
POV Olvee
Olvee sudah berlari cukup jauh dari rumahnya. Ia kini berjalan dengan kaki telanjang di pinggir jalan raya, persis seperti orang yang tidak waras. Menyebabkan banyak mata yang memandang ke arahnya dengan tatapan aneh dan kasihan. Beberapa berbisik pada teman di sampingnya, membicarakan dirinya. Beberapa yang lain terlihat ragu untuk berniat menolong Olvee, sekedar memberikannya alas kaki.
Olvee tidak terlalu memikirkan orang-orang itu. Yang ia pikirkan adalah jalan menuju ke restoran Zara ternyata cukup jauh dari dugaannya jika ditempuh dengan berjalan kaki. Mobil-mobil berlalu lalang, tak peduli dengan dirinya yang beberapa kali melambaikan tangannya guna meminta tumpangan. Entah mereka takut atau memang tidak peduli. Ingin menaiki kendaraan umum, Olvee sama sekali tidak terpikirkan dari rumahnya sehingga ia sama sekali tidak membawa uang sepeserpun. Bahkan ponsel karena ketakutan lokasinya akan terlacak.
Meski makanan yang siang tadi ia makan cukup banyak, rasa lelah akhirnya mau tak mau menghampiri Olvee. Terutama telapak kakinya yang mulai terasa panas, pegal, sekaligus perih karena menginjak aspal tanpa alas apapun. Belum lagi sejak tadi ia berjalan di panasnya terik matahari membuat tenggorokannya benar-benar kering. Melihat halte bus yang kosong, Olvee berjalan mendekat dan duduk di kursi kosong itu.
Ia menyelonjorkan kakinya sambil memijat-mijat betisnya, berharap rasa pegalnya berkurang. Ia menoleh ke kanan dan kiri jalanan yang masih sama diisi oleh berbagai kendaraan. Panasnya sudah cukup berkurang, memperkirakan jika hari mungkin sudah semakin sore.
Olvee menghela napas lelah dan menyandarkan kepalanya sambil menikmati semilir angin yang menerpa tubuhnya lembut. Berniat untuk istirahat lebih lama dan melanjutkan perjalanan saat matahari benar-benar sudah tidak memanasi jalanan. Namun, karena angin yang membelai tubuhnya sekaligus tempat yang cukup nyaman membuat mata Olvee memberat. Rasa kantuk yang benar-benar datang menyerangnya tak kuasa lagi Olvee tahan.
Ketika membuka kedua matanya, Olvee menoleh ke sekitar. Masih tempat terakhir kali yang ia lihat sebelum kesadarannya hilang. Ia bersyukur karena kedua orang tuanya masih belum menemukan dirinya. Olvee memutuskan untuk berdiri dan melanjutkan perjalanannya, melihat langit sudah gelap. Entah waktu sudah menunjukkan pukul berapa, meski begitu jalanan masih terlihat ramai oleh kendaraan.
“Apa masih sangat jauh? Kurasa ini benar jalan menuju restoran Zara,” gumam Olvee yang mulai merasa kelelahan lagi.
Olvee mengikuti jalan raya yang mana semakin jarang dan sepi dilewati oleh kendaraan. Entah hari yang sudah semakin malam sehingga orang-orang menjadi semakin berkurang. Suasana yang cukup sepi itu membuat Olvee sedikit terintimidasi ketakutan. Apalagi di depan jalannya, ia bisa melihat beberapa pria setengah baya dengan botol minuman kerasnya berkumpul di sisi jalan yang akan ia lewati. Olvee memperhatikan mereka yang sepertinya sudah tidak terlalu sadar.
Olvee yang tadinya berniat untuk menyebrang demi keselamatannya berpikir terlalu positif bahwa itu tidak akan membahayakannya. Para pria pemabuk itu sudah tidak sadar dengan minuman mereka dan jika Olvee hanya lewat begitu saja tidak akan mendapat gangguan berarti. Pikirannya yang terlalu polos membawanya pada sebuah bencana.
Ketika Olvee berjalan melewati mereka, salah satunya berdiri dari posisi berjongkoknya dan menghadang Olvee. Tercium bau alkohol meski dalam jarak ini, membuat Olvee menutup hidungnya. Ia segera berniat mengabaikannya dan berjalan begitu saja. Namun, pria itu mencekal tangannya cukup kuat hingga Olvee kesulitan melepaskannya.
