
“Vee, mau kemana?” Sebelum Olvee sampai di lantai satu, ibunya sudah menghadang dirinya begitu ia keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi.
“Zara mengajak untuk bertemu hari ini.” Jawaban Olvee tidak membuat Flora puas. Ia masih menatap curiga putrinya tanpa mengatakan apapun.
Olvee mengambil ponselnya yang berada di dalam tasnya dan memperlihatkan isi percakapan antara dirinya dan Zara siang tadi bahwa ia akan menginap di tempatnya. Namun, Flora masih mencurigai Olvee tanpa mengatakan apapun.
“Ma, Mama mengenalku dengan baik. Aku bahkan sama sekali tidak mengabari Alvaro apapun. Terakhir kami berhubungan sejak hari itu saja.” Olvee menatap Flora dengan jengah karena kepercayaan mereka yang benar-benar tipis padanya sekarang. Ia juga memperlihatkan bukti isi percakapan dirinya dan Alvaro yang terakhir sejak seminggu lalu. Olvee bahkan memperlihatkan jejak siapa-siapa saja yang menelponnya seminggu terakhir.
“Mama percaya, tapi Papa tidak. Kalau itu yang kau katakan, pergilah.” Flora berlalu pergi setelah mendapatkan serangkaian bukti yang dikatakan Olvee.
Apa yang dikatakan Flora memang benar. Jika Zahir yang melihatnya, ia pasti tidak akan percaya begitu saja dan akan membuntuti secara langsung Olvee. Persis seperti seorang ayah yang mengkhawatirkan putrinya yang masih sekolah.
“Kalau begitu aku pamit,” ucap Olvee menyusul sang ibu yang masih menuruni tangga.
“Hati-hati, langsung pulang setelah kau dari tempat Zara,” nasehat Flora.
“Iya,” sahut Olvee tanpa menoleh lagi ke belakang.
Setelah mengambil kunci mobil, Olvee keluar rumah dan mengendarai mobilnya untuk menuju ke restoran Zara terlebih dahulu karena ia memang ada di sana. Sebelum akhirnya memang pulang bersama ke rumahnya untuk menginap. Entah ada angin apa Zara mengajaknya untuk menginap di rumahnya semanjak satu bulan yang lalu mereka mengadakan party berdua di rumahnya. Mungkin karena Zara mengkhawatirkannya, itu yang dipikirkan oleh Olvee.
Olvee menghela napas saat lampu sedang merah. Ia menatap lamat layar ponselnya yang memperlihatkan foto dirinya dan Alvaro. “Aku merindukannya,” gumam Olvee sambil menyandarkan kepalanya pada stir mobil.
Suara klakson kendaraan di belakangnya membuyarkan lamunan singkatnya. Ia kembali menginjak pedal gas setelah melihat kendaraan di depannya telah berjalan.
Tak butuh waktu lama untuk Olvee berada di jalanan. Ia turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran. Tepatnya ke ruangan Zara yang terletak di lantai teratas dimana ruangan bos berada.
“Hai, Zara,” sapa Olvee begitu ia membuka pintu dan mendapati sahabatnya itu tengah berkutat dengan pekerjaannya.
“Hai!” Zara mengalihkan atensinya dan segera berdiri dari duduknya, menyadari kedatangan Olvee.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Zara setelah mereka berpelukan erat.
“Aku baik,” jawab Olvee seadanya.
“Ayo kita mengobrol di sofa,” ujar Zara setelah melihat jam di pergelangan tangannya.
“Aku ingin jus.” Tanpa sungkan Olvee meminta apa yang diinginkannya.
“Su-sure,” jawab Zara yang terdengar setengah ragu membuat Olvee menyerngit.
Zara keluar dari ruangannya setelah menutup pintu. Padahal biasanya ia akan menyuruh Olvee untuk memintanya sendiri ke staffnya supaya ia bisa langsung mengatakan keinginannya.
Tidak berpikir terlalu banyak, Olvee duduk di sofa dan memainkan ponselnya sambil menunggu Zara. Ketika pintu terdengar dibuka kembali, Olvee mendongak mengalihkan atensi dari ponselnya. Ia semula terkejut karena yang datang bukanlah Zara, melainkan seseorang yang ia rindukan selama ini.
“Vee …” Ia berjalan cepat ke arah Olvee dan segera memeluknya erat. Olvee merasakan jika Alvaro menciumi rambutnya beberapa kali.
Perasaan rindu, sedih, marah, kecewa, dan semuanya bercampur menjadi satu. Ia tidak bisa lagi menyangkal bahwa ia sangat merindukan pria ini juga, bukan sebagai adiknya lagi. Dari sana Olvee menyadari bahwa dirinya memang sudah jatuh hati terlalu dalam padanya. Olvee membalas pelukan Alvaro tak kalah erat.
