(Not) Mistake

(Not) Mistake
Bab 21 : Alvaro Semakin Berbahaya



Seperti kebanyakan makhluk hawa lainnya yang memiliki hobi berbelanja, begitupun dengan Olvee yang senang akan hal yang sama. Terutama perkakas melukis yang bahkan masih memenuhi galerinya. Olvee tidak peduli akan hal tersebut jika berkaitan dengan pekerjaan sekaligus hobinya itu. Apapun barang yang menarik matanya, maka ia akan memasukkannya ke dalam keranjang belanjaannya. Apalagi, ini merupakan pertama kalinya Alvaro menemaninya berbelanja setelah sekian lamanya.


“Vee… “ panggil Alvaro untuk ke sekian kalinya pada gadis yang bahkan tidak mau repot-repot mendengarnya.


“Haruskah sekarang kita mampir ke restoran untuk makan?” tanya Alvaro tak mendapatkan jawaban dari Olvee.


Ini sudah 5 jam lamanya mereka mengelilingi lantai mall dimana alat-alat melukis disediakan dengan lengkap, tempat favorit Olvee. Jika gadis itu bukan Olvee, maka Alvaro tidak akan peduli dan repot-repot terus mengingatkan mereka untuk beristirahat dan makan. Ia bahkan tidak sudi untuk mengantarnya. Berhubung karena ini adalah Olvee, Alvaro dengan suka rela menghabiskan waktunya demi berduaan dengan Olvee.


Karena sudah lewat waktunya makan siang dan Olvee sama sekali tidak memberikan tanda-tanda akan mengakhiri kegiatannya, Alvaro terpaksa harus memaksa atensinya. Ia berjalan mendekat ke arah Olvee tepat di belakangnya. Memeluk pinggangnya dari belakang sambil mereka berjalan. Olvee tersentak dan memelankan langkahnya sambil menoleh ke sekitarnya yang cukup sepi. Sebelum ia hendak membuka mulutnya, suara Alvaro di samping telinganya terdengar pelan.


“Barang-barang di sini tidak akan kehabisan, Sayang. Sebaiknya kita mengisi perut ini lebih dulu dan melanjutkannya nanti.” Alvaro berbicara sambil mengusap perut Olvee lembut.


“Ok, tapi pertama lepaskan aku dulu. Ini tempat umum, Alvaro. Apa kau gila?” timpal Olvee tak kalah pelan sambil menekan nada suaranya.


“Siapa yang suruh kau tidak mendengarkan saat aku berbicara biasa saja tadi?” tanya Alvaro balik.


“Aku minta maaf. Sekarang jangan bercanda, Alvaro… “ ujar Olvee sambil berusaha melepas pelukan Alvaro.


“Vee… “ Olvee mendongak untuk menatap Alvaro dengan tatapan tajamnya.


Netra tajam Olvee yang hendak menyorot pada Alvaro berubah menjadi membulat terkejut karena tindakan tiba-tiba Alvaro. Pria itu memang melepaskan pinggangnya dan kini berjalan di sampingnya, tapi setelah mencium bibir Olvee di tengah tempat umum ini.


Alvaro bersenandung kecil sambil mendorong troli yang berisi penuh barang-barang Olvee. Sedangkan Olvee yang sudah selesai dengan rasa terkejutnya, menoleh ke arah sekitarnya untuk memastikan jika perbuatan mereka tidak disaksikan oleh pengunjung lainnya. Bersyukur wilayah ini tidak terlalu ramai oleh pengunjung.


“Alvaro…!” kesal Olvee seraya melayangkan cubitan keras di pinggang Alvaro.


“Aku tidak mau lagi berbelanja bersamamu!” ketus Olvee, mencebikkan bibirnya.


“Baiklah, baiklah, aku minta maaf. Jangan cemberut. Ini sudah lewat waktu makan siang, Sayang. Kau sudah menghabiskan waktu terlalu lama di sini. Apa kau tidak lapar?” Olvee tidak menjawab lagi karena mengiyakan pertanyaan Alvaro.


“Sebaiknya kita makan malam sekalian di luar, aku mendapat pesan dari Mama kalau mereka tidak akan pulang malam ini.” Pergerakan Olvee yang tengah memakan makanannya terhenti dan menoleh ke arah Alvaro.


“Kemana mereka pergi malam ini?” tanya Olvee.


Alvaro mengangkat kedua bahunya menunjukkan ketidaktahuan. Ia memasukkan kembali ponselnya dan ikut makan bersama Olvee. Begitupun dengan Olvee yang ikut melanjutkan makannya.


Setelah mereka makan malam dan memutuskan untuk pulang, jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Dalam perjalanan, mereka diguyur oleh hujan yang cukup deras hingga jalanan cukup macet. Membutuhkan 2X lipat waktu untuk sampai di rumah.


