
Aku Alvin adrian pratama, dulu orang-orang mengenalku sebagai sosok lelaki yang sangat baik, karena aku memang tidak menyukai suatu hal yang tidak berguna untuk dilakukan.
Masa SMP
mungkin teman-temanku saat itu banyak yang mulai melakukan hal yang tidak berguna,
seperti tawuran, berpacaran, merokok, dan hal lainnya.
itu semua hal yang paling aku hindari saat itu, karena menurutku itu hanya membuat waktu berhargaku terbuang sia-sia.
saat itu aku lebih suka membaca buku, bermain musik, dan olahraga basket yang menjadi kesukaanku, berbeda dengan kedua sahabat ku, yang sangat aku sayangi saat itu.
Zahra Annisa Saniyah, atau yang lebih akrab ku panggil ara, dan tak jarang juga aku memanggilnya dengan sebutan 'boncel ', karena badannya yang kecil.
Pertama kali aku bertemu ara saat masih di sekolah dasar, kedua orang tuaku dan orang tuanya sangat akrab, sehingga aku dan ara pun, bisa terlihat sangat dekat.
hingga pada akhirnya aku memasuki SMP yang sama dengan ara.
aku sangat senang bisa sedekat ini dengan ara, karena tak sedikit kaum adam yang mengaguminya, tapi aku tahu sikap ara yang akan sangat cuek dengan orang yang tak dikenalinya.
ya, dia memang sangat cantik , tak heran banyak mata yang terpesona akan penampilannya, meskipun kepalanya terbalut oleh jilbab, tapi itu sama sekali tak menghilangkan aura kecantikannya.
namun, tak dapat di pungkiri, di balik wajahnya yang manis dan terlihat feminim, ia adalah wanita yang tomboy dan sedikit barbar.
terkadang aku pusing untuk menangani sikapnya, aku yang lelaki saja tidak sepertinya,
ara sering sekali mencari masalah, seperti saat itu, dia kembali memohon padaku agar mengizinkannya untuk tawuran, dan tidak melaporkannya kepada bunda.
" vin, please!!, ini terakhir kali deh...", ujar ara memohon dengan menangkup kedua tangannya
" gue bilang enggak, ya enggak ra!!", tegasku dengan sedikit meninggikan suara
ara tertunduk entah karena apa, aku pun kembali menasehatinya
"ra, loe itu cewek! , gak pantes buat loe ikut yang kayak begituan, gue aja yang cowok gak pernah ikutan...
belum selesai aku berbicara ia kembali menyela
" itu kan loe nya aja yang terlalu kalem vin!, harusnya sebagai ketos, loe yang dukung gue buat sekolah kita!!", bantah ara
" gue gak mau loe kenapa-napa ra, loe itu cewek!, gue udah janji sama bang zio buat jagain loe!!", tegasku kembali
ya, seperti itulah aku dan ara, aku sangat tidak menyukai hal-hal seperti itu, karena menurutku hanya membuang waktu saja, berbeda dengan ara yang menganggapnya itu adalah kesenangannya.
tapi, meski begitu tak ada yang bisa memisahkan kedekatanku dan ara, dari sekian banyak pria dan wanita yang menyukai kita, tidak ada yang berani mendekat, karena mengira aku dan ara berpacaran, padahal kami hanya sebatas sahabat.
dan tak disangka hadir diantara kami berdua teman baru, dia yang selalu melengkapi kebersamaan kita, dia yang selalu menjadi penengah, di saat aku dan ara bertengkar.
ya, dia rey, sosok yang selalu kita ejek anak kecil, karena dia adik kelas kita, aku dan ara sudah menganggapnya seperti adik sendiri, kita selalu berusaha melindungi rey dari temannya yang selalu mengganggunya, hingga akhirnya kami pun dekat.
rey selalu menjadi temanku saat bermain basket, tapi sikapnya yang tak jauh beda dari ara membuat bebanku bertambah harus mengawasi dua anak nakal ini.
keinginanku untuk menjaga ara sangat kuat, hingga aku selalu menghalang semua lelaki yang ingin mendekatinya, entah karena khawatir atau cemburu?
