(Not) Mistake

(Not) Mistake
Bab 32 : Sisi Lain Alvaro



Olvee lagi-lagi terbangun dari tidurnya dengan tubuh yang terasa sangat berat. Karena pria di sampingnya sudah membuat tulang-tulang di tubuhnya terasa patah seluruhnya. Seperti di malam itu, saat pesta reuni diadakan. Namun kali ini, ia mengingat dengan jelas apa saja yang sudah mereka lakukan. Ia menghela napas panjang tidak bisa menyalahkan sepenuhnya Alvaro, karena ia kini secara sukarela melakukannya.


Olvee memang adalah wanita lemah dan egois yang tidak bisa memegang janjinya. Ia takut pada kedua orang tua yang akan membuangnya dan ia juga takut untuk kehilangan Alvaro. Pria pertama yang membuat ia jatuh cinta sedalam ini adalah adiknya sendiri. Sayangnya.


Olvee merasakan pergerakan dari tangan Alvaro yang melingkari perut polosnya. Reflek Olvee memejamkan kedua matanya untuk kembali berpura-pura tidur. Terlalu takut sekaligus malu menghadapi Alvaro. Namun, pergerakan Alvaro yang menarik tubuhnya semakin mendekat padanya membuat Olvee membuka kembali kedua matanya karena ia merasakan sesuatu di bawah sana.


Jantung Olvee berdegup kencang takut Alvaro akan menyiksanya lagi seperti semalam sehingga ia berusaha keras untuk tidak terbangun lebih dulu daripada Alvaro. Namun tampaknya, Alvaro berniat membangunkan dirinya. Tengkuknya yang berada tepat di depan wajah Alvaro menjadi sasaran bibir ganas itu.


“Alvaro, jangan membuat jejak di tempat yang terlihat.” Pada akhirnya Olvee tidak bisa melanjutkan kepura-puraannya demi menegur Alvaro.


“Vee, kau sudah bangun?” tanya Alvaro yang diangguki pelan Olvee.


Alvaro berhenti menciumi tengkuk Olvee dan berusaha untuk membuat ia berbalik menghadapnya. Sekali lagi Olvee tidak memiliki pilihan selain mengikutinya. Mungkin dengan cara inilah mereka bisa berbicara dengan baik dan tenang. Meskipun harus setelah pergulatan panas mereka.


Setelah mereka berhadapan, ia pikir Alvaro akan menatap matanya dan berbicara dengan serius. Tapi pria ini malah bergerak turun sedikit ke bawah menyamai wajahnya tepat di depan dadanya dan semakin memeluknya erat. Menyembunyikan wajahnya di antara kedua dadanya.


“Alvaro …” panggil Olvee pelan memulai pembicaraan.


“Hm?” sahut Alvaro tanpa repot-repot mendongak menatap dirinya seolah tidak peduli dengan apa yang akan ia katakan.


Olvee membiarkan Alvaro melakukan apapun sesukanya. Namun, saat hendak membuka mulutnya untuk berbicara, Olvee merasakan sesuatu yang basah menyapu dadanya dan menghisapnya kuat. Ditambah, tangan yang tadinya melingkari perut Olvee kini sudah berkeliaran menjamah tubuhnya lagi. Ia berusaha mati-matian menahan suara sialan dan menjijikan miliknya yang sepanjang malam terdengar.


“Berhenti menyentuh tubuhku! Aku baru saja beristirahat beberapa jam yang lalu, Alvaro!” tegur Olvee dengan sekali tarikan napas sembari memukul tangan Alvaro yang berada di tubuhnya.


Alvaro justru malah tertawa kecil. Ia kali ini mendongak padanya dan tatapan itu yang sangat Olvee ketahui artinya mulai sekarang menatap dirinya. Sebelum Alvaro sempat menyerang bibirnya, tangannya segera menjambak rambut Alvaro hingga ia sedikit menjauh darinya.


“Ahh, Vee!” ringis Alvaro kesakitan.


“Kita harus bicara sekarang!” seru Olvee tegas.


“Baiklah, baiklah.” Setelah Alvaro menjawabnya, Olvee melepaskan rambut Alvaro.


Olvee menarik kembali pikirannya bahwa mereka bisa berbicara dengan baik dan tenang di atas ranjang dalam keadaan naked. Tubuh Alvaro selalu bereaksi dengan tubuhnya. Jadi, Olvee memutuskan untuk memunguti pakaiannya dan memakainya kembali sebelum ia berbicara dengan Alvaro.


Keduanya duduk di sofa kamar Alvaro, pria itu memberikannya segelas air putih. Olvee menerimanya dan meneguknya hingga tandas karena tidak dapat dipungkiri jika tenggorokannya sangat membutuhkannya. Suaranya rasanya hampir habis.


