
Kini ara telah sampai di perusahaan pratama group, ara segera menghampiri resepsionis untuk menemui CEO perusahaan terkenal itu.
" permisi, bisakah saya bertemu dengan pak Pratama?", tanya ara kepada resepsionis itu
" maaf bu, apa ibu sudah membuat janji dengan pak pratama?", tanya resepsionis itu
" maaf, saya belum membuat janji, tapi ini sangat mendesak, saya harus bertemu dengannya sekarang juga!", tegas ara
" maaf bu, sesuai peraturan dari pak Pratama, beliau adalah orang sibuk, yang tak bisa di ganggu begitu saja!", tegas resepsionis itu
ara menghela nafasnya kasar, hingga pandangan nya menangkap seseorang yang telah menghancurkan keharmonisan keluarga sahabatnya itu, namun disini ara juga bimbang, karena ia sangat menyayangi wanita itu.
terlihat wanita itu ingin menghampiri nya, ara berusaha untuk menetralkan raut wajahnya, agar tak di curigai.
" ara!, kamu ngapain disini nak?", tanya melinda heran
" ini tante, aku mau nitip surat buat teman aku lewat pak Pratama, aku masih belum berani buat ketemu sama dia!", ujar ara berbohong dengan sedikit gugup
wanita itu tersenyum kecil
" ohh, ya sudah, ayo tante antar kamu ke ruang pak Pratama!", ajak melinda
akhirnya Ara mengikuti langkah tantenya itu, hingga sampai di depan ruang CEO
" kamu masuk aja ke dalam, kebetulan beliau lagi kosong kok!", jelas tantenya yang notaben nya sebagai sekretaris CEO itu
dan ia pun berlalu meninggalkan ara, menuju ruangannya
ara mengetuk pelan pintu itu, hingga terdengar sahutan dari dalamnya
" masuk!"
ara pun membuka perlahan pintu kaca itu, dan mulai melangkah menghampiri pria paruh baya yang terlihat sibuk dengan pekerjaannya.
" pa!", panggil ara
pria itu mendongak dan terlihat sedikit terkejut
" ara!"
pria itu bangkit dan mendekati ara, lalu tiba-tiba bersimpuh di depan ara
" ara, maafkan anak papa nak!, papa gagal mendidiknya sampai ia berbuat sekeji itu sama kamu!, papa juga baru mendengar kalau beasiswa mu di cabut!, gak, kamu masih bisa sekolah disana kok nak, papa sudah konfirmasi dengan bawahan papa yang mengelola kampus itu!", lirih pratama sambil terisak sedih
ara pun membangunkan pria itu, untuk berdiri kembali
" pa, papa jangan kayak gini!, ara baik-baik aja kok, soal keluar nya ara dari kampus itu semua keputusan ara sendiri!", jelas ara menenangkan pratama
" maksud kamu?", tanya nya sedikit bingung
akhirnya ara pun menjelaskan panjang lebar, hingga pratama memahami situasi ara saat ini
" lalu tujuanmu datang kesini apa nak?"
" meski bagaimana pun juga, ara mau lihat alvin bahagia pa!, ara mau setelah kepergian ara, alvin bisa bahagia dengan keluarga nya yang kembali utuh!" , jelas ara sambil tersenyum kecil
lalu ara mengeluarkan sebuah rekaman dari dalam tasnya
" ini pa!, papa harus dengar ini!", perintah ara
pratama benar-benar terkejut setelah mendengar nya, rasa geram, amarah pun menjadi satu, tapi ia juga merasa bahagia, dengan ini ia bisa kembali dengan wanita yang selama ini masih ia cintai.
" nak, kamu pasti tau siapa pelaku di balik semua inj?", tanya pratama sambil menatap ara intens
ara pun menundukkan kepalanya seketika, membuat pratama kebingungan melihat tingkah gadis sudah ia anggap seperti putrinya sendiri.
