
Olvee terbangun dari tidurnya dengan kepala yang begitu pengar. Begitu ia membuka matanya, ia menyerngit tak nyaman dan langsung memegangi kepalanya. Ketika Olvee hendak bergerak mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk, seluruh tubuhnya rasanya seakan patah. Terutama di bagian pusat inti tubuhnya yang masih terasa sakit bercampur rasa perih.
Hal pertama yang Olvee periksa adalah tubuhnya yang tidak terbungkus apapun selain selimut yang menutupinya. Dari semua yang sudah ia lihat dan rasakan, Olvee tidak terlalu bodoh untuk tidak mengetahui apa yang sudah terjadi semalam. Kepalanya yang masih berdenyut semakin berdenyut memikirkan siapa seseorang yang menjadi teman tidurnya. Segala emosi menyeruak ke hatinya. Meskipun ini adalah negara bebas akan ***, ia tetap menyesali perbuatannya yang sudah melepaskan keperawanannya dengan sembarang pria.
Olvee memberanikan diri untuk menoleh ke sampingnya yang mana baru ia sadari, pria yang menjadi teman tidurnya masih berbaring bersamanya. Posisi tubuhnya memunggunginya yang membuat Olvee tidak bisa melihat wajahnya. Karena ia masih tertidur, Olvee segera memunguti pakaiannya dan membawanya ke dalam kamar mandi. Tentu saja dengan memaksakan diri karena rasa sakit yang masih mendera selangkangannya.
Betapa terkejutnya Olvee ketika ia bercermin dan mendapati banyak sekali tanda kemerahan di sekitar dada, leher, bahkan sampai ke punggungnya. Sekujur tubuhnya hampir penuh dengan bekas pria itu. Apa yang harus ia jelaskan pada Avaro nanti yang dipastikan akan mengetahuinya?
“Vee …” Suara ketukan pintu dan seseorang yang memanggilnya membuat Olvee tersentak.
Itu pasti adalah teman tidurnya yang sudah bangun. Niat hati ingin segera meninggalkannya, tapi ia sudah lebih dulu bangun.
“Vee, kau di dalam?” Sekali lagi suara itu terdengar.
“Tunggu, kenapa aku sangat mengenal suara itu?” gumam Olvee bertanya pada dirinya sendiri.
Setelah memakai kembali pakaiannya dengan lengkap, Olvee membuka pintu kamar mandi perlahan. Dan benar saja, ia mendapati Alvaro yang berdiri di depannya dengan bertelanjang dada.
“A-alvaro? Kenapa kau ada di sini?” tanya Olvee masih belum memahami situasi ini sepenuhnya.
Benar saja dugaan Alvaro bahwa Olvee tidak mengetahui jika dirinya lah yang sudah menidurinya. Ia pasti bahkan tidak mengingat apa saja yang sudah dirinya lakukan dan terjadi padanya.
“Kenapa aku di sini? Tentu saja karena aku baru saja bangun,” jawab Alvaro.
Olvee menoleh ke arah ranjang yang sudah kosong kemudian kembali pada Alvaro yang masih berdiri di depannya. Mencoba memasukkan semua informasi dan menggabungkannya.
“Ja-jadi, kau …” Olvee menunjuk Alvaro dengan jarinya yang gemetar.
“Vee, aku-”
“Brengsek!” bentak Olvee disertai dengan tangisnya yang pecah. Ia berjongkok sambil menutupi wajahnya yang sudah basah air mata.
“Vee, aku minta maaf. Tenanglah …” ucap Alvaro berusaha menenangkannya dengan ikut berjongkok dan membawanya ke dalam pelukannya.
“Ini lebih baik daripada kau tidur bersama dengan pria lain,” lanjutnya yang mendapatkan pukulan brutal di dada bidangnya.
“Vee! Aku tidak punya pilihan. Kau memaksaku dan terus menggodaku.” Mendengar hal itu, Olvee berhenti memukuli Alvaro dan melepaskan pelukan mereka.
“Tidak mungkin!” seru Olvee yakin di tengah tangisnya.
“Berhenti menangis,” ujar Alvaro sembari menghapus air mata di pipi Olvee.
Olvee menepis tangan Alvaro dan berkata, “Tidak mungkin aku melakukan-”
Ucapan Olvee terpotong karena Alvaro menunjuk ke sekitar dadanya dimana juga banyak bercak merah yang menandakan betapa ganasnya dirinya menyerang Alvaro. Bahkan ada bekas gigitan yang tercetak jelas! Wah, Olvee tidak bisa mengatakan apapun setelah melihat sendiri buktinya.
“Coba ingat kembali, siapa yang merengek padaku untuk meminta lebih?” tanya Alvaro menggoda Olvee.
