.


"harus ya?!", batin ara menggerutu.


" iya deh.., oh iya!, gue punya kabar gembira buat loe!", seru alvin dengan wajah sumringah.


" apa?"


" gue udah bisa ngelupain ara!", jawabnya mantap.


degh!


" loe harus kuat ra!!", batin ara menenangkan hatinya, yang sudah terlalu sakit akan kenyataan ini.


" oh ya?, bagus dong!, cewek mana yang berhasil luluhin hati loe?", tanya brayn berusaha bersikap biasa saja.


alvin tersenyum simpul.


" dia berbeda dari yang lain bray, awalnya gue kasihan sama dia karena selalu sendirian,dan akhirnya gue ngedeketin dia, tapi entah kapan perasaan ini muncul!", lirih alvin sambil tersenyum sumringah.


" kenapa?, kenapa gue bisa jatuh cinta sama loe vin?, sama loe yang gak pernah mengerti perasaan gue?!", batin ara menangis.


" syukur deh kalau gitu, kita gak bakal di tuduh cowok g*y lagi!", celetuk brayn.


" makannya loe cepat cari cewek bray!", tukas alvin.


Brayn hanya memutar bola matanya malas.


" oh iya bray, loe mau bantuin gue gak?", tanya alvin.


" bantuin?!"


" bantuin gue buat ngelakuin hal yang romantis buat vanessa bray!, loe tau ?, kemarin gue ngajak dia dinner, tapi gue bingung mau ngomong apa?, soalnya gue gak tahu hal yang romantis?", jelas alvin menggerutu.


ara yang mendengarnya hanya bisa tersenyum miris.


" apa gue harus mengorbankan hati gue lagi vin, buat kebahagian loe?!", lirih ara dalam batinnya.


" bukannya mantan loe banyak ya?, masa gak tahu hal yang romantis!", ejek brayn.


" kan loe tahu sendiri kalau dulu gue pacaran cuman formalitas!", celetuk alvin.


" iya, gue tahu!", sahut brayn malas.


" dua minggu lagi gue mau tunangan, gue bingung mau kasih hal yang romantis seperti apa buat dia!", keluh alvin.


runtuh sudah pertahanan ara, mendengar kata ' pertunangan ' dari mulut alvin, ara benar-benar menyerah dengan hatinya saat ini, bagaimana ia bisa bertahan dengan hatinya yang sesakit ini?


apakah tak ada kesempatan bagi ara untuk menyembuhkan hatinya?, bahkan setelah ia kehilangan ingatannya, lalu kembali ke tempat ini kembali, ia harus kembali merasakan sakit yang sama?


" sorry vin, nanti pasti gue bantuin loe kok, gue mau ke wc dulu gak kuat!", tukas brayn, langsung berlari meninggalkan alvin.


alvin hanya menatap heran sikap brayn.


" kenapa pas gue bilang, gue mau tunangan muka brayn kayak terkejut gitu ya?, apa dia masih ragu kalau gue bisa lupain ara secepat itu?!" batin alvin bertanya-tanya.


ara masih terus berlari sambil menahan air mata yang telah berkumpul di pelupuk matanya.


sampai kini ia sampai di atap gedung itu, dan saat itu pula tangisnya pecah.


" kenapa?, kenapa harus hati gue yang loe sakiti vin?, gue gak kuat bertahan dalam keadaan ini, gue capek vin!, seandainya saat kecelakaan itu gue mati, gue lebih memilih mati dan hidup tenang di alam sana vin!, dari pada kembali untuk di permainkan loe lagi!! hiks..hiks!", lirih ara sambil memukul-mukul dadanya, yang terasa sesak.


karena suasana pagi itu terlihat mendung, rintikan hujan mulai membasahi tubuh wanita yang terlihat seperti pria itu, entah untuk yang keberapa kalinya ara menangis di temani oleh derasnya hujan.


bersambung.....


...----------------...


jangan lupa vote, like, dan coment nya ya....