
“Hai Kak Olvee, Alvaro.” Jihan tersenyum menatap pada kedua kakak beradik itu yang masih diam menatapnya.
Alvaro menatapnya datar dan beralih pada Evan dan secepat kilat mengubah ekspresi wajahnya menjadi kesal. Sedangkan Olvee menatapnya terkejut bercampur bingung dengan apa yang seharusnya ia lakukan dan katakan pada Jihan. Ia bahkan tidak mengetahui harus berekspresi seperti apa di depan tunangan dari Alvaro ini.
Pertemuan terakhir mereka yang tidak terlalu baik membuat Olvee merasa sedikit canggung. Namun, berbeda dengan Jihan yang terlihat normal dan biasa saja. Mungkin yang merasakan kecanggungan hanyalah Olvee, setelah pertemuan terakhir mereka karena ia yang merasa bersalah pada gadis di depannya.
“Maaf, Kak Vee. Jihan tadi terlihat seorang diri di sini. Jadi, aku membawanya kemari untuk bergabung bersama dengan kita. Itu tidak apa, kan?” Evan bertanya untuk mencairkan kecanggungan yang terasa di antara mereka sekaligus menghindari Alvaro yang menatapnya seolah ingin melahapnya.
“Ya, tentu saja. Lebih ramai akan jadi lebih baik.” Olvee tersenyum paksa dan menjawab demikian meski ia mulai merasa tidak nyaman.
“Liburan antara keluarga akhirnya hancur gara-gara kau, Evan.” Perkataan Alvaro membuat suasana menjadi semakin canggung setelah sedikit mencair.
“Alvaro … !” peringat Olvee kesal seraya mencubit kecil pinggangnya.
“Maaf, Vee,” ucap Alvaro segera mengubah ekspresi wajahnya menjadi hangat ketika berhadapan dengan Olvee. Meski Alvaro sekarang terlihat seperti anak anjing lucu yang mengibaskan ekornya, sekali lagi Olvee mencubit pinggangnya.
“Kak Vee, maksudku.” Alvaro segera mengoreksi panggilannya yang menjadi alasan kekesalan Olvee.
“Karena waktu istirahat sudah cukup, haruskah kita mulai babak selanjutnya? Evan, apa kau sudah siap?” Tatapan Olvee beralih pada Evan dan berusaha untuk kembali bersemangat.
“Minumlah dulu setidaknya. Evan sudah membelikannya.” Alvaro memegang tangan Olvee yang baru saja hendak melangkah dan memberikan botol minum yang dipegang Evan.
“Ah, ya, aku lupa,” jawab Olvee segera mengambilnya dan meminum air mineral tersebut.
“Nyalimu masih sama dengan saat kita masih kuliah, bukan, Alvaro?” tanya Olvee dengan semangat menggebu ketika mereka sudah dalam antrian untuk menaiki wahana roller coster.
“Tentu saja, jangan meremehkanku!” seru Alvaro lantang.
“Sepertinya mereka menaikkan tingkat tantangannya. Berbeda sejak terakhir kali kita kemari,” ucap Olvee sambil melihat ke arah rel roller coster yang sangat tinggi seakan dapat menembus awan di atasnya.
“Sepertinya kalian sering kemari?” tanya Evan menimpali.
“Kami sering kemari sejak sekolah dulu untuk menghilangkan stres. Alvaro yang pertama kali mencetuskannya dan sampai kami kuliah, kami masih cukup sering mengunjunginya.” Olvee menjawab.
“Saat kuliah kita memang harus lebih sering memberikan diri kita penyembuhan. Sahabat karibku ini tidak pernah mengajakku kemari untuk melakukan penyembuhan atas luka-luka yang diderita di kampus!” sindir Evan.
“Sepertinya ini tempat yang istimewa,” timpal Jihan angkat suara.
Ketiganya serempak menoleh ke arah Jihan yang tersenyum manis. Olvee menyesal sudah membahas hal ini karena terlalu bersemangat, mengingatkan dirinya dengan masa-masa belajar dulu.
“Tidak juga, kami tidak terlalu sering kemari karena terlalu banyak waktu tersita saat kuliah.” Olvee menjawab dengan canggung.
Olvee berteriak kencang ketika roller coster melaju kencang meluncur ke bawah. Bersama dengan Alvaro di sampingnya yang memegang tangannya. Ia sesekali tertawa dan menoleh ke belakang, mendengar suara Evan yang menjerit-jerit memohon, mengumpat, dan semua hal random yang ia katakan. Suaranya bahkan melengking sesekali seperti suara wanita membuat mereka menjadi pusat perhatian.
Mereka melanjutkan petualangan dengan wahana yang lebih menantang lainnya. Mengulangi hal yang sama saat mereka di roller coster. Setiap kali Evan ingin menyerah, Alvaro memprovokasinya dan membuat Evan tidak memiliki pilihan selain mengikutinya.
“Sepertinya aku ingin muntah,” ucap Evan lemas setelah turun dari wahana hysteria.
