(Not) Mistake

(Not) Mistake
Bab 33 : Pertengkaran



“Kau pergi menemui Alvaro lagi?” tanya Zahir setelah mereka tiba di rumah tepatnya di ruang tamu.


“Pa …” panggil Flora berusaha untuk menenangkan sang suami.


“Jawab Papa, Vee!” desak Zahir sekali lagi.


Olvee mendongak menatap ayahnya yang sudah jelas marah padanya. “Pa, Papa sudah jelas melihatku bersama dengan Zara di rumahnya dan memakai pakaian miliknya. Apa aku sekarang terlihat sedang berbohong?” Lancar sekali Olvee mengatakan kebohongan itu seolah menantang ayahnya sekarang.


“Tapi Alvaro juga ada di sana saat Papa menjemputmu!” sanggah Zahir tetap mencurigai Olvee.


“Aku benar-benar tidak mengetahui Alvaro akan pergi ke rumah Zara saat aku ada di sana,” bantah Olvee semakin meyakinkan Zahir.


Tidak dengan nada yang baik karena merasa sangat tidak dipercayai oleh ayahnya. Hati nuraninya benar-benar berteriak karena merasa bersalah pada ayahnya sekaligus sedikit kecewa karena Zahir membuktikan bahwa ia benar-benar tidak mempercayainya.


“Pa, sudah cukup. Aku sudah melihat sendiri pembicaraan Vee dan Zara yang memang akan bertemu untuk menginap. Vee bahkan sama sekali tidak mengabari Alvaro kalau dia ada di rumah Zara sekarang. Zara mungkin yang memberitahunya saat Olvee ada bersama dengannya.” Flora berbicara menjadi penengah di antara mereka.


“Bisa saja mereka memang berniat merencanakan semua ini dengan melibatkan Zara!” Zahir masih tetap bersikeras menuduh Olvee.


“Apa Papa memang sangat tidak mempercayaiku sekarang? Apa yang Papa katakan tampaknya hanya bicara di mulut saja karena Papa sangat tidak mempercayai putri Papa hanya karena satu kesalahan!” bentak Olvee akhirnya juga merasa kesal sekaligus kecewa.


“Vee, kau berani membentak Papa?!” Zahir semakin menampakkan kemarahannya.


“Papa sekarang bahkan lebih banyak memarahiku dan menganggapku seperti anak-anak lagi hanya karena hal itu!” balas Olvee semakin berteriak.


“Kau-”


“Zahir! Sudah cukup! Olvee kembali ke kamar,” perintah Flora pada akhirnya menghentikan perdebatan mereka yang bisa dikatakan pertengkaran.


“Apa kau tidak bisa mempercayai Vee lagi? Kau sendiri melihat semuanya, kan? Tenanglah dan jangan bersikap tidak normal seperti ini, Zahir. Ada apa denganmu?” Olvee bisa mendengarkan ibunya yang menenangkan dan menasehati ayahnya.


“Ini semua karena aku mengkhawatirkannya bertemu dengan Alvaro lagi, Flora!” Suara ayahnya bahkan tidak menurun ketika berbicara dengan ibunya, wanita yang paling ia cintai.


Olvee melangkah masuk ke dalam kamarnya untuk mandi dan beristirahat lebih banyak sebelum mengerjakan proyek-proyeknya yang terbengkalai akibat masalah pribadi. Ketika di kamar mandi, ia masih bisa mendengar pertengkaran kedua orang tuanya di lantai bawah. Saking kencangnya mereka saling berteriak, Olvee bisa mendengarnya dari kamar mandi di kamarnya yang berada di lantai dua.


Setelah menyelesaikannya dengan cepat, Olvee segera membilas tubuhnya dan mengenakan pakaian panjang untuk menutupi banyak jejak kemerahan yang ditinggalkan Alvaro di sekujur tubuhnya. Sebagai ganti ia tidak bisa meninggalkan jejak di tubuhnya yang terekspos.


“Vee, kau sudah sampai rumah? Bagaimana keadaanmu?” Zara menelponnya begitu ia selesai mandi dan hendak beristirahat.


“Aku sudah lama sampai, aku sudah mandi, dan akan beristirahat. Papa sama sekali tidak memberikan kepercayaannya lagi padaku dan aku tetap terkena amarahnya. Meskipun kita sudah sangat meyakinkan, dia tetap sangat-sangat mencurigaiku.” Olvee berkeluh kesah dengan ketidakadilan ini.