jika aku cemburu, apa berarti aku menyukainya?, hah?!!, tidak mungkin aku masih terlalu kecil untuk mengerti tentang perasaan itu, fikirku.
saat itu ara pernah berkata kepadaku, kalau dia sangat menghindari lelaki yang keluarganya broken home, alasannya, karena menurutnya buah jatuh tak jauh dari pohonnya, bila orang tuanya tidak bisa mempertahankan hubungannya, mungkin saja dia juga sama nantinya, itu yang di fikirkan ara.
entah mengapa aku kurang menyetujui perkataannya, karena orang tua berpisah, pasti mempunyai alasan tersendiri, dan tak harus di sangkut pautkan dengan anaknya.
entahlah, mengapa aku berfikir seperti itu, padahal keluargaku juga baik-baik saja.
saat itu aku baru saja pulang setelah bermain dengan ara, ini adalah hari yang mengecewakan bagiku, karena ara mengatakan ia tak bisa melanjutkan sekolahnya bersamaku, tapi mungkin ini ada baiknya untuk ara, semoga jika ia dididik di pesantren sikap tomboy dan barbarnya bisa berubah, fikirku.
setidaknya, saat ini aku masih memiliki keluarga yang harmonis dan selalu ada untukku.
tapi aku terkejut, saat aku baru saja sampai di ruang keluarga, aku mendapati papa yang sedang menampar mama, dan mengumpat mama dengan Kata-kata kejam.
" dasar wanita j***ng!, bisa-bisanya kamu bermain di belakang aku ratna!!", bentak papanya
saat itu mama menangis tersedu, tanpa melawan atau membantah perkataan papa, membuatku merasa yakin jika mama memang telah berselingkuh dengan pria lain.
seketika, aku merasa sangat hancur, apa maksud dari semua ini?, mengapa saat ini semua orang yang ku sayangi mengecewakan ku?, apa ini?, aku menjadi keluarga broken home?, hatiku sangat gusar saat itu, hingga aku tak mau keluar kamar di pekan ini.
seketika aku kembali mengingat perkataan ara bahwa ia sangat menghindari lelaki yang keluarganya broken home, apa setelah ini ara akan menghindar dari ku?
aku pun berusaha menghubungi ara saat itu, namun naas, ia tak menjawab panggilanku, apa mungkin ara sudah tahu jika papa dan mamaku bercerai?
setelah sepekan aku mengurungkan diri di kamar, aku memberanikan diri untuk keluar, aku terkejut saat tak mendapati sosok wanita yang telah melahirkanku.
"pa, dimana mama?", tanyaku
" tak usah kamu tanyakan lagi, j****g itu sudah pergi membawa adikmu!", sahut papa acuh
" jadi papa ngusir mama dari rumah ini??!" bentak ku
" papa tidak mengusirnya, dia yang memutuskan untuk pergi!", tegas papa
seketika aku naik darah, aku ingin tahu, siapa yang mengirim foto mama yang terlihat dekat dengan pria lain, namun aku tak bisa menemukannya.
bahkan mama?, aku tak tahu mama pergi kemana dengan membawa adikku vina, aku benar-benar merasa hancur saat ini.
saat ini semua orang yang ku sayangi telah meninggalkanku, hingga kasih sayang itu berubah menjadi kebencian, aku membenci mama, papa, ara, yang telah mengecewakan ku, dan membuatku hancur Seperti ini.
dan mulai saat itu, aku tak lagi menjadi alvin yang dulu, bahkan saat ini kelakuanku terlihat lebih buruk dari ara saat itu.
aku lebih suka bermain di bar bersama teman baruku di SMA, untuk menghilangkan semua fikiran ku yang sangat berkecamuk.
hingga aku mendapat julukan badboy di sekolah, tapi meski begitu banyak dari kaum hawa yang mengagumkanku, mereka pun rela menjadi mainanku atau hiburanku.
ya, sekarang aku lebih suka memainkan wanita, karena aku sangat benci dan ingin melupakan sosok wanita yang selama ini memenuhi fikiran ku.