
" apa pa?", tanya alvin ketus
" kamu keterlaluan alvin!, ara itu teman kamu, bisa-bisanya kamu menindas dia!!", bentak papanya
" ara itu sama kayak papa, penghianat!!", tegas alvin
" jangan kamu lampiaskan kemarahan kamu ke orang lain alvin, ara tidak ada hubungannya dengan perceraian mama dan papa!!", jelas papa nya dengan nada yang sudah melembut
" justru itu hubungannya pa!, kalau papa sama mama gak bercerai, pasti hubungan alvin sama ara akan baik-baik aja!, disaat alvin terpuruk seperti ini ara udah gak ada di samping alvin, papa tau kan selain kalian berdua satu-satunya tempat bersandar alvin itu ara!?, apalagi sekarang ara tau alvin broken home, asal papa tau ara gak suka anak yang broken home!!", tegas alvin panjang lebar dan langsung meninggalkan sang papa menuju kamarnya.
alvin menangis sejadi-jadinya di dalam kamar, ia tak punya tempat untuk bersandar saat ini, seketika ia kembali mengingat perkataan ara.
" gue gak suka anak yang broken home vin, karena sifat orang tua itu, biasanya nurun ke anaknya, kalau orang tuanya bisa menghadirkan orang ketiga dalam rumahnya, mungkin aja anaknya bakal ngelakuin itu juga!, dan gue gak mau ada orang ketiga di dalam rumah tangga gue nanti, semoga hubungan orang tua kita baik-baik aja ya vin!!"
seketika alvin kembali menangis mengingat perkataan ara itu
ya, inilah alasan alvin ingin membuang ara jauh-jauh dari dalam fikirannya, ia takut ara akan membencinya terlebih dahulu, sebelum ia membencinya, karena itu ia berusaha sekuat mungkin untuk membenci ara, agar ia tak merasa sakit hati, pikirnya.
tapi mengapa saat ini selalu ada perlawanan dari hatinya, hatinya mengatakan untuk berhenti menyakiti ara, tapi saat ini alvin lebih mengedepankan ego nya, urusan hati, alvin berusaha untuk menepisnya.
saat ini yang ia harapkan hanya satu, ara pergi menjauh dari kehidupannya, sungguh alvin tak sanggup jika harus bertemu dengan ara selalu, karena bayangan masa lalunya yang indah selalu terulang kembali dalam fikiran alvin.
" ra, kenapa loe mengunci hati gue?, gue gak mau jatuh cinta sama loe!, tapi loe melarang gue untuk jatuh cinta sama wanita lain, setiap gue berusaha untuk mencintai wanita yang saat itu deket sama gue, wajah loe selalu muncul seakan-akan melarang gue untuk jatuh cinta, gue capek ra!, gue capek!", keluhnya berkata sendiri dalam tangisan nya.
alvin berusaha menutup matanya untuk menghilangkan rasa sakitnya sementara, ia ingin melupakan sejenak semua yang ada di dalam fikiran nya saat ini.
...----------------...
kembali ke rumah sakit dimana ara masih dirawat
kondisi ara sudah mulai membaik, ia sudah bisa pulang setelah menjalani beberapa pengobatan, ara di tegaskan oleh dokter untuk mengurangi kegiatannya, karena itu sangat berpengaruh pada kesehatannya.
saat teman-teman ara baru saja ingin menjenguknya, ara sudah bersiap-siap untuk pulang, karena dokter telah mengizinkannya.
" loe udah sembuh ra?", tanya fani cemas
" iya, gue cuman kecapekan doang kok!", jelas ara agar temannya tak khawatir
" ra, kalau loe gak enak badan atau kenapa-kenapa jangan segan-segan ngomong sama kita ya!, kita kan temen loe!", ujar farah
" iya, kemarin gue kurang minum makannya tensi darah gue turun!", jelas ara kembali
" ya udah, kalau gitu kita duluan ya, bentar lagi ada jam kuliah", ujar fani
" cepet sembuh ya ra!", ujar ketiga temannya yang sudah berjalan menjauhi ara sambil melambaikan tangannya
" kan anak bunda baik, ya temennya juga baiklah!", ujar ara sedikit menyombongkan diri
" sekali-kali ajak mereka main ke rumah ya nak..!", seru sang bunda
" iya bun, kapan-kapan ara ajak mereka ke rumah!", sahut ara
" ya udah yuk kita pulang!", tukas bundanya
" iya bun!", sahut ara
ara pulang dari rumah sakit hanya berdua oleh bundanya karena sang papa dan zio masih harus melanjutkan pekerjaan mereka.
saat ini ara sedang beristirahat di kamarnya, kini fikiran nya kembali di penuhi oleh masalah yang harus ia hadapi, ara membulatkan tekadnya untuk menghindari alvin saat ini, karena masih ada hal penting yang harus ara lakukan untuk saat ini.
ya, ara masih berusaha untuk mengungkapkan kesalah fahaman antara kedua orang tua alvin, jika hubungannya dengan alvin tidak akan pernah bisa diperbaiki, setidaknya hubungan keluarga alvin masih bisa diperbaiki, fikir ara.
...----------------...
kampus diramaikan kembali oleh Rizka yang saat ini sedang beradu mulut dengan chealsea
" heh!, bisa gak sih loe berhenti gangguin ara??!", bentak rizka
" gue gak gangguin dia!, justru dia yang mengganggu hubungan gue sama alvin!", ujar chealsea menentang ucapan rizka
" heh, buta ya loe?!, jelas-jelas buaya peliharaan loe tuh yang ganggu temen gue!!", tegas rizka
" jaga mulut loe ya!, berani-beraninya loe ngehina pacar gue!!", bentak chealsea
" pacar buaya kayak gitu masih loe pertahanin?, buaya banget sih loe!", ejek rizka
" heh, alvin tuh gak buaya ya!, dia itu selalu bersikap adil dengan semua pacarnya!!", bentak wanita lain yang tiba-tiba datang dan ternyata juga salah satu dari pacar alvin saat itu.
" iya, loe jangan pandang dia sebelah mata!", ujar yang lainnya
"sumpah nih anak punya berapa pawang??!", ujar alya membatin saat melihat rizka di pojoki oleh pacar alvin yang jumlahnya melebihi dua orang
", heh!, loe semua tuh sadar gak sih?!, alvin itu cuman jadiin kalian mainan!, dia bisa adil, karena dia gak mencintai satupun dari kalian!", jelas rizka
seketika perkataan rizka yang singkat itu sedikit membungkam mulut mereka, memang benar apa yang rizka katakan, alvin tak pernah menyatakan perasaannya kepada mereka, karena mereka yang mendekati alvin terlebih dahulu, tapi mereka tak peduli, bisa menjadi pacar alvin saja sudah beruntung, fikir mereka.
tiba-tiba suara seseorang mengejutkan mereka yang ada disitu
" siapa bilang gue gak cinta sama mereka hah??!", ujar alvin dengan nada yang meninggi