“Aku hanya memberikan apa yang kau inginkan. Ternyata kau lebih liar saat di-”
Olvee melotot tajam sambil membekap mulut Alvaro yang bocor. Ia diam kembali menata harga dirinya yang jatuh ke tanah terdalam. Air matanya yang mengalir kini sudah berhenti. Tatapannya kosong.
“Berapa kali kita melakukannya?” tanya Olvee memastikan sendiri karena merasa jika tubuhnya benar-benar hancur remuk redam.
“Aku tidak yakin,” jawab Alvaro mudah.
“Dasar binatang. Kau tahu aku mabuk seharusnya bisa menahan diri, bukannya mengambil kesempatan!” seru Olvee kesal.
“Kau sendiri-”
“Kita pulang sekarang,” ucap Olvee kemudian seraya berdiri kembali.
“Pakai ini juga untuk menyembunyikannya dari Mama dan Papa.” Alvaro mengambil jasnya dan memakaikannya pada Olvee.
Lewat mabuk ini, ia mengetahui jika dirinya sangat tidak terkendali ketika berada di ranjang. Namun, Alvaro yang sadar melakukan semuanya lebih binatang dari dirinya karena sudah membuat tubuhnya sampai sejauh ini. Entah harus disyukuri karena teman tidurnya adalah Alvaro atau tidak disyukuri karena teman tidurnya adalah Alvaro.
Ketika mereka melewati lantai tempat pesta diadakan, sebagian besar tidak sadarkan diri karena mabuk. Beberapa bahkan lebih parah karena bertelanjang bulat bersama teman tidur mereka di sudut-sudut ruangan, di sofa, di meja, dan di tempat-tempat lainnya. Pesta yang sangat kacau dan lagi-lagi Olvee merasa beruntung karena tidak menjadi salah satu dari mereka.
“Dimana Zara? Lalu bagaimana dengan Evan?” tanya Olvee mengingat kembali kedua temannya itu.
“Aku baru ingat Evan, aku menguncinya di kamar juga.” Alvaro mengatakannya seolah ia tidak memiliki kesalahan apapun. Jika Olvee tidak menyinggungnya, entah apa yang akan terjadi pada Evan.
“Zara dimana?” tanya Olvee kembali.
“Aku akan menyusul Evan, dan akan mencari Zara sekarang. Kau tunggu di mobil. Ini minumlah dulu.” Alvaro memberikan botol minum pada Olvee dan meninggalkannya setelah memasangkan sabuk pengaman padanya.
Olvee meminum air tersebut dan langsung menghabiskannya karena tenggorokannya yang sangat kehausan. Membuka ponselnya untuk mengecek pesan masuk. Kedua orang tuanya menjadi yang teratas dalam menghubunginya. Setelah membalas pesan kedua orang tuanya, Olvee kembali mematikan ponselnya. Memilih mengistirahatkan kepalanya yang masih terasa berdenyut akibat alkohol dan ***.
Tak lama ia merasakan pintu mobil kembali dibuka. Ia melirik ke arah kaca spion tengah dan menoleh ke belakang dimana Alvaro membawa Zara yang masih tidak sadarkan diri. Melihat pakaiannya yang masih lengkap dan tidak ada tanda-tanda apapun, Olvee bernapas lega.
“Dimana dia?” tanya Olvee.
“Di dekat toilet terakhir kali aku meninggalkannya bersamamu,” jawab Alvaro setelah memasangkan sabuk pengaman pada Zara.
Alvaro menutup pintu mobil dan masuk ke pintu lain di kursi pengemudi. Mobil mulai melaju meninggalkan gedung tempat pesta *** berkedok reuni diadakan. Olvee kembali memejamkan matanya untuk mengistirahatkan kepalanya.
Olvee kembali terbangun ketika pintu mobil dirasa dibuka oleh seseorang. Ia menoleh ke sekitarnya dan melihat tak jauh Alvaro mengantarkan Zara hingga ke apartemennya. Zara tampaknya sudah bangun saat ia tertidur. Mereka tidak banyak mengobrol dan Zara langsung masuk ke dalam gedung apartemennya. Sedangkan Alvaro kembali menghampiri mobil.
"Kapan ia bangun?" tanya Olvee.
"Tadi," jawab Alvaro singkat.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Alvaro balik.
"Better," jawab Olvee.
"Apa kita pulang sekarang atau mampir ke mini market untuk membeli sesuatu?" Alvaro kembali bertanya karena merasa khawatir dengan keadaan Olvee yang seperti belum sadar sepenuhnya.
"Aku ingin pulang dan tidur." Alvaro mengangguk dan tidak banyak berbicara lagi.
To be continued