
“Bukankah mereka terlihat kembar?” tanya Evan yang menatap tak jauh pada seorang pria bersetelan jas rapi yang mendekat ke arah meja tempat mereka duduk.
“Kupikir kita tidak memerlukan saksi lagi,” timpal Alvaro seraya berdiri dari duduknya bersamaan dengan Evan.
“Tuan Dylan Roxanne, saya Alvaro Marveen.” Alvaro mengulurkan tangannya yang diterima olehnya tanpa ragu. Setelah melepas jabat tangan, sebelum duduk, mata elang nan dingin pria itu menatap Evan dan satu wanita yang datang bersamanya.
“Dia adalah Evan Aristides, sekretaris saya. Sedangkan ini adalah Bi Orkan, pembantu di rumah keluarga utama kami yang akan menjadi saksi.” Alvaro yang mengerti, memperkenalkan mereka.
Evan dan wanita baya bernama Orkan itu menunduk sopan pada pria keluarga Roxanne. Mereka semua duduk kembali, tapi pria di depan Alvaro tampak sangat tidak peduli dengan pertemuan yang sudah susah payah Alvaro buat ini.
“Saya sudah sering mendengar dari berbagai macam orang yang mengatakan jika mereka memiliki saudara perempuan saya. Jadi, cepat berikan bukti atau saksi yang Anda bawa pada saya.” Ia memulai pembicaraan lebih dulu, mengatakan secara tak langsung alasan ekspresi wajahnya yang terlihat malas.
“Saya pernah mendengar jika saudara kembar entah bagaimana memiliki ikatan batin yang kuat, mari kita temui saja langsung saudara perempuan Anda itu. Saya juga memiliki fotonya,” jawab Alvaro yakin sambil membuka ponselnya dan memperlihatkan salah satu foto Olvee.
Dylan mengambil ponselnya dan menatap foto Olvee lama. Entah apa yang dipikirkan olehnya, tapi Alvaro merasa ini adalah sesuatu yang positif.
“Saya tidak tahu bagaimana hubungan keluarga Roxanne dan Marveen tidak begitu baik, menurut apa yang dikatakan kakek dan nenek saya. Saya juga mendengar cerita ini dari mereka yang mendengarnya dari seseorang yang melihat kejadian itu langsung. Bibi Orkan sudah mengabdi di keluarga kami sejak ia masih muda, dan dia sendiri melihat jika orang tua Olvee sendiri yang membuang Olvee di jalanan. Karena itulah ia dan adiknya tadinya berniat membesarkan Olvee, tapi ayah saya mencegahnya dan mengambil Olvee.” Alvaro menjelaskan dan mendapatkan tatapan yang cukup tajam dari Dylan. Ia memberikan kembali ponsel Alvaro.
“Maaf jika perkataan saya menyinggung Anda atau keluarga Anda, tapi saya mendengar sesuai dengan apa yang dikatakan oleh saksi yang saya bawa. Bi Orkan boleh berbicara,” ujar Alvaro mempersilahkan.
“Apa ini orang yang Bibi lihat?” tanya Alvaro kemudian memperlihatkan foto sepasang suami dan istri yang wajahnya cukup sering muncul di majalah dan berita semasa mereka hidup. Itu adalah kedua orang tua Olvee, Tuan dan Nyonya Roxanne.
Orkan mengangguk, “Iya, itu adalah orang yang saya juga lihat membuang Nona Vee di malam itu. Saya tidak tahu jika mereka orang yang cukup penting. Yang saya pikir hanya saya merasa iba pada Nona Vee yang masih bayi menangis di pinggir jalan.”
“Saya berniat membawanya dan membesarkannya bersama adik saya, tapi Tuan Zahir melihat itu dan mengambil alih Nona Olvee. Beliau juga mengatakan saya harus tutup mulut tentang semuanya,” lanjutnya bercerita.
“Sudah banyak juga cerita yang saya dengar ini dari mulut berbagai orang,” ucap Dylan terdengar ketus.
“Kalau begitu, saya hanya bisa mengandalkan ikatan Anda dengannya. Anda bisa bertemu dengannya bersama saya.” Tak kehabisan akal, Alvaro kembali mencoba meyakinkan Dylan.
“Kenapa dia tidak ikut bersama denganmu kemari?” tanya Dylan.
