
“Jadi, kapan kalian akan memiliki seorang anak?” Flora membuka suaranya di tengah acara sarapan mereka guna mencairkan suasana.
“Ma! Aku dan Bian masih muda dan masih banyak yang ingin dilakukan.” Suara Celine terdengar kesal ketika menjawab sang ibu.
“Mama hanya bercanda. Mama tau,” jawab Flora tertawa pelan dengan ekspresi wajah bersalah. Namun, diam-diam ia juga berharap lebih banyak pada putri sulungnya.
“Tapi kalau kalian menganggapnya serius, itu bukan masalah,” tambah Flora yang membuat kerutan tanda ketidaksukaan Celine bertambah.
“Bian, jangan dengarkan Mama.” Celine beralih berkata pada suaminya.
“Sepertinya kedua orang tuamu memang menginginkannya. Hal yang sudah kita inginkan juga sudah banyak tercapai. Haruskah kita tambahkan ia di dalam list keinginan kita selanjutnya?” tanya Bian yang justru ikut menggoda Celine.
Olvee bisa mendengar sedikit pembicaraan anggota keluarganya yang sudah ada di meja makan. Kecuali dirinya yang sengaja datang terlambat untuk usahanya agar terlihat tidak menghindari mereka.
“Selamat pagi,” sapa Olvee begitu ia sampai di meja makan. Ekspresi wajah, gestur tubuh, dan suaranya, Olvee berusaha mengendalikannya dengan baik untuk membuang kekhawatiran yang mulai terlihat di wajah keluarganya.
“Apa Kakak berbohong mengenai sakit? Kenapa datang kemari padahal Bibi bisa mengantarkannya?” tanya Alvaro yang membuat suasana semakin canggung di antara Olvee dan keluarganya.
“Seharusnya Kakak istirahat di kamar!” tambah Alvaro lagi.
“Vee, kau sudah baik-baik saja?” tanya Zahir menatap pada putrinya yang baru saja duduk itu.
“Mau Kakak periksa?” tanya Celine juga.
Dalam batin, Olvee benar-benar mengutuk dan mengumpati Alvaro. Tidak bisakah ia menggoda atau bercanda ketika waktu dan tempatnya sesuai?
“Aku sudah lebih baik. Tidak perlu khawatir karena aku sudah beristirahat,” jawab Olvee mencoba menenangkan semuanya meski tampaknya percuma saja.
“Mama baru akan mengantarkan makanan padamu,” ujar Flora.
Olvee sudah mengetahui jika mereka akan seperti ini. Seharusnya ia mengubah rencana untuk tetap diam saja di kamar seperti yang dikatakan oleh Alvaro. Keluarganya terlalu mengkhawatirkannya. Ia juga salah telah berusaha menghindar dari acara Alvaro kemarin di waktu yang tidak tepat ketika kedua orang itu datang. Menambah kekhawatiran keluarganya saja.
“Olvee, aku baru ingat jika temanku itu pernah membeli lukisanmu dan berkata akan menjadi penggemar berat dirimu. Aku tidak memberitahu ia jika idolanya itu adalah adik iparku.” Bian dengan peka segera mengubah topik pembicaraan mereka.
“Boleh aku memberitahunya dan memamerkan padanya kalau idolanya itu dekat denganku?” tanya Bian secara tersirat memuji kemampuan Olvee.
“Aku tidak terlalu yakin, aku masih kurang dalam segala hal di dunia seni.” Olvee sedikit mulai merasa nyaman dan menimpali ucapan Bian.
“Mari kita berfoto bersama lukisanmu dan aku akan memamerkannya untuk membuat ia memohon padaku,” ucap Bian sambil tersenyum lembut. Tidak hanya Alvaro tapi juga Bian mulai menggodanya sekarang, tapi dengan cara yang berbeda.
“Kau hanya memanfaatkan adikku?” tanya Celine yang tidak dijawab Bian. Ia hanya tersenyum saja.
“Siapa dia?” tanya Celine kembali.
“Aryan, yang pernah aku ceritakan,” timpal Bian.
“Ah, dia. Kurasa itu bagus untuk memperkenalkannya pada Vee. Siapa tau mereka adalah jodoh,” timpal Celine.
“Siapa?” tanya Flora ikut masuk ke dalam pembicaraan.
“Dia teman yang dikatakan Bian. Kami tidak sengaja bertemu dan menjadi rekan kerja tanpa sadar,” jelas Celine.
“Tapi sepertinya Tuan muda Pero lebih menyukai Vee dan Vee pun begitu. Bagaimana menurut Papa? Haruskah kita bertemu keluarga Pero dan membicarakan ini dengan mereka?” Flora menatap pada Zahir. Sedangkan Zahir menatap pada Olvee yang menatap ke arah Alvaro.
“Sepertinya itu akan menjadi ide yang tidak terlalu buruk. Tapi, semuanya tetap Papa serahkan pada Vee. Bagaimana menurutmu, Nak?” tanya Zahir yang melemparkan pertanyaan pada Olvee yang segera tersadar dan berhenti menatap Alvaro.
“A-apa?” tanya Olvee tak mengerti.
“Kau dan Verald untuk perjodohan?” tanya Flora menaik turunkan alisnya, mulai bersemangat dengan pernikahan putra putrinya.