“Mama dan Papa sudah melarang kita untuk memiliki hubungan,” ujar Olvee membuka pembicaraan.


“Aku tahu, aku juga tidak peduli karena kita bukan saudara. Kau sudah mendengarnya langsung dari Papa, kan?” Olvee diam tidak bisa memungkiri dengan apa yang dikatakan Alvaro.


“Tapi itu bukan berarti kita bisa, Alvaro. Mereka sudah menganggapku sebagai putri mereka dan akan seperti itu. Papa berniat menjodohkan aku dengan keluarga pilihannya.” Semakin erat Olvee menggenggam gelas yang sudah kosong itu tanpa berani menatap Alvaro ketika mengatakannya.


“Aku juga tidak peduli tentang-”


“Jadi, sebaiknya kita mengakhiri ini sekarang. Kita hanya bisa menjadi-”


Prang!


Bibirnya mendorong wajahnya dengan ciuman mereka hingga Olvee mendongak sempurna pada Alvaro. Beruntung sandaran sofa menjadi penyangga lehernya bersamaan dengan tangan Alvaro yang juga sudah berada di sekitar pipi dan rahangnya untuk membuat ciuman mereka semakin intens. Satu tangan Alvaro entah sejak kapan sudah menelusup masuk ke dalam rok yang ia baru saja pakai.


“A-alvaro …” Satu erangan akhirnya lolos dari bibir Olvee di tengah-tengah sapuan bibir Alvaro yang menghisapnya bergantian.


Alvaro tiba-tiba melepaskan pangutan bibir mereka dan berhenti di tengah kegiatannya. Napas mereka yang terengah-engah saling bersahutan. Pakaian Olvee yang sudah ia pakai lengkap lagi-lagi kacau.


“Vee, haruskah kita mengulangi apa yang kita lakukan semalam? Apa kau tidak mau menerima apa yang dikatakan oleh hati dan tubuhmu sendiri? Aku menginginkanmu dan kau menginginkanku. Bukan begitu?” Alvaro berbicara dengan suara dalam dan netra yang tajam menatap kedua netra milik Olvee.


“Vee …” Kali ini suaranya lirih memanggil.


Alvaro menghela napas tanpa mengubah posisi tubuhnya yang mengapit Olvee. Ia memejamkan matanya sebentar kemudian kembali menatap Olvee yang kali ini dapat Olvee lihat kedua mata itu berkaca-kaca. Tampak sebuah luka dari sorot matanya.


“Apa yang harus aku lakukan jika aku begitu mencintaimu?” Satu tetes air mata jatuh tepat di wajah Olvee membuat ia terkejut.


Olvee tidak mengira jika Alvaro akan menangis di depannya hanya demi memohon agar tidak ditinggalkan. Ia juga berada di posisi sulit di antara Alvaro dan keluarganya yang mana keduanya sama-sama penting. Namun, melihat air mata Alvaro membuat Olvee semakin melemah dengan keputusan yang sudah akan ia ambil ini.


“Alvaro …” Olvee menegakkan tubuhnya membuat Alvaro ikut sedikit menjauh. Ia lantas memeluk tubuh Alvaro untuk menenangkannya.


Saat itu juga air mata Alvaro berhenti keluar. Ekspresi menyedihkan yang ada di wajahnya berubah menjadi senyum licik yang tersungging. Olvee nya yang polos, mengira Alvaro benar-benar bersedih dan menangis memohon untuk tidak ditinggalkan. Padahal, Alvaro sudah memiliki seribu satu cara jika cara menyedihkan ini tidak mempan di depan Olvee.


“Apa kau mencintaiku?” tanya Alvaro dengan suara serak, kembali bersandiwara.


“Yes, I do. But what should I do, Alvaro?” tanya balik Olvee.


“Aku sudah mengatakan jika kau tidak perlu memikirkan apapun untuk itu. Akan aku pastikan kita bisa hidup bersama selamanya.” Alvaro mengurai pelukan mereka dan mengelus kedua pipi Olvee.


“I promise, My Love,” ucap Alvaro lembut masih sambil mengelus pipi Olvee.


Olvee memejamkan matanya menikmati sentuhan Alvaro. Alvaro lantas mencium dahi Olvee hangat dan menahannya beberapa detik. Hingga suara dering ponsel membuyarkan momen mereka.


Alvaro beranjak dan mengambil ponsel Olvee yang berbunyi. Ada banyak sekali panggilan tak terjawab dari kedua orang tuanya, terutama ayahnya yang membuat Alvaro ingin sekali melemparkan ponselnya. Namun, karena yang menelpon adalah Zara, ia memberikan ponselnya pada sang pemilik.


“Halo, Zara?” sapa Olvee.


“Om Zahir dalam perjalanan ke rumahku!” seru Zara.


"Apa?!" Olvee berteriak terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Zara.




*


To be continued