(Not) Mistake

(Not) Mistake
Bab 50 : The Ending



10 hari sudah berlalu sejak hari dimana Zahir datang dan meminta maaf pada kedua orang tuanya. Ya, 10 berlalu dan tepat hari ini adalah hari pernikahan Olvee dan Alvaro. Setelah melewati banyak lika liku rintangan untuk sampai di hari ini, Alvaro masih belum cukup puas karena tanggal yang diajukan cukup lama. Alasannya adalah karena Olvee tengah mengandung anaknya dan jika di tanggal ini mereka menikah, itu akan memperlihatkan perut Olvee yang sudah cukup membesar. Olvee masih mengingat jelas pembicaraan ringan ini yang menjadi perdebatan satu bulan lalu.


“Kalian menikahlah saat Vee sudah melahirkan,” ujar Dylan kala itu.


“Tidak!” tolak Alvaro tegas.


“Kau akan menikahkan Vee dengan pria lain begitu ia melahirkan anakku, kan?” tanya Alvaro menuduh.


Dylan memutar bola matanya malas, ekspresi wajahnya menunjukkan tidak menyangkal, tapi mulutnya berkata lain. “Mana ada,” ujarnya.


“Aku dan Vee sebaiknya menikah satu minggu lagi,” usul Alvaro yang mendapatkan pelototan dari Dylan.


“Alvaro, kurasa satu minggu itu terlalu cepat. Meski acara tidak akan diadakan secara megah dan mewah, tetap membutuhkan waktu, kan?” Olvee angkat bicara menengahi pembicaraan.


“Vee, aku dan kakakmu memiliki banyak sekali uang ditambah aku akan segera memegang perusahaan utama keluarga Marveen. Membuat acara seperti itu bukan masalah, itu hanya sepotong kue!” sahut Alvaro.


“Tidak, aku menolak! Itu terlalu cepat.” Dylan bersikeras menolak.


“Dua bulan lagi,” lanjutnya mengusulkan.


“Perut Vee saat itu akan membesar dan bisa jadi bahan pembicaraan oleh orang-orang sampah!” tolak Alvaro kembali.


“Sudah kukatakan kalian menikah saja setelah Vee melahirkan,” ujar Dylan mengulangi pilihannya.


“Itu terlalu lama-”


“Hentikan, aku akan memilih menikah dalam waktu satu bulan dari sekarang!” potong Olvee kesal pada mereka berdua yang berdebat seolah mereka yang akan menikah.


“Aku akan setuju dengan pendapat Vee,” dukung Dylan.


“Vee, apa kau tidak berpikir itu akan mengubah penampilanmu dan terlihat mencurigakan?” tanya Alvaro.


Olvee menggeleng. “Tidak, aku pasti akan baik-baik saja meski begitu. Kenapa kamu ingin cepa-cepat menikah denganku saat penampilanku seperti ini? Apa kau keberatan dengan penampilanku saat perutku membesar nanti?” tanya Olvee penuh curiga.


“Dia pasti malu, Vee.” Dylan semakin mengompori Olvee.


“Tentu tidak, MyLove. Kau akan selalu cantik dan sexy di mataku. Aku hanya takut tentang mulut orang-orang yang tidak bisa aku kendalikan.” Olvee memerah sedangkan Dylan menatapnya kesal sambil menyembunyikan adiknya di sampingnya agar tidak dijangkau oleh wajah mesum Alvaro.


Begitulah pembicaraan mereka di hari itu. Setelah hari itu, mereka berdua begitu giat dan sibuk untuk mempersiapkan pernikahan dirinya dan Alvaro. Namun, tetap Olvee berkontribusi walau hanya sedikit, tentang pendapat apapun yang akan diterapkan di acara pernikahan. Mereka mengirim gambar dan menanyakan pendapatnya, tidak membiarkan Olvee keluar rumah barang sedikitpun. Memilih dan mencoba gaun pun dilakukan di rumah karena desainer sendiri diundang oleh Dylan. Katanya, kehamilan pertama itu rentan.