“Itu semua karena kesalahanmu juga yang ketahuan oleh Om Zahir,” jawab Zara yang dibenarkan oleh Olvee.


“Bagaimana dengan Alvaro?” tanya Olvee.


“Ya, tentu saja dia kembali setelah ‘bertemu’ denganmu tadi. Dia tidak mengatakan apapun dan kelihatannya sangat marah pada orang tuamu terutama Om Zahir,” ucap Zara.


"Vee!" Tiba-tiba, pintu kamarnya dibuka begitu saja oleh Zahir yang masuk begitu saja tanpa permisi.


"Pa," panggil Olvee pelan.


"Kemarikan ponselmu," perintah Zahir yang membuat Olvee menyerngit.


"Ada apa? Aku sedang menelpon," tanya Olvee heran.


"Siapa?!" bentak Zahir sambil merebut paksa ponsel Olvee.


"Zahir!"


Bentakan Olvee berbarengan dengan Flora yang baru datang menyusul Zahir. Zahir melihat panggilan masuk yang masih terhubung. Itu menunjukkan nama Zara di sana. Olvee masih merasa kesal dengan kelakuan ayahnya yang tiba-tiba menjadi sangat overprotektif padanya.


"Zara, Om meminta padamu untuk tidak menghubungkan Vee dengan Alvaro lagi!" seru Zahir tegas. Olvee yang mendengarnya begitu terkejut, begitupun dengan Zara pastinya. Dan ia pasti merasa jika ayahnya mengetahui rencana Zara yang menghubungkan dirinya dan Alvaro.


"Itu privasi putri kita, Zahir!" bentak Flora berusaha mengambil ponsel Olvee.


"Jangan bilang Papa akan menyita ponselku juga? Jangan lupa, aku bukan anak-anak lagi yang seharusnya diatur. Aku juga punya pekerjaan dan kolega-kolega yang kontaknya aku simpan di ponselku. Tingkah Papa yang seperti anak-anak ini merugikanku!" jelas Olvee bernada kesal.


"Itu benar, Zahir!" tambah Flora yang semakin merasa jika suaminya sudah sangat berlebihan.


Zahir tampak tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh istri dan anaknya. Ia tetap mengotak-atik ponsel Olvee dan tak lama mengembalikannya. "Papa sudah menghapus nomor Alvaro. Jadi, jangan menghubunginya lagi atau lewat Zara!" ucap Zahir sebelum akhirnya keluar dari kamar Olvee.


Olvee hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari ayahnya sendiri. Ayahnya yang semula tegas tapi juga lembut dan selalu percaya penuh dirinya dan mendukung dirinya, kini menjadi ayah yang seperti itu. Memang ia bersalah telah menyembunyikan kebohongan besar dari dirinya. Itu menjadi salah satu alasan kuat kepercayaannya pudar, tapi ayahnya juga menyembunyikan kebohongan besar dari dirinya selama bertahun-tahun. Parahnya ia selalu menyangkal kebenaran itu meski itu sudah terungkap.


"Vee," panggil Flora lembut sekaligus berisi nada rasa bersalah padanya.


Olvee menoleh pada Flora yang ternyata masih ada di kamarnya. "Apa Mama juga sama tidak percayanya padaku seperti Papa?" tanya Olvee sedikit ketus.


"Tolong maafkan Papa, Vee. Dia begitu untuk melindungimu. Ini hanya akan berlangsung tidak lama asal kau menuruti Papa. Mama mohon, Vee." Olvee bingung harus bereaksi seperti apa dengan apa yang baru dikatakan ibunya.


"Melindungi? Tapi melindungi dari apa?" tanya Olvee.


"Mama tidak bisa menjelaskan semuanya." Flora menggelengkan kepalanya membuat Olvee dibuat kembali menelan pil kekecewaan.


"Apa ini semua ada hubungannya dengan Vee yang bukan putri kalian?" Flora masih enggan untuk menjawab.


"Jadi, Vee benar-benar bukan putri kandung kalian?" tanya Olvee sekali lagi yang masih tidak mendapatkan jawaban dari ibunya.


Lagi-lagi respon ini yang didapatkan Olvee. Namun, dari keterdiaman Zahir dan Flora, Olvee sudah mengetahui yang sebenarnya. Keyakinan dan kasih sayang yang selama ini diberikan oleh mereka tampaknya hanya kamuflase belaka untuk menyembunyikan hal ini.


"Aku mengerti. Aku akan menuruti Papa. Mama tidak perlu khawatir." Olvee berkata dengan nada dingin tanpa menatap Flora.










To be continued