
hari pertunangan alvin dan vanessa semakin mendekat, dan kembalinya ara pun, bisa dikatakan di hari yang sama.
ara pun masih sedikit ragu dengan semua ini, masih terekam jelas di fikirannya, saat ia pertama kali bertemu vanessa, yang memang berniat untuk mendekati alvin.
pasti ini ada hubungannya dengan perusahaan miliki kedua orang tuanya, membuat ara tak begitu yakin jika vanessa benar-benar mencintai alvin.
" apa tuh cewek beneran cinta sama alvin?, atau cuman karena hartanya?", keluh ara dalam hatinya.
ara memutuskan untuk menemui vanessa dan berbicara empat mata dengan wanita itu. biar bagaimana pun juga alvin adalah sahabatnya, ara tak akan pernah merubah kenyataan itu.
ara ingin kedua sahabatnya bisa berbahagia, meskipun kebahagian mereka itu menyakitkan nya, namun apa boleh buat, ara tak bisa memaksakan alvin untuk mencintainya, jika ia mencintai wanita lain.
" van, gue mau ngomong empat mata sama loe!, ikut gue rooftop!", seru brayn dengan nada yang terkesan dingin.
sedangkan sang empu terkejut saat tiba-tiba brayn menghampirinya, kebetulan saat itu alvin sedang berlatih basket, jadi ia tak berada di kelas.
" brayn kenapa ya?, apa dia mau menentang hubungan gue sama alvin?, apa dia baru mau jujur tentang perasaannya ke gue?, bray, seandainya loe lakuin semua ini sebelum gue punya hubungan sama alvin, pasti gue dengan senang hati nerima loe!, tapi gue gak mau ngecewain mama sama tante ratna?, tapi di satu sisi gue juga sukanya sama loe, bukan sama alvin!" , lirih vanessa dalam hatinya.
" woy, ayo!, malah bengong!", bentak brayn, yang membuyarkan lamunan vanessa.
akhirnya vanessa mengikuti langkah brayn yang membawanya ke rooftop gedung.
" lo- lo mau ngomong apa?", tanya vanessa gugup, karena saat ini brayn tengah menatapnya intens.
" gue mau tanya tentang perasaan loe ke alvin?!", tegas brayn to the point.
" gu-gue..., gak tau?", jelas vanessa sambil tertunduk.
ara yang mendengar jawaban vanessa tersenyum sinis menanggapinya.
" heh, alvin itu cinta sama loe!, loe jangan coba-coba mainin perasaan dia!", tegas brayn sedikit berteriak.
vanessa tersentak mendengar bentakan brayn.
" apa?, jadi dia mau peringati gue buat gak mainin perasaan alvin?, bukan mau ngungkapin perasaannya?, apa jangan-jangan bener kata orang, kalau brayn ini punya perasaan khusus sama alvin?!", gerutu vanessa dalam hatinya.
" gue, akan berusaha mencintai dia!", lirih vanessa berkata.
brayn menghela nafasnya kasar.
" huh, kalau loe gak punya perasaan apa-apa sama dia, mending loe putusin dari sekarang!, jangan buat dia sakit hati!", tegas brayn.
" cukup gue yang ngerasain itu!", lanjut ara dalam hati.
" gak, gue udah mulai cinta kok sama dia!", jelas vanessa sambil tersenyum kecil.
" van, gue mohon...
jaga dia buat gue!", lirih brayn, dan langsung berlalu meninggalkan vanessa yang masih terpaku dengan perkataannya barusan.
" jaga dia?, kenapa brayn ngomong kayak gitu?, seolah-olah dia akan pergi jauh ninggalin alvin?!", batin vanessa curiga.
...----------------...
" vin, besok kan loe tunangan?", seru brayn.
" hmm, kenapa?", tanya alvin.
" ya, untuk yang terakhir kalinya..., setidaknya gue bisa menghabiskan waktu gue bersama loe vin..", lirih ara berkata dalam hatinya.
" boleh, tapi bukan berarti setelah gue tunangan gue cuman berduaan terus sama Nessa, gue juga bakal nemenin loe kok!", sewot alvin berkata.
" gak usah sewot juga kali!", ejek brayn.
" lagian sih!, loe kira gue cowok posesif yang bakal ngikutin cewek gue kemana-mana?!", gerutu alvin.
brayn hanya tertawa geli mendengar gerutuan dari alvin.
akhirnya malam ini mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama di pasar malam.
berdua, ya, mereka hanya berdua, mungkin di sudut pandang ara ini seperti kencan sepasang kekasih. namun, lain dari sudut pandang alvin yang tak mengetahui siapa brayn sebenarnya.
mereka menaiki setiap wahana di pasar malam itu bagaikan anak kecil, tertawa bersama, bercanda bersama tanpa mempedulikan orang-orang di sekitar mereka.
ini mengingatkan ara pada masa lalu sebelum kehadiran rey di antara mereka, ara dan alvin selalu menghabiskan waktu bersama berdua, di dampingi oleh keluarga mereka masing-masing.
hingga rasa lelah menghampiri mereka berdua, dan mereka memutuskan untuk kembali ke rumah, karena alvin juga harus mempersiapkan hari pertunangannya esok.
namun sebelum itu, alvin menarik tangan brayn, menuju tempat penjualan aksesoris, dan membeli sesuatu disana.
" ini!", seru alvin sambil memberi sebuah gantungan kepada brayn.
" kenapa yang buat gue juga inisialnya A?, kan nama gue dari B?", sewot brayn, karena kedua gantungan kunci itu berinisial sama.
" terserah gue lah, kan yang beli gue, yang ngasih ke loe gue, otomatis barang yang di kasih harus berinisial sama dengan nama gue!", jelas alvin sambil tersenyum puas.
" dasar licik?", ejek brayn ketus, nun sesaat kemudian mereka tertawa bersama.
benar-benar sejoli yang tak waras!
" mungkin ini akan menjadi kenangan terakhir tentang loe vin!", lirih ara sambil menatap benda kecil di tangannya.
saat mereka sampai di parkiran, brayn pun menghentikan pergerakan alvin yang ingin memasuki mobilnya.
" vin, jaga diri loe ya!", seru brayn sambil tersenyum.
" loe ngomong apaan sih!, kayak loe mau pergi jauh, dan kita gak akan ketemu lagi aja!", sewot alvin.
brayn hanya membalasnya dengan senyuman yang sulit di artikan, membuat alvin menatapnya heran dan sedikit curiga.
" tuh anak kenapa sih?, aneh banget, minta jalan-jalanlah tadi, Sekarang nyuruh gue jaga diri?, kayak mau pergi jauh aja!", gerutu alvin menatap brayn yang sudah melaju mengendarai motornya.
seketika sekelibat bayangan ara, yang dulu pernah berkata aneh seperti itu muncul di fikiran nya, tidak!, ia tidak mau di tinggalkan untuk yang kedua kalinya oleh orang yang di sayangi nya.
ya, alvin memang sangat menyayangi brayn, entah perasaan sayang seperti apa itu alvin pun tak mengerti, yang jelas ia tak mau kehilangan lelaki itu.
bersambung....
...----------------...
jangan lupa vote, like, dan comment nya ya.....