(Not) Mistake

(Not) Mistake
Bab 27 : Kebenaran Akhirnya Terungkap



Setelah kembali dari pesta itu, Alvaro pergi bekerja. Sementara ia berbaring dan mengistirahatkan tubuhnya hingga hari menjelang siang. Setelah beristirahat dan makan siang, Olvee memutuskan untuk pergi ke galerinya dan mengerjakan lukisannya seperti biasanya. Semuanya masih baik-baik saja hari itu, sampai kedatangan satu keluarga menghancurkan semua itu. Bertepatan dengan keluarganya yang sama sekali tidak pergi keluar sehingga Olvee mendapatkan nasib yang buruk.


Jihan Point of View


“Jihan, kau baik-baik saja, Nak? Setelah pulang dari pesta wajahmu sangat pucat,” ucap ibu dari Jihan yang mengkhawatirkan sang putri yang terlihat lebih lesu dari biasanya.


“Ma, Pa, aku ingin putus dengan Alvaro.” Perkataan dari Jihan membuat kedua orang tuanya terkejut. Kedua orang tuanya mengetahui dengan betul, bagaimana putrinya ini mencintai pemuda itu.


“Ta-tapi kenapa, Sayang?” tanya Nyonya Handreson.


“Aku tidak bisa menikah dengan pria yang hatinya bukan milikku,” jawab Jihan lemah.


“Sayang, putriku yang malang.” Ibunya segera memeluk Jihan yang duduk di sampingnya.


“Setelah kalian menikah, tidak ada wanita manapun lagi yang bisa menggantikan posisi dirimu menjadi nyonya keluarga Marveen. Cinta bisa datang saat kalian terbiasa dengan kehidupan yang dihabiskan berdua. Papa yakin itu,” ucap Tuan Handreson angkat bicara.


“Alvaro mengatakan jika wanita itu adalah hidupnya dan aku tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan hatinya sampai kapanpun, meskipun aku sudah memohon padanya.” Jihan mulai menangis sesegukan.


“Sayang, sudah jangan menangis. Jika itu yang kau inginkan, kami akan menurutinya. Kau bisa bebas memilih pria yang akan kau nikahi. Kami tidak akan menjodohkanmu lagi.” Pelukan dari ibunya semakin erat seiring dengan tangis Jihan yang semakin terisak.


“Siapa wanita itu memangnya sehingga putriku sangat tidak percaya diri untuk menghadapinya?” Akhirnya, pertanyaan yang ditunggu olehnya keluar dari mulut ayahnya.


“Wanita itu adalah Kak Olvee,” jawab Jihan.


“Olvee, wanita mana itu? Namanya tidak pernah Papa dengar sebelumnya,” balas Tuan Handreson.


“Olvee Ranasya Marveen, putri kedua keluarga itu. Alvaro mencintai kakaknya sendiri, Ma, Pa.” Jawaban dari putrinya sekali lagi benar-benar mengejutkan kedua orang tuanya.


“Maksudmu, Olvee adalah Vee kakak kandung Alvaro?” tanya Nyonya Handreson yang diangguki Jihan.


“Tidak mungkin mereka gila,” ujar Tuan Handreson.


“Itu kebenarannya, Pa. Aku sampai rela dimanfaatkan oleh Alvaro untuk dia bisa mendapatkan Olvee. Sekarang dia sudah mendapatkannya dan memutuskan hubungannya denganku. Ma, Pa, aku juga ingin mengakhiri hubungan ini. Tolong katakan pada kedua orang tua Alvaro.” Jihan menangis dan memohon pada kedua orang tuanya.


“Jika putri kita mengatakan itu, itu pasti benar, Pa. Ayo kita bicarakan ini sekalian memberitahu mereka betapa gilanya putra putri mereka! Jihan sudah terluka karena semua sandiwara yang dilakukan oleh Alvaro,” bujuk sang ibu pada suaminya yang masih setengah mempercayai dengan apa yang baru ia dengar.


“Ayo pergi sekarang,” putus Tuan Handreson seraya berdiri dari duduknya.


“Jihan, ayo kau juga ikut bersama kami untuk menemui keluarga mereka!” tegasnya yang diangguki Jihan.


Begitu sampai di rumah keluarga Marveen, suasana sangat tenang. Mengira jika kedua Tuan dan Nyonya rumah tidak ada di rumahnya. Namun, mereka tetap mengetuk pintu keluarga Marveen.


“Jihan, Tuan dan Nyonya Handreson, apa yang membawa kalian kemari? Ayo silahkan masuk.” Yang membukakan pintu adalah Nyonya Marveen sendiri.


Mereka masuk ke dalam tanpa banyak berbicara dan duduk di ruang tamu. Flora sedikit keheranan dengan kedatangan keluarga dari calon besannya ini. Ditambah lagi dengan bagaimana keadaan wajah Jihan yang terlihat tidak baik-baik saja dan kedua orang tuanya yang tidak memiliki keramahan seperti terakhir kali mereka bertemu.


“Tuan, Nyonya Handreson, lama tidak bertemu. Bagaimana kabar kalian?” Zahir Marveen datang bersama dengan istrinya yang membawa minuman untuk mereka.


“Saya akan langsung berbicara pada intinya, Tuan Marveen. Kami ingin memutuskan hubungan pertunangan dengan putra kalian.” Ucapan dari kepala keluarga Handreson itu membuat kedua orang Marveen ini terkejut.


