
Olvee melakukan pekerjaannya sebagai pelukis seperti hari-hari biasanya. Seperti biasanya juga, ia pasti bersemangat mewarnai kanvas putih di depannya menjadi lebih berwarna dan dipenuhi berbagai emosi dirinya. Namun, kali ini Olvee bahkan sama sekali tidak menunjukkan fokusnya. Ia hanya memberikan warna acak dan membuat gambar abstrak pada kanvas di depannya tanpa pola. Meski begitu, lukisan abstrak itu seolah benar menunjukkan apa emosi yang dirasakan Olvee sekarang ini.
Dengan lemah, Olvee melepaskan kuas yang dipegangnya pada sebuah gelas berisi air. Begitu pun dengan palet berisi cat yang sejak tadi dipegang tangan kirinya. Ia berdiri dari duduknya dengan lunglai dan berjalan ke arah balkon kamarnya.
“Lukisan memang sesuai dengan emosi pelukis,” gumam Olvee pelan masih sambil menatap lurus jalanan di depan rumahnya.
Ingatan beberapa hari yang lalu terus berputar di dalam kepalanya. Bukan mengenai Zara atau kedua orang tuanya atau masalah pekerjaan. Namun, tentu saja adik dan tunangannya itu. Ia begitu terganggu karena mereka tidak bisa enyah dari pikirannya. Entah dirinya yang begitu tak nyaman dengan hubungan mereka yang semakin dekat. Hatinya benar-benar tak nyaman terus menerus melihat kemajuan hubungan Jihan dan Alvaro.
“Sayang … ” Suara ketukan pintu sekaligus seseorang yang memanggilnya membuat Olvee mengalihkan atensi.
“Iya, Ma?” tanya Olvee menatap sang ibu yang sudah memasuki kamarnya, berdiri di depan pintu berkaca yang mengarah ke balkon kamar Olvee.
“Ada Jihan yang ingin menemuimu,” ucap Flora memberitahu.
“Jihan? Lalu apa hubungannya denganku? Dia seharusnya mencari Alvaro di kantor bukan aku,” gumam Olvee, tak urung menghampiri sang ibu setelah melepaskan apronnya.
“Kenapa dia mencariku, Ma?” tanya Olvee di tengah mereka berjalan beriringan menuju ruang tamu.
“Mama tidak tau, dia hanya mengatakan ingin menemuimu saja.” Flora mengangkat bahunya.
“Vee akan menemuinya, Mama lanjutkan pekerjaan Mama saja.” Olvee tersenyum lembut pada sang ibu yang mengangguk.
“Hai, Jihan,” sapa Olvee yang baru saja menuruni tangga dan berjalan menghampiri Jihan yang berada di ruang tamu.
“Hai, Kak Olvee.” Jihan berdiri dari duduknya menyambut pelukan sambutan Olvee.
“Aku dengar dari Mama kau datang mencariku, aku bertanya-tanya kenapa kau ingin menemuiku. Jadi, ada apa?” tanya Olvee segera bertanya pada Jihan topik utama pembicaraan mereka setelah pelukan mereka terlepas.
Jihan menundukkan kepalanya, terlihat ragu untuk mengatakan apa yang ingin dikatakannya itu. Olvee sejak tadi hanya memperhatikannya sambil menebak-nebak apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh gadis di depannya.
“Bagaimana jika kita berjalan-jalan sebentar? Aku sepertinya juga harus menghirup udara segar sambil mencari inspirasi lagi.” Olvee berinisiatif lebih dulu untuk membuat Jihan lebih nyaman karena merasa rumah adalah tempat yang tidak nyaman untuk mereka berbicara. Sepertinya pembicaraan ini juga sangat penting hingga tidak boleh ada yang mendengarnya.
“Ya,” jawab Jihan yang mengikuti Olvee dari belakang.
Mereka tiba di sebuah taman yang cukup ramai dipadati oleh anak-anak bersama orang tua mereka masing-masing. Setelah membeli dua cup es krim untuk dirinya dan Jihan, Olvee menghampiri bangku yang menjadi tempat mereka duduk sekaligus berbicara.
“Jadi, bagaimana dengan hubunganmu dan Alvaro?” Olvee memulai pembicaraan mereka dengan ringan. Meski ia akan tidak nyaman dengan jawaban yang keluar dari mulut Jihan nantinya.
“Aku sudah mengetahui semuanya.” Olvee berhenti memakan es krimnya dan menoleh pada Jihan dengan kernyitan di dahinya.
“Mengetahui apa?” tanya Olvee.
“Alvaro menyukaimu,” jawab Jihan.