“Sekarang ayah saya melarang saya bertemu dengan Olvee, jika saya ketahuan berniat membawa Olvee untuk bertemu dengan keluarganya, ia akan menolaknya keras. Ia orang yang paling tidak ingin Olvee bertemu kembali dengan keluarganya.” Evan sedikit terkejut mendengar pengakuan Alvaro yang tidak mereka bicarakan sebelumnya. Sepertinya ia sudah kehabisan ide untuk membuat Dylan percaya hingga nekad berbohong. Meski tidak sepenuhnya berbohong juga.
“Jika Anda masih tidak percaya, Anda bisa melakukan tes DNA dengannya,” tambah Alvaro.
Dylan masih belum mengeluarkan suaranya untuk memberikan tanggapan atas semua yang dikatakan Alvaro. Membuat Alvaro menunggu harap-harap cemas setelah mempertaruhkan segalanya. Sikap dingin dan kesan sadis dari diri Dylan membuat Alvaro mau tak mau sedikit segan sepanjang mereka berbicara.
“Apa kau pernah mendengar rumor bahwa aku adalah orang yang membunuh kedua orang tuaku sendiri?” Dylan tiba-tiba mengubah nada suaranya dan cara bicaranya pada Alvaro sambil menatapnya dengan tatapan intimidasi bengis.
“Itu tak lebih hanya rumor,” jawab Alvaro.
“Sayangnya rumor itu benar, aku memang adalah pembunuh kedua orang tuaku.” Dylan menjawab tenang tak mengubah nada bicaranya meski apa yang dikatakannya.
“Tapi, kedua orang tuaku pantas mendapatkannya. Mereka lebih busuk dari yang didengar rumor-rumor, begitu juga dengan keluarga kami. Ketika aku mendengar kebenaran bahwa kedua orang tuaku yang hanya terobsesi dengan anak laki-laki, membuang saudara perempuanku dengan sengaja, aku menggila. Aku merencanakan pengambilalihan perusahaan keluargaku untuk bisa menutupi jejakku nantinya yang berniat membunuh kedua orang tuaku.” Dylan membicarakan ini seolah itu bukan apa-apa dan terdengar seperti kebenaran.
“Apa kau percaya ini?” tanya Dylan kemudian tak lama.
Pertanyaan ini terasa seperti sebuah jawaban yang akan menjadi keputusan Dylan akan mempercayainya atau tidak. Dari bagaimana cara berbicara, itu terdengar meyakinkan. Namun, orang sejenis Dylan tidak mudah untuk dipercayai perkataannya. Di saat seperti ini, Alvaro mensyukuri pelajaran yang diberikan Zahir padanya.
“Kalau kau yang mengatakannya, aku akan mempercayainya. Keluargaku yang baik di permukaanpun, tidak selalu bagus di dalamnya.” Alvaro memberikan jawabannya.
“Aku tidak peduli dengan jawabanmu sebenarnya,” ucap Dylan.
“Ini hanya sebuah peringatan untukmu. Kalau sampai semua ucapanmu tidak terbukti atau salah, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu seperti aku membunuh kedua orang tuaku.” Dylan berkata dingin.
“Bukankah dia terlihat seperti psikopat? Apa dia benar-benar kakak Kak Vee?” bisik Evan yang sejak tadi ingin berbicara hal itu padanya.
"Diam!" balas Alvaro ikut berbisik.
"Aku tidak suka membuang-buang waktuku, ayo pergi dan selesaikan ini sekarang." Dylan mengabaikan pembicaraan mereka dan berdiri dari duduknya.
"Yea, sure." Alvaro ikut berdiri dan mengikuti Dylan.
Bayaran dari semua yang ia katakan adalah nyawanya sendiri. Setelah berinteraksi dengannya tadi, ia yakin satu hal, bahwa Dylan sepertinya memang benar memiliki sisi psikopat. Namun, mendengar kedua orang tua dan keluarga Olvee yang cukup busuk, ia rasa wajar Dylan memiliki sisi tersebut.
"Ngomong-ngomong, Vee sedang hamil." Alvaro memberikan informasi lain.
"Aku masih belum mempercayai jika dia adalah saudaraku, tidak perlu mengatakannya karena aku tidak peduli."
To be continued