(Not) Mistake

(Not) Mistake
Bab 42 : Kebenaran Bagi Celine



Sudah 5 hari berlalu sejak dirinya dikurung di kamarnya tanpa dibiarkan bahkan sekedar keluar kamar. Ibunya mengurus semua makanan dan minumannya. Berulang kali ia memohon padanya meminta untuk dibebaskan, tapi ia sama sekali tidak mendengarkan. Egonya terlalu tinggi untuk memakan makanan tersebut, tapi mengingat kembali jika ia sudah tidak sendirian lagi, ia tidak bisa bertindak sesuai egonya.


Sepanjang hari ia habiskan berada di dalam galerinya. Biasanya ia tidak masalah dengan kegiatan ini, bahkan ia bisa melakukannya selama seminggu. Namun, Olvee sama sekali tidak merasakan kebahagiaan lagi ketika ia melukis. Semua seolah lenyap dan dipenuhi dengan pikiran untuk memikirkan cara-cara agar ia bisa kabur dari sini. Hanya itu yang ia pikirkan selama 5 hari ini.


“Vee …” Suara kunci kamar yang dibuka bersamaan dengan pintunya yang terbuka tak mengalihkan atensi Olvee.


Flora masuk ke dalam kamar Olvee bersama nampan yang ia bawa seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada yang dikatakan oleh Flora setelah meletakkan nampan tersebut di meja yang biasa menjadi tempatnya. Olvee juga kali ini tidak mengatakan sepatah katapun atau memohon-mohon lagi dengan percuma padanya.


“Kakakmu akan datang hari ini,” ucap Flora pelan yang membuat Olvee berhenti melukiskan catnya pada kanvas besar di depannya.


“Ia akan membujuk Papa,” lanjutnya dan setelahnya keluar dari kamar Olvee.


Olvee tidak begitu peduli dengan kakaknya yang mungkin akan memiliki pendapat yang sama dengan ayahnya. Setelah memastikan ibunya benar-benar sudah keluar, Olvee keluar dari galerinya dan masuk ke dalam kamarnya. Mulai menghabiskan makanannya meski tidak merasakan apapun. Memaksakan diri demi bayi di dalam perutnya. Perkataan Alvaro masih membekas di ingatannya yang membuat Olvee kuat sampai sekarang.


Setelah menyelesaikan makanannya, Olvee berjalan ke arah lemari pakaiannya di walk in closet dan mengambil untaian pakaian yang sudah ia rangkai selama beberapa hari terakhir. Kembali masuk ke dalam galerinya dan membuka jendela besar yang ada di sana. Olvee melemparkan sebuah kaleng cat besar dan memecahkan jendelanya. Ia lantas menjatuhkan untaian pakaian tersebut dan menalikannya pada sesuatu. Di bawah galerinya, itu akan langsung keluar tepatnya di taman. Itu tempat yang sepi dan jarang dikunjungi oleh ayah dan ibunya.


Setelah semua persiapan telah selesai, Olvee mulai menuruni kamarnya dengan pakaian tersebut. Berharap pakaian ini kuat dan tidak akan putus saat ia menuruninya. Jika ia jatuh, itu akan berakibat pada kandungannya juga. Dewi keberuntungan tampaknya ada di pihaknya, Olvee berhasil menuruni kamarnya dengan mulus tanpa diketahui siapapun. Ia segera berlari dengan kaki telanjang ke luar rumah, menjauhinya.


Beberapa jam setelah kepergian Olvee


Flora menerima banyak pesan dari putri tertuanya yang mengabari akan datang hari ini. Pesan terakhirnya mengabari bahwa ia sudah dalam perjalan ke rumah. Ia sama sekali tidak mengabari suaminya bahwa Celine akan pulang karena takut ia akan bertindak. Flora merasa bersalah karena hanya ini yang bisa ia lakukan.


“Siapa yang datang?” tanya Zahir yang keluar dari kamarnya ketika melihat ada mobil yang memasuki pekarangan rumah.


“Itu Celine,” jawab Flora sembari keluar rumah.


Celine memang benar datang, tapi ia datang sendirian tanpa suaminya. Melihat itu sepertinya ia memang sangat terburu-buru secepatnya datang kemari meninggalkan pekerjaannya. Flora segera mendekat padanya dan memeluknya.


“Celine …” Ia menumpahkan air matanya.


“Ada apa, Ma?” tanya Celine khawatir.


“Pa, apa yang terjadi di sini?” Celine bergantian menanyai ayahnya yang cukup terkejut dengan kedatangan putrinya.


