(Not) Mistake

(Not) Mistake
Bab 49 : Undangan Pernikahan



Sudah satu bulan lamanya sejak Olvee pergi meninggalkan rumah kedua orang tuanya dan pindah ke rumah dimana seharusnya ia tinggal. Bersama keluarga kandungnya yaitu kakak laki-laki satu-satunya. Sudah selama itu pula, Zahir sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda sudah membuat keputusan dalam hidupnya. Ia tampak masih merasa bersalah dan tenggelam di dalamnya. Tidak bertindak apapun sama sekali sejak hari itu.


Beberapa hari menjelang pernikahan putra semata wayangnya, dengan seorang wanita yang begitu ia cintai seperti putri kandungnya sendiri. Zahir tidak ikut merasakan kebahagiaan tersebut bahkan setelah undangan pernikahan itu ada di depan matanya. 10 hari dari sekarang, mereka akan kembali menjadi satu keluarga, tapi dalam status yang berbeda. Yaitu sebagai mertua dan menantu.


“Zahir, kau akan pergi kemana?” Pertanyaan Flora yang terdengar sama sekali tidak ia indahkan. Zahir melewati sang istri yang berada di ruang tamu begitu saja.


Zahir mengambil satu-satunya mobil di garasi dan mengendarainya dengan kecepatan penuh. Sedangkan Flora yang bingung melihat tingkah suaminya itu, segera menelpon putranya untuk meminta bantuan mengawasi ayahnya. Tidak ada yang bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh pria tersebut.


Zahir tiba di depan sebuah rumah besar yang menjadi tempat tinggalnya di masa kecil dan menghabiskan waktu sepanjang ia remaja dan beranjak dewasa. Rumah kedua orang tuanya. Melihat mobil yang terparkir, tampaknya mereka berdua ada di rumah saat ini. Tak membuang waktu lagi, Zahir masuk begitu saja.


“Wah, wah, wah… sepertinya kita kedatangan tamu lama,” ujar Kenar menyambut kedatangan putranya itu dengan nada dan gaya angkuh khasnya.


“Apa yang membawamu kemari, Zahir? Bulan lalu putramu, sekarang ayahnya. Apa sekarang kau akan menyalahkan kami karena mengatakan kebenarannya pada Alvaro?” tanya Laila ikut berbicara.


“Jika kau ingin memutuskan hubungan, putuskan dengan tuntas dan bila perlu tidak usah membawa nama Marveen di belakang namamu!” seru Kenar menambahkan.


“Mana bisa saya memutuskan hubungan dengan kedua orang tua saya?” Pertanyaan Zahir mengundang kerutan lain di dahi kedua pasangan baya ini.


“Apa maksudmu? Apa kau kemari untuk meminta harta warisan sebab hartamu sendiri sudah habis untuk biaya pernikahan putramu? Cih, saat kau tidak membutuhkan kami, kau membuang kami. Kali ini, kau datang mengemis harta pada kami. Sejak awal, tidak usah berlagak jika tidak bisa apa-apa tanpa nama Marveen, Zahir!” cerocos Kenar tak senang.


“Saya kemari untuk minta maaf,” ucap Zahir singkat yang semakin membuat keduanya terkejut.


Laila tersenyum miring. “Apa ini akal-akalan saja?” tanyanya.


“Saya datang bukan untuk meminta harta atau menyalahkan apapun itu. Saya datang kemari untuk meminta maaf dan menyambung kembali hubungan kita, Ma, Pa.” Keheningan terbentang di antara mereka setelah Zahir selesai mengatakannya.


“Saya minta maaf atas keputusan impulsif saya selama beberapa tahun, Ma, Pa.” Zahir kembali berbicara bahkan sampai menundukkan kepala.


Zahir tidak mengatakan apa yang dikatakan oleh Alvaro. Jika alasannya seperti itu, maka keputusan yang akan ia ambil kemungkinan akan sama seperti yang ia ambil beberapa tahun silam. Karena itulah, butuh waktu satu bulan bagi Zahir untuk mengakui kesalahannya dan meminta maaf pada mereka, terlepas dari semua kesalahan yang telah mereka lakukan juga pada dirinya. Meski akan sulit untuk menebusnya, Zahir tetap ingin meminta maaf pada mereka yang menjadi orang tuanya.


