(Not) Mistake

(Not) Mistake
Bab 22 : Undangan



“Hai, Ra. Apa kau ingin menginap di rumahku malam ini?” tanya Olvee di seberang telpon pada Zara.


“Vee, aku adalah orang yang sangat ingin bersantai dan menghabiskan waktuku denganmu, tapi pekerjaanku sama sekali tidak memberikanku kesempatan.” Suara Zara terdengar sangat sedih begitupun dengan Olvee yang mendengarnya.


“Aku hanya berdua saja dengan Alvaro sejak kemarin. Mama dan Papa pergi berlibur berdua saja.” Teriakan Zara di seberang telpon membuat Olvee menjauhkan ponselnya.


“Kalian hanya berdua? Apa yang dilakukan si bocah tengik itu padamu?” tanya Zara tak sabar.


“Hm… tidak ada?” jawab Olvee dengan nada keraguan.


“Vee …” Zara terus mendorongnya.


“Ok! We, kinda,” timpal Olvee menggantungkan ucapannya.


“What?! What kinda?! Vee, you guys do it?” tanya Zara kembali tak sabar.


“No. Maka dari itu aku ingin kau menginap di sini,” jawab Olvee cepat.


“Baiklah, aku akan menginap malam ini!” putus Zara pada akhirnya.


“By the way, aku mendapatkan undangan reuni dari kampus. Apa itu untuk seluruh satu angkatan?” tanya Olvee mengubah pembicaraan.


“Aku tidak tahu, coba tanyakan pada Alvaro. Jika dia tidak mendapatkannya, mungkin hanya satu angkatan.” Bersamaan dengan itu suara telpon masuk terdengar saat Olvee dan Zara masih berbicara.


“Dia menelpon,” ujar Olvee sambil tertawa.


“Dasar!” Diikuti oleh Zara.


“Apa kamu akan ikut?” tanya Olvee kembali.


“Aku tidak tahu, mereka mengadakannya cukup jauh dari kota. Tapi aku ingin ikut! Kapan lagi kita pergi ke luar kota!” pekik Zara bersemangat.


“Sepertinya aku juga akan ikut. Argh, Zara sepertinya kita harus mengakhiri panggilan karena dia sudah sangat tidak sabar!” gerutu Olvee yang kesal karena terus merasakan getaran telpon dari Alvaro.


“Ok, See u!” pamit Zara sebelum akhirnya menutup telpon.


Olvee menutup telpon dari Zara dan mengangkat bergantian telpon Alvaro yang mendesaknya. Ia sudah siap menyeprotnya dengan kekesalannya.


“Vee, tolong ambilkan surat yang dimasukkan ke dalam amplop berwarna coklat di atas meja belajarku dan antarkan ke kantorku sekarang. Maafkan aku karena mendadak karena aku ada rapat sekarang.” Terdengar nada yang tergesa dari cara bicara Alvaro yang membuat Olvee menelan rasa kesalnya.


“Baiklah,” jawab Olvee dan telpon langsung terputus.


“Alvaro sialan!” umpat Olvee kencang sembari membanting ponselnya ke atas kasur.


Jika nada bicara Alvaro seperti itu, dirinya jadi tidak bisa memarahinya. Rasanya menelan pil obat yang pahit dua kali. Meski begitu, Olvee lagi-lagi tak urung tetap bangun dan berjalan ke kamar Alvaro untuk mengambil barang yang diinginkan olehnya dan mengantarkannya.


Begitu sampai di lantai ruangan Alvaro, keadaan cukup sepi. Meja milik Evan yang biasanya ditempati olehnya juga kosong. Olvee menoleh ke sekitar dan tidak menunjukkan tanda-tanda keberadaan seseorang. Ia akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan Alvaro dan menunggunya di sana. Cukup lama Olvee menunggu hingga ia kebosanan dan pada akhirnya mengubah posisi tubuhnya menjadi berbaring di sofa ruangan Alvaro sambil memainkan ponselnya.


Suara pintu ruangan yang dibuka membuat Olvee menoleh. Ia mendapati Alvaro di sana yang baru saja masuk ke dalam. Beberapa detik mereka saling pandang, Alvaro tiba-tiba saja mengunci pintu ruangannya. Mendengar suara pintu yang terkunci, Olvee mulai was was dan segera mengubah posisi tubuhnya untuk kembali duduk.


“Ke-kenapa pintunya dikunci?” tanya Olvee gugup.


“Kenapa, ya?” tanya balik Alvaro seraya melangkah mendekat pada Olvee.


“Alvaro! Kenapa ruanganmu di kunci? Kita harus rapat lagi setelah ini!” Suara Evan dari luar terdengar sambil terus berusaha membuka pintu yang terkunci itu.


“Alvaro, jangan main-main!” seru Olvee seraya berdiri dari duduknya, berniat menghindari Alvaro yang tindak tanduknya mencurigakan.


