(Not) Mistake

(Not) Mistake
Bab 29 : Putus Hubungan?



“Istirahatlah lagi. Kamu pasti lelah dan masih merasa mabuk,” ucap Flora yang mengantar Olvee kembali masuk ke kamarnya setelah semua insiden yang terjadi di rumah ini, yang menjadikan dirinya tokoh utama.


Olvee hanya mengangguk di atas kasurnya dengan ekspresi kosong. Flora sendiri bahkan tidak bisa mendefinisikan apa yang dipikirkan oleh putrinya. Namun, ia sangat mengerti bagaimana perasaannya. Bagaimanapun, nasi sudah menjadi bubur dan tidak bisa dikembalikan menjadi nasi. Ia hanya bisa berharap untuk ke depannya tidak ada lagi masalah yang akan menimpa keluarganya karena antara anggota keluarga. Cukup sekali kejadian antara suaminya dan orang tuanya.


“Mama akan meninggalkan makan siang lewat Bi Minah, ya.” Lagi-lagi Olvee hanya mengangguk tanpa menjawab.


Flora tidak mempunyai apapun untuk dikatakannya lagi. Ia beranjak dari duduknya berniat meninggalkan Olvee yang tampak membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Begitu ia keluar dari kamar putrinya, Flora menghela napas dalam dan menyandarkan tubuhnya di pintu.


Langkah kakinya kembali membawanya pada sang suami yang masih duduk termenung di sofa ruang tamu. Celine tinggal bersama suaminya di luar kota. Dan sekarang, Alvaro yang meninggalkan rumah ini karena masalah. Putrinya yang lain tampak depresi. Firasatnya sebagai seorang ibu, terbukti benar adanya. Ia sudah mengira saat Alvaro dan Jihan akan bertunangan. Tingkah laku putra dan putrinya tidak bisa membohongi mata dan hati seorang ibu.


“Zahir …” panggil Flora pelan setelah ia duduk di sampingnya.


“Kenapa Mama dan Papa sangat membenci Vee? Bagaimanapun, ini keputusan kita dan Vee adalah putri kita,” ucap Flora.


“Aku juga sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran mereka kenapa mereka bisa sangat membenci Vee meskipun dia tidak memiliki darah keluarga Marveen. Kebencian mereka sangat tidak normal, seolah melihat musuh bebuyutannya.” Zahir menanggapinya tanpa menatap Flora, masih menatap lurus dengan tatapan kosong ke depan.


“Lalu bagaimana dengan Alvaro dan Vee sekarang?” tanya Flora.


“Apa maksudmu bagaimana? Sekali keluarga tetaplah keluarga,” timpal Zahir tegas yang kali ini menatap kedua netra sang istri. Flora bisa melihat kedua bola mata yang kini tengah menatapnya tampak bergetar dan berkaca-kaca.


“Mereka tidak-”


“Aku mau Vee tetap menjadi putri kita!” potong Zahir sebelum Flora sempat menyelesaikan apa yang hendak ia katakan. Zahir sudah mengetahui apa yang akan dikatakan oleh istrinya.


“Kenapa? Mereka tampaknya saling mencintai. Kalau kau sangat menyayangi Vee, aku pikir kita juga sudah sangat mempercayai Alvaro karena dia adalah putra kita. Tidak bisakah kita membiarkan mereka berdua dan katakan yang sebenarnya?” Flora mencoba membujuk suaminya.


“Flora, aku mau melindungi Vee. Hanya aku yang bisa melindunginya! Dan caranya adalah dengan tetap menjadi putri kita!” seru Zahir.


“Melindungi dari apa? Dari kedua orang tuamu? Dan Alvaro sudah besar, Zahir. Ia sudah lebih dari mampu untuk menjaga Olvee kita!” balas Flora tak mau kalah.


“Kau tidak akan mengerti kedua orang tuaku sendiri, Flora.” Zahir menggeleng kemudian beranjak dari duduknya.


“Pembicaraan selesai, Vee tetap menjadi putri kita. Dan aku akan menjodohkannya dengan keluarga Pero yang lebih aku percaya.” Setelah mengatakannya dengan nada dingin, ia pergi berlalu meninggalkan Flora begitu saja. Apa suaminya itu tidak berpikir bahwa Olvee cepat atau lambat pasti akan menikah juga?


Selepas Flora meninggalkannya, Olvee yang giliran berdiri dari duduknya dan masuk ke dalam galerinya untuk mengunci diri di sana bersama ponsel yang ia bawa bersama.


Tangannya yang gemetar menekan nomor Zara untuk membuat dirinya tenang dengan bercerita dan berkeluh kesah pada tempat curhatnya itu sekaligus sahabatnya. Setelah dering kedua, telpon diangkat dan suara Zara terdengar. Olvee mulai tidak bisa mengendalikan air matanya lagi dan semua yang ingin ia katakan mendadak menghilang. Otaknya kosong tidak bisa memikirkan dan mengatakan apapun selain air mata dan suara sesegukan yang keluar.


