
“Ada apa di bawah sana, Vee?” Flora bertanya sambil menoleh ke bawah untuk memastikan sumber suara yang bising.
“Vee cuman kaget karena merasakan sesuatu merayap di kaki. Jadi, tidak sengaja menginjak Alvaro, Ma.” Olvee tersenyum untuk menenangkan kedua orang tuanya yang mulai menatap penuh kecurigaan padanya.
“Sebaiknya kalian berhenti bertengkar. Sejak kecil, kalian adalah saudara yang jarang sekali bertengkar, tapi sekarang kalian yang lebih sering bertengkar. Kalian sudah dewasa, tapi kalian semakin dewasa semakin sering bertengkar daripada akur.” Zahir berbicara kembali memberikan nasehat pada keduanya.
“Iya, betul itu,” ucap Flora mendukung.
Bagaimana bisa mereka tidak lebih sering bertengkar semakin mereka beranjak dewasa. Alvaro memulai sesuatu yang salah, sedangkan Olvee berusaha keras menghindarinya dan mencoba menghentikannya. Namun, justru ia ikut tercebur ke dalam sesuatu yang salah dengan Alvaro.
“Kak Vee yang selalu memulai, Ma.” Alvaro mengadu layaknya seorang anak yang dinistai kakaknya.
“Apa?!” bentak Olvee tidak terima.
“Dia selalu seperti itu, Pa. Setiap kali Alvaro memberitahunya untuk berkata jujur, Kak Vee selalu berbohong padaku.” Olvee tidak bisa berkata-kata lagi dengan apa yang dikatakan oleh Alvaro.
“Kau selalu berbohong apa pada Alvaro, Vee? Dan Alvaro, apa hanya karena masalah itu kalian harus bertengkar? Tidak bisa dibicarakan baik-baik? Baru saja kami beritahu jika kalian sudah dewasa dan tidak boleh bersikap seperti anak-anak.” Zahir berkata pada keduanya yang kali ini tidak menjawab apapun lagi.
“Vee akan naik ke atas duluan.” Olvee memilih berpamitan tanpa mengatakan apapun lagi.
Olvee sedikit kesal dengan kedua orang tuanya yang bahkan sama sekali tidak bersalah atas apapun. Mendengar apa yang dikatakan oleh mereka, ingin rasanya ia berkata sejujurnya tentang semuanya. Andai kedua orang tuanya itu mengetahui sikap Alvaro yang salah pada dirinya.
Memilih tidak memikirkannya lagi, Olvee masuk ke dalam kamar mandi dan mulai menggosok gigi. Tak lupa memulai ritual perawatan kulitnya sebelum bersiap tidur. Namun, baru saja ia selesai menyelimuti tubuhnya dan memejamkan matanya, ia mendengar suara ketukan di pintu kamarnya.
“Masuk!” seru Olvee seraya mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk.
“Kau? Mau apa lagi kau kemari? Alvaro, aku ingin tidur hari ini, tolong jangan ganggu aku.” Olvee kembali berbaring, berniat mengabaikan Alvaro.
“Vee … ” ucap Alvaro pelan memanggilnya. Olvee mengabaikannya dan memunggunginya, berusaha mencoba untuk tertidur.
“Ada yang harus kita bicarakan.” Sekali lagi Alvaro berbicara padanya, tapi Olvee lagi-lagi mengabaikannya. Ia mulai merasa takut karena Alvaro akan membahas kembali kesalahan yang mereka buat beberapa hari lalu.
“Vee, berhenti mengabaikanku! Atau aku akan berbicara pada orang tua kita!” Ancaman Alvaro itu sukses membuat Olvee pada akhirnya terbangun.
“Apalagi yang ingin kau bicarakan, Alvaro?” tanya Olvee dengan nada lembut yang baik. Kali ini Olvee bertekad untuk menegaskan pada Alvaro.
“Tidak bisakah sejak dulu kau berbicara seperti itu padaku?” Di dalam kamar dengan pencahayaan yang remang-remang, Olvee bisa melihat senyum Alvaro.
“Katakan langsung apa yang kau inginkan?” Nada bicara Olvee mulai berubah menjadi ketus.
“Aku ingin kau,” jawab Alvaro dengan nada candaan.
Olvee menghela napas pelan. Ia menatap pada Alvaro di depannya.
“Aku minta maaf untuk hari itu,” ucap Olvee memulai pembicaraan.
“Hari itu yang mana?” tanya Alvaro.
Entah disengaja atau tidak, Olvee benar-benar jengkel dengan Alvaro sekarang. Namun, ia tidak meluapkan kekesalannya untuk sekarang demi pembicaraan yang lancar. Ia menelan bulat-bulat kekesalannya karena sudah memutuskan.
“Di hari kita tidak sengaja melakukan kesalahan dengan berciuman. Aku minta kau melupakan hal itu, begitupun dengan diriku yang akan melakukan hal yang sama.” Alvaro lama menjawabnya, entah apa yang sedang dipikirkan olehnya sekarang.