Olvee mengatakan untuk melakukannya secara sederhana saja, tapi mereka memberikan yang terbaik di antara yang terbaik dalam berbagai hal di segala pernikahan ini. Beberapa kali Olvee berdecak kagum sampai saat ini begitu ia tiba di ruang tunggu yang mana masih satu gedung dengan tempat pernikahannya digelar. Dirinya mengatakan jika 3 bulan, perutnya pasti masih datar dan belum terlihat. Namun, nyatanya gaun yang kini ia gunakan cukup sempit juga bagi perutnya. Ia sudah melihat ukuran perut kehamilan 3 bulan, tapi ia pikir tidak sebesar miliknya. Olvee berusaha untuk makan sesedikit mungkin agar gaunnya tidak terlalu mengambil napasnya.


“Hei, Sister. Ini hari bahagiamu, kenapa wajahmu seperti ini, hm?” Tiba-tiba Dylan masuk ke dalam ruang tunggu yang ia tempati seorang diri.


“Aku baik-baik saja, Kak. Aku hanya bernostalgia dan terlalu bahagia. Saking bahagianya, aku bingung harus berekspresi seperti apa lagi,” ujar Olvee sambil tertawa.


“Seperti itu… Tertawa dan tersenyumlah. Kau hanya boleh berekspresi seperti itu,” jawab Dylan ikut tersenyum pada Olvee.


“Aku baru saja menemukan dan bersama denganmu selama kurang lebih 2 bulan lamanya, tapi kau sudah akan pergi. Alvaro sialan itu mengambilmu dariku lagi.” Dylan tak kuasa menahan air mata bahagianya. Di matanya, Alvaro adalah seorang pencuri.


“Aku berjanji akan sangat sangat sering menelponmu dan mengunjungimu,” ucap Olvee menenangkan Dylan.


“Tidak, kau sedang hamil dan akan memiliki anak yang lucu yang harus kau urus. Aku yang akan mengunjungimu sesering mungkin,” timpal Dylan menggelengkan kepalanya.


“Baiklah… Ngomong-ngomong, apa ini sudah saatnya kita pergi?” tanya Olvee.


“Itu benar, tapi ada seseorang yang ingin berbicara denganmu dulu.” Saat itu juga seseorang yang dikatakan Dylan masuk ke dalam ruang tunggu.


“Papa …” panggil Olvee lirih pada pria setengah baya tersebut.


“Aku akan menemuimu setelah kau selesai berbicara dengannya. Jangan terburu-buru, semuanya ada dalam kendalimu.” Dylan berkata sebelum ia keluar dari ruangan meninggalkan dua orang yang masih memiliki sesuatu untuk dikatakan.


Selama satu bulan ia menunggu, menunggu orang itu datang menemuinya. Atau ia yang datang menemuinya jika bisa. Intinya Olvee menunggu waktu mereka bertemu, untuk berbicara dan melepas rindu terlepas dari semua yang dilakukan olehnya. Olvee masih begitu menyayanginya dan menghormatinya karena menganggapnya sebagai sosok ayah yang mengisi sepanjang hidupnya. Ia mendapatkan kasih sayang kedua orang tua darinya yang dengan berani memungutnya dan membesarkannya, meski resiko besar sekalipun.


“Papa …” panggil Olvee sekali lagi yang membuat Zahir mendekat padanya.


“Jangan menangis, Vee. Riasanmu akan luntur. Kau harus menjadi yang tercantik di antara semua wanita hari ini,” ujar Zahir sambil menghapus air mata di wajah putrinya dengan lembut.


“Apa itu penting sekarang?” tanya Olvee menaikkan nada suaranya seraya menghambur ke dalam pelukan sang ayah.


“Aku sangat cemas dan berharap padamu untuk datang di hari bahagiaku ini bahkan meski sekedar iba padaku,” ujar Olvee yang tak kuasa menahan sesegukan tangisnya.


