(Not) Mistake

(Not) Mistake
Bab 38 : Pendukung Kuat



“Alvaro, kau mau kemana?” Evan bersusah payah menyusul mereka dan terburu-buru bertanya pada bosnya yang pergi begitu saja di tengah-tengah pekerjaan yang dikerjakan di hotel ini.


“Bawa mobil Vee ke penthouseku setelah pekerjaan ini selesai.” Alvaro menatap pada Olvee untuk mengkode ia agar memberikan kunci mobilnya pada Evan.


“Tapi Alvaro, kita-”


“Kalau kau tidak bisa mengerjakannya, aku akan memotong gajimu 70%!” seru Alvaro sebelum ia masuk ke dalam mobil bersama Olvee.


“Sialan, brengsek!” umpat Evan keras menendang ban mobil Alvaro.


Alvaro membunyikan klakson pada Evan yang menghalangi jalannya membuat pria muda itu terlonjak. Ia mundur dengan wajah kesalnya membiarkan mobil Alvaro melewatinya. Setelah mobil Alvaro melaju meninggalkan Evan, ia menendang-nendang udara menunjukkan kedongkolannya dengan sikap Alvaro yang sama sekali tidak bisa profesional.


“Kenapa kau meninggalkan pekerjaanmu dan Evan begitu saja?” tanya Olvee setelah mereka melaju cukup jauh dari hotel dan menuju penthouse Alvaro.


Alvaro tidak menjawab dan justru menepikan mobilnya di pinggir jalan membuat Olvee keheranan. Olvee menoleh ke arah Alvaro, dan pria itu lagi-lagi membuatnya terkejut menggunakan bibir itu. Tangan Alvaro menarik tengkuk Olvee memperdalam ciuman mereka, sedangkan tangan yang lain mulai tak mau diam untuk menjamah tubuh Olvee.


“Hentikan, kita sedang di pinggir jalan, Alvaro.” Olvee bersusah payah menghentikan Alvaro yang sudah menatapnya dengan kabut gairah kala tangannya menyentuh salah satu dadanya.


Alvaro kembali duduk dengan baik di balik kemudi. Napasnya belum cukup baik ia kendalikan begitupun dengan Olvee yang sambil membenarkan penampilannya. Olvee cukup lega karena Alvaro mau berhenti dan mendengarkannya. Melakukannya di mobil dan di tempat seperti ini adalah yang terburuk.


“Ada yang harus kita bicarakan, jadi ayo kita pergi.” Olvee kembali berbicara setelah lama keheningan di antara mereka.


“Ok …” sahut Alvaro sembari menginjak pedal gas.


“Aku tidak mengira kau juga ada di sana, Alvaro. Terakhir kali kita bertemu aku sudah bilang akan menemuinya dan berbicara dengannya. Kabar baiknya, dia setuju untuk-”


“Tapi aku tidak setuju!” potong Alvaro tegas menimbulkan kernyitan di dahi Olvee.


“Kenapa?” tanya Olvee heran.


“Dia bilang selama kau bersama dengannya dia ingin menggodamu untuk merebutmu dariku, Vee. Lebih baik aku mengurungmu di sini daripada dia menggodamu saat aku tidak ada atau Papa menjodohkanmu lagi dengan orang lain.” Perkataan Alvaro membuat Olvee berkedip beberapa kali.


“Kau sudah ada di sana saat aku berbicara dengan Verald?” Alvaro diam tidak menjawab.


“Jadi, kau mendengarkan semua pembicaraan kami?” tanya Olvee kembali yang tidak mendapatkan respon dari Alvaro.


Olvee tak lama tersenyum menggoda Alvaro yang tetap bungkam. Ia mendekat pada wajah Alvaro dan menarik tengkuknya untuk membuatnya menatap ke arahnya.


“Jangan bilang kau cemburu hanya dengan pembicaraan yang belum tentu akan terjadi apa-apa itu?” Olvee semakin gencar menggoda Alvaro.


Alvaro menatap intens pada manik mata Olvee yang menatapnya cerah. Ia balas melingkarkan tangannya di sekitar pinggang Olvee untuk membuatnya menarik mendekat padanya.


“Siapa yang tau apa yang akan terjadi?” tanya Alvaro pelan menatap Olvee dengan mata lembut yang membuat Olvee meleleh.


“Kau dan Jihan tidak terjadi apapun, begitu juga denganku dan Verald. Tidakkah kau mempercayaiku?” tanya balik Olvee.


“Aku mempercayaimu, tapi yang tidak aku percayai adalah pria itu.” Alvaro berkata tajam.


Tangan Olvee bergerak dari tengkuk ke rahangnya Alvaro. Mengelusnya lembut sambil tersenyum manis.


“Aku sudah membuat keputusan bahwa aku akan memilihmu dan bersama denganmu. Itu karena aku mencintaimu,” ungkap Olvee.


“Aku tahu, dan aku juga mencintaimu.” Itu adalah ungkapan hati Alvaro yang tulus padanya, tapi selalu berhasil membuat perut Olvee merasa kegelian seperti ada sesuatu yang berterbangan di dalamnya.


Olvee semakin dekat padanya dan menarik lembut wajah Alvaro padanya. Sambil memiringkan kepalanya, ia kembali mempertemukan bibirnya dengan bibir Alvaro. Kali ini ia bertindak lebih agresif dari biasanya entah dorongan dari mana. Namun tampaknya, Alvaro sama sekali tidak keberatan dan justru menikmati setiap tingkah Olvee padanya.


