
“Apa Jihan masih ada di pikiranmu?” Pertanyaan Alvaro membuat Olvee tersentak.
“Ha-hah? Kenapa Jihan harus ada di pikiranku?” Olvee mulai gelagapan.
“Vee … ” Nada bicara Alvaro berubah ketika memanggil namanya yang membuat Olvee sedikit kaget bercampur takut. Entah bagaimana rasanya, ia merasa harus mengikuti apa yang dikatakan oleh Alvaro ketika mendengar nada dingin itu.
“Apa yang kau bicarakan tadi dengan Jihan?” Akhirnya pertanyaan yang selama ini mengganjal di hati Olvee dikeluarkannya.
“Kami hanya berbicara satu dan dua hal formalitas untuk menunjukkan hubungan kami," jawab Alvaro berbohong pada Olvee.
“Aku mengetahui semuanya, Alvaro. Kau dan Jihan bekerja sama, kan?” Alvaro cukup terkejut, mendengar apa yang dikatakan oleh Olvee.
“Aku melihat sekilas bagaimana ekspresi wajah Jihan saat keluar dari ruanganmu tadi. Dia terlihat sangat sedih. Apa kau sudah memutuskan hubunganmu dengannya?” tanya Olvee kembali yang diharapkan olehnya, mendapatkan jawaban jujur dari Alvaro.
“Itu benar." Avaro tidak berniat lagi untuk berbohong pada Ovee karena merasa tidak ada gunanya juga ia berbohong jika Olvee sudah mengetahuinya.
“Apa lagi yang dia katakan selain hal itu, Vee?” tanya Alvaro.
Olvee sedikit ragu untuk mengatakan semuanya pada Alvaro. Dengan ia mengatakannya, ia juga harus menanggung malu karena ketahuan menjilat ludahnya sendiri dan menjadi orang termunafik di dunia ini. Namun, ia juga sepertinya tidak memiliki pilihan lain selain menjawab semuanya.
“Kau tau, aku dulu memang belum menyadari aku menyukaimu, Alvaro.” Olvee memulai pembicaraan ini yang didengarkan dengan seksama oleh Alvaro.
“Jadi, sore itu, Jihan mendatangiku dan mengatakan semuanya. Dia juga mengatakan tidak akan menyerah atasmu dan mengatakan padaku untuk tidak menerimamu. Tentu saja aku dengan percaya diri mengatakan tidak akan melakukan apa yang dipikirkannya. Aku tidak terlalu menghiraukannya sampai aku menceritakan semuanya pada Zara mengenai sedikit keresahanku. Akhirnya aku menyadari jika aku menyukaimu.” Alvaro masih mendengarkan cerita berbelit-belit dari Olvee.
“Selain karena aku merasa bersalah padanya karena merebutmu darinya, aku juga sudah mengingkari ucapanku sendiri dengan tidak melakukan apa yang ada di pikirannya. Betapa aku tidak tahu malunya saat itu. Aku adalah wanita termunafik bukan?” tanya Olvee setelah mengakhiri penjelasannya.
“Jadi, saat sore itulah kau sudah mulai menyadari jika kau memiliki perasaan untukku?” gumam Alvaro dengan senyum di bibirnya.
“Alvaro! Kau mendengarku sejak tadi atau tidak?” Wajah Olvee yang semula gugup karena malu, kali ini terlihat jengkel dengan respon Alvaro yang terlihat sama sekali tidak mendengarkannya.
“Y-ya, aku mendengarnya, kok. Sebenarnya, kau tidak merebut aku dari siapapun karena sejak awal aku sudah menjadi milikmu, Vee. Masalah terakhir, aku rasa kau bukan wanita munafik. Kau baru menyadarinya setelah pembicaraanmu dengan Jihan yang cukup mengganggumu. Dan kau menyadarinya setelah bertemu dengan Zara. Itu bukan berarti munafik, Vee.”
“Jadi, jangan merasa bersalah pada Jihan. Ia juga memanfaatkan kesempatan yang aku berikan padanya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi." Alvaro semakin menarik Olvee ke dalam dekapannya.
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan bagaimana maksudmu?!” kesal Olvee yang lagi-lagi mencubit perut Alvaro dibalik kaos santai yang ia gunakan.
Apapun perkataan yang dikatakan oleh Alvaro yang dikemas dengan baik, tidak mengubah keputusan mereka berdua yang sudah menyakiti Jihan. Meski Alvaro mengatakan jika dirinya bukanlah wanita munafik, ia tetap merasa demikian. Olvee menjadi semakin merasa bersalah pada wanita itu yang mencintai Alvaro dengan tulus.
“Aku berharap kau berbicara sekali lagi pada Jihan untuk mengakhirinya dengan baik dan minta maaflah padanya, Alvaro. Selain itu, ia pasti sudah mengetahui mengenai kita. Sebaiknya kau berbicara juga padanya untuk merahasiakan ini sementara.” Olvee berkata demikian dengan harapan Alvaro bisa mengerti dengan yang ia maksud.