“Aku juga sudah mengetahui jika Alvaro hanya memanfaatkanku untuk mendapatkanmu, Kak Olvee.” Kali ini Olvee merasa sangat bersalah pada Jihan.
“Dengar, aku minta maaf padamu atas diriku dan adikku. Apa yang dirasakan Alvaro adalah sebuah kesalahan dan kami tidak akan bisa bersama, seperti yang kau tau.” Olvee menjawab cepat untuk tidak menimbulkan kesalahpahaman.
“Aku tau,” ucap Jihan.
“Tapi, Alvaro tidak begitu, Kak Olvee. Jadi aku katakan padanya akan membantunya mendapatkanmu dengan memanfaatkanku. Semua yang kau lihat semuanya adalah palsu. Karena Alvaro sangat menyukaimu, mencintaimu sampai dia melakukan itu.” Suara Jihan terdengar bergetar.
“Kenapa kau lakukan itu? Aku yakin cepat atau lambat dia pasti akan melihatmu. Bicara lah dengan Alvaro yang sebenarnya dan hentikan rencana kalian. Aku tidak menyukai adikku sendiri, Jihan.” Olvee meyakinkan Jihan untuk percaya padanya.
“Jadi, apa yang ingin aku bicarakan denganmu adalah lupakan Alvaro dan jangan membuatnya yakin lagi jika kau menyukainya.” Jihan melanjutkan.
“Apa maksudmu? Aku tidak menyukainya,” jawab Olvee tegas.
“Kenapa kau begitu yakin?” tanya Jihan kembali.
“Aku bisa melihatnya dan Alvaro juga. Karena itulah Alvaro tidak menyerah atasmu meski kau mengatakan tidak menyukainya.” Olvee terdiam dan diam-diam menanyakannya pada dirinya sendiri juga.
‘Aku menyukai Alvaro?’ tanya Olvee dalam batinnya.
“Aku akan melakukan ini sampai Alvaro melihatku dan berhenti melihatmu. Jadi, kumohon untuk berhenti menyukainya karena seperti yang kau katakan, kalian hanya akan menjadi adik dan kakak saja. Tidak bisa lebih dari itu.” Jihan berdiri dari duduknya.
“Jika kau menyukainya, lalu kenapa kau menggunakan cara ini daripada jujur padanya dan mendapatkannya dengan perjuanganmu?” Pertanyaan Olvee membuat Jihan diam.
“Ini juga adalah sebuah perjuangan,” jawab Jihan tanpa menoleh.
“Aku tidak menyukainya. Seperti yang kau katakan, kami tidak akan bisa lebih dari saudara. Jangan khawatir mengenai diriku dan berjuanglah dengan usahamu sendiri, daripada diawali dengan kepalsuan seperti itu.” Olvee berdiri dari duduknya dan meninggalkan Jihan begitu saja.
“Aku juga menginginkannya, tapi tidak bisa. Apa kau tau itu semua karena siapa?” Jihan meninggikan nada suara membuat langkah Olvee terhenti karena terkejut.
“Itu semua karena dirimu yang ada di sampingnya! Jika kau memang tidak menyukainya, pergilah dari sampingnya!” seru Jihan yang tidak digubris oleh Olvee lagi.
Olvee berjalan pergi ke arah rumahnya kembali sambil menatap kosong pada jalan di depannya. Es krim yang sudah mencair di tangannya tidak diperdulikannya. Pikirannya sibuk menanyakan pada dirinya sendiri. Benarkah ia memang menyukai Alvaro?
Olvee menggelengkan kepalanya untuk mengusir semua pikiran pengganggu yang bersarang. Tidak mungkin ia menyukai Alvaro. Walaupun ia menyukainya, seperti yang ia katakan tadi. Mereka tidak akan bisa menjadi sepasang kekasih karena selamanya hanya akan menjadi adik dan kakak.
“Vee!” Suara klakson mobil yang tiba-tiba terdengar bersamaan dengan mobil yang berhenti di sampingnya, mengalihkan atensi Olvee.
“Sore ini dari mana?” Alvaro bertanya dari dalam mobil yang kacanya sudah dibukanya.
Olvee termenung menatap pada Alvaro dengan alis berkerut. Jantungnya tiba-tiba saja berdegup kencang memikirkan kembali apa yang dikatakan oleh Jihan padanya. Bahwa ia menyukai Alvaro. Seharusnya ia yang lebih mengetahui isi hatinya, jika ia memang tidak menyukai Alvaro. Namun, bagaimana dengan reaksi tubuhnya sekarang yang berubah menjadi aneh hanya karena melihat Alvaro?
To be continued