“ ... Alvaro!” seru Olvee terkejut karena Alvaro yang tiba-tiba saja mendorongnya hingga ia jatuh terlentang di bawahnya.


Alvaro melepaskan jas yang masih melekat lengkap di tubuhnya beserta dasi dan kemejanya. Olvee menatap dalam diam dari bawahnya dengan tatapan penuh gairah tubuh atletis nan indah milik Alvaro. Tangannya tanpa sadar menyentuh salah satu abs di perutnya.


“Are you ok?” Pertanyaan Alvaro membuat Olvee menyerngit dan mengalihkan tatapan kembali pada sepasang netra itu yang menatapnya khawatir.


Tak biasanya sebelum mereka akan melakukannya, ia bertanya hal tersebut padanya. Tidak mungkin Alvaro mencurigai hal yang sama dengan dirinya sejak ia muntah di depannya, kan?


Olvee bangun dan duduk berhadapan dengan Alvaro, menatap sebentar dirinya. Tangannya bergerak membuka kancing kemeja yang ia gunakan kemudian menanggalkannya. Bergantian dengan celana yang ia gunakan hingga menyisakan pakaian dalamnya saja berwarna hitam yang kontras dengan kulit putihnya.


“Aku lebih dari ingin sekarang,” ucap Olvee seraya duduk dipangkuan Alvaro sengaja memancingnya.


“Vee, kau belajar menjadi nakal dari mana?” tanya Alvaro menatap dengan netra tajamnya tepat pada manik mata Olvee yang kini menatapnya nakal.


“Seorang pria manis yang dulu selalu mengikutiku kemanapun,” jawab Olvee sembari menyentuh sensual dada Alvaro.


***


“Vee … ” Alvaro menggedor pintu kamar mandi yang baru dimasuki Olvee.


“Olvee … ” Sekali lagi ia menggedornya dan memanggilnya dengan lantang karena tidak mendapati jawaban.


“Olvee!” Alvaro mulai khawatir.


“Apa?! Aku sedang di dalam, Alvaro!” jawab Olvee akhirnya dengan nada yang sedikit kesal.


“Santai, Vee. Aku hanya khawatir." Alvaro sedikit lega mendengar suara Olvee dan menimpali dengan sedikit tawanya.


Alvaro memutuskan untuk menunggunya di depan kamar mandi, tapi ia sama sekali tidak mendengar suara aktivitas apapun dari dalam kamar mandi yang membuat ia khawatir kembali. Ia mencoba mengetuknya lagi dan memanggil namanya.


“Vee!” panggilnya.


“Iya, sebentar lagi! Cerewet!” balas Olvee jengkel.


“Kau baik-baik saja di dalam, kan? Ada apa?" tanya Alvaro.


“Aku akan keluar sebentar lagi!” ucap Olvee kembali tanpa menjawab Alvaro.


Tidak ada suara apapun lagi dari Alvaro setelah Olvee menjawabnya. Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka dan Alvaro langsung menggendong tubuh Olvee.


“Aahh … ! Alvaro!” teriak Olvee terkejut seraya memukul dada Alvaro karena tiba-tiba saja ia menggendongnya.


“Hei, hei, berhenti!” Olvee tertawa dan semakin brutal memukuli Alvaro, setelah ia diturunkan di atas kasur dan perutnya menerima serangan gelitik dari Alvaro.


Merasa puas, Alvaro akhirnya berhenti menggelitiki Olvee. Ia menatap dengan senyum jahil di bibirnya pada Olvee yang berada di bawah kukungan tubuhnya. Begitu pun dengan Olvee yang baru saja menghentikan tawanya dan masih belum menghilangkan senyumnya.


Tatapan bergairah itu kembali menatap Olvee. Sebelum Olvee sempat menolak, Alvaro lebih dulu kembali menciumnya lama dan panjang. Tangannya bergerak masuk dengan lincah ke dalam kemeja yang digunakan Olvee. Ia bisa dengan bebas langsung menyentuh apa yang diinginkannya.


“A-alvaro … ” Suara Olvee yang berusaha menghentikan Alvaro justru menyerupai suara ******* yang membuat Alvaro semakin bersemangat.


“Alvaro!” seru Olvee susah payah yang akhirnya berhasil membuat pria itu berhenti dengan aktivitas mereka.


“Maaf,” ucap Alvaro menatap dengan tatapan penuh penyesalan. Kepalanya lantas berbaring di atas dada Olvee sambil memeluk tubuhnya erat.


Olvee tidak berkata lagi dan membiarkan Alvaro memeluknya, merendam gairahnya yang kembali bangkit. Ia diam-diam menghembuskan napas lega karena berhasil menghentikan Alvaro.


“Ada apa, Vee?” Alvaro bertanya dengan suara pelan namun dalam pada Olvee yang hanya diam melamun sejak tadi. Mendengar dari nada bicara Alvaro, Olvee tampaknya sudah tidak bisa menyembunyikan ini lagi.


“Apanya yang ada apa?” Olvee bertanya balik masih berpura-pura.


Alvaro mendesah malas kemudian menatap tepat pada manik mata Olvee dengan alis berkerut. “Jangan membuat aku kesal, Vee."


“Ada apa? Pasti terjadi sesuatu di dalam kamar mandi, kan?” tanya Alvaro kembali dengan nada sedikit memaksa.


Olvee ikut menatap lamat-lamat sepasang netra milik Alvaro, bersiap untuk mengatakannya. Ia menelan ludah dan membuka mulutnya, “Aku hamil, Alvaro.”










To be continued