
“Vee, mandi dan bersiaplah, kita akan kedatangan tamu.” Flora masuk ke dalam galerinya dan memberitahu Olvee sepotong informasi tersebut.
‘Siapa?’ Ingin rasanya Olvee bertanya hal mendasar seperti itu, tapi hati nuraninya menolak.
Setelah beberapa waktu lalu pertengkaran antara dirinya dan ayahnya, selama beberapa hari belakangan ini, Olvee hanya mengurung diri di dalam galerinya bersama karya-karyanya. Sebisa mungkin, meskipun ia di rumah, ia meminimalisir pertemuannya dengan kedua orang tuanya. Bahkan ia sama sekali tidak bicara banyak hal, seperti di masa lalu dirinya pada kedua orang tuanya. Meja makan menjadi lebih dingin ketika diisi oleh mereka yang tidak lengkap. Olvee menjawab hanya seadanya saja dan ia juga merasakan jika kedua orang tuanya menjadi semakin bersikap canggung padanya.
“Ya,” jawab Olvee pada akhirnya tanpa banyak bertanya bahkan mengalihkan atensi dari kanvasnya pada sang ibu.
“Berpakaianlah yang baik,” ujar Flora kembali dengan suara yang ceria.
‘Apa selama ini aku tidak berpakaian baik?’ tanya Olvee dalam batinnya pada dirinya sendiri.
“Ya.” Sekali lagi jawaban itu yang keluar dari mulut Olvee.
“Kalau begitu kami akan menunggumu di meja makan. Sebentar lagi tamu itu akan datang.” Flora berlalu pergi setelah mengatakannya.
Olvee menghela napas setelah kepergian Flora. Ia meletakkan kaleng cat dan kuas yang ia gunakan lantas melepaskan apron yang ia gunakan. Tubuhnya yang penuh dengan cat tak ia biarkan menginjak apapun selain langsung ke kamar mandinya. Memilih berendam lebih dulu menikmati air hangat yang memanjakkannya. Tak peduli dengan calon pria yang akan dijodohkan dengannya.
Olvee sudah menduga jika tamu yang disebut Flora akan datang pastilah tidak lain dan tidak bukan adalah pria pilihan ayahnya yang beberapa hari lalu disebut. Sampai saat ini ia masih belum memutuskan apapun untuk hal ini karena menunggu apa yang akan dilakukan Alvaro untuk hubungan mereka.
“Vee …” Suara ibunya terdengar dari luar kamar mandi yang menunjukkan ia berada di kamarnya.
“Vee!” Kali ini bersamaan dengan ketukan pintu di depan kamar mandi.
“Aku akan segera selesai!” jawab Olvee sembari berdiri dari duduknya di bathup.
“Tamu kita sudah datang, Papa menyuruhmu untuk cepat turun dan bergabung,” ucap Flora.
“Iya,” sahut Olvee singkat.
Tidak terdengar suara apapun lagi dari Flora. Olvee memakai pakaian santainya tanpa memoles apapun wajahnya selain rangkaian skin care rutin malam harinya. Tak begitu terlalu menggubris apa yang menjadi nasehat ibunya tadi. Setelah selesai pun, ia tidak terburu-buru dan berjalan santai menuju meja makan. Dari lantai dua ini, ia bisa melihat siapa gerangan ‘tamu’ yang datang ini.
Ketika melihat pria itu duduk bersama kedua orang tuanya, hati Olvee sedikit lega karena ia adalah pria yang dikenalnya. Ini mungkin bisa menjadi keuntungan baginya saat ia bisa membuat kesepakatan dengan Verald demi membatalkan perjodohan ini. Namun, setelah dipikirkan kembali, ketika perjodohannya dengan Verald batal, ayahnya pasti akan dengan cepat membawakan penggantinya. Olvee sedikit kesal.
‘Apa tidak ada yang bisa menghentikan Papa selain Alvaro?’ gumam Olvee dalam batinnya.
“Vee! Ayo turun!” Zahir memanggilnya saat mereka tanpa sengaja melakukan kontak mata dan saat itu juga lamunan Olvee buyar.
Olvee menuruni anak tangga dan tiba di meja makan. Suara derit kursi yang ia tarik begitu terdengar di keheningan meja makan begitu ia duduk di antara mereka. Ia mulai membuka piringnya dan makan seperti makan malam sebelum-sebelumnya.
