
“Alvaro-”
“Apa kau sudah melakukan apa yang aku perintahkan kemarin?” tanya Alvaro lebih dulu memotong perkataan Evan yang baru saja masuk ke dalam ruang kerjanya.
Alvaro yang semula berjalan mondar mandir di depan jendela besar ruangannya terlihat sangat gelisah. Ia menoleh dengan cepat ketika mendengar suara pintunya yang dibuka dan tebakannya tepat sasaran. Begitu melihat Evan, ia sangat ingin mendengar dan memastikan apakah balas dendamnya sudah berhasil atau belum.
“Aku baru saja akan mengatakannya,” jawab Evan dengan senyum datarnya.
“Cepat katakan bagaimana yang terjadi pada keluarga itu?” desak Alvaro kembali tak ingin mendengar lebih banyak perkataan basa basi Evan.
“Sesuai yang kau inginkan, mereka sudah hancur dalam semalam.” Evan meletakkan dokumen yang ia bawa di atas meja Alvaro.
Mendengar inti dari laporan Evan membuat senyum Alvaro mengembang. Ia begitu puas mendengar keluarga Jihan Handreson sudah hancur di tangannya. Mengingat jika dia juga punya kekuatan yang sangat besar, bahkan lebih besar dari sebuah keluarga itu membuat Alvaro berbangga diri. Setelah dipikirkan, ia ternyata lebih dari bisa melakukannya, menunjukkan betapa besarnya kekuatan yang ia miliki.
“Tapi, apa menurutmu kau tidak terlalu kejam pada mereka? Kau sangat tidak memiliki hati nurani dengan menindas kekuatan yang lebih kecil darimu,” ucap Evan berkomentar.
“Itu bukan sebuah kekejaman, mereka harus mengetahui konsekuensi jika menyentuhku dan Vee. Ini juga bisa menjadi contoh bagi keluarga lain yang ingin menggangguku atau Vee.” Alvaro menimpali dengan santai sembari berjalan ke arah mejanya dan duduk di singgasananya kembali.
“Hanya kau dan Kak Vee?” tanya Evan.
Alvaro tidak membalas apa yang dikatakan Evan yang menyindir dirinya tentang kedua orang tuanya. Perasaannya setelah menghancurkan keluarga Handreson tidak begitu membaik ketika mengingat kedua orang tuanya. Mereka masih tidak menganggap dirinya sebagai orang dewasa seperti mereka, menganggap dirinya masih anak kecil bagi mereka. Setelah semua yang terjadi dengan jelas bahwa Olvee memang bukan putri kandung mereka, mereka masih tetap menutupinya. Bahkan tidak ingin mengakui hubungan ini.
“Sisi positifnya dari hal ini adalah kau mengetahui dengan pasti sesuatu yang selama ini hanya kau asumsikan,” ujar Evan kembali dengan ringan tanpa mengubah posisi dimana ia berdiri.
“Apa rencanamu selanjutnya?” tanya Evan kemudian sambil menatap pada Avaro yang kembali sibuk dengan pekerjaannya.
“Jika perkataan Oma dan Opa tidak mempan untuk mereka, maka aku hanya tinggal membuat bukti itu nyata. Kalau hal itu juga tidak berpengaruh, aku hanya perlu membawa Vee untuk tetap berada di sisiku selamanya.” Alvaro mengangkat kedua bahunya acuh ketika menjawab.
“Dasar gila, itu obsesi namanya bukan cinta!” seru Evan dengan alis berkerut tidak terlalu menyukai cara Alvaro yang mencintai Olvee.
“Apa menurutmu Kak Vee akan bahagia dengan membuat ia terkurung bersama denganmu?” lanjutnya.
“Evan, kau ini banyak bertanya sekali! Apa kau tidak memiliki pekerjaan lain? Apa pekerjaanmu kurang banyak?” Alvaro yang mulai merasa kesal, bertanya dengan dingin dan tatapan tajam pada Evan yang masih berdiri tak jauh dari mejanya.
“Kau baru saja memberikan pekerjaan yang berat dan merepotkan padaku. Jika kau manusia, kau akan memberikan aku libur atau setidaknya bonus lebih banyak atas pekerjaanku! Oh, aku lupa. Kau ternyata memang bukan manusia, tapi iblis!” bentak Evan setengah berteriak karena ikut kesal.
“Pertanyaanmu itu mengusik hati nuraniku. Obrolan kita selesai sampai di sini, aku tidak peduli lagi kau mau apa setelah ini. Aku bisa melakukannya sendiri!” balas Alvaro menurunkan nada suaranya, menunjukkan rasa bersalah pada Evan yang sudah bekerja untuknya.
“Dasar sombong! Lihat saja ketika aku mempunyai pekerjaan baru, aku akan melemparkanmu surat resign dan akan menikmati penderitaanmu setelahnya!” Evan pergi sambil menutup pintu ruangan Alvaro dengan kasar hingga menimbulkan suara yang cukup keras.
