(Not) Mistake

(Not) Mistake
Bab 7 : Benih Sudah Ditanam



“Zara, thanks ya.” Olvee berkata dengan suara pelan setelah mobil yang dikendarai Zara terhenti di depan sebuah rumah yang cukup besar.


“Sesuai dengan perintah Tante Flora, kau aku temani.” Zara menjawab seraya melepaskan sabuk pengamannya.


Olvee menggelengkan kepalanya. “Aku ingin sendirian, Zara,” ucap Olvee menatap lurus pada Zara.


Keseriusan yang ditunjukkan oleh Olvee membuat Zara tidak memiliki pilihan lain. Setelah bertemu dengan kedua orang yang sangat membenci Olvee itu, Zara memaklumi keputusan Olvee. Apalagi kedua orang tersebut adalah keluarga Olvee juga.


“Kalau terjadi sesuatu atau butuh bantuan, kau harus segera menghubungiku.” Zara merentangkan kedua tangannya meminta pelukan sebelum berpisah.


Tanpa menunggu lagi, Olvee masuk ke dalam pelukan Zara dan mengangguk di dalamnya. Ia turun dari mobil dan melambaikan tangan pada Zara yang mulai melaju pergi. Dengan langkah lunglai, ia masuk ke dalam rumah dan langsung naik ke lantai dimana kamarnya berada. Tanpa mengganti pakaian atau melepas sepatunya, Olvee menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Air mata dan isak tangis perlahan keluar.


“Kau putri palsu keluarga Marveen.”


“Sekeras apapun kau bertindak seperti putri keluargaku, kau tidak akan bisa menjadi putri asli keluarga Marveen. Camkan itu."


Perkataan yang begitu sederhana, tetapi mampu menyayat hatinya. Menumbuhkan keraguan yang selama ini sudah tertanam jauh di lubuk hatinya yang terdalam. Namun, kasih sayang dan cinta yang diberikan kedua orang tuanya selalu dan terus meyakinkan dirinya bahwa ia memang putri kandung mereka. Sekarang, keraguan itu kembali muncul dan kian membesar. Apakah benar ia bukan putri kandung keluarga ini sehingga mereka begitu membencinya?


Di tengah isak tangis dan suara sesegukannya, pintu kamar Olvee diketuk dari luar. Segera menyadarinya, Olvee menghapus air matanya kasar dan membenarkan penampilannya. Ia tidak boleh menimbulkan kecurigaan apapun di depan siapapun. Terutama orang tuanya.


Ketika pintu kamar dibuka, memperlihatkan Alvaro di depannya yang masih mengenakan jas yang sama dengan di pesta tadi. Sebelum Olvee sempat mengatakan apapun, Alvaro lebih dulu melangkah maju mendekat padanya dan memeluk tubuhnya. Pelukan hangat yang memang sangat ia butuhkan membuat Olvee tidak bisa menahan tangisnya. Ia membalas pelukan Alvaro erat dan menangis di dadanya.


Mereka bertahan di posisi tersebut selama beberapa menit. Alvaro tidak mengatakan apapun selain membiarkan Olvee menyelesaikan tangisnya. Firasat dan pengalamannya mengenal Olvee, benar-benar membantunya. Di saat seperti ini, ia memang pasti membutuhkan seseorang meski yang dikatakannya adalah kesendirian. Ditengah pikiran Alvaro, Olvee melepaskan pelukan mereka dan menghapus sisa-sisa air matanya.


“Tidak mau lebih lama lagi memelukku, Kak?” tanya Alvaro mencoba menggoda Olvee dengan candaannya untuk mencairkan suasana dan mulai menghiburnya.


“Kenapa kau di sini?” Olvee balik bertanya dengan nada ketus setelah memukul pelan perut keras Alvaro, seperti yang biasa ia lakukan.


“Aku pergi dengan alasan yang sama,” jawab Alvaro mudah. Olvee tidak habis pikir kedua orang tuanya dengan mudah mengizinkan Alvaro yang berbohong.


“Aku ada pekerjaan mendesak sebenarnya. Kalau Kakak membutuhkanku, aku ada di kamar.” Alvaro kali ini akan meninggalkannya tanpa drama menggoda atau apapun yang biasa ia lakukan pada Olvee ketika mereka hanya berdua saja.


“Alvaro … ” Olvee memanggilnya pelan sambil memegang jas yang ia kenakan, tanpa sadar mencegah kepergiannya.


Alvaro berbalik dan menatap pada Olvee yang menunduk. Hatinya tidak bisa lebih senang dari ini dan jantungnya tidak berhenti berdetak kencang karena sikap Olvee. Ia sudah menantikan Olvee membuka hatinya untuk dirinya.


“Bisakah kita berbicara sebentar?” tanya Olvee mengangkat kepalanya menatap tepat pada sepasang manik mata Alvaro yang tidak dapat Olvee tebak.