“Vee …” panggil Zahir yang sebentar mengalihkan fokus Olvee dari makanannya pada sang ayah.
“Iya?” sahut Olvee singkat.
“Verald sudah mengatakan pada Papa bahwa dia menyukaimu,” ujar Zahir yang membuat Olvee berhenti menyuapkan makanan ke mulutnya.
Bukan sebuah pertanyaan yang menanyakan pendapatnya mengenai Verald dan bagaimana perasaannya, tapi sebuah informasi. Informasi yang mengatakan jika pria ini menyukainya. Ayahnya berniat menjodohkannya tanpa mau bertanya pendapatnya lebih dulu. Begitu egoisnya Zahir atas keputusannya ini.
“Tapi aku tidak menyukainya,” jawab Olvee tenang tanpa menatap wajah sang ayah dan kembali memakan makanannya.
“Verald, apa kau setuju jika dijodohkan dengan Vee?” Zahir bergantian bertanya pada Verald.
Itu lebih ke sebuah ancaman untuk menikahinya daripada pertanyaan. Olvee sampai terkejut mendengar pertanyaan ayahnya. Ia menjawab tidak menyukai Verald untuk mengatakan secara tidak langsung pada Verald untuk mundur. Namun, ayahnya justru mengancamnya dan mendesaknya lewat pertanyaan itu.
“Menurut pendapat saya sendiri, saya dengan senang hati menerima perjodohan dengan Olvee. Namun, pernikahan ini adalah sebuah hubungan antara dua orang, jadi saya tidak bisa mengabaikan pendapat Olvee jika dia tidak menyukai saya dan perjodohan ini.” Jawaban yang bagus! Olvee bersorak dalam batinnya mendengar perkataan tegas Verald yang menerima dengan baik perkataannya.
“Apa kau sudah pernah mendengar pepatah yang mengatakan jika cinta datang karena terbiasa? Om sangat yakin jika Vee sudah bersama denganmu, dia akan dengan sendirinya mulai menyukaimu. Apalagi jika kau menyukainya dan pasti akan memperlakukan dia dengan baik, kan?”
Segitu putus asanya kah ayahnya hingga memaksa Verald untuk menikahinya. Olvee benar-benar jadi merasa malu jika Verald mengira alasan ayahnya memaksa dirinya adalah karena ia wanita yang tidak laku di kalangan para pria. Maksud dari perkataan ayahnya sudah jelas menyindir dirinya dan Alvaro yang bisa saling jatuh cinta karena terbiasa tinggal bersama.
“Apa yang akan menikah adalah Papa?” tanya Olvee.
“Kenapa pendapatku tidak pernah ditanyakan di sini?” lanjutnya.
“Papa sudah mengetahui apa jawabanmu,” jawab Zahir tak lagi repot-repot menyembunyikan kerusakan hubungan dirinya dan Olvee.
“Kau pasti akan-”
“Ya, terlepas dari semua apa yang aku katakan, pria yang dicari Papa untukku benar-benar bagus. Jadi, tidak ada alasan untuk aku menolak pernikahan ini, kan?” Olvee memotong perkataan Zahir yang belum selesai dengan senyum kemenangan yang tersungging di bibirnya.
Beberapa detik keheningan ada di antara mereka semua. Bahkan tidak ada satupun dari penghuni meja makan ini yang menyuapkan makanannya ataupun mengunyah makanan.
Olvee tidak akan menolak kesempatan untuk bisa bernegosiasi dengan Verald dari hubungan perjodohan ini. Sama seperti yang dilakukan oleh Alvaro pada Jihan, maka ia juga akan memilih hal yang sama. Ia sudah membuat keputusan untuk dirinya sendiri. Ia tidak akan takut untuk kehilangan orang tua yang membuat ia merasa tidak bahagia di sisi mereka.
“Tujuan dari makan malam ini sudah tercapai, jadi tidak ada lagi alasan untukku tetap di sini, kan?” Olvee memulai pembicaraan lagi.
“Kalau begitu, aku pamit ke kamar untuk beristirahat. Selamat malam, Ma, Pa. Dan Verald.” Derit kursi terdengar bersamaan dengan Olvee yang berdiri dari duduknya.
“Vee!” Flora memanggilnya yang tidak lagi digubris oleh Olvee.
To be continued