" wanita itu?, kamu mengenali nya?"
" dia tante aku pa, adik dari ayah!", jelas ara menatap pratama sendu
" maksud kamu?, melinda?!!", kejut pratama
ara hanya mengangguk pelan
terlihat wajah gusar dari pratama, bagaimana pun juga melinda adalah adik dari sahabat nya, melinda memang sempat menyukainya dulu saat masa perkuliahan, tapi ia tak menyangka, bahkan saat ini pun melinda masih memiliki suami, kenapa ia mengganggu hubungan orang lain?
pantas saja, selama ini wanita itu, terlihat seperti terus menggodanya, namun rasa cinta terhadap mantan istrinya masih sangat besar sehingga ia tak bisa memandang wanita lain.
" ini alamat rumah mama sekarang pa, ara harap setelah ini kalian kembali bersama!", ujar ara sambil tersenyum kecil
" terima kasih nak!, kamu memang gadis berhati malaikat, papa yakin alvin pasti menyesal akan perbuatannya!", lirih pratama
" pa, selain memaafkan tante melinda, ara punya satu permintaan lagi pa!"
" apa nak?, papa janji akan menuruti permintaan kamu selagi papa bisa!", jelas pratama
" setelah ini ara mau pergi jauh pa, ara mohon jika suatu saat papa nemuin keberadaan ara, jangan pernah kasih tau alvin pa!, ara gak sanggup kalau harus ketemu dia lagi pa!", lirih ara berkata
" kamu mencintai alvin nak?"
ara hanya tersenyum miris
" cinta itu bukan berarti harus memilki pa, terkadang kita juga harus merelakan orang kita cintai bahagia dengan yang lain!", jelas ara berkata lirih
pratama menghela nafasnya pasrah, jika suatu saat alvin menyesal akan perbuatannya, ini semua sudah menjadi takdir, dan menjadikan pelajaran untuknya agar bisa mengintropeksi kesalahannya.
akhirnya pratama pun menyetujui keputusan ara, dan ia sangat bersyukur bila keluarganya bisa kembali bersama lagi.
setelah beberapa saat berbincang, ara segera berpamitan untuk pulang, karena ia harus segera mempersiapkan untuk keberangkatannya besok.
...----------------...
di lain tempat, alvin sudah begitu frustasi dengan keadaannya saat ini, apakah ia sudah begitu keterlaluan dengan ara?, tapi ia melakukan semua itu, hanya untuk menjaga hatinya agar tidak mencintai wanita itu, tapi apa yang terjadi sekarang?
alvin begitu frustasi saat mengetahui ara yang dengan sengaja mengeluarkan dirinya, apa ara benar-benar akan pergi jauh darinya?
membayangkannya saja alvin tak sanggup, tapi bukankah ini keinginannya?
alvin mengendarakan motornya dengan kecepatan tinggi, hingga ia tak sadar ada sebuah truk yang menghadang nya, karena fikiran alvin yang begitu berkecamuk, pandangannya buyar melihat jalanan hingga truk besar itu menabraknya.
ciiiiittt......
brakk!!!
alvin telah tergeletak berlumuran darah, pada saat itu ia masih setengah sadar, hingga suara seseorang yang sangat ia kenali terdengar dari telinganya
" alvin!!", teriak orang itu terdengar panik
ara, ia sempat melihat pemilik kendaraan bermotor itu, ia benar-benar terkejut dan tak menyangka, bahwa alvin menjadi korban kecelakaan.
" alvin!!, loe harus kuat oke!!, loe gak boleh pergi hiks.. hiks..!!", ujar ara yang sudah terisak kencang melihat tubuh alvin yang berlumuran darah, sambil menggenggam tangan alvin erat.
" a-ra.., gu-e min- ta ma-af...", lirih alvin terbata-bata, hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.
"Alvin...!!!"
bersambung......
jangan lupa vote, like, dan coment nya ya....