Tanpa menjawab, Alvaro masuk ke dalam kamar Olvee dan menutup pintunya. Tidak berpikir macam-macam, Olvee membiarkannya dan duduk di sisi ranjang. Sedangkan Alvaro mengambil kursi di meja Olvee dan duduk berhadapan.


“Apa yang ingin Kakak bicarakan?” tanya Alvaro memulai pembicaraan.


Olvee sedikit gugup untuk menanyakannya pada Alvaro. Ia tidak mengetahui harus berbicara dan menanyakannya pada siapa selain Alvaro. Orang yang tidak akan pernah membantahnya dan selalu berkata jujur.


“Kenapa kau selalu yakin jika aku bukan putri keluarga ini?” Pertanyaan pertama keluar dari mulut Olvee yang tidak pernah disangka Alvaro.


Alvaro menatapnya lama sebelum menjawab. “Oma dan Opa,” jawab Alvaro.


“Apa bukti yang mereka berikan padamu?” tanya Olvee kembali tanpa menjeda sedikitpun, seolah ia memang sudah menduganya.


“Tidak ada,” jawab Alvaro kembali dengan suara tenang.


“Kau boleh keluar, tidak ada lagi yang ingin aku bicarakan.” Olvee menghela napas pelan setelah memilih menyelesaikan pembicaraannya dengan Alvaro.


“Aku mempercayai mereka bukan berarti aku memihak mereka yang sudah membuang keluarga kita. Aku tidak menyukai mereka juga karena sikap mereka padamu salah satunya. Namun, terlepas dari itu, perkataan mereka mungkin saja kebenaran. Alasanku mempercayai mereka adalah karena mereka sudah hidup lebih lama dari kita bahkan orang tua kita. Dan melihat sifat mereka, alasan mereka bertindak seperti membencimu mungkin memang karena kau bukan putri keluarga Marveen!” Alvaro menjelaskan semuanya sejak awal.


“Cukup, Alvaro,” ucap Olvee.


“Aku minta kau keluar sekarang!” Olvee meninggikan suaranya.


“Vee sampai kapan kau akan terus meyakini dirimu sendiri dengan kepalsuan ini?” tanya Alvaro.


“Cukup, Alvaro! Kau keluar sekarang!” seru Olvee menatap Alvaro kali ini dengan air mata berderai kembali.


“Vee … ” Alvaro berdiri dari duduknya dan memeluk Olvee yang berusaha memberontak darinya.


“Keluar, Alvaro … Aku tidak mau mendengarnya lagi.” Alvaro mengetahui keraguan yang sudah muncul di dalam hati Olvee. Meski harus melihat Olvee menangis, ia tetap ingin mencoba membuka hati Olvee untuknya.


Alasan satu-satunya Olvee adalah karena hubungan adik dan kakak mereka yang sejak dulu sudah tertanam oleh kedua orang tua mereka. Ia cukup yakin jika bukan karena hubungan ini, Olvee akan menyukainya. Maka dari itu, dari sinilah titik awal mula itu harus terbentuk.


“Jika kau masih belum mempercayaiku, cobalah beranikan diri untuk menanyakannya pada dirimu sendiri. Atau pada Oma dan Opa. Atau jika kau masih meragukan ucapan orang lain, coba lakukan tes DNA untuk memastikannya.” Alvaro berkata kembali di tengah ia sibuk menenangkan Olvee dalam pelukannya.


“Meskipun hasilnya nanti aku bukan kakakmu, aku tetap tidak akan menerimamu dan akan menganggapmu sebagai adikku. Mama dan Papa sudah membesarkanku sebagai anak mereka, maka aku akan tetap menjadi anak mereka.” Olvee menjawabnya di tengah tangisnya yang masih sesegukan.


“Vee … ” Alvaro melepas pelukan mereka dan menatap pada sepasang manik mata Olvee dalam dan tajam.


“Tidak bisakah kau membuka hatimu untukku? Aku benar-benar mencintaimu! Aku tidak bisa jauh dan berpisah darimu!” Alvaro meninggikan suaranya untuk menegaskan pada Olvee sambil memegang kedua bahunya.


“Kau sudah memilih Jihan,” ujar Olvee pelan.


“Jihan? Ia hanya gadis yang aku gunakan untuk membuatmu cemburu dan usahaku untuk membuat hatimu terbuka untukku.” Olvee tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Adiknya yang ia kira baik, ternyata adalah orang yang jahat pada seorang wanita.


“Kau jahat, Alvaro.” Olvee menggelengkan kepalanya tidak percaya.


“Sekarang tidak. Aku akan serius dengan hubungan ini, Vee. Aku akan mengambil semua resiko. Jika kau tetap tidak akan menerimaku, maka aku akan benar-benar menikahi Jihan dan semuanya selesai.”










To be continued