
" rey?!!", kejut alvin
" gak usah loe sentuh dia!", tegas rey
" apa hak loe ngelarang gue hah??!", bentak alvin
" gue sahabatnya!, gue berhak buat ngelindungi dia dari manusia laknat kayak loe!", tegas rey kembali
alvin yang mendengar kata'sahabat' pun terpukul sejenak, lalu ia mengepalkan tangannya untuk meredam emosinya.
sedangkan rizka, alya dan resya baru saja datang, karena rey yang menghubungi nya, akhirnya mereka bertiga membopong ara ke mobil rizka untuk di larikan ke rumah sakit.
karena nampak dari wajah ara yang terlihat pucat, sepertinya ia benar-benar sakit.
suasana di tempat kejadian itu masih mencekam, rey dan alvin masih beradu tatapan tajam, sedangkan ketiga teman alvin menatap bingung terhadap mereka berdua.
" loe!, kalau loe masih berani buat gangguin ara, gue gak segan-segan buat narik ara keluar dari sini!!", ancam rey
" justru itu yang gue mau!, mending loe bawa dia pergi jauh dari hadapan gue, kalau bisa jangan pernah munculin wajahnya di depan gue lagi!!", tegas alvin
rey tersenyum sinis
" vin, ini Peringatan terakhir dari gue, jangan pernah mengedepankan ego loe!, sebelum loe menyesal!!", tegas rey lalu berlalu meninggalkan alvin
ketiga temannya alvin pun menghampirinya
" vin, udahlah gak usah loe ngusik si ara lagi!, udah ada pawangnya tuh!", ujar aldy
" iya vin, apalagi itu si rey!, bisa-bisa loe jadi baku hantaman terus sama dia vin!, loe kan pernah dekat sama dia!", tegas reza
" iya vin biar gimana pun juga dia pernah jadi temen loe!", sahut alkha
" dia bukan teman gue lagi!, dia lebih mirip penghianat yang gak tau terimakasih!!", cetus alvin
" sebenernya apa sih masalah loe sama dia vin??", tanya alkha bingung
" bukan urusan loe!!", tegas alvin langsung meninggalkan ketiga temannya itu
" apa kita harus benar-benar nyelidikin ini??!", ujar aldy
" harus al, karena alvin ciri-ciri orang yang tertutup, bahkan masalah tentang keluarganya aja dia gak mau cerita ke kita, apalagi tentang ini!!", tegas reza
...----------------...
di lain tempat ara sudah terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, dari pagi hingga sampai sore ini ara tak kunjung sadar.
menurut diagnosa dari dokter ara mempunyai penyakit anemia, jadi ia tidak boleh kelelahan, apa selama ini ara terlalu lelah?
keluarga ara baru saja sampai, bahkan ayahnya yang masih sibuk dengan pekerjaan nya rela meninggalkan nya demi melihat kondisi putrinya yang terbaring lemah.
" ya Allah, anak bunda yang kuat ya nak!!", ujar sang bunda yang duduk di samping ranjang ara sambil menggenggam tangan putrinya itu
zio sang kakak pun mengajak ketiga teman ara keluar dari tempat itu
" gue mau nanya, kenapa adik gue bisa jadi kayak gini?", tanya rio dengan tegas
" sorry kak, selama ini ara ada masalah sama salah satu mahasiswa disana, namanya Alvin, sebenarnya kita juga kurang tahu sih kak kenapa dia benci banget sama ara", jelas rizka
" alvin?, kok gue bisa lupa sih kalau dia ngampus disana?, pantes aja si ara murung begitu pas pindah ke tuh kampus!!", gerutu zio dalam hati
" emangnya apa yang tuh cowok lakuin ke si ara?", tanya zio menyelidik
" selama ini dia selalu gangguin ara kak, kayak orang gak punya hati, pokoknya dia selalu berusaha membuat ara tuh terpuruk!!", sahut alya
" iya kak, kayaknya dia mau bikin ara gak betah di kampus kita deh kak, bahkan dia ngancem ara mau cabut beasiswa dia, dia gak tau ara siapa??!", sewot resya
" pasti mereka ngira ara tuh dari orang kurang mampu kali ya??, makannya pake beasiswa gitu, dasar otak dengkul!!", gerutu rizka tak terima temannya di perlakukan seperti itu
" diam!, kok malah jadi kalian yang ribut sih??!", tegas zio
" sorry kak!!", ujar mereka serempak sambil menyengir kuda
" tapi ara baik-baik aja kan kak?", tanya rizka memastikan
" ara emang punya anemia, jadi dia gak boleh kecapekan!!", jelas zio
mereka bertiga hanya manggut-manggut mendengar penjelasan dari Zio
karena hari sudah mulai larut, ketiga teman ara pun pamit undur diri, dan berencana akan menjenguknya kembali esok hari.
pukul tujuh malam ara baru tersadar, sang bunda segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan ara.
" keadaan anak ibu sudah mulai membaik, tetapi ia masih harus menjalani kontrol di rumah sakit untuk beberapa hari", jelas sang dokter
" terimakasih dok..", ujar bunda ara
" nak, kamu ada masalah apa?, cerita sama bunda nak..!", tutur sang bunda
" iya nak, kalau kamu punya masalah jangan di pendam sendiri!", ujar sang ayah membuka suara
" ayah, bunda, ara gak papa kok!, cuman kecapekan dikit aja!", lirihnya berbohong agar ayah dan bundanya tidak mereka khawatir
" beneran?, kalau ada apa-apa cerita yak nak.., jangan di pendam sendiri!", ujar sang bunda
" iya bunda..", sahut ara sambil tersenyum kecil
sedangkan sang kakak baru saja kembali setelah membeli makanan
" ara!, loe udah sadar?!, loe baik-baik aja kan?", tanya sang kakak khawatir
" iya bang, ara gak papa kok!", sahut ara
" pasti bang zio udah tau nih, aduh bisa-bisa gue di pindahin dari kampus itu!, semoga bang zio bisa jaga rahasia!", gerutu ara di dalam hatinya.
...----------------...
di waktu yang bersamaan, alvin baru saja pulang ke rumah, ia kembali terkejut karena sang ayah sepertinya sedang menunggunya di ruang tamu.
" alvin!, apa yang kamu lakukan dengan ara hah??!!", bentak sang papa
alvin terkejut, darimana papanya mengetahui masalahnya dengan ara?