(Not) Mistake

(Not) Mistake
Bab 40 : Keras Kepala



“Kau baru pulang setelah bersenang-senang seharian penuh dengan Alvaro?” Begitu ia masuk ke dalam rumah, ayah bersama ibunya menunggunya di ruang tamu.


“Aku bertemu dengannya, tapi aku-”


“Verald baru saja pulang, ia mengatakan jika Alvaro membawamu ke penthousenya sampai dia mengantarmu ke kantor untuk membawa mobilmu yang dibawa Evan.” Olvee sudah tidak bisa mengelak lagi jika ayahnya sudah memastikan dengan benar melalui mata-matanya, Verald.


Ia tidak menduga jika Verald akan melakukan perintah ayahnya untuk mengawasinya dirinya. Tidak ada lagi alasan yang sejak tadi ia pikirkan akan berguna. Apa yang harus ia katakan?


“Vee …” Zahir berjalan mendekat padanya membuat Olvee ketakutan.


“Zahir!” panggil Flora menghadang suaminya dan berdiri di antara mereka.


“Minggir, Flora!” bentak Zahir sembari mendorong Flora cukup keras hingga tersingkir.


“Mama!” seru Olvee segera menghampiri ibunya.


Namun, Zahir lebih cepat mencegahnya. Ia membuka kancing teratas kemeja Olvee hingga menampakkan lehernya yang dipenuhi dengan tanda kemerahan hasil karya Alvaro. Zahir dan Flora terkejut saat melihat hal tersebut.


“Olvee! Papa sudah memperingatkanmu untuk menjauhi Alvaro dan ..." Zahir menggantungkan ucapannya dan mengacak rambutnya frustasi.


"Kau sama sekali tidak mendengarkan Papa!" bentak Zahir membuat Olvee tersentak.


"Zahir, cukup!" Flora mencoba kembali menghentikan suaminya.


"Apa alasan Papa tidak mau aku dengan Alvaro, Pa?" tanya Olvee dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Vee, cukup! Jangan menjawab atau melawan Papa!" peringat Flora sama tegasnya pada Olvee.


"Mama sama sekali tidak berusaha untuk membantuku dan mendukung Papa, jadi Mama sebaiknya diam sekarang. Apa kalian tidak mengerti jika kebahagiaanku ada di Alvaro?!" teriak Olvee frustasi.


"Jawab Vee, Pa!" balas Olvee pada Zahir.


"Kalian dibesarkan sebagai saudara, jadi kalian selamanya hanya akan menjadi saudara," jawab Zahir tegas.


"Jangan selalu mengatakan itu! Kalian bahkan bukan keluarga kandungku!" teriak Olvee disusul dengan isak tangisnya.


Zahir dan Flora cukup terkejut mendengar Olvee yang begitu keras kepala menentang keputusan ayahnya. Olvee yang mereka kenal ceria, penurut, dan manis benar-benar sudah berubah. Tidak ada lagi Olvee putri mereka di sini sekarang. Olvee di hadapan mereka sekarang sudah berani melawan dan tidak menganggap Zahir dan Flora kedua orang tuanya. Itu cukup membuat keduanya merasakan kekecewaan.


"Vee ..." Flora memanggilnya lemah.


"Mulai sekarang kau tidak diperbolehkan lagi untuk keluar dari rumah satu meter pun sampai pernikahanmu dan Verald diadakan. Jangan khawatir, Papa akan menyiapkannya dengan cepat bersama keluarga Pero." Titah Zahir sudah keluar dan itu terdengar mutlak yang tidak bisa lagi di ganggu gugat oleh Olvee.


"Papa tidak bisa melakukan itu padaku," ucap Olvee masih membantah tak bergerak seinchi pun dari tempatnya.


"Masuk ke kamar atau Papa akan menyeretmu!" perintah Zahir sekali lagi yang masih tidak digubris Olvee.


"Vee!" bentak Zahir seraya menarik tangan Olvee.


"Tidak, aku tidak mau!" balas Olvee tak kalah berteriak.


"Zahir, kau menyakiti Vee." Flora turut menangis dan membantu Olvee untuk lepas dari Zahir.


"Sejak kau dan Alvaro berulah, kau jadi pembangkang sepertinya. Vee, sejak awal Papa seharusnya tidak memberikanmu-"


"Aku dan Verald tidak bisa menikah karena aku sedang mengandung anak Alvaro!" Olvee memotong ucapan Zahir, mengungkap informasi penting demi dirinya bisa keluar dari sini. Ia sudah merasa muak dengan kedua orang tuanya.