“Maafkan Papa, Nak.” Zahir mengelus punggungnya sesekali menciumi puncak kepalanya untuk menyalurkan kehangatan sekaligus menenangkannya.


“Maafkan Papa yang membuatmu menunggu, maafkan Papa yang baru berani menemuimu hari ini, Maafkan Papa karena tidak bisa menjadi ayah yang baik, maafkan atas semua yang sudah Papa lakukan padamu, Nak. Papa menyayangimu.” Zahir pun tak kuasa menahan tangisnya kala ia mengatakan semua maaf dan kalimat cintanya.


“Lupakan semua itu, Pa. Aku juga sudah memaafkanmu dan tetap menyayangimu,” balas Olvee seraya melepas pelukan mereka.


“Maafkan Papa, Vee.” Olvee cemberut ketika ayahnya mengatakan itu lagi.


“Pa!” seru Olvee.


“Maaf karena merusak semua riasanmu, Sayang.” Olvee menyadari saat menoleh ke arah cermin dan mendapati semua riasan dan hiasan di rambutnya berantakan.


“Papa akan memanggilkan-”


“Pa …” Olvee mencegahnya.


“Lalu bagaimana dengan Dylan?” tanya Zahir yang tak mendapatkan jawaban dari Olvee.


“Dylan adalah kakak kandungmu, keluargamu, Vee. Hanya dia yang berhak mendapatkan kehormatan mengantarmu sampai ke Alvaro.” Olvee terdiam mendengar perkataan Zahir.


“Jangan seperti itu, Papa tetap akan menjadi Papamu dan mendoakan kebahagiaan untukmu meski tidak mengantarmu sampai ke altar pernikahan.” Zahir kembali menenangkan Olvee lantas keluar dari ruangan.


Tak lama datang penata rias bersama timnya yang tadi merias wajah Olvee. Ia mulai melakukan pekerjaannya hingga ia kembali cantik seperti semula sampai dirinya sendiri tidak bisa mengenali dirinya sendiri. Sampai saat ia selesai, Dylan tak kunjung datang.


Di tengah ia menunggu, seseorang membuka pintu membuat ia mendongak menatapnya. Itu adalah Zahir. Ia kembali masuk dan kali ini sambil mengulurkan tangannya dengan senyum di wajahnya.


“Pa?” panggil Olvee bingung.


“Papa akan mengantarmu sampai ke depan ruangan dan kakakmu yang akan mengantarmu sampai ke altar pernikahan dimana Alvaro sudah menunggu di sana.” Senyum Olvee akhirnya terbit begitu mendengar perkataan tersebut.


“Papa sangat tenang mengetahui kakakmu sangat memperlakukanmu dengan baik dan menyayangimu,” ujar Zahir.


“Ayo,” ajak Zahir yang diangguki Olvee.


Pasti Dylan mendengar pembicaraan mereka tadi dan melakukan hal ini. Ia tidak bisa tidak menyayangi kakaknya itu karena sifat lembutnya dalam memperlakukan dirinya. Ketika di lorong, ia melihat Dylan sudah menunggunya di depan pintu yang terbuka lebar. Dari jarak ini, ia bisa mendengar bisikan-bisikan dari para tamu. Itu pasti karena Dylan berdiri seorang diri tanpa mempelai wanita.


Ketika Dylan menoleh padanya dan pandangan mereka bertemu, netra dan ekspresi dingin itu seolah lenyap dan berganti menjadi senyum hangat yang ditunjukkan padanya. Ia mengulurkan tangannya dengan kedua bola matanya yang bergetar. Olvee yakin jika Dylan sejak tadi menahan kegugupannya dan rasa haru penuh kebahagiaan yang bercampur keengganan.


“Papa akan menyerahkan semuanya pada Dylan.” Perkataan Zahir entah mengapa memiliki makna yang cukup besar bagi Olvee.


Para tamu yang melihat Olvee datang bersama ayahnya, bukan bersama Dylan, mulai berbisik. Hal itu membuat Olvee sedikit gugup dan menunduk.