“Kenapa aku harus melakukan itu?” gumam Alvaro bertanya.
“Apa?” Olvee tidak terlalu mendengarkan apa yang dikatakan Alvaro.
“Sudah kukatakan jika aku juga-”
“Aku ingin jawaban yang jujur darimu. Kenapa kau juga pergi begitu saja tanpa mendengarkan aku padahal aku terus memanggilmu? Kenapa kau menangis?” potong Alvaro tegas memojokkan Olvee.
Kali ini Olvee yang tidak bisa menjawab dalam waktu singkat. Ia berpikir cukup lama untuk memilih kalimat-kalimat yang harus ia katakan agar dia dan Alvaro mengakhiri ini semua. Olvee menggigit bibir dalamnya sambil terus menimbang-nimbang. Haruskah ia jujur mengatakannya sekaligus mengatakan niatnya?
“Aku pikir aku juga gila karena mulai menyukai adikku sendiri.” Begitu menatap pada Alvaro setelah berpikir lama, tanpa aba-aba Alvaro tiba-tiba saja menciumnya.
Namun, kali ini Olvee berusaha melepaskan bibir mereka karena kewarasannya dan juga tekadnya. Alvaro pada akhirnya menyerah dan menatap intens pada Olvee yang masih terlihat memerah padam. Olvee mengusap bibirnya yang basah dengan punggung tangannya.
“Alvaro, sudah kukatakan jika itu adalah sebuah kesalahan dan kegilaan. Jangan lakukan itu. Sekalipun aku mengatakan yang ingin kau dengar, tidak ada yang berubah di antara kita. Aku juga tidak berubah pikiran. Kita tidak bisa melanjutkan dan sebaiknya kita berhenti di sini.” Olvee menahan tubuh Alvaro yang berada sangat dekat dengannya.
“Kita bisa dan akan kubuat bisa. Aku hanya perlu pengakuan darimu, itu saja. Bukan sebuah penolakan. Kita sudah saling menyukai dan itu tidaklah salah Vee. Kau bukan kakakku dan aku bukan adikmu. Hanya itu yang perlu kau ketahui.” Alvaro mengambil beberapa helai rambut Olvee dan mengarahkannya pada bibirnya untuk dikecupnya lembut.
“Tapi aku sudah menganggapmu sebagai adikku!” seru Olvee.
“Maka sekarang jangan menganggapku adikmu. Apa ada adik dan kakak yang saling menyukai sebagai lawan jenis?” tanya Alvaro semakin memojokan Olvee untuk tidak memiliki pilihan lain.
“Kau menyukaiku?” tanya Alvaro kembali dengan mata yang begitu intens menatapnya penuh keseriusan membuat Olvee lagi-lagi tak berdaya dan semakin tenggelam dalam kedua netra itu.
Olvee memejamkan matanya sebentar dengan alis yang berkerut. Ia menelan salivanya karena gugup. Perlahan ia mulai mengangguk pelan menjawab Alvaro dengan jujur di jauh hatinya.
“Aku tau itu,” ujar Alvaro yang terdengar penuh kelegaan seraya memeluk Olvee.
Olvee perlahan mulai membalas pelukan Alvaro. Perasaannya bercampur aduk sekarang. Tidak bisa didefinisikan bagaimana ia bisa sampai pada situasi ini. Mengambil keputusan yang benar-benar gila dan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Awalnya ia akan berbicara serius pada Alvaro. Menegaskan hubungan mereka dan menarik jarak di antara mereka sekali lagi. Melupakan Alvaro dan mulai hidup normal seperti biasanya. Namun, ia tidak bisa berbuat apapun dengan perkataan Alvaro yang menarik hasratnya. Ia bahkan tenggelam di dalam kedua bola mata yang seakan menghipnotisnya untuk menuruti semua yang dikatakan oleh si pemilik.
Olvee pada akhirnya memilih hatinya daripada logikanya. Entah apa yang akan terjadi setelah ini. Berharap mungkin setelah lama mereka seperti ini, Alvaro akan membuangnya ketika bosan dan menemukan wanita yang benar-benar ia cintai. Ia hanya perlu bertahan mengendalikan perasaannya yang jangan sampai jatuh terlalu dalam sampai wanita itu datang.
“Jangan pikirkan apapun lagi, aku akan mengurus semuanya.” Alvaro berbicara dan membuyarkan lamunan Olvee. Mendengarnya ia hanya mengangguk.
“Tak tahukah kau, aku sudah menantikan ini sejak lama? Ini akan menjadi satu langkah lebih dekat menuju hidup kita bersama selamanya.” Dibalik pelukan mereka, ekspresi wajah Alvaro dengan jelas menunjukkan jika ia begitu bahagia. Namun perlahan, senyum itu berubah menjadi seringaian yang menunjukkan kepuasan.
Apakah wanita itu akan benar-benar datang? Atau ialah wanita itu?
To be continued