“Zahir …” Nada suara Kenar dalam memanggilnya melunak.


“Kami tidak tahu harus berbicara apalagi jika kedatanganmu kemari adalah untuk itu. Kau sangat atau terlalu baik, yang sama sekali tidak kami miliki sifatnya,” ujar Kenar kembali yang didengarkan dengan baik oleh Zahir.


“Sepertinya kita yang harus berubah sekarang,” lanjutnya sembari menghela napas.


“Kenapa kau tiba-tiba datang kemari dan meminta maaf pada kami?” Laila masih tidak menurunkan nada suaranya. Masih enggan untuk membuka hatinya pada Zahir, meski ia ibu kandungnya sendiri.


"Saya mengakui kesalahan saya pada Anda sebagai anak. Bertindak impulsif dengan memutuskan hubungan keluarga," jawab Zahir tegas.


"Apa itu mengartikan jika kau menyesal telah memilih membesarkan anak itu dan memutuskan hubungan keluarga kita? Aku dengar dari Alvaro, kalau kau bertindak seperti apa yang kami lakukan pada anak itu dan melukainya. Sekarang dia berpaling darimu dan kau meminta maaf pada kami?" tanya Laila.


"Tidak, saya sama sekali tidak menyesal membesarkannya. Yang saya sesali adalah tindakan saya di masa lalu. Meskipun hubungan kami sekarang seperti ini, tapi saya sebagai ayahnya hendak memperbaikinya dengan meminta maaf karena sudah bersalah. Saya tidak ingin mengulangi kesalahan yang orang tua saya lakukan." Meski perkataannya berbahaya karena jelas menyindir kedua orang di depannya, Zahir tidak berharap mendapat maaf dari kedua orang tuanya. Ia hanya ingin kedua orang tuanya berubah dan memiliki sudut pandang yang baru.


"Mungkin cara dan sikap kami tidak benar, tapi kami sebagai orang tua tetap merasa sedih dengan keputusanmu, kecewa, dan marah. Bagaimanapun anak kami, manusia seburuk kami pun tetap menyayangi anaknya, Zahir." Zahir tidak menyangka jika kedua orang tuanya akan menunjukkan sisi mereka yang lemah seperti ini.


Sejauh ia mengenal kedua orang tuanya, mereka adalah orang yang disiplin, keras, ketat, dan cukup strict padanya. Hal itulah yang membuat Zahir merasa jika kedua orang tuanya salah dalam mendidik dirinya. Namun, tak disangka jika kebiasaan itu terbawa sehingga dirinya membuat kesalahan pada putrinya sendiri.


"Tak apa, saya kemari hanya untuk mengatakan itu saja, Ma, Pa. Masih ada yang harus dilakukan oleh saya." Namun sayangnya, Zahir menolak setelah urusan yang ada di sini selesai.


Kenar dan Laila tidak menjawab. Zahir bisa mengetahui apa yang hendak dikatakan oleh mulut mereka yang terbiasa mengumpat.


"Pulanglah kapanpun kau mau, Zahir." Tanpa diduga, Kenar memeluk hangat tubuh putranya yang juga sudah tidak muda lagi sama sepertinya.


"Iya," jawabnya singkat.


"Saya akan pergi." Zahir melepaskan pelukan dan bersiap pergi. Namun, ia merogoh saku jasnya dan memberikan sebuah undangan padanya.


"Alvaro-"


"Kami sudah mendapatkannya," potong Laila cepat.


"Baiklah," timpal Zahir sembari memasukkan kembali undangan tersebut.


"Jangan lupa untuk datang di acaranya, Ma, Pa." Keduanya tak diduga mengangguk.


"Tapi tolong jangan membuat keributan lagi," lanjutnya.


"Meski dia putri keluarga Roxanne yang kalian tidak sukai, dia dibesarkan oleh putra kalian dari darah keluarga Marveen. Tolong jangan terlalu membencinya. Saya mohon pada kalian." Zahir lantas pergi.


"Bagaimana menurutmu Laila?" tanya Kenar.


"Bagaimanapun, dia tetap memiliki darah kotor keluarga Roxanne," jawabnya.


"Kau benar. Tapi, mari kita lihat ke depannya." Laila mengangguk setuju.










To be continued