“Mahkotamu akan jatuh jika menunduk seperti itu, Vee. Mari berjalan dengan anggun dan penuh percaya diri karena kau adalah seorang ratu,” bisik Dylan yang membuat rasa percaya diri Olvee kembali tumbuh.


“Ayo,” ajak Dylan yang diikuti Olvee.


Mereka berjalan menelusuri karpet merah panjang yang mengarah pada Alvaro yang telah berdiri menunggunya di depan altar. Ini pertama kalinya Olvee melihat Alvaro dalam balutan tuxedo putih yang membuat Olvee semakin terpesona dan jatuh hati pada Alvaro. Tidak hanya Olvee, tidak berbeda jauh darinya, Alvaro begitu terkejut dan tidak bisa mengendalikan degup jantungnya yang menggila ketika melihat Olvee. Rasanya Alvaro ingin membawa Olvee menjauh dari orang-orang agar dirinya yang hanya bisa menikmati kecantikan Olvee seorang.


“Control yourself, especially your ****, Jerk!” Perkataan pelan dari Dylan yang sudah ada di depannya membuyarkan lamunan Alvaro.


“Shut up, Brother!” balas Alvaro tak kalah pelan.


Olvee hanya mendengarkan mereka dengan senyum di wajahnya yang memerah. Alvaro di saat seperti ini tidak bisa mengendalikan hasratnya. Apakah penampilan dirinya sekarang begitu menggairahkan pria itu? Begitu mesum!


Alvaro sedikit menarik tangan Olvee ketika Dylan melepasnya dengan enggan. Berkat tatapan tajam Alvaro dan tatapan permohonan Olvee, Dylan akhirnya melepas tangan Olvee dengan berat hati dan bergabung bersama tamu lainnya.


“Hari ini sepertinya aku menikahi seorang dewi. Kau sangat indah, My Love,” bisik Alvaro.


“You too, Honey.” Panggilan Olvee yang tidak biasanya membuat Alvaro memerah dan segera menoleh ke depan.


Setelah pendeta memimpin upacara sakral ini untuk membuat Alvaro dan Olvee mengikrarkan janji suci mereka diikuti dengan memasangkan cincin di jari satu sama lain, upacara selesai dengan mengumumkan keduanya sebagai pasangan suami istri. Suara tepuk tangan dari tamu pun terdengar dengan riuh.


“Silahkan melakukan ciuman sumpah,” ucapnya.


Alvaro dan Olvee menatap satu sama lain dengan tatapan penuh cinta. Terlihat jelas dari pancaran ekspresi keduanya yang begitu bahagia, melihat senyum mereka sekilas saja. Alvaro mendekat dengan tangan yang mulai menggapai pipinya sedang tangan satunya menarik pinggangnya. Olvee yakin jika ini tidak akan menjadi ciuman yang singkat.


“Aku menikahi adikku sendiri, sulit dipercaya,” ucap Olvee sebelum bibir Alvaro menyentuh bibirnya.


“Aku sekarang suamimu dan kekasihmu sebelumnya,” balas Alvaro.


“Jangan menyerangku di sini, atau aku tidak akan memberikan malam pertama padamu.” Olvee mewanti-wanti saat bibir Alvaro semakin mendekat.


“Aku tidak berjanji,” balas Alvaro.


“Aku berjanji akan menjadi milikmu semalam penuh, Suamiku.” Perkataan itu membuat Alvaro berhenti saat bibir mereka sudah sedikit bersentuhan.


“Ciuman kalian sudah cukup!” teriak seseorang yang membuat ia menjadi pusat perhatian, termasuk sepasang pengantin.


“Kak Dylan,” ucap Olvee pelan sambil tersenyum padanya karena merasa diselamatkan.


“Kau akan menjadi milikku selamanya, Vee. Bukan hanya malam ini.” Alvaro melanjutkan kegiatannya dan tidak menepati perkataannya yang tidak akan menyerang Olvee di sini.










Good Bye, Everyone! Love you all!