“Vee, hei, ada apa? Pelan-pelan saja kau katakan padaku. Kau bisa menangis sepuasmu dulu.” Zara yang sudah terbiasa dengan tingkah ini dari Olvee sudah mengetahui bahwa Olvee saat ini sedang tidak baik-baik saja dan sangat membutuhkan dirinya.


Sekian menit Zara menunggu hingga tangis Olvee perlahan-lahan tidak terdengar. Ia masih menunggu untuk Olvee berbicara lebih dulu sebelum ia bertanya.


“Ra, semua sudah terungkap.” Dari kalimat itu, Zara bisa menebak akan kemana arah pembicaraan ini.


“Lalu bagaimana respon mereka?” tanya Zara.


“Papa yang sama sekali tidak pernah memukulku, dia memukulku hari ini,” jawab Olvee yang kembali mengeluarkan air matanya. Sebisa mungkin ia menahan isak tangis yang akan keluar.


Cerita Olvee memang terkesan biasa, tapi Zara tetap mendengarkan dengan serius kesedihan sahabatnya. Sejak awal perbuatan Alvaro dan Olvee tidak bisa dibenarkan, tapi ia juga tidak bisa menjudge Olvee karena tindakannya juga ia dukung, merasa sahabatnya itu lebih bahagia bersama Alvaro. Namun, satu hal yang pasti adalah bagaimana tanggapan kedua orang tuanya dengan hubungan mereka berdua itu pasti bisa memberikan jawaban atas hubungan Alvaro dan Olvee yang sesungguhnya.


“Bagaimana dengan Alvaro? Apa dia juga ada di sana?” tanya Zara kembali.


“Ya, dia juga ada di sana. Papa memutuskan untuk mengeluarkan salah satu dari kami untuk memisahkan kami. Aku berniat untuk keluar dari rumah, tapi Alvaro mencegahku. Papa juga mengatakan kalau dia akan menjodohkanku.” Olvee sudah tidak sesegukan seperti di awal, ia menjadi lebih tenang ketika meneruskan ceritanya pada Zara.


“Sejak awal aku memang salah karena sudah memilih Alvaro tanpa mau menerima konsekuensi ini. Ketakutanku yang mengecewakan orang tuaku lebih besar daripada ketakutan kehilangan Alvaro, Zara. Aku tidak mau membuat kesalahan lagi,” ujar Olvee kembali.


“Lantas, apa itu membuat si bocah itu berhenti menyukaimu dan membiarkan situasi ini?” tanya Zara yang membuat Olvee terdiam.


“Aku sudah berjanji pada Papa, Ra.” Helaan napas dengan nada setengah tidak setuju itu menjadi jawaban Olvee.


“Kau terdengar tidak menyukai pilihan itu. Yang menunjukkan jika perasaanmu pada Alvaro ternyata lebih besar dari dugaanku,” timpal Zara yang lagi-lagi membuat Olvee diam.


“Aku tidak menyuruhmu untuk membuat pilihan apapun, Vee. Aku hanya ingin bertanya, apakah kedua orang tuamu benar-benar menolak keras hubungan kalian karena kalian benar-benar adik dan kakak?” tanya Zara kemudian setelah beberapa detik berlalu hanya terdengar napas Olvee dari seberang telpon.


"Aku ingin mendengar cerita lengkapnya," lanjutnya.


"Aku semakin yakin dengan keraguanku." Olvee menjawab dengan nada yang bergetar.


"Lewat kejadian ini juga, aku yakin bahwa keraguanku yang tidak yakin bahwa aku bukan putri kandung mereka itu benar. Alvaro telah membuat Papa terpojok dengan semua perkataannya. Aku tahu, dia tidak akan diam saja setelah ini. Ia pasti akan dengan keras kepala mencari bukti di celah itu."


"Apa kau tidak ingin bersama dengan Alvaro?" Zara lagi-lagi membuat ia meragu.


Olvee sudah berjanji bahwa ia hanya akan menjalin hubungan ini dengan tidak serius karena merasa Alvaro juga hanya sekedar menyukainya. Saat wanita yang sesungguhnya Alvaro cintai datang, ia akan dengan senang hati melepas Alvaro dan menjalani hidupnya kembali. Namun, saat kebenaran ini terungkap di depan orang tuanya dan mereka menolak tegas hubungan keduanya, Olvee merasa sangat sakit saat melepaskan Alvaro. Bagaimana jika ia melepas Alvaro untuk wanita lain nantinya?


"Aku ingin bersama dengannya."










To be continued