Begitu sampai rumah, keadaan cukup sepi dan lampu belum ada yang menyala, pertanda jelas jika tidak ada siapapun di rumah tersebut. Pembantu rumah tangga mereka satu-satunya, tidak sampai menginap membuat rumah benar-benar dalam keadaan kosong. Harus Olvee akui jika rumah yang cukup besar itu cukup menyeramkan jika tidak ada penghuninya.


Tak banyak berbicara karena kedinginan, baik Olvee maupun Alvaro masuk ke dalam kamar masing-masing. Membersihkan diri untuk bersiap-siap tidur dan kembali berkegiatan di esok hari. Baru saja Olvee mematikan lampu kamarnya, suara pintu kamarnya yang dibuka membuat Olvee menoleh ke arah pintu. Lagi-lagi di sana ada Alvaro yang masuk begitu saja ke kamarnya dan berbaring di atas kasurnya seolah ini adalah kamarnya. Tidak mau berdebat karena terlalu lelah, Olvee ikut berbaring di atas ranjang dan mulai memejamkan matanya. Disusul dengan dekapan hangat Alvaro yang memeluk pinggangnya sepenuhnya.


“Kapan Mama dan Papa pulang, Alvaro?” tanya Olvee mengingat jika hanya ada mereka berdua di rumah.


“Besok atau lusa mereka memberitahunya,” jawab Alvaro dengan suara purau, mungkin sudah setengah tertidur.


Setelah mengubah posisi tubuhnya beberapa kali, kantuk tak kunjung datang. Melihat Alvaro yang begitu pulas membuat ia sedikit iri. Olvee akhirnya memutuskan beranjak dari atas kasurnya dan berjalan keluar kamar. Menuruni anak tangga menuju dapur dan membuka kulkas. Tangannya terulur mengambil sekotak susu dan menuangkannya ke dalam gelas dan meneguk isinya.


Olvee membawa gelas susu yang bersisa setengah itu ke sofa ruang tamu. Menyalakan televisi sambil merebahkan tubuhnya sekali lagi, berharap dengan menonton tv, ia bisa mengantuk dengan sendirinya.


“Vee… “ Suara parau Alvaro membuat Olvee melirik sekilas ke arah Alvaro yang berjalan ke arahnya.


“Ngapain?” tanya Alvaro seraya bergabung bersama Olvee di sempitnya sofa. Kembali memeluk Olvee. Namun, kali ini ia memeluknya dari depan, terlihat seperti seorang anak yang memeluk ibunya.


Tampaknya Alvaro lagi-lagi tertidur pulas di dalam pelukan Olvee, sedangkan wanita itu sendiri tak kunjung mengantuk. Tangan Olvee mengusap-ngusap pelan rambut Alvaro, dengan tatapan yang mengarah pada televisi. Tanpa sadar jika kegiatan kecil Olvee tersebut membangunkan Alvaro.


“Vee… “ Suara Alvaro terendam.


“Hm?” sahut Olvee tanpa mengalihkan atensi dan kegiatannya.


Tak banyak berbicara, Alvaro mendekat pada wajah Olvee dan mencium bibirnya. Tak puas dengan kecupan lembut, Alvaro menggigit kecil bibir Olvee hingga ********** bergantian. Erangan lirih yang lolos dari bibir mungil yang tengah ia mainkan itu berhasil membangunkan sosok Alvaro yang lain.


Di tengah permainan bibir mereka, tangan Alvaro mulai aktif menerobos masuk kaos yang digunakan wanita itu. Menyentuh dan membelai lembut perut mulus Olvee, menggelitiknya membuat wanita itu menggelinjang kegelian. Naik hingga pada kedua puncak dada Olvee yang tak terbungkus apapun selain kaosnya. Bersamaan dengan turunnya bibir Alvaro hingga menyentuh titik sensitif Olvee. Tak lupa memberikan tanda kepemilikannya di leher jenjang dan tulang selangkanya yang cantik.


“A-alvaro …” Olvee mulai mengeluarkan suara-suara desahannya dengan tangan yang terus memainkan rambut Alvaro yang bermain di ceruk lehernya.


Suara Olvee bercampur dengan suara hujan yang masih mengguyur dengan derasnya. Udara di luar, berbanding terbalik dengan udara di dalam ruang tamu itu. Bukan hanya karena pemanas ruangan yang dinyalakan, tapi juga karena aktifitas yang mereka lakukan. Baik Alvaro maupun Olvee, keduanya sama-sama terbawa oleh euforia gairah yang menggebu.


“Do you want more, Vee?” Alvaro menghentikan kegiatannya dan menatap Olvee yang sudah sangat berantakan di bawahnya, menatap pasrah dirinya seolah siap memberikan tubuhnya.










To be continued