
setiap pekan aku selalu menggandeng wanita yang berbeda, apakah itu kemauan ku?, tidak,
mereka sendiri yang ingin menjadi wanita penghiburku, mungkin karena aku berasal dari keluarga konglomerat, atau mungkin karena parasku yang tampan, yang membuat mereka rela menjadi salah satu dari pacarku.
apakah aku mencintai mereka?
tidak, aku hanya ingin memainkan mereka saja, aku ingin melampiaskan kekesalan ku pada ara melalui wanita-wanita ini, dan pasti dengan perlahan aku bisa melupakan wanita itu.
aku tidak peduli jika ada yang mengataiku playboy, itu sudah menjadi julukan ku, setidaknya aku bisa bersenang-senang dengan ketiga teman baruku ini,aldy, reza, dan alkha.
aku bersama mereka dari SMA, hingga kami melanjutkan perkuliahan di kampus yang sama.
itu adalah kampus yang tertanam saham papaku, jadi aku sedikit memiliki wewenang untuk berkuasa disana.
siapa sangka aku bisa bertemu kembali dengan rey disana, namun saat itu rey terlihat risih melihat tingkahku, sehingga ia selalu berusaha menghindar bila aku ingin bersenda gurau dengannya, setidaknya saat ini ia masih mengaggapku, dan setidaknya disini aku tidak menemukan perempuan b**g*ek itu lagi.
namun aku terkejut, ketika mendengar berita tentang mahasiswi baru, yang bernama zahra annisa saniyah, dari semester empat, aku sedikit tidak yakin, karena jika itu benar ara, pasti harusnya ia sama denganku di semester enam.
namun ternyata dugaan ku benar, ia adalah ara, ku dengar ia sedikit mendapatkan masalah saat mengambil ijazahnya.
bahkan sudah masuk pesantren saja, dia masih membuat masalah??
batinku melucu, seketika kembali teringat kenanganku yang sangat indah bersamanya, tapi aku segera menepis fikiranku, aku harus berusaha membenci ara.
entah bagaimana pun caranya, karena pasti saat ini ara juga sangat membenciku, aku tak mau di benci sepihak, aku juga harus bisa membenci ara.
Alvin POV end...
alvin mulai menjalankan mobilnya, setelah beberapa saat, ia pun berinsiatif untuk menelfon rey saja
"hallo rey"
" ara ada sama gue, dia pingsan!"
" heh, awas loe ya macem-macem sama dia!", terdengar amukan dari sebrang sana
" kalau loe mau bawa dia, temuin gue di depan cafe xx!"
alvin pun segera memutuskan panggilan, dan mengarahkan mobilnya ke tempat itu, sesekali ia melirik wanita yang masih tak sadarkan diri di sampingnya.
hingga ia sampai di tempat itu, ia sudah melihat rey yang bersandar di depan mobil miliknya.
alvin segera membopong ara keluar mobilnya dan menghampiri mobil rey
" buka pintu mobil loe!" perintah alvin
rey segera membuka pintu mobilnya di susul oleh alvin yang memasukan ara ke dalam mobil rey.
alvin segera menghampiri rey yang masih berdiri di luar, dan memberikan satu kantong yang berisi obat-obatan.
" nih, dia lupa bawa!, kalau dia udah sadar, langsung suruh dia makan, terus suruh dia minum obat dan vitamin ini!, dan jangan bilang kalau gue yang nemuin dia!", tegas alvin singkat, dan langsung meninggalkan rey yang terlihat bingung.
rey pun menatap mobil alvin yang mulai melaju meninggalkannya,
rey pun sampai di villa pukul sebelas malam, belum ada pergerakan dari ara bahwa ia akan sadar, dan akhirnya untuk malam ini mereka membiarkan ara istirahat lebih dahulu, teman-teman ara pun membantunya untuk berganti baju, karena baju ara yang sudah basah kuyup.
pukul 5 pagi ara pun tersadar dari pingsannya, ia terkejut saat mendapati dirinya disebuah kamar yang tidak di kenalinya.
ara sempat terkejut, namun saat mendapati rizka juga tertidur di sampingnya ia bernafas lega,
" kok gue udah disini aja sih?, seinget gue..., semalem gue pingsan di tengah jalan, siapa yang nyelamatin gue ya...??", ujar ara bertanya-tanya pada dirinya sendiri
karena mendengar suara ara rizka pun terbangun,
" ra, loe udah sadar?", tanya
" seperti yang loe lihat, oh ya riz, loe tahu siapa yang bawa gue kesini?", tanya ara penasaran
rizka tersenyum kecil
" siapa lagi Kalau bukan malaikat loe si rey!", sahut rizka
" oh si rey!", ujar ara
" tapi seinget gue, semalem itu mobilnya warna merah, bukanya rey bawa mobil warna hitam ya??, au ah, ngapain sih gue fikirin!!", batin ara kebingungan
" ya udah ra, abis ini loe makan, trus di minum ya obat ini !, loe lupa bawa kan?", tegur rizka
" eh, loe tau darimana gue butuh obat-obatan ini?", tanya ara heran,karena ia tak pernah memberi tahu temannya tentang penyakitnya
" oh, ini dari si rey tadi!", jelas rizka
"hah rey?, bukannya rey juga gak tahu ya penyakit gue?, apa bunda kali ya yang ngasih tau?", batin ara bertanya-tanya
" udah gak usah kebingungan gitu!, udah ayo cepet makan!", perintah rizka
sampai di ruang makan, semua temannya mulai bertanya-tanya mengapa ara menangis dan pergi saat malam itu.
" loe kenapa sih ra semalem?", tanya alya
" terlalu kebawa perasaan gue, jadi gitu deh!", jelas ara santai
" loe kebalikan banget ya, sama musuh bebuyutan loe si alvin itu, kalau dia nyanyi malah datar banget!, tanpa perasaan!", sahut resya
" betul tuh kak!, gue jadi penasaran, sekarang kan katanya kak alvin udah jatuh cinta sama kak chelsea, kira-kira dia bisa gak ya nyanyiin lagu romantis buat pacarnya itu??!", ujar fira menebak-nebak
" mungkin, semoga aja begitu!", sahut ara berusaha biasa saja
" loe kuat gak ra?, agenda kita habis ini kan ke trans studio bandung!", tanya rizka
" kayak gue abis koma aja sih loe!, ya kuat lah!", ujar ara
mereka pun segera bersiap-siap untuk berangkat, di villa itu memang hanya ada mereka berlima saja, karena hanya ada tiga kamar disitu.