“Flora, apa kau yang memanggil Celine kemari?” tanya Zahir pada sang istri.


“Karena hanya inilah yang bisa aku lakukan. Aku sebagai ibunya tidak bisa melihat Vee menderita terus menerus di bawah kediktatoranmu!” seru Flora dengan derai air mata yang sudah membasahi wajahnya.


“Ada apa ini sebenarnya, Ma, Pa? Sebaiknya kita masuk ke dalam dan membicarakannya di dalam,” ucap Celine menengahi keduanya.


Zahir lebih dulu masuk dengan ekspresi wajah yang tidak begitu bagus. Sementara Flora masih menangis berada dalam pelukan Celine yang dibimbing masuk ke dalam.


Minah membawakan minuman sesuai perintah Flora. Tangannya terlihat gemetar ketika menyajikan minuman kepada Celine, Flora, dan Zahir. Mulutnya terbuka beberapa kali seolah hendak mengatakan sesuatu. Namun, kembali tertutup karena ketakutan pada Zahir.


“Aku menerima telpon dari Mama beberapa hari lalu dan mendengar jika Vee hamil anak Alvaro? Dan Papa berniat menggugurkan kandungannya juga berusaha menikahkannya dengan Verald?” Celine akhirnya memulai pembicaraan.


Zahir menatap pada Flora tajam, sedangkan yang ditatap menunduk tak mau menatap lawannya. Dari respon kedua orang tuanya, perkataan ibunya yang setengah ia percayai tampaknya benar adanya. Celine sama sekali tidak mengira jika kedua adiknya menyembunyikan perasaan ini.


“Itu benar,” jawab Zahir.


“Apa keputusan Papa salah dengan memisahkan mereka dengan keras karena mereka adalah kakak dan adik, Celine?” tanya Zahir kemudian.


“Bu-bukan saudara kandung? Apa maksud kalian?” tanya Celine begitu terkejut mendengar fakta ini.


“Itu benar!” seru Flora sebelum Zahir angkat suara.


“Olvee sebenarnya bukan putri kandung keluarga Marveen. Dia adalah putri keluarga Roxanne yang dibuang oleh kedua orang tuanya! Papamu mengambil Vee saat ia masih bayi dan berniat dibesarkan oleh Bi Minah dan Bi Orkan,” ucap Flora dengan tangis yang sesegukan.


“A-apa?” Celine yang baru saja datang tak bisa mengeluarkan kata-katanya selain ekspresi terkejut yang terus berulang.


“Sebenarnya apa lagi yang kalian sembunyikan?” tanya Celine setelah menenangkan dirinya untuk beberapa saat.


Kedua orang tuanya terdiam tak bisa menjawab. Flora yang menggebu-gebu menjelaskan kebenarannya, takut Zahir akan menghalanginya dan ikut dipengaruhi olehnya. Rencananya untuk menyelamatkan Olvee lewat Celine jadi bisa gagal.


“Lalu dimana Vee sekarang?” tanya Celine kemudian.


“Dia ada di kamarnya, sudah 5 hari Papa mengurungnya.” Celine lagi-lagi tidak habis pikir dengan perbuatan ayahnya.


“Alvaro?” tanya Celine lagi.


“Dia diusir oleh Papa satu bulan lalu setelah ketahuan berhubungan dengan Vee.” Semua jawaban keluar dari mulut Flora, sedangkan Zahir sama sekali tidak membuka mulutnya.


“Aku ingin menemui Vee,” ujar Celine seraya berdiri dari duduknya.


“Ayo.” Flora ikut berdiri untuk mengantar Celine.


Celine lagi-lagi dibuat terkejut karena pintu kamar Olvee yang sampai dikunci. Ayah dan ibunya benar-benar sudah kelewatan memperlakukan Olvee hanya demi memisahkan Alvaro dan Olvee yang berhubungan. Bagaimana bisa mereka memiliki pemikiran yang sangat sempit seperti ini?


“Vee …” panggil Flora begitu memasuki kamar Olvee.


Tidak ada jawaban seperti biasanya. Mereka melangkah semakin masuk memeriksa Olvee di kamarnya yang terasa dingin, kemudian kamar mandi, dan ruang ganti. Tidak ada sama sekali. Lantas keduanya masuk ke dalam galeri Olvee dan di sana betapa terkejutnya mereka melihat jendela besar itu sudah pecah dan ada sebuah tali yang dibuat dari pakaian. Celine berlari lebih dekat dan bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi.


“Olvee!” teriak Flora sambil menangis.










To be continued