Zahir dan Flora yang memegangi Olvee di kedua sisinya melemah saat mendengar apa yang dikatakan oleh putri mereka. Ekspresi terkejut tak terelakan terlukis di wajah keduanya. Namun, Olvee tidak bisa terlalu berharap jika ayahnya akan mengubah keputusannya, mengingat bagaimana sifat sang ayah. Ia hanya bisa berharap jika ayahnya yang lembut dan selalu mendukungnya akan kembali.


"Vee, benarkah itu? Benarkah apa yang kau katakan?" tanya Flora sembari mengguncang tubuhnya.


Olvee dengan mata memerah menatap ibunya, "Itu benar. Kalian tidak bisa lagi memisahkan kami. Aku akan pergi dari sini bersama Alvaro!" seru Olvee sembari melepas kedua tangan sang ibu yang memegang kedua bahunya.


"Berhenti di sana, Vee." Zahir kembali angkat suara.


"Kau akan tetap menikah dengan Verald," lanjutnya.


"Setelah Papa menyingkirkan bayi itu." Baik Olvee dan Flora yang mendengar tidak bisa lebih terkejut mendengar keputusan Zahir. Haruskah sejauh ini ia bertindak?


"Tidak! Ini bayiku, kalian tidak bisa melakukannya!" Olvee benar-benar ketakutan dan memegang perutnya untuk melindunginya.


Zahir tidak banyak berbicara lagi. Ia menyeret Olvee ke kamarnya, tak peduli seberapa keras Olvee berteriak atau seberapa keras ia meronta. Zahir mengunci Olvee di kamarnya dan kembali ke kamarnya.


"Papa!" teriak Olvee dari dalam sembari menggedor keras pintunya.


"Vee ..." Flora memanggilnya lirih, tapi ia tetap pergi menyusul Zahir.


Zahir termenung di dalam kamarnya. Sekujur tubuhnya berkeringat dingin, terutama kedua tangannya. Ia tidak bisa menyangkal jika ia dilingkupi rasa bersalah dan ketakutan setelah melakukan semua hal jahat pada Olvee. Namun, rasa takut yang ia rasakan kehilangan Olvee jauh lebih menakutkan.


"Zahir," panggil Flora.


"Flora ..." Ekspresi wajah Flora tersentak ketika melihat bagaimana keadaan Zahir.


"Apa kau harus melakukannya sejauh ini?" tanya Flora sembari membawa sang suami ke dalam pelukannya.


"Aku harus," tegas Zahir.


"Kau sudah melihat sendiri, Vee sekarang sudah membenci kita karena menghalanginya. Itu juga adalah calon cucu kita, apa kau akan tega melakukannya?" tanya Flora sekali lagi yang tidak mendapatkan jawaban dari Zahir.


Flora menghela napas. Ia mengurai pelukan mereka. "Aku akan ke dapur untuk membuat minum," ucap Flora.


Zahir mengangguk saja dan melepaskan Flora begitu saja. Flora keluar dan berjalan ke dapur, memang berniat mengambil minum. Namun, bukan itu tujuannya sebenarnya. Setelah di dapur yang gelap, Flora mengawasi keadaan sekitar, memastikan jika Zahir tetap di kamar. Merasa keadaan sepi, Flora mengambil ponselnya dan menekan nomor seseorang.


"Halo, Ma?" sahut seseorang di seberang telpon.


"Celine, bisakah kau pulang sekarang dan menolong adik-adikmu? Papa benar-benar tidak bisa dihentikan sekarang." Flora berbicara dengan sangat hati-hati sambil mengendalikan tangisnya yang lagi-lagi keluar.


"Tapi ada apa? Celine tidak bisa langsung datang ke sana, Ma." Celine ikut merasa cemas dengan keadaan ibunya yang terdengar sangat mengkhawatirkan, tapi ia juga tidak bisa asal pergi meninggalkan pekerjaannya.


"Ini cerita yang sangat panjang, Vee sekarang hamil anak Alvaro dan Papa berniat mengugurkan kandungan Vee dan menikahkannya dengan Verald. Tolong, Mama tidak bisa menghentikan Papa dan membantu Vee." Beberapa detik Celine tidak berbicara, mungkin karena terkejut mendengar semua hal tak terduga ini.


"A-apa? Vee dan Alvaro? Mama yakin? Bukankah Alvaro sudah bertunangan dengan Jihan?" tanya Celine beruntun.


"Secepatnya kau pulanglah dan Mama akan menceritakan semuanya. Hanya kau satu-satunya harapan Mama, Celine."


"Celine akan berusaha untuk segera pulang, Ma."










To be continued