Alvaro menghela napas setelah kepergian Evan. Memikirkan apa yang dikatakan Evan memang terasa sangat pedas, tapi itu mungkin kenyataannya. Perasaannya untuk Olvee memang sudah melampaui rasa mencintai antara manusia. Ia sangat tidak menyetujui pendapat bahwa mencintai berarti melepas orang itu pergi jika ia bahagia bersama orang lain. Jelas Olvee juga mencintainya, mana mungkin ia melepaskan Olvee begitu saja hanya karena keegoisan kedua orang tuanya.
Meskipun Olvee tidak bahagia di sisinya? Alvaro tidak yakin Olvee tidak akan bahagia di sisinya meskipun tanpa orang tua mereka. Yang seharusnya mengalah adalah kedua orang tuanya.
“Jihan, tidak, jangan masuk!”
“Kumohon, Alvaro tidak akan menyukainya.”
“Jihan, Jihan, Jihan!”
Itu adalah suara-suara Evan yang ia dengar dari luar, sebelum akhirnya ia mendengar pintu ruangannya yang dibuka dengan kasar, dan mendapati wajah wanita yang paling ia benci ada di depannya. Alvaro menyerngit tak suka menatap Evan yang membiarkan begitu saja Jihan masuk ke ruangannya. Namun, ia tak urung berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah sofa untuk bersiap melayani wanita ini.
“Apa maksudmu melakukan ini pada keluargaku, Alvaro?!” Napasnya masih terengah belum stabil untuk bahkan berbicara dengan dirinya.
“Akhirnya kau menunjukkan warna aslimu itu padaku, Jihan.” Alvaro menatap datar Jihan.
“Oh, itu. Kau masih belum mengetahuinya? Itu bayaran atas semua yang sudah kau lakukan pada Vee,” ucap Alvaro angkuh terkesan tak peduli dengan Jihan.
“Kau keterlaluan!” bentak Jihan kembali tanpa menurunkan nada suaranya.
Alvaro tersenyum dan tertawa kemudian mengejek kesengsaraan Jihan. “Sayangnya aku tidak peduli.”
“Bukankah yang aku lakukan adalah sebuah hal yang benar? Aku menghentikan kegilaan kalian, seharusnya kau berterima kasih padaku, Alvaro. Sampai kapanpun, kalian hanya akan menjadi adik dan kakak, bukan sebagai pasangan kekasih. Bahkan kedua orang tua kalian mendukung apa yang sudah aku lakukan, aku sama sekali tidak bersalah!” Evan mengkhawatirkan apa yang dikatakan oleh Jihan yang sangat memprovokasi Alvaro. Ia masih berada di dalam ruangan ini untuk menjaga Alvaro melakukan hal-hal lain karena Jihan adalah wanita yang dibencinya.
“Lagipula sebenarnya apa yang kau lihat dari Olvee, Alvaro? Kalian hidup bersama seharusnya sudah mengetahui dengan benar bagaimana sifat buruk dan munafiknya wanita itu-”
“Alvaro, jangan bertindak gila! Ini kantormu!” Evan segera menghampiri dan menghalangi Alvaro yang baru saja berdiri dan pasti hendak melakukan sesuatu pada Jihan.
“Lepaskan aku!” teriak Alvaro sambil meronta-ronta dari Evan yang menahan tubuhnya.
“Minggir Evan, Bajingan!” bentak Alvaro sekali lagi sambil menatap tajam pada Evan. Pada akhirnya, tenaga yang ia miliki lebih besar dari Evan sehingga ia dapat dengan mudah melepaskan diri.
“Alvaro!” seru Evan dan segera Alvaro mengangkat satu tangannya yang bebas untuk menenangkan Evan bahwa ia tidak akan melakukan hal yang dikhawatirkan Evan.
“Kau pikir kau siapa, Jihan?” tanya Alvaro sambil mencengkram dagu Jihan di antara kelima jarinya.
Jihan terlihat sangat kesakitan ketika ia dipaksa mendongak oleh tangan Alvaro yang mencengkram dagunya. Ia bahkan mencakar-cakar tangan Alvaro berharap ia melepaskannya.
“Berani sekali ****** sepertimu menghina Vee. Kau sama sekali tidak bisa dibandingkan dengannya, kau tahu? Kau sudah mengetahui bagaimana kekuatanku bisa menghancurkan seluruh keluargamu dalam sekejap tanpa sisa, jadi berhenti bertingkah di depanku dan enyah dari hadapanku!” Alvaro melepaskan dengan kasar dagu Jihan membuat wanita itu tersungkur ke belakang beberapa langkah.
“Alvaro! Aku mohon tolong jangan buat keluargaku seperti ini.” Jihan memohon di bawah kaki Alvaro.
“Pergilah, ******!” bentak Alvaro sembari mengibaskan kakinya dengan sekali hentakan membuat Jihan terlepas dari kakinya.
Evan segera menghampiri Jihan dengan rasa iba. Ia membantunya berdiri sambil menatapnya dengan gelengan di kepalanya.
“Kalau kau masih menyayangi nyawamu, jangan membantunya, Evan.” Alvaro berbicara sebelum akhirnya berlalu kembali ke meja kerjanya.
“Aku hanya akan membawanya keluar,” jawab Evan.
To be continued