“Tolong lepaskan saya, Tuan.” Olvee berbicara tetap tenang dan secara baik-baik meski tahu jika perkataannya tidak akan diingat nantinya. Berharap ia akan melepaskannya begitu saja.
“Lepas?” tanya pria tersebut kemudian tertawa diikuti oleh teman-temannya. Ia bahkan tidak bisa berdiri dengan seimbang dan menatap dirinya dengan benar.
“Bermainlah bersama kami lebih dulu maka kami akan melepaskanmu,” ucapnya lagi yang membuat teman-temannya yang lain ikut berdiri.
Dari sini Olvee mulai ketakutan. Ia memberontak dari cengkraman pria tersebut sekuat yang ia bisa. Memberontak tidak berhasil, ia menendang pria tersebut tepat di selangkangannya membuat pria itu melepasnya dan memegangi selangkangannya.
“Tolong!” teriak Olvee sembari berlari menjauhi mereka.
Namun, belum jauh ia berlari, pria-pria pemabuk itu terlalu cepat menarik rambutnya sehingga ia terjatuh dan kesakitan sambil memegangi rambutnya. “Dasar wanita sialan!” bentaknya tepat di depan wajah Olvee.
“Tolong!” teriak Olvee sekali lagi tak peduli pada rasa sakitnya dan hanya berharap ada seseorang yang menolongnya.
“Bawa dia!” perintah pria yang tadi ia tendang selangkangannya.
Olvee memberontak sekuat yang ia bisa dari dua pria yang menyeretnya ke sebuah jalanan yang lebih kecil dan sepi. “Siapapun tolong!” Olvee masih berharap ada seseorang yang menolongnya meski jalanan semakin sepi.
“Tolong!” Olvee semakin keras berteriak karena merasa harapannya semakin tipis.
Olvee semakin kuat memberontak dan menggigit tangan dua orang yang memeganginya. Mereka berteriak kesakitan dan mau tak mau melepas Olvee. Di kesempatan itu Olvee lagi-lagi berniat untuk berlari, tapi salah seorang pria yang memegang botol minuman keras memukul bahunya dengan betol yang ia pegang.
Olvee jatuh sambil memegangi bahunya yang terluka mengeluarkan darah serta pecahan beling yang tertancap di sana. Air mata mulai jatuh membasahi wajahnya karena kehilangan harapan sekaligus rasa sakit yang ia rasakan pada bahunya. Bibirnya bergetar karena tangis, tak bisa lagi berteriak.
“Apa yang kalian-”
“Hei!”
Seseorang yang berteriak yang terdengar seperti diarahkan pada mereka, memotong ucapannya. Membuat ia menoleh ke asal suara dan mendapati seorang pria berjalan ke arah segerombol pria yang hendak memperkosa Olvee. Di tengah rasa sakitnya, Olvee berusaha melihat siapa pria yang menyelamatkannya.
Ketika salah satu pria menghampiri pria yang hendak menyelamatkannya itu, pria tersebut menendang kuat pria yang bertubuh lebih besar darinya. Tak sampai di sana, ia mengambil botol alkohol yang tergeletak dan memukulkannya pada pria lain yang berkepala plontos hingga botol tersebut pecah dan menyamai kondisi bahu Olvee.
Rasa sakit di bahunya semakin menjadi membuat kedua matanya lagi-lagi merasakan kantuk seperti saat kesadarannya sebelum direnggut. Olvee terkulai lemas di tanah sambil memperhatikan sayup-sayup bagaimana pria tersebut menghajar para bajingan ini dengan brutal. Ia setidaknya bisa tenang dan sangat bersyukur karena ada seseorang yang baik hati menolongnya.
Sebelum Olvee benar-benar kehilangan kesadarannya, ia merasakan hembusan napas kasar di depan wajahnya. Dan sebuah pelukan hangat nan kokoh memeluk tubuhnya tanpa menyakiti bahunya yang semakin menjadi rasa sakitnya. Ia dapat melihat sekilas di beberapa kali kedipan matanya, wajah pria yang tampak panik memeluk tubuhnya.
Dylan memeluk tubuh Olvee yang sudah setengah kehilangan kesadarannya. Bahunya mengeluarkan banyak darah membuat tangan yang sudah ikut terkena noda darah dan hendak menggendongnya itu tak hentinya gemetar. Jantungnya berdegup kencang karena ketakutan yang tidak bisa ia jelaskan.
“Olvee … bertahanlah. Kakak akan membawamu.” Begitupun dengan suaranya yang begitu khawatir dan menyebut dirinya sendiri kakak?
To be continued