
“Alvaro!” teriak Jihan ketika melihat Alvaro yang tak siap mendapatkan tinju dari Zahir, ikut jatuh tersungkur ke bawah.
Jihan segera menghampiri Alvaro untuk membantunya berdiri. Berpikir bahwa Alvaro tidak akan mengetahui apapun dan menerima bantuannya begitu saja, ternyata ia salah. Alvaro menepis tangan Jihan yang hendak membantunya dan menatapnya tajam. Ia lantas berdiri kembali dan menatap ketiga anggota keluarga Handreson bergantian.
“Karena hubungan kedua keluarga sudah menjadi seperti ini, ini berarti semua sudah berakhir, kan? Sekarang adalah masalah keluarga kami, jadi kalian semua bisa pergi.” Alvaro berkata dengan nada dingin pada keluarga Jihan terutama wanita itu yang ia hujani dengan tatapan tajam.
“Alvaro, aku-”
“Tidak usah bicara, aku sudah mengetahui semuanya!” bentak Alvaro memotong ucapan Jihan yang terkesiap mendengar nada bicara Alvaro.
“Jangan pernah datang lagi ke rumahku!” ucap Alvaro tajam yang ditunjukkan pada semua anggota keluarga Jihan termasuk Jihan sendiri.
“Ayo kita pergi dari keluarga menjijikan ini, Jihan. Masih banyak pria yang lebih baik dari dia!” balas Tuan Handreson angkuh sambil menarik lengan putrinya yang masih terlalu terkejut dengan sikap kasar Alvaro. Seluruh anggota keluarga Alvaro bahkan masih tidak bergerak untuk sekedar menghentikan Alvaro yang mengusirnya.
“Ayo, Jihan.” Ibunya menarik tubuh Jihan untuk pergi dari rumah keluarga Marveen. Sehigga Jihan tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti ayah dan ibunya, meski bukan ini yang ia inginkan.
“Vee …” Ketika memanggilnya, nada bicara Alvaro berubah menjadi lebih lembut. Ia segera menghampiri Olvee dan membantunya untuk berdiri.
Kedua orang tuanya hanya menonton bagaimana perlakuan dan sikap Alvaro pada Olvee. Keduanya tak habis pikir dengan apa yang sudah dilakukan oleh putra putrinya yang telah melewati batas norma. Padahal mereka sama-sama mendapatkan kasih sayang, pendidikan, dan perlakuan yang sama layaknya saudara kandung pada umumnya. Namun, itu semua lenyap tidak ada apa-apanya.
“Alvaro, tolong jelaskan kenapa kalian melakukan ini? Apa kalian benar-benar saling mencintai?” tanya Flora dengan isak tangisnya meminta jawaban dari putra semata wayang kebanggan keluarga Marveen itu.
“Apa yang kalian bicarakan? Apa omong kosong dari putri keluarga lain kalian percayai daripada putra putri kalian sendiri?” jawab Alvaro berbohong. Ia melirik ke arah Olvee yang tengah menatapnya kosong.
“Sekarang kau berani berbohong pada kami. Sikapnya yang seperti itu apa kurang menunjukkan jika itu benar? Dan putri keluarga lain itu telah membawakan bukti tindakan kalian yang menjijikkan itu!” bentak Zahir seraya melempar ponsel miliknya yang tadi memutar rekaman suara yang menjadi bukti.
Alvaro mengambil ponsel tersebut dan melihat isinya. Setelah pemutaran rekaman suara tersebut, Alvaro diam seribu bahasa. Pilihannya untuk berbohong dan memperpanjang kebohongan ini salah besar.
“Apa kau masih berani untuk mengatakan jika kalian tidak melakukannya?” tanya Zahir dengan nada dingin.
“Ya, itu benar. Aku mencintai Vee sebagai wanita bukan sebagai kakakku,” jawab Alvaro lantang dan tenang.
“Kau …!” Zahir menatap Alvaro dengan tatapan penuh amarah dan kembali melayangkan tinjunya hendak memukul Alvaro. Namun, pria itu kali ini menahan kepalan tangan ayahnya dengan berani dan menghempaskannya.
“Kami sama sekali tidak bersalah. Perasaan yang kami miliki, bukan sebuah kesalahan. Karena pada kenyataannya, kami bukan saudara kandung, bukan begitu?” Flora tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejut itu.
“Apa kalian gila dan kehilangan akal sesaat karena mabuk?” bentak Zahir menunjuk Alvaro.
“Pa, apa yang salah dengan saling mencintai-”
“Kalian adalah saudara kandung sampai kapanpun. Apa itu adalah sesuatu yang sulit untuk kalian mengerti?” tanya Zahir memotong ucapan Alvaro.
“Kami bukan saudara kandung!” bentak Alvaro.
“Dari mana kau mendengarnya? Apa kau bisa membuktikannya? Bawa sekarang bukti itu!” perintah Zahir.
“Baik kau ataupun Vee adalah anak kandung Mama dan Papa. Kau pikir kau sudah hidup lebih lama daripada kami sendiri yang menjadi orang tuamu?” desak Zahir kembali memojokkan Alvaro.
“Kalau begitu, kenapa sikap Oma dan Opa sangat berbeda pada aku dan Kak Celine dan pada Vee?” tanya balik Alvaro.
“Apa kau mempercayai seseorang yang sudah membuang keluarga kita?” Zahir membalikkan pertanyaan.
“Itu bukan-”
“Kalau begitu lakukan tes DNA dengan Vee untuk membuktikannya, Pa.” Kali ini giliran Avaro yang memotong ucapan ayahnya dan memojokkannya. Ia tidak berharap bahwa ayahnya masih menganggap dirinya adalah bocah lelaki yang baru dewasa.
Flora dan Zahir tidak bisa menjawab apa yang dikatakan oleh Alvaro. Diam-diam Olvee juga menunggu apa yang akan dikatakan oleh mereka berdua. Mempertanyakan pada dirinya sendiri dan orang tuanya, apakah dia memang bukan putri kandung keluarga ini.
Flora melirik ke arah suaminya yang juga tengah menatapnya. Ia menghela napas sebelum berbicara, “Alvaro-”
“Papa tidak menerima bantahan apapun dan tidak akan merestui hubungan kalian sampai kapanpun. Sekarang pilih, antara kau atau Vee yang akan keluar dari rumah ini.” Zahir mencegah istrinya yang hendak mengatakan sesuatu. Pada akhirnya ia sendiri memutuskan hubungan Alvaro dan Olvee dengan memisahkan mereka tanpa memberikan jawaban apapun.
“Papa akan berikan kalian kesempatan untuk mengakhiri hubungan ini dan kembali ke jalan yang benar,” ucap Zahir lagi.
“Vee …” panggil Zahir pada Olvee yang sejak tadi diam menatap kosong mereka.
“Papa akan berikan kesempatan terakhir. Kau atau Alvaro yang keluar dari rumah ini,” ulang Zahir berbicara pada Olvee.
Olvee berdiri kembali dan menghampiri sang ayah. “Biar aku yang keluar dari rumah. Aku akan mengikuti semua yang Papa katakan, tolong jangan membenci Vee, Pa.”
Zahir memeluk Olvee lembut dan mengusap punggungnya. “Baiklah, jauhi Alvaro dan Papa akan menjodohkanmu dengan pria lain. Kau akan tetap menjadi putri keluarga Marveen.”
Alvaro mengepalkan tangannya mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya. Sudah jelas dari tindak tanduk dan apa yang ia ucapkan tadi mencerminkan bahwa Olvee memang bukanlah putri kandung keluarga ini, tapi ia sama sekali tidak mengerti kenapa ayahnya keras kepala menganggap Olvee putrinya.
Melihat Olvee yang sangat tertekan hanya dengan ancaman kosong yang dikatakan ayahnya semakin menambah kekesalan Alvaro. Ia menghela napas pelan karena kekalahannya. Untuk sekarang ia memang sudah kalah dari ayahnya karena tidak memegang bukti apapun yang bisa membuat ayahnya diam. Tapi Alvaro berjanji ia akan membuat ayahnya merestui hubungan mereka.
“Apa yang kau tunggu, Alvaro?” tanya Zahir setelah pelukan mereka terlerai.
“Bukankah kau harus pergi sekarang?”
Olvee dan Alvaro menatap satu sama lain dalam waktu lama. Tatapan penuh luka yang ditunjukkan Olvee melemahkan Alvaro. Tatapan yang semula tajam itu melembut saat bersitatap dengan Olvee.
"Kita akan bersama." Alvaro menggerakkan bibirnya tanpa suara mengatakan hal tersebut kemudian tersenyum lembut pada Olvee.
To be continued