“Tapi, kenapa Tuan?” tanya Flora.


“Kami tidak akan memberikan putri kami pada pria yang bermain di belakangnya, apalagi bersama kakaknya sendiri!” bentak Tuan Handreson.


Ucapannya tidak bisa membuat Flora dan Zahir lebih terkejut dari ini. Ia menatap bingung sekaligus tidak percaya pada keduanya.


“Apa maksudmu? Alvaro menerima Jihan dan mereka akan segera menikah, kan?” tanya Flora kembali.


“Alvaro menerima Jihan untuk bisa mendapatkan Olvee di sisinya. Dan sekarang, dia sudah mendapatkan Olvee karena itulah Alvaro ingin memutuskan hubungan dengan Jihan. Tapi yang memutuskan hubungan sekarang adalah putri kami, bukan putra kalian!” Tuan Handreson sudah menaikkan nada suaranya.


“Apa kalian mempunyai bukti sampai menuduh putra dan putri kami seperti ini?” tanya Zahir dingin.


Jihan mulai menangis ketika mendapatkan pertanyaan itu. Kedua orang tuanya terdiam karena tidak bisa membuktikan apa yang ia katakan.


“Kalau begitu, panggil Olvee kemari dan tanyakan padanya!” seru Nyonya Handreson.


Tak banyak berbicara, Flora bergegas memanggil Olvee. Tak lama ia datang kembali bersama dengan Olvee yang terlihat kebingungan dan tengah mencerna situasi.


“Aku mendengarnya dan mendapatkan rekaman ini dari temanku,” ucap Jihan di tengah tangisnya yang sesegukan. Semua atensi keluarga mengarah pada Jihan yang terlihat mengeluarkan sebuah kartu memori kecil.


Zahir tak menjawab dan mengambil kartu tersebut lantas memasukkannya ke dalam ponselnya sendiri. Setelah mengutak-atik ponselnya sendiri dan menemukan sebuah rekaman yang dikatakan oleh Jihan, mereka semua mendengarkan suara yang begitu dikenali.


“Aku mencintaimu, Alvaro.”


“Aku juga mencintaimu, Vee.”


“Give me more.”


“Vee, apa kau benar-benar mabuk?”


“Mana ada aku mabuk.”


“Aku tidak akan berhenti walaupun kau menginginkannya, Vee. Jangan menyesal.”


Suara menjijikkan Alvaro dan Olvee terdengar saling bersahutan dari rekaman suara tersebut. Tubuh Olvee sudah gemetar ketakutan saat pertama kali ia mendengar suara dirinya sendiri saat mabuk. Tebakannya pada akhirnya benar terjadi.


"Pa, aku bisa menjelaskan-"


Plak!


“Papa!” teriak Flora dan ia segera ikut berjongkok di depan Olvee melindungi putrinya yang baru saja jatuh tersungkur akibat tamparan dari Zahir.


Flora bergegas mengambil ponselnya untuk menelpon putranya guna menghentikan suaminya yang bisa kapan saja menggila. Dengan derai air mata ia hampir putus asa karena Alvaro tidak kunjung mengangkat telponnya.


“Alvaro, kau cepatlah pulang sekarang!” Flora segera berbicara setelah telpon tersambung.


“Ada apa, Ma? Apa yang terjadi?” Akhirnya suara Alvaro terdengar.


“Cepat pulang sekarang dan hentikan Papa untuk membunuh Vee!” teriak Flora frustasi dan menutup telpon sepihak.


"Zahir, kita bicarakan ini dengan baik. Kumohon tenanglah," bujuk Flora mendekat pada suaminya sambil mengguncang tangannya.


Zahir menatap tajam sekaligus berkaca-kaca pada Olvee yang berada di bawahnya. Perasaan marah, kecewa, sedih, dan segala macam emosi ia rasakan pada putrinya terutama dirinya sendiri karena merasa telah gagal mendidik anak-anaknya.


Rasa perih dan panas menjalari pipi Olvee yang baru saja terkena layangan dari tangan ayahnya yang baru kali ini memukul dirinya sepanjang Olvee hidup. Bibirnya basah dan terdapat rasa amis. Itu dipastikan adalah darah. Olvee takut, takut pada ayahnya dan kecewa pada dirinya sendiri. Tidak ada satupun kalimat yang keluar dari mulutnya untuk sekedar membela dirinya sendiri karena pada dasarnya ia memang salah.


“Vee, Papa benar-benar kecewa padamu. Setelah membesarkanmu dengan banyak cinta, tapi kau membalasnya dengan semua perbuatan menjijikan ini?” Rasa sakit di pipinya kalah telak dengan rasa sakit tak kasat mata yang dirasakan hatinya.


“P-pa …” Olvee merangkak ke arah kaki Zahir guna meminta pengampunan.


“Jangan panggil aku Papa lagi!” bentak Zahir keras sembari menghentakkan kakinya yang membuat Olvee lagi-lagi tersungkur.


“Vee …” Suara Alvaro yang tiba-tiba terdengar mengalihkan atensi semua orang yang ada di ruang tamu. Tatapannya mengarah pada Olvee begitu pun dengan langkahnya.


"Alvaro," gumam Jihan memanggil pria itu yang tampak kosong.


“Kau …!”


Bugh!










To be continued