“Vee … ”
“Mana mungkin Tuan muda Pero itu lebih menyukai kakakku. Aku baru saja melihat dan mendengar rumor jika dia sedang mengencani seorang gadis.” Belum sempat Olvee berkata, Alvaro sudah memotongnya lebih dulu.
“Kau mendengarnya dari mana?” tanya Zahir.
“Aku mendengarnya dari orang yang aku percayai,” ucap Alvaro penuh percaya diri.
“Evan?” tebak Flora yang diangguki Alvaro.
“Meski dia tidak Kakak sukai, dia tidak pernah berbohong padaku,” bela Alvaro.
“Papa bertanya hanya pada Vee. Ini baru saja pembicaraan, kenapa kau yang menolak?” Pertanyaan Zahir membuat Alvaro sudah tidak bisa berkutik.
“Bagaimana Vee?” Zahir kembali bertanya pada Olvee.
“Vee … untuk saat ini Vee hanya akan fokus pada karir saja,” jawab Olvee sedikit pelan sambil menundukkan kepalanya. Haruskah Alvaro menganggap ini sebuah harapan baginya?
Alvaro menatap pada Olvee yang sejak tadi berusaha menghindari kontak mata dengannya. Namun, ketika ia tidak melakukannya, diam-diam ia menatap dirinya. Siapa yang tidak akan menyadari tatapan itu?
“Aku bisa melakukan keduanya, tidak masalah kan, Vee?” tanya Celine yang mendapat tatapan Bian.
“Kalian berdua saling mencintai, mendukung, dan menghormati. Belum tentu aku juga akan mendapatkannya dari Verald ketika kami memang menikah. Kurasa pernikahan bukanlah perkara mudah.” Olvee menjelaskan yang diam-diam diangguki Alvaro dan tersenyum bangga pada dirinya sendiri.
“Apapun keputusanmu, Papa akan mendukungmu. Jangan mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang lain. Ingat saja bahwa Papa selalu ada di belakangmu.” Ucapan Zahir jelas mengandung sebuah sarat akan nasehat mengenai kejadian kemarin. Siapapun yang mendengarnya mengetahuinya.
“Terima kasih, Pa,” timpal Olvee dengan mata memandang ke arah ayahnya itu.
Sudah jelas apa yang dirasakan olehnya itu terhadap kedua orang tuanya. Begitu pun dengan ketulusan mereka terhadapnya. Bagaimana bisa ia meragukannya. Olvee berusaha kembali membuang keraguannya begitu pun dengan perasaannya yang kecil itu untuk Alvaro. Ia tidak bisa merusak kebahagiaan ini hanya untuk bermimpi bersama Alvaro.
“Kapan kalian akan kembali?” tanya Flora pada Celine dan Bian, mengubah pembicaraan.
“Hari ini kami akan kembali. Kami akan membereskan barang-barang kami,” jawab Celine seraya berdiri dari duduknya.
“Sekarang? Kalian baru saja tiba kemarin lusa, tapi sudah akan kembali. Benar-benar kelewatan!” seru Flora kesal, pertanda penolakan.
“Maaf, Ma. Rumah sakit dan pasien-pasien itu membutuhkan kami.” Bian berkata dengan nada menyesal.
Flora sudah tidak bisa membantah lagi selain mengizinkan. Pekerjaan mereka begitu banyak menuntut waktu, meskipun menjadi dokter sangat mulia dan mendapatkan kehormatan yang baik.
“Kami akan kembali hari ini, Pa.” Keduanya berpamitan pada Zahir yang akan pergi bekerja.
“Utamakan kesehatan kalian berdua. Hati-hati saat di jalan. Bian, Papa akan merepotkan dan mengandalkanmu selalu untuk putri Papa.” Zahir memberikan nasehat singkatnya untuk pamitan singkat itu.
“Tentu, Pa.” Bian membalas pelukan Zahir.
“Papa akan berangkat sekarang. Alvaro, jangan terlalu terlambat datang.” Perhatiannya beralih pada putranya yang masih duduk di meja makan.
“Hati-hati, Pa.” Flora ikut berdiri dan mengantarkan kepergian Zahir. Hingga tinggalah tersisa Olvee dan Alvaro.
“Haruskah aku berhenti sekarang, Vee?” tanya Alvaro membuat pergerakan Olvee yang baru saja berdiri terhenti.
“Apa maksudmu?” tanya Olvee berpura-pura tidak mengerti.
“Gadis itu akan semakin tersakiti jika kau terus keras kepala, Vee.” Alvaro mengalihkan tatapannya pada Olvee sepenuhnya.
‘Kalau begitu cepat ubah hatimu dan lupakan aku! Kenapa harus aku yang disalahkan atas kejahatanmu?’ Olvee menatap sengit pada Alvaro sambil berkata di dalam batinnya.
“Jangan terlalu berharap hanya karena aku menolak Verald, Alvaro. Perkataanku masih tetap sama untukmu.” Olvee pergi meninggalkan Alvaro yang kesal setengah mati dengan kekeras kepalaan Olvee. Usahanya sepertinya harus lebih keras lagi sama seperti sifat kakaknya itu.
To be continued