
Meski acara reuni ini ditunjukkan secara bersamaan dengan beberapa angkatan, tapi acara diselenggarakan secara terpisah. Masing-masing angkatannya membuat pesta di gedung-gedung yang berbeda. Entah siapapun yang mengadakan acara ini, tapi itu cukup meriah. Beberapa juga ikut berpesta bukan dengan angkatannya. Puncak dari acara ini diadakan sampai tengah malam saat semua rata-rata sudah datang dan berkumpul.
Di dalam batin Alvaro sudah beberapa kali mengumpat. Jika mengetahui hal ini, ia tidak akan menuruti keinginan Olvee yang menyuruhnya datang lebih sore. Alvaro akan datang lebih malam untuk tetap bersama dengan Olvee lebih lama. Namun, nasi sudah menjadi bubur, ia kini duduk diam di meja bartender, tidak menikmati sama sekali minuman yang terhidang.
“Alvaro! Apa kau sama sekali tidak ingin berbaur dan berbicara lagi dengan teman-teman lamamu?” Evan menghampirinya bersama beberapa teman-teman yang cukup akrab dengan Alvaro dan Evan untuk mengajaknya.
“Tidak ada yang ingin aku bicarakan dengan mereka,” jawab Alvaro lesu.
“Eii, kau masih sama dinginnya saat masih menjadi mahasiswa,” ucap pria berambut pirang.
“Dia bahkan menjadi lebih dingin.” Diikuti oleh pria bertubuh cukup gempal dan berkepala plontos.
“Itu karena dia sudah mendapatkan Kak Olvee! Belakangan ini dia sangat bekerja keras untuk mendapatkannya dan sekarang dia sudah mendapatkannya. Jadi, kalian sudah tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Kak Olvee.” Evan mulai berbicara sembarangan karena mabuk.
Alvaro menoleh menatap tajam pada Evan yang terlihat sudah sangat kacau. Ia yang sudah mengetahui bagaimana tabiat dari sahabatnya itu ketika mabuk berniat untuk menyeretnya pergi dari pesta ini. Atau ia akan semakin menggila jika dibiarkan terlalu lama. Ini semua demi kebaikannya juga, daripada menyesal di pagi hari karena terbangun dengan gadis asing.
“Kak Olvee kakakmu itu? Kenapa kau harus mendapatkannya Alvaro?” tanya temannya itu yang bersama dengan Evan.
“Aku juga tidak mengetahuinya, Josh. Kau tidak melihat jika dia sudah mabuk? Jangan terlalu dipikirkan omong kosongnya. Sekarang aku akan menyeretnya.” Alvaro berdiri dari duduknya dan menarik kerah baju Evan.
“Brengsek! Kau lagi-lagi menyusahkanku!” umpat Alvaro masih sambil menyeret Evan.
Alvaro membawa Evan naik ke lift untuk mencari kamar dan menyekapnya saja di sana sampai besok pagi mereka pulang. Daripada ia mabuk di bawah dan berbicara sembarangan lagi seperti tadi. Meski yang mendengarnya juga mabuk, ia tidak ingin informasi apapun bocor saat ada kejadian-kejadian di luar dugaan.
“Diam dan tidurlah di sana, Evan!” ucap Alvaro setelah ia berhasil melemparkan Evan ke atas kasur dengan kasar.
Setelah memastikan Evan tertidur di atas kasur, Alvaro keluar lagi dan berniat menghampiri Olvee saja. Ketika ia keluar dari kamar, seseorang menghadangnya. Setelah sebelumnya mengunci kamar Evan, Alvaro kembali berhadapan dengan orang yang tampak sudah menunggunya itu untuk berbicara.
“Kau punya waktu 5 menit untuk berbicara denganku,” ujar Alvaro dingin sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Sebenci itukah kau denganku, Alvaro?” tanya Jihan menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya ketika mendengar cara bicara Alvaro padanya.
“Aku sudah memberikanmu kesempatan dengan baik, Jihan. Tapi kau, sama sekali tidak menggunakannya dengan baik. Apa maksud dari tindakanmu kemarin? Apa kau berniat melakukan sesuatu? Aku sudah mengatakan padamu jika-”
“Itu semua tidak berguna. Ya, aku sudah mengetahuinya.” Jihan mengangguk dengan air mata yang mulai menetes keluar.
“Karena itu sudah tidak berguna, bagaimana jika aku mengungkapkan hubungan kalian pada kedua orang tua kalian supaya kau tetap berada di sisiku?” tanya Jihan kemudian. Tatapannya begitu berbeda dengan sebelumnya Alvaro lihat, seolah ia sudah berubah kini.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Alvaro kemudian.
“Menikahlah denganku, Alvaro. Aku tidak peduli kau berhubungan dengan Kak Olvee, aku juga akan menjaga rahasia ini sampai mati. Tolong menikahlah denganku, ya?” Jihan kembali memohon kali ini dengan mencengkram kerah baju Alvaro sambil menangis.
“Aku berjanji, Alvaro!” ucap Jihan meyakinkan.
Ia semakin mendekati wajah Alvaro. Dari jarak itu Alvaro bisa merasakan bau alkohol dari mulut Jihan. Di tengah lamunan singkatnya, bibir Jihan sudah menempel dengan bibirnya. Secepat kilat Alvaro melepaskankan diri dari Jihan dengan kasar hingga gadis itu jatuh tersungkur. Ia lantas mengusap bibirnya kasar dan berjongkok di hadapan Jihan yang masih menangis dengan kepala tertunduk. Tangan Alvaro mencengkram erat dagu Jihan hingga gadis itu meringis kesakitan sambil dipaksa mendongak menatapnya.
“Kalau kau sudah mengetahui itu tidak akan berhasil, seharusnya kau berhenti. Katakanlah pada kedua orang tuaku, katakan padanya aku mencintai Olvee daripada dirimu. Maka saat itu juga aku akan mencari kelemahanmu dan menghancurkanmu juga sampai titik terendahmu!” Dengan kasar, Alvaro melepaskan cengkramannya dan kembali berdiri. Meninggalkan Jihan seorang diri yang kembali menangis.
Alvaro pergi ke tempat dimana pesta Olvee diadakan. Setelah sampai, ia tidak menduga jika pesta angkatan Olvee akan lebih kacau daripada pestanya. Segera Alvaro mencari keberadaan Olvee di tengah hingar bingar orang-orang yang melakukan segala macam hal lainnya. Namun, ia sama sekali tidak melihat Olvee maupun Zara. Dengan frustasi Alvaro mencarinya di toilet wanita. Dan benar saja, di sana Olvee berada.
“Bajingan! Menjauh darinya sekarang juga!” umpat Alvaro seraya menendang tubuh seorang pria yang mencoba mengambil kesempatan di tengah Olvee mabuk.
“Alvaro, aku merindukanmu. Aku menyayangimu.” Olvee mulai meracau tak jelas ketika di dalam gendongan Alvaro.
“Aku juga merindukanmu, mencintaimu,” balas Alvaro.
Emosinya perlahan turun setelah melihat tingkah manis Olvee meskipun mabuk. Semua sisi Olvee, Alvaro sangat menyukainya. Dipikirkan sampai sekarang, dirinya sangat beruntung dibesarkan bersama dengan Olvee yang akan menjadi jodoh di masa depannya.
Beruntung ia datang tepat waktu sebelum Olvee sempat dijamah oleh pria brengsek tadi. Alvaro sudah menduga jika pesta ini akan menjadi sangat kacau, seharusnya dari awal ia menjaga Olvee tetap di sisinya. Dengan lembut Alvaro meletakkan Olvee di atas kasur seolah Olvee adalah kaca yang mudah pecah. Sangat berbanding terbalik saat ia membawa Evan tadi.
“Alvaro?” panggil Olvee yang ternyata sudah membuka kedua matanya, tapi Alvaro yakin jika ia tidak sadar dengan situasi ini.
“Tidurlah, Vee. Besok kita akan pulang.” Alvaro menjawab sambil melepaskan cardigan yang dikenakan oleh Olvee.
“Alvaro, kau tahu, aku juga menyukaimu, aku mencintaimu. Tapi kita tidak akan bisa bersama.” Tiba-tiba Olvee menangis.
“Keluarga kita tidak akan mengizinkannya. Aku takut kehilanganmu. Lebih baik kita tetap mempertahankan hubungan persaudaraan kita daripada aku harus kehilanganmu,” ucap Olvee di tengah tangisnya.
Alvaro mencium bibir Olvee lembut untuk menghentikan ia berbicara sekaligus tangisnya. Tak disangka kini giliran Olvee yang tidak ingin melepaskan pangutan bibir mereka. Mungkin karena efek mabuk, Olvee melingkarkan tangannya di leher Alvaro untuk memperdalam ciuman mereka.
“Kita tidak akan berpisah dan tidak akan kehilangan satu sama lain,” ucap Alvaro yakin setelah mereka melepaskan bibir satu sama lain untuk meraup oksigen.
“Aku mencintaimu, Alvaro.” Olvee mengangguk sekali yang mendapatkan senyuman Alvaro.
“Aku juga mencintaimu, Vee,” balas Alvaro dan membawa Olvee ke dalam pelukannya.
“Give me more,” bisik Olvee yang membuat Alvaro menegang.
“Vee, apa kau benar-benar mabuk?” tanya Alvaro setelah melepaskan pelukan mereka dan menatap tepat pada manik mata Olvee yang masih terjaga.
Olvee tertawa. “Mana ada aku mabuk.” Dari jawabannya, Alvaro sudah mengetahui keadaan Olvee yang benar-benar sudah tidak sadar.
“Aku tidak akan berhenti walaupun kau menginginkannya, Vee. Jangan menyesal.” Meski mengetahui ia akan menjadi pria brengsek, Alvaro tetap tidak melepaskan kesempatan ini.
To be continued