“Aku akan mengantarmu,” jawab Olvee segera memapah Evan yang sudah tidak berdiri tak seimbang.
“Aku saja, Kak Vee.” Alvaro segera mencegah Olvee yang hendak membawa Evan.
“Baiklah, jaga dia, Alvaro,” pesan Olvee. Ia tidak memikirkan, dengan siapa ia ditinggalkan sekarang.
Olvee baru menyadari hal tersebut setelah ia menatap Jihan di belakangnya. Sekarang, ia benar-benar canggung dan tidak tau harus berbuat apa atau mengatakan apa pada Jihan.
“Ayo kita tunggu mereka di kursi itu, Kak.” Menyadari hal tersebut, Jihan melakukan inisiatif lebih dulu.
“Ah, ya, baiklah.” Dengan kikuk Olvee menjawab dan mengikuti kemana Jihan melangkah.
“Kak Olvee, ada apa dengan hari itu ketika kita bertemu di restoran Kak Zara?” Olvee terkesiap karena tanpa diduga, Jihan mengangkat topik pembicaraan ini.
“Ah, hari itu, aku merasa tidak enak badan dan pulang. Apa kamu juga ada di sana?” tanya Olvee berpura-pura.
“Aku tidak mendengarnya, kami langsung bertemu di rumah hari itu. Maafkan aku yang sudah mengganggu kencan kalian, kalau begitu.” Olvee berkata dengan raut dan nada penyesalan yang sungguh-sungguh tulus.
“Tidak masalah, aku tau bagaimana dia padamu.” Jihan tersenyum lembut seolah itu bukan apa-apa yang membuat Olvee semakin merasa bersalah.
“Lalu bagaimana denganmu padanya, Kak Olvee? Apa jawabanmu masih tetap sama seperti terakhir kita bertemu?” tanya Jihan menatap tepat pada manik mata Olvee.
Olvee kali ini merasa sulit untuk bernapas bahkan menjawab. Mungkin, karena ia sudah mengetahui bagaimana perasaannya dan menyerahkan semuanya pada Alvaro. Sedangkan status Alvaro dan Jihan, masih lah sepasang tunangan. Ia merasa seperti dirinya adalah seorang wanita jahat yang tidak memiliki harga diri dengan mengambil pria milik wanita lain.
“Vee, sebaiknya kita pulang sekarang. Evan sudah tidak bisa lagi melanjutkan.” Sebelum Olvee menjawab, suara Alvaro tiba-tiba saja terdengar.
“Apa ia bisa menyetir?” tanya Olvee seraya berdiri dari duduknya dan menghampiri keduanya.
“Sepertinya tidak,” jawab Alvaro melirik ke arah Evan yang kondisinya setengah sadar.
“Aku akan membawa mobilnya Evan kalau begitu, kita antar dia ke rumahnya dulu.” Olvee berdiri dari duduknya dan ikut memapah Evan.
“Jihan, bagaimana denganmu pulang? Kau datang sendiri kemari, kan?” tanya Olvee beralih pada gadis yang sejak tadi diam itu.
“Aku sudah menghubungi supirku, jadi aku akan menunggunya di sini.” Jihan memperlihatkan ponselnya.
“Kalau begitu, kita pergi sekarang.” Alvaro segera memotong pembicaraan mereka dan membawa Evan bersama dengannya. Begitu pun dengan Olvee yang mau tak mau ikut terseret.
“Kau mengetahui rumah Evan, kan?” tanya Alvaro.
“Tidak,” jawab Olvee sembari menggeleng.
“Aku akan di depan, pastikan untuk tepat berada di belakang mobilku, Vee. Berhati-hatilah.” Olvee mengangguk kali ini dan melangkah ke arah mobil Evan.
Jihan sudah memperhatikan mereka dari sejak berada di tempat parkir pagi tadi. Ia mulai mencurigai mereka berdua sekali lagi setelah kepercayaannya pada Alvaro mulai terbentuk. Melihat mereka yang seperti itu, kecurigaannya memang terbukti.
Olvee menuruti apa yang dikatakan oleh Alvaro. Mengikutinya tepat di belakang mobil Alvaro yang melaju lebih lambat dari biasanya. Ia ingin segera pulang karena hari sudah mulai malam, tapi karena Alvaro yang terus memprovokasi Evan, Evan berakhir seperti itu.
“Apa dia tinggal sendirian?” tanya Olvee yang membantu Alvaro memapah tubuh Evan begitu sampai di sebuah rumah.
“Ya, kedua orang tuanya tinggal di kampung halamannya,” jawab Alvaro.
“Kita tinggalkan dia di sini.” Setelah menjatuhkan Evan begitu saja di sofa, Alvaro menarik tangan Olvee.
“Apa tidak masalah seperti ini?” tanya Olvee menatap sekali lagi pada Evan.
“Tidak masalah,” jawab Alvaro tak menoleh kembali.
“Mama sudah menghubungiku sejak tadi.” Perkataan Alvaro membuat Olvee menatap ponselnya yang tanpa sadar sudah mati.
To be continued