“Alvaro berhenti main-main, sialan!” umpat Evan dari luar yang sudah menyerah membuka pintu yang dikunci.


“Kamu hanya bermain-main denganku untuk memancingku kemari, ya?!” tuduh Olvee sambil berjalan mundur menghindari Alvaro yang menuju ke arah meja kerjanya.


“Tidak tuh,” jawab Alvaro.


“Kalau begitu berhenti main-main!” Olvee berbalik dan hendak berlari, tapi kalah cepat dengan Alvaro.


“I got you, Baby girl!” Alvaro berhasil mengapit Olvee di antara tubuhnya dan meja kerjanya.


“Evan sudah menunggumu, Alvaro. Berhenti main-main! Aku harus pulang dan bekerja.” Olvee berbicara tanpa menatap Alvaro yang ada di belakangnya.


“Bukankah kau yang bermain-main denganku, ya?” bisik Alvaro lirih.


“Tak tahukah kau kalau kemarin kau sangat menyiksaku, Vee?” Kepala Alvaro bersandar pada bahu Olvee.


“Kita tidak-” Perkataan Olvee terpotong karena merasakan tangan Alvaro yang menggerayangi pahanya yang terbuka.


“Hei, ada dimana tanganmu itu!” sentak Olvee menghentikan tangan nakal tersebut yang terus saja merayap hendak masuk ke dalam roknya.


Olvee berusaha berbalik dan menatap pada Alvaro. Di saat seperti ini, ia lebih baik mengubah pembicaraan dan segera membebaskan diri dari Alvaro. Lagipula pria ini juga tidak memiliki waktu lagi.


Namun, baru saja Olvee berbalik, bibirnya yang terbuka hendak mengatakan sesuatu, kembali diserang oleh Alvaro. Ia bahkan tidak memberikannya kesempatan untuk sekedar meraup oksigen.


“A-alvaro …” Olvee berusaha berhenti dengan mendorong kerah jas Alvaro.


“Alvaro! Ada yang ingin aku tanyakan, dengarkan aku dulu!” Olvee akhirnya berhasil menghentikan Alvaro yang semakin hari semakin agresif dan berbahaya bagi dirinya.


Napas keduanya saling bersahutan tidak beraturan. Bibir Olvee membengkak akibat Alvaro, sedangkan bibir Alvaro ikut ternoda oleh lipcream yang digunakan Olvee.


“Kenapa kau tidak mendengarkanku sih?” tanya Olvee jengkel sembari mengusap bibir Alvaro yang terkena lipcreamnya.


“Kenapa bibirmu terus menggodaku?” tanya balik Alvaro yang dihadiahi pukulan ringan di dada bidangnya.


“Kamu mendapatkan undangan reuni dari kampus?” Olvee mengubah topik pembicaraan.


“Ya, aku mendapatkannya pagi ini. Tapi aku tidak akan ikut,” jawab Alvaro.


Olvee mengangguk mengerti. “Aku akan ikut bersama Zara,” timpal Olvee.


“Baiklah, kalau begitu aku juga akan ikut.” Perkataan Alvaro mengubah ekspresi wajah Olvee.


“Tadi kau mengatakan tidak akan ikut,” ucap Olvee menyerngit.


“Aku berubah pikiran,” sahut Alvaro.


“Dasar labil!” Olvee tertawa kecil sembari memukul pelan sekali lagi dada Alvaro.


“Apa dengan Evan?” tanya Olvee.


“Eh Evan, ngomong-ngomong, bukankah kau akan rapat sekarang?” Sedetik kemudian Olvee ingat pada Evan yang sejak tadi menggedor pintu, meski sekarang pintu menjadi lebih hening.


“Cepatlah pergi sebelum kau terlambat! Aku sudah membawakan apa yang kau minta,” tunjuk Olvee ke atas meja dimana surat yang tadi ia bawa berada.


“Aku masih merindukanmu, Vee.” Terdengar nada rengekan dari cara bicara Alvaro seolah ia adalah anak-anak yang merajuk.


“Bagaimana jika kita melanjutkan kegiatan kita di atas meja ini? Making love on the table, Not bad, right?” Olvee lagi-lagi memukul Alvaro. Namun, kali ini tepat di kepalanya dengan cukup keras.


“Pergi sekarang, Alvaro! Berhenti main-main!” seru Olvee mulai kesal, tapi dengan pipi memerah sambil melirik ke arah meja di belakangnya. Membayangkan ia dan Alvaro di atas meja, Olvee menggelengkan kepalanya yang mendapatkan tawa ejekan dari Alvaro.


“Apa yang kau bayangkan, Vee?” tanya Alvaro.


“Alvaro!” bentak Olvee.


“One more kiss,” ucap Alvaro sebelum akhirnya mengecup kembali bibir Olvee.


"Sampai jumpa di rumah," pamit Alvaro setelah melepaskan Olvee.


"Zara akan menginap di rumah malam ini," ujar Olvee yang mendapatkan dengusan tak suka dari pria itu.










To be continued