“Aku mengerti, kami sudah berpisah secara baik-baik dan mengatakan padanya untuk merahasiakan hal ini," ucap Alvaro ringan.
‘Dengan sedikit mengancamnya,' lanjutnya dalam batin.
"Ia gadis cerdas yang mengetahui apa yang harus ia lakukan. Jangan khawatir padanya lagi.” Meskipun Alvaro mengatakan untuk tidak khawatir pada Olvee, ia tetap tidak bisa menurunkan pandangannya pada Jihan.
"Lalu bagaimana dengan orang tua kita?" Sekali lagi Olvee menunjukkan ekspresi wajah kecemasannya pada Alvaro.
“Aku tinggal mengatakan jika kami tidak cocok dan memilih tidak melanjutkan hubungan. Itu selesai, kan?” Alvaro berkata dengan mudahnya.
“Bukan itu yang aku maksud. Tidak perlu mengatakannya, kau sudah pasti mengerti dengan apa yang aku maksud.” Alvaro tidak menjawab dalam waktu dekat ketika pembicaraan ini kembali mereka bicarakan.
“Tentu saja aku sudah merencanakannya, Vee … Kau tunggu dan jalani saja bersama denganku tanpa mengkhawatirkan apapun. Kita pasti akan bersama dengan nyaman. Akan kupastikan itu.” Alvaro lagi-lagi menghindari topik pembicaraan ini dan memilih mengubah posisi tubuhnya menjadi berbaring sambil menarik Olvee.
Otomatis, Olvee pun ikut masuk ke dalam dekapan hangat Alvaro sambil berbaring. Sudah beberapa hari yang dikatakan Alvaro mengenai hal ini hanyalah jawaban seperti itu. Ia selalu menghindari topik pembicaraan dengan tertidur. Ia juga tidak bisa berbuat banyak lagi karena merasa Alvaro mungkin benar-benar sudah merencanakan sesuatu mengenai hubungan mereka. Jika pun tidak, itu lebih baik karena Alvaro sudah dipastikan tidak terlalu serius dengannya. Yang berarti, cepat atau lambat, semua kegilaan ini akan berakhir.
Olvee mulai menikmati kenyamanan yang diberikan oleh Alvaro. Meresapinya sebelum ia dan Alvaro menjadi keluarga yang canggung dan tidak bisa bertingkah laku sedekat sekarang atau bahkan ketika mereka di masa lalu.
‘Jangan khawatir, Vee. Aku akan membuktikan bahwa kau bukan putri kandung mereka pada Mama dan Papa supaya aku bisa menikahimu.’
“Sayang … Jihan … ” Kedua orang tua dari gadis itu terus mengetuk pintu sejak tadi untuk memeriksa keadaan putrinya yang baru saja kembali dari kantor Alvaro dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
“Bicaralah, Nak. Ada apa denganmu dan Nak Alvaro?” tanya sang ayah masih sambil mengetuk pintu kamarnya.
Di dalam kamarnya yang gelap, Jihan meringkuk di sudut kamar. Menangis dalam diam seorang diri sambil terus mendengarkan kalimat perpisahan yang dikatakan Alvaro padanya dan hubungannya dengan Olvee. Kakaknya kandungnya sendiri.
“Ini seharusnya tidak mungkin.”
“Ini salah.”
“Mereka salah.”
Itu adalah gumaman-gumaman yang diucapkan oleh Jihan sejak tadi di tengah air matanya yang terus menetes keluar. Meski air matanya keluar, ekspresi wajahnya dengan jelas menunjukkan seolah ia tengah berpikir. Bukan kesedihan, kekecewaan, atau kemarahan. Tetapi raut wajah seseorang yang tengah berpikir.
“Nak, apa kau ada masalah dengan Alvaro? Biar Mama yang akan berbicara dengan keluarganya.” Kali ini giliran ibunya yang berbicara.
Tiba-tiba saja pintu yang sejak tadi diketuk itu terbuka dari dalam. Menampakkan sosok Jihan yang berpenampilan berantakan, dengan jelas menunjukkan jika ia memang tidak baik-baik saja.
“Nak, ada apa? Katakan sesuatu. Jika kau dan Alvaro ada masalah, kami akan membicarakannya dengan kedua orang tua Alvaro untuk hubungan perjodohan kalian.” Ayahnya berkata dengan nada kekhawatiran yang sama khawatirnya dengan ekspresi wajah yang ia miliki.
“Tidak, maksudku, aku dan Alvaro memang memiliki sedikit kesalahapahaman, tetapi kami pasti bisa mengatasinya. Kalian tidak perlu khawatir atau berbicara pada kedua orang tuanya.” Jihan menjawab dengan senyum di bibirnya. Ia sangat sempurna menyembunyikan sesuatu dari kedua orang tuanya.
To be continued