
“Aku akan kembali sore ini. Ada satu hal yang ingin aku tanyakan pada kalian berdua,” ucap Celine memulai pembicaraan di kala siang itu antara sesama anggota keluarga Marveen. Ia baru saja tiba setelah mampir ke rumah sakit.
Kedua orang tua yang bersalah itu terdiam tidak mengatakan sepatah katapun. Mereka menunduk dengan tubuh yang gelisah, bahkan tak berani menatap pada putri mereka. Padahal bukan ia yang membuat kedua orang tuanya itu merasakan rasa bersalah yang amat dalam, tapi kegagalan mereka pada satu putri yang lain membuat mereka enggan.
“Pertama, Vee sudah pulih dan pulang bersama Tuan Dylan hari ini. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi darinya atau bayi di dalam perutnya. Sebelumnya dia hanya terluka di bagian bahunya saja karena pecahan beling.” Celine menghela napas untuk membuat suasana canggung ini mencair dengan memberitahu keadaan Olvee lebih dulu. Ia merasa jika dirinya menjadi hakim untuk kedua orang tuanya saja.
Setelah mendengar hal itu, barulah Flora mendongak menatapnya. Kedua matanya tampak berkaca-kaca, menunjukkan dengan jelas kekhawatiran. Celine yakin jika ibunya juga memiliki rasa bersalah pada Olvee, tapi tidak sebesar ayahnya. Kasih sayang seorang ibu yang ia miliki membuat ia tergerak untuk membantu Olvee diam-diam dengan menghubunginya.
“Mama lebih merasa tenang jika Vee ada di rumah yang sudah seharusnya,” ucap Flora lirih yang sangat terdengar jika ia tengah menahan air matanya.
“Meskipun Mama membantunya, tapi tidak mengubah fakta Mama sama sekali tidak menghentikan Papa. Mama juga memiliki kesalahan yang sama besarnya pada Vee.” Flora kembali berbicara.
“Pa, bisa tolong jelaskan sampai aku memahami alasan kenapa Papa melakukan semuanya pada Vee sejauh ini?” tanya Celine kemudian.
Zahir masih tetap bungkam ketika Celine sudah mengajukan pertanyaan. Sekian puluh detik ia tetap diam yang semakin membuat Celin kesal tanpa bisa melakukan apapun. Ia berdecak dan menghela napas.
"Maaf ..." Itu adalah kata pertama yang keluar dari mulut Zahir.
"Minta maaflah pada Vee, Pa," sahut Celine tak peduli.
"Papa tahu," timpalnya.
"Papa tahu kalau Papa sudah melakukan kesalahan besar pada Vee yang sulit dimaafkan karena rasa khawatir Papa yang berlebihan." Celine mendengarkan lebih serius kali ini apa yang akan dikatakan ayahnya.
"Mama selalu menanyakan, sebenarnya apa yang Papa khawatirkan sampai berbuat sejauh ini hingga menyesalinya?" tanya Flora tak kuasa menahan isak tangisnya.
"Papa sudah mengetahui jika Vee adalah putri dari keluarga Roxanne. Papa juga mengetahui jika Vee dibuang dengan sengaja oleh keluarga mereka. Jadi, Papa sangat mengkhawatirkan Vee jika sampai ia ketahuan putri keluarga itu. Belum lagi dengan Oma dan Opa kalian yang begitu membenci keluarga kita sejak Papa memutuskan untuk membesarkan Vee. Mereka ternyata mengetahui jika Vee adalah putri keluarga Roxanne, keluarga yang dianggap musuh bebuyutan keluarga Marveen. Bagaimana Papa bisa tidak khawatir?" Mereka yang mendengar, cukup merasa bersalah karena tidak berusaha mengerti atau mendengarkan lebih dulu. Mereka tidak menyangka jika Zahir menyembunyikan hal tersebut selama ini.
"Kenapa Papa tidak mengatakan semuanya saja pada Mama dan kita bisa mencari solusinya agar semua ini tidak terjadi?" Tangis Flora pecah sepenuhnya.
"Bagaimana bisa Papa mengatakannya. Apa kau akan mengatakan untuk memberikan Vee pada keluarga itu langsung sementara saat itu situasinya adalah dia memiliki rumor telah menghabisi kedua orang tua Vee?" balas Zahir tak mau kalah.
"Sudahlah, pada akhirnya semua adalah kesalahanku. Itu faktanya," lanjut Zahir.
Celine masih belum memberikan komentar apa-apa pada kesalahan ayahnya yang memiliki alasan cukup kuat. Pada akhirnya, semuanya adalah karena kurangnya berkomunikasi secara baik-baik. Juga, kurangnya keberanian untuk berbicara pada pihak satu sama lain.
"Seburuk apapun Oma dan Opa pada Vee, tidak mungkin mereka akan melakukan sesuatu yang sangat buruk seperti membunuhnya. Setelah melihat faktanya, Tuan Dylan justru sangat menyayangi Vee adiknya, dan rumor hanya sekedar rumor," ucap Celine.
"Kenapa keluarga kita harus terlalu takut untuk berbicara pada Oma dan Opa? Seburuk apapun sikap mereka, mereka tetap orang tua yang menyayangi anaknya." Suara seseorang yang berbicara membuat semua mengalihkan atensinya.
"Alvaro ..." panggil Celine.
"Aku mencari tahu kebenaran mengenai keluarga Vee dari mereka berdua. Meskipun bahasa yang mereka gunakan cukup kasar, tapi mereka tidak mengatakan niat buruk apapun pada Vee. Apalagi pada keluarga kita yang katanya sudah dibuang. Kupikir mereka hanya terlalu angkuh untuk mengatakan pada kita bahwa mereka menyayangi kita semua sebagai keluarga satu-satunya." Fakta baru terungkap dari mulut Alvaro.
"Benarkah apa yang kau katakan?" tanya Celine.
Ia melirik ke arah ayahnya yang hanya menunduk. Alvaro bisa menebak bagaimana perasaan sang ayah yang semakin merasa bersalah. Ia tidak berniat untuk memperparah keadaan, hanya saja dirinya merasa perlu mengatakan semua ini untuk menyelesaikan kesalahpahaman masa lalu yang sudah cukup lama.
"Pada akhirnya kita tidak berkomunikasi dengan baik dan menekan ego kita masing-masing demi kebaikan," ujar Celine menghela napas frustasi.
"Pa, aku tidak cukup mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Papa sebagai ayah. Aku merasa sikap yang Papa ambil cukup jauh. Namun, setelah melewati semua ini, pada akhirnya kasih sayang Papa yang selama ini dirasakan kami benar. Aku tidak berniat membuat Papa semakin merasa bersalah, hanya untuk meluruskan kesalahpahaman. Ayo kita berbicara sesekali dengan Oma dan Opa, terutama Papa. Mereka sepertinya cukup merindukanmu," jelas Alvaro cukup panjang.
Celine menyetujui usulan dari Alvaro. Namun, semuanya kembali pada keputusan sang ayah yang akan memilih pilihan yang mana. Ia melirik ke arah ayah dan ibunya, bergantian pada Flora.
"Zahir ..." panggil Flora berniat untuk berusaha membujuk suaminya.
"Aku ingin istirahat," jawab Zahir seraya berdiri dari duduknya dengan wajah lesu.
"Za-"
"Ma ..." tegur Celine menghentikan ibunya yang berniat menghentikan suaminya.
"Papa pasti membutuhkan waktu untuk menerima dirinya sendiri dan menatanya kembali. Barulah bersiap untuk meminta maaf," ujar Celine.
"Orang tua juga pasti memiliki kesalahan," timpal Alvaro.
Flora kali ini mendengarkan kedua putra dan putrinya. Selama ini yang menjadi keputusannya salah, jadi untuk kali ini ia mencoba untuk mendengarkan mereka. Pendapat anak terkadang menjadi hal yang penting dan sering dilupakan oleh kedua orang tua.
"Papa yang cukup keras kepala akhirnya menurut juga," ucap Flora sembari menghapus air matanya.
"Oma dan Opa juga tampaknya menyesal karena sekarang mereka dilanda rasa rindu. Semakin tua seseorang, semakin keras dan semakin merasa menyesal jika tidak mendengarkan pendapat anak muda."
To be continued