“Aku merindukanmu,” gumam Olvee pelan menikmati sentuhan Alvaro yang sudah lama tak ia rasakan.
“Aku meninggalkan kalian sebentar dan kalian sudah melakukan kontak fisik.” Suara Zara menginterupsi keduanya. Olvee segera tersadar dan melepaskan pelukan mereka.
“Vee, ayo kita pergi.” Alvaro tidak membiarkan Olvee jauh darinya. Ia segera mengambil tangan Olvee dan menariknya cukup keras tanpa menyakitinya membuat Olvee reflek ikut berdiri dan mengikuti langkah Alvaro.
“Alvaro, kita mau kemana? Aku akan pergi bersama Zara,” ujar Olvee menghentikan langkah mereka.
“Aku tidak merengek!” seru Alvaro sambil memutar bola matanya malas.
“Ayo, Vee.” Alvaro kembali menarik Olvee yang masih terkejut dan setengah tidak percaya Zara bisa melakukan ini begitu saja setelah mengetahui dan mendengarkan sendiri ceritanya.
Pada akhirnya, Olvee berhasil terseret sampai ke mobil Alvaro. Mereka bukan menuju ke jalan rumah tentu saja, atau rumah Zara. Jalan ini adalah jalan menuju ke sebuah area penthouse mewah yang pernah sekali ditunjukkan Alvaro padanya. Sekarang Olvee mengetahui dimana Alvaro tinggal.
“Apa semua ini termasuk ke dalam rencana kalian?” tanya Olvee setelah mobil Alvaro terparkir.
“Iya,” jawab Alvaro tanpa repot-repot berbohong padanya. Ia keluar dari mobil lebih dulu dan memutari mobil, pasti berniat membukakan pintu untuknya. Olvee lebih dulu membuka pintunya sendiri dan keluar tanpa bantuan Alvaro.
Olvee yakin jika Alvaro bukan hanya hendak berbicara dengannya. Dia membawanya ke penthouse berdua saja. Mereka sudah tidak bertemu selama satu minggu lebih lamanya. Olvee tidak berniat untuk mengingkari janjinya lagi pada kedua orang tuanya. Namun, apa yang dipikirkan oleh Olvee adalah benar?
Di dalam lift yang hanya ada mereka berdua, tidak ada yang berbicara sama sekali. Tidak biasanya Alvaro yang selalu menempel padanya dan banyak berbicara di depannya menjadi seorang pria yang pendiam dan mengeluarkan aura yang dingin. Ketika tiba di depan unit, Olvee ragu untuk memasukinya setelah Alvaro membuka pintu. Ia menoleh ke arah Olvee dan menatapnya lama.
“Masuklah, Vee.” Alvaro berbicara sambil memberikan kode padanya untuk masuk. Olvee tidak memiliki pilihan selain masuk ke dalam.
“Katakan saja apa yang ingin kau bicarakan denganku di sini,” ucap Olvee setelah ia duduk di sofa sedangkan Alvaro berjalan ke arah dapur dan membuka kulkas. Membawa serta dua jus botol yang ia ambil di dalam sana.
“Kenapa kau terlihat takut begitu?” tanya Alvaro tersenyum jahil melihat Olvee yang terlihat gelisah. Sisi itu tampaknya masih sangat melekat padanya, meskipun ia tadi sepintas sangat merasakan aura bos dari sebuah perusahan besar.
“Tadinya aku memang hanya ingin berbicara denganmu saja, tapi karena kau sudah berekspektasi seperti itu aku tidak punya pilihan lain.” Alvaro berdiri dari duduknya yang bersebrangan dengan Olvee dan mendekat pada wanita itu yang semakin waswas.
“Ada apa, Vee?” tanya Alvaro yang sudah ada di depannya. Membungkuk tepat di depan wajahnya, mengurung dirinya di antara dua lengan kokoh pria itu.
“Cepat katakan apa yang kau inginkan dan biarkan aku pergi,” desak Olvee tanpa menatap kedua mata yang berbahaya itu.
“Apa kau tidak merindukanku?” Olvee diam tak menjawab pertanyaan Alvaro.
“Kau bisa mendorongku atau menggigit bibirku kalau tidak suka.” Itu ucapan terakhir Alvaro sebelum ia menempelkan dan mempertemukan kembali bibir satu sama lain.
Kedua tangan Olvee terasa menyentuh dada Alvaro yang membuat kedua netra pria itu terbuka. Ia pikir Olvee hendak mendorongnya, tapi melihat ekspresi wajahnya dan kedua bola mata Olvee yang tertutup membuat senyum tersungging di bibirnya. Ia melepaskan pangutan bibir keduanya dan mengusap bibir Olvee dengan ibu jarinya.
“Wanita memang sangat sulit dipahami. Mereka sangat berbeda antara ucapan dan perbuatannya.”
To be continued