
Olvee sudah mencurigai hal ini saat setelah ia pulang dari kantor Alvaro. Ia tak sengaja melihat kalender dan lupa bahwa tanggal sudah sangat lewat menunjukkan jadwal datang bulannya. Jadi, sebelum ia menemui Verald, ia diam-diam membeli alat tes kehamilan itu untuk ia gunakan di luar daripada di rumah untuk menghindari kedua orang tuanya. Namun, Alvaro membawanya dan ia melihat hasil itu di sini.
Sejenak ia kembali merasakan euforia karena rasa rindu yang akhirnya pecah setelah melihat dan bertemu kembali dengan Alvaro. Sekaligus hasrat yang terbangkitkan karena sentuhan Alvaro. Entah itu memang nafsunya semata yang meningkat karena kehamilannya.
Semuanya terasa baik-baik saja dan Olvee sudah memutuskan saat sebelum ia mengetahui bahwa dirinya hamil. Namun, hasil dari kehamilan itu seolah menampar dirinya sekali lagi. Berbagai macam ketakutan begitu menguasai dirinya hingga ia tidak sanggup untuk bertahan dengan keputusannya. Haruskah ia menyerah saja bersama dengan Alvaro?
“Aku hamil, Alvaro.” Setelah berhasil mengatakannya, jantung Olvee benar-benar berdegup dengan kencang. Sambil memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan dengan dirinya membuat air mata tanpa sadar menetes.
“A-aku hamil, Alvaro… Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana dengan masa depan kita? Bagaimana dengan orang tua kita? Bagaimana dengan anak ini nantinya?” lanjut Olvee semakin panik dan mengutarakan semua kegelisahan yang ia pikirkan.
“Papa tidak akan tinggal diam! Dia akan tetap memisahkan kita dan membuat aku menjadi putrinya. Kita akan menjadi adik dan kakak! Aku-”
“Hei, Vee, Vee, calm down.” Alvaro melepaskan pelukannya dan menyentuh kedua pipi Olvee untuk menenangkan ia dan tangisnya.
“Papa tidak akan bisa melakukannya, akan aku pastikan itu. Kau percaya padaku, kan? Kau harus percaya padaku karena itu juga yang membuat kita bisa sampai sini.” Olvee masih berurai air mata meski sudah mendengar perkataan Alvaro. Hatinya masih tidak tenang begitupun dengan otaknya yang tidak berhenti memikirkan yang ia khawatirkan.
“I’m glad to hear you’re pregnant, Vee. Jangan pikirkan dan khawatirkan apapun, sudah aku katakan-”
“Kau akan mengurusnya, kan?” potong Olvee.
“Are you glad to hear about my pregnancy?” tanya Olvee dengan nada tidak percaya sambil melepaskan tangan Alvaro yang berada di kedua pipinya dan mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk.
“Kau bahkan tidak pernah mengatakan apa yang kau rencanakan dan lakukan! Selama kita berpisah, kau sama sekali tidak berusaha mencoba menghubungiku meski tahu Papa memblokir akses kita. Aku ragu apa kau benar-benar berusaha untukku, Alvaro.” Olvee menatap tajam penuh kecurigaan pada Alvaro yang hanya diam.
Alvaro mengerti jika saat ini kondisi Olvee cukup parah untuk kehamilannya di keadaan seperti ini. Olvee yang adalah tipe orang yang cukup sensitif tidak bisa mengabaikan hal-hal yang ia khawatirkan. Sebelum ini mungkin Olvee tengah menahannya dan memilih untuk memegang kepercayaannya. Namun, saat sebuah ‘masalah’ lain datang, apalagi kehamilan yang sangat terhubung dan mempengaruhi perasaan, Olvee semakin stres dan meluapkan semuanya.
“Vee, aku mencintaimu.” Alvaro berkata dengan lembut, tidak sedikitpun terdengar nada lain dari suaranya.
“Aku mencintaimu bahkan sejak kita masih kanak-kanak. Menjadikan alasanku selalu ingin bersamamu, meski saat itu aku tidak mengetahui jika itu perasaan yang seperti ini. Aku menyadarinya satu tahun belakangan ini dan untuk pertama kalinya aku mendengar kau bukan putri mereka. Itu memberikan aku harapan bahwa kita bisa bersama. Karena itulah aku mulai meyakinkanmu dan menghalalkan segala cara agar kau juga bisa mencintaiku.” Olvee mendengarkan dalam diam cerita lama yang sudah pernah dikatakan Alvaro.
“Saat itu aku masih terlalu naif untuk menemukan cara apa di samping Papa yang masih mengawasiku. Hari dimana saat kau juga bilang mencintaiku, aku semakin berusaha. Vee, aku sudah mencintaimu lama dan menggunakan segala cara agar aku bisa membuatmu bersama denganku bahkan sampai saat ini. Mana mungkin aku menyerah begitu saja setelah kita sejauh ini.” Tangis Olvee tidak berhenti dan justru semakin membuatnya menangis.
“Kita akan memiliki anak dan anak itu bisa memperkuat hubungan kita dan alasan kita untuk bersama, Vee. Papa tidak akan bisa memisahkan kita lagi. Percayalah padaku, ya?” Alvaro memegang kedua tangan Olvee yang bergetar.
“Selain itu, Papa juga tidak akan bisa memisahkan kita saat aku membawa keluarga kandungmu, Vee.” Kelanjutan dari perkataan Alvaro membuat Olvee menatapnya.
“Ya, keluarga kandungmu, aku sudah menemukan mereka.” Alvaro mengangguk.
“Apa aku memilikinya?” Alvaro sekali lagi mengangguk.
Akhirnya Alvaro berhasil membuat Olvee lebih tenang dan kembali mempercayainya. Olvee memang mudah pecah dalam hal perasaan, tapi ia juga mudah terbentuk kembali. Alvaro hanya memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil kepercayaan Olvee lagi.
Olvee memeluknya kembali dan Alvaro dengan senang hati membalas pelukannya. “Maafkan aku,” ucap Olvee lirih. See?
“I know, I know what you're feeling, My Love. Jangan minta maaf.” Alvaro menggeleng sambil mengelus lembut rambut Olvee.
“Aku akan membawa keluargamu agar mereka bisa mengakuimu sebagai keluarga mereka dan melepaskanmu dari keluarga Marveen. Karena itulah, tolong jadilah kuat untukku, dan untuk kita.” Tangan Alvaro menyentuh lembut perut Olvee yang masih datar.
Olvee mengangguk patuh ikut menyentuh perutnya di atas tangan Alvaro sambil menatap perutnya lama. “Tapi, siapa keluargaku? Bagaimana ceritanya aku dibesarkan di keluarga Marveen?” tanya Olvee kembali mengalihkan netranya pada Alvaro.
“Aku tidak mengetahuinya, aku hanya mendengar dari Oma dan Opa siapa keluargamu. Mereka adalah keluarga Roxanne, yang sekarang menguasai kota X.” Alvaro berbohong demi kebaikan Olvee sendiri.
Mana mungkin ia mengatakan yang sebenarnya sejauh apa yang ia ketahui, mengingat bagaimana reaksi Olvee yang ketakutan saat ia sendiri mengetahui bahwa dirinya hamil. Sudah susah payah dan sejauh ini ia kembali mendapatkan kepercayaan Olvee, ia pasti akan rapuh dan stres kembali ketika mendengar bahwa kedua orang tuanya sengaja membuangnya dan ada rumor kakak kandungnya membunuh kedua orang tuanya. Pasti ada sesuatu dibalik semua itu, Alvaro percaya itu. Biarlah kakak kandungnya itu yang mengatakan semuanya pada Olvee saat dirinya mempertemukan mereka.
“Aku akan pergi menemui keluargamu dan membawanya ke rumah, jadi untuk sementara aku tidak akan menghubungimu. Kau jaga kesehatanmu di rumah, ok?” yakin Alvaro.
“Baiklah …” jawab Olvee.
“Untuk sekarang kau beristirahatlah di sini, aku akan membawamu pulang besok.” Olvee menggeleng dengan usulan Alvaro kali ini.
“Aku hanya berpamitan menemui Verald hari ini, dan kau tiba-tiba membawaku sampai sore hari. Aku akan pulang saja sekarang, aku juga tidak yakin apakah Verald akan mengatakannya pada Papa atau tidak,” ucap Olvee.
“Kalau itu yang kau inginkan, aku akan mengantarmu ke mobilmu,” timpal Alvaro.
Butuh waktu satu jam untuk Alvaro dan Olvee bersiap dan sampai ke kantor Alvaro dimana mobilnya yang dibawa Evan berada. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, dan Olvee cukup khawatir sehingga ia tidak berani untuk membuka ponselnya. Di dalam kepalanya kini dipenuhi dengan berbagai alasan yang akan ia gunakan pada ayahnya yang pasti akan menanyainya.
“Sampai jumpa, Alvaro,” pamit Olvee sebelum akhirnya ia melajukan mobilnya menuju jalan pulang.
15 menit ia sampai di rumah. Tepat di waktu makan malam. Olvee masuk ke dalam rumah, mencoba untuk tetap tenang dan mengendalikan dirinya. Di mobil ia sudah berkali-kali mengecek jika di tubuhnya tidak ada jejak Alvaro.
“Kau baru pulang setelah bersenang-senang seharian penuh dengan Alvaro?” Begitu ia masuk ke dalam rumah, ayah bersama ibunya